Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tuesday, 30 September 2014

Bukan Arena Balap

Masyaallah.. What a wonderfull day!!! 
Dalam satu hari ada begitu banyak kabar bahagia, dua diantaranya adalah undangan pernikahan adik kelas dan berita kehamilan sahabat partner. Ah, masyaallah.. rasanya ingin mengulang-ulang bait cinta "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. 55:55). Dan ketika membuka newsfeed facebook, begitu banyak kabar bahagia lainnya mulai dari kelulusan, beasiswa studi, pekerjaan baru dan kabar-kabar bahagia lainnya.

Namanya hidup ya, selalu tak terduga. Allah seneng banget ngasih kejutan-kejutan sama hambanya.
Ada yang udah lamaaa pacaran, bertahun-tahun tapi belum juga nikah; ada yang ga pernah kedengeran deket sama lawan jenis, eh tetiba sebar undangan pernikahan. Ada yang udah lulus kuliah dari jaman kapan, belum nikah-nikah; eh ini yang baru mau lulus tiba-tiba udah nikah aja. Ada yang nikah udah bertahun-tahun, belum juga dikasih keturunan; eh, yang lain ada yang baru nikah sebulan udah dikasih keturunan. Ada yang kerja bertahun-tahun, nabung buat beli mobil belum kesampean juga; eh yang lain baru kerja sebulan udah bisa beli mobil sama nyicil rumah. Ada seorang kakek sudah sepuh sampai berumur seratus sekian, tapi masih diberi umur, tapi ada juga anak mungil nan lucu yang baru belajar berjalan harus diambil oleh sang Maha Kuasa mendahului orangtuanya. Entah sampai kapan pembandingan-pembandingan itu kita lakukan dalam hidup ini, mungkin sampai saat waktu kita habis di dunia.

Hidup ini memang bukanlah arena balap yang setiap manusia memiliki garis start dan garis finish yang sama dengan arena balap yang sama pula. Tidak seperti itu. Setiap manusia memiliki track-nya masing-masing. Rizkinya, jodohnya, amal unggulannya, jalan hidupnya, semuanya Allah atur berbeda dari satu manusia dengan yang lainnya. Masing-masing telah Allah desain secara khusus untuk manusia tertentu. Sangat spesial. Saya menyebutnya 'momen kehidupan'. 

Setiap manusia memiliki momen kehidupan yang spesifik Allah atur hanya untuk dirinya. Mulai sejak kapan sel sperma ayahnya bertemu secara rumit dan kompleks dengan sel telur ibunya hingga kapan ia dikembalikan pada sang Pemilik semesta. Berbagai fase kehidupan dilaluinya, mulai dari balita, kecil, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Beberapa diantaranya hanya merasakan hingga pada fase remaja atau dewasa saja atau bahkan hanya sampai pada fase balita. Berbagai perasaan mulai dirasakannya, mulai dari bahagia, senang, kecewa, sedih, marah, gembira. Beberapa mampu melewati setiap perguliran rasa tadi; bersyukur kala bagia dan gembira, bersabar ketika sedih dan kecewa. Beberapa terperangkap dalam permainan rasa; tak mampu mawas diri ketika bahagia, tak kuasa bangkit ketika kesedihan menerpa. Berbagai cita-cita dan impian dalam hidup muncul seiring dengan bertambahnya usia, tentang rencana studi, tentang pekerjaan, tentang jodoh, tentang kebutuhan akan tempat tinggal, tentang jabatan, dan capaian-capaian lainnya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya dengan baik dan Allah mengizinkannya mencapai impiannya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya, namun Allah menunjukkan beberapa jalan baru yang mesti dilaluinya. Beberapa hanya bisa menetapkan target, tapi lupa pada tahapan-tahapan yang mesti ditekuni, lalu ketika target itu meleset ia terpuruk dan tak mampu bangkit kembali, terlebih ia selalu membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian yang telah oranglain dapatkan.

Tak semua orangtua diberikan anak yang penurut; yang jalan hidupnya sesuai dengan keinginan kedua orangtuanya. Pun tak semua anak dianugerahi orangtua yang pengertian dan mampu memberikan sebaik-baik bekal pada anaknya. Tak semua anak bisa sekolah di sekolah unggulan, pun tak semua anak lulusan sekolah unggulan memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan anak lainnya. Tak semua orang bisa berkuliah terlebih di universitas-universitas unggulan baik negeri maupun swasta, pun tak semua orang-orang sukses di dunia ini lahir dari almamater-almamater unggulan. Yang bekerja di perusahaan asing dengan gaji puluhan juta perbulan, tak menjamin lebih bahagia daripada seseorang yang bekerja lepas menjadi buruh harian. Yang memiliki jaminan hari tua tak menjamin hidupnya lebih bahagia dibandingkan yang terus mencari nafkah hingga akhir hayat.

See? Betapa hidup ini akan terasa begitu sempit ketika kita selalu membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang oranglain peroleh. Betapa hidup tak akan pernah selesai ketika kita selalu melirik kanan-kiri dan tak pernah bersyukur atas apa yang telah diraih. Percayalah, momen kehidupan setiap manusia itu sungguh telah dirancang begitu spesifik, spesial pada setiap individunya. Maka nikmatilah hidupmu. Tugas kita adalah berusaha semaksimal yang bisa kita lakukan, kemudian ketika takdir Allah telah datang, tugas kita selanjutnya adalah bertawakal. Ketika kita telah berusaha, maka tak perlu risau dengan hasilnya. Yang perlu kita risaukan adalah ketika kita tak mau berusaha untuk menjemput takdir Allah.

Ada tiga hal yang selalu dipesankan suami kepada saya; Ikhlas, Syukur, dan Sabar. Ikhlas atas segala apapun yang terjadi dalam hidup kita, maka langkah kita akan terasa ringan, menjalani hidup dengan bahagia tanpa beban dan tertekan, karena kita ikhlas menjalani hidup ini. Syukur atas segala apapun takdir yang Allah gariskan untuk kita. Tak ada sesuatupun yang Allah tetapkan pada hamba-Nya melainkan Ia ingin kita belajar dan bertafakur atas setiap ketetapannya. Maka Bersyukurlah atasnya. Sabar menjalani setiap fase kehidupan yang kata banyak orang seperti roda yang terus berputar. Ketika kita merasa hidup ini begitu berat untuk dijalani, sesak untuk dilalui, bersabarlah. Karena malam yang semakin gelap menandakan fajar yang sebentar lagi akan tiba.

" Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanm-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(QS. Al-Hadid : 20)



Monday, 29 September 2014

Imbas Sosial Media

Tiba-tiba saya teringat sebuah kontemplasi pada masa awal-awal pernikahan. Sejak menikah, saya menemukan teman diskusi baru yang sangat seru sehingga begitu banyak yang sering kami diskusikan, bahkan dalam perjalanan di motor sekalipun.

Suatu hari dalam sebuah perbincangan, kami membahas tentang seorang kenalanku yang begitu sensitif jika dalam sebuah forum dibahas tentang pernikahan, kapan menikah dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada. Lalu perbincangan melebar pada newsfeed facebook yang diwarnai oleh beberapa postingan pernikahan dan para pengantin baru, yang juga diwarnai oleh komentar-komentar candaan kecemburuan mereka yang masih single. Beberapa ada yang agak frontal membahas dalam sebuah note facebook isinya kurang lebih menganjurkan pada para pengantin baru untuk tidak berlebihan dalam mem-posting status-status mereka. Hmm.. segitunya banget ya.. Tapi jujur, saya sendiri yang waktu itu belum menikah lebih santai sih menanggapinya, bahkan jika itu teman dekat, malah jadi ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka, meski kadang ada perasaan mupeng juga. Haha. Saya hanya berpikir itu ungkapan bahagia seseorang atas fase hidup yang baru saja dilewatinya, sama seperti orang yang baru wisuda, baru dapat beasiswa ke luar negeri, atau baru selesai ujian semester. Meski memang akan menjadi kurang nyaman, ketika seseorang melakukannya secara berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu selalu tidak baik bukan?

Hanya saja era sosial media seperti sekarang ini memungkinkan setiap orang bisa dengan leluasa membagikan setiap perasaannya dan tanpa diminta kita bisa mengetahui kabar seorang teman yang nun jauh disana dari setiap postingan atau status-statusnya. Tak ada yang bisa membatasi masing-masing kecuali kebijaksanaan si pengguna media sosial tersebut, kecuali di-block atau unfriend. haha

Jika dihubungkan dengan cerita sebelumnya, sebetulnya sosial media menguji sikap dan kedewasaan kita. Pertama, tentang bagaimana bisa sebijak mungkin memposting sesuatu sesuai porsinya, jangan sampai berlebihan. Misalnya di masa pilpres kemarin, betapa muaknya kita karena begitu banyak orang yang memposting tentang calon A atau calon B beberapa kali dalam sehari. Kita memang mesti lebih bijak membagi hal yang menurut kita menarik, secara proporsional saja.
Kedua, tentang bagaimana kita bisa tenggang rasa atas perasaan yang dirasakan teman kita. Bukankah itu sebuah konsekuensi logis dari sebuah pertemanan? Tentang kabahagiaan mereka, tentang kesedihan mereka, tentang kebingungan mereka. Have fun aja. Ikut bahagia atas kebahagiaan oranglain kan sebuah kebaikan juga.

Ya namanya juga hidup bermasyarakat. Perlu tenggang rasa yang tinggi. :D


Wednesday, 24 September 2014

12 week

Assalamu'alaikum Sayang...
Hari rabu yang cerah, secerah hati Bunda yang telah melihat perkembanganmu kemarin sore. :)

Hari selasa kemarin akhirnya Bunda cek kandungan ke dokter setelah diundur berhari-hari. Entah kenapa cek kemarin rasanya menjadi momen cek kandungan paling membahagiakan sejauh ini. Kamu sudah semakin besar sekarang, sayang. Di minggu ke 12 ini, kepala dan badanmu sudah mulai terbentuk. Panjangmu sekarang 4,8 cm. Kemarin bunda bisa melihat detak jantungmu. Dan yang paling menakjubkan adalah saat diusg, kamu melakukan gerakan! Ah, lucu sekali sayang. Seakan kamu ingin menyapa ayah dan bunda saat itu, "Hai Ayah! Hai Bunda! Aku sehat loooh..". hehe. Saking senengnya, ayahmu sampai bersuara, "Wah, itu dia gerak!". Kamu tau sayang, ayahmu itu kan orangnya tidak terlalu ekspresif, jarang sekali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi kemarin itu, mungkin karena terlalu terkejut dengan tingkahmu, ia sampai kaget dan mengeluarkan suara. hehe

Tetep sehat ya sayang. Dokter bilang kamu sehat dan baik-baik saja. Bunda juga sudah naik berat badannya. Kita terus bekerjasama ya sayang sampai kamu bisa bertemu ayah dan bunda di dunia. Peluk dan cium dari ayah dan bunda :)

----

Adalah sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat seorang manusia tumbuh di dalam tubuhmu. Merasakan perkembangannya, mengikuti setiap perubahannya, dan beradaptasi dengan tubuhmu yang baru saja kedatangan tamu baru di salah satu organnya. Kehadirannya menjadi sebuah tanda kuasa-Nya. Kehadirannya membuatmu selalu ingin menjaga tubuhmu dari berbagai gangguan luar. Kehadirannya yang membuat suamimu menjadi semakin hangat dan cinta. 

Tubuhmu harus banyak beradaptasi atas kehadirannya. Rasa mual, pusing dan lemas sepanjang hari menjadi sebuah rutinitas yang membuatmu harus menyesuaikan diri tapi itu tak pernah sedikitpun membuatmu merasa terbebani. Di awal-awal seperti ini menjadi hal yang tak mudah bagimu, perubahan emosimu, tentang kondisi fisikmu, hingga perubahan-perubahan yang tak bisa kau lihat bahkan tak bisa kau rasakan terjadi dengan dahsyat di dalam tubuhmu. Semuanya beradaptasi, bahkan dia yang baru saja hadir, juga sedang sama-sama beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kau tau? It's so amazing. Sekarang kau bahkan tak pernah benar-benar sendiri dalam hidupmu karena ada seseorang di dalam rahimmu yang selalu ikut kemanapun kamu pergi. Yang merasakan apapun yang sedang kau rasakan. Yang bahagia jika kau bahagia, dan merasa sedih jika kau sedih. Dan untuk itulah kau selalu berusaha melawan segala kelabilan emosimu untuk bisa selalu membahagiakan diri karena kau tahu ada yang sedang memperhatikanmu sekarang.

Hingga pada akhirnya yang kau inginkan hanyalah kesehatan dan keselamatannya hingga saat bertemu denganmu di dunia. 


Friday, 18 July 2014

Ayo Bicara!


Belakangan saya baru sadar, bahwa seks bebas di kalangan remaja, terutama di kota-kota besar adalah sebuah kenyataan yang tak bisa kita tepis. Miris memang, tapi apa daya, ini adalah sebuah realita.


Banyak orang menyalahkan anak-anak yang terjerumus pada kenakalan remaja yang sampai pada tahap ini. Tapi mereka lupa bertanya pada diri sendiri, kemanakah mereka selama ini hingga hal sebesar itu bisa terjadi.


Saatnya kita tak merasa aman dengan kondisi ini. 
Merasa aman dengan menyekolahkan anak di sekolah berbasis keagamaan, merasa aman dengan memperingkatkan anak atau adik kita tentang pergaulan buruk dengan cara yang tidak kita tau efektif atau tidak atau merasa aman dengan menjadikan baik diri sendiri . 

Nampaknya kita harus segera bangun dan bicara.
Ya, bicara.

Untuk para orang tua, bicaralah pada putra-putri anda dari hati ke hati. Tentang hari-hari mereka. Tentang teman-teman mereka. Tentang cita-cita mereka. Tentang apapun yang mereka rasakan. Mulailah untuk bicara tidak hanya saat menegur saja, karena mereka sungguh butuh kasih sayang verbal dari orangtuanya. Mereka butuh pengakuan kebanggaan dari orangtuanya. Bukan hanya omelan berlebihan saat mereka berbuat salah. Mari bicara..

Untuk para kakak, bicaralah pada adik-adik kalian. Tugas mendidik dan menjaga tidak hanya dibebankan pada orangtua kita saja bukan? Tak perlu menunggu sampai sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Mendekatlah pada mereka. Sentuh kehidupan mereka, karena masa-masa itu belum lama kita lalui kan? Maka sungguh tak ada ruginya untuk kita berbagi. 

Ah, tapi ini bukan perkara status orangtua atau kakak. Kita semua memiliki andil untuk menyapa semua remaja yang ada di sekitar kita, tetangga, adik kelas atau bahkan kenalan-kenalan dunia maya kita. Dan ini bukan perkara laki-laki atau perempuan. Semua orang tentu bisa menyentuh hati orang lain untuk bicara. 

Untuk kalian yang terlanjur mencicipinya. Bangun yuk 
Ada saatnya ko kalian akan merasakannya di waktu yang tepat. Percaya deh, itu lebih menyenangkan!  Orangtua kalian pasti akan sangat bahagia ketika kalian bisa melewati masa remaja kalian dengan selamat. Mau kan kalau di masa depan nanti, kalian punya anak yang lucu, baik dan membanggakan kalian sbg orangtua. Tak perlu ragu untuk bangkit, akan ada banyak tangan yang akan membantu kalian, ada banyak telinga yang akan mendengarkan keluhan kalian dan tentunya ada banyak hati yang akan merangkul kalian. Masa depan kalian masing sangat luas terbentang. Yakinlah bahwa ketika kita baik, sesungguhnya kebaikan itu hanya untuk diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain 



Yuk Bangun! Yuk Bicara! 
Bumi ini mungkin akan tersenyum ketika penduduknya bisa kembali menyelaraskan pribadinya. Saatnya rumah-rumah kita diramaikan dengan celotehan kisah penghuninya. Biarlah gadget-gadget kita istirahat sejenak dengan di-charge energi listrik, sedangkan jiwa-jiwa kita disuplai dengan energi kehangatan keluarga di rumah kita sendiri dengan bicara dari hati ke hati. 

Ya, dari hati ke hati.
Karena hati hanya akan bisa disentuh oleh hati 


Tuesday, 1 July 2014

Menunggu yang ditunggu

Menikah dan memiliki keturunan mungkin menjadi dua hal yang saling berkatan. Saya rasa hampir semua pasangan yang menikah, ingin melahirkan keturunan. Dan itu juga tentu yang saya inginkan.

Sebulan terakhir menuju pernikahan, saya sering sekali mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan, kesuburan, kesehatan keluarga dan lain-lain. Saya ingin mempersiapkan pengetahuan saya, demi menyambut dan mempersiapkan 'dedek' kami kelak. Meskipun begitu, di awal pernikahan saya dan suami sepakat untuk santai saja menanti ketadangannya. Bukan berarti menunda atau melama-lamakan. Tidak sama sekali, hanya saja menurut artikel-artikel yang kami baca, terlalu terfokus pada keinginan memiliki keturunan, bisa menyebabkan hubungan suami-istri menjadi tidak rileks atau tegang. Maka dari itu kami berusaha menikmati masa-masa pacaran kami dengan tenang dan mengalir saja seperti air.

Waktu bergulir, menuju satu bulan pernikahan, ada hal yang baru saya sadari. Ternyata di luar saya dan suami, ada orang-orang yang juga menantikan kehadiran si dedek. Merekalah kedua orangtua kami, yang merasakan harap bercampur cemas. Berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga besar kami, dan cemas akan kesehatan reproduksi kami. Memang hal tu tidak pernah mereka katakan secara langsung pada kami, tapi perasaan sensitif saya menebaknya. Ya, hanya menebak saja.

Sejak saat itu, empati saya mulai bertambah. Mungkin inilah mengapa menikah bisa menambah kedewasaan, karena akhirnya kita mulai keluar dari zona diri menuju zona-zona lain yang secara sadar mesti kita libatkan. Bukan lagi tentang keinginan diri, tapi juga melihat kebutuhan sekitar. Dan jujur sejak saat itu, saya mulai dihantui oleh kekhawatiran-kekhawatiran dan perasaan-perasaan 'GR' pada kehadiran si dedek. Ah wanita itu memang harus kuat. Tapi bukan sekedar kuat fisik kurasa, melainkan juga kuat untuk bisa mengatur perasaannya. Meskipun saya taidak tahu jelas teorinya dari siapa tentang perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dalam alam pikirnya, tapi sedikit banyak saya merasakan itu. Saya pribadi merasa sering tersiksa oleh pergolakan perasaan yang saya alami, ketika takut bercampur resah, harap berampur gelisah, marah bercampur rindu, dan perasaaan-perasaan dilematia lainnya. Pun saat ini, ketika harus mengatur perasaan khawatir dan ketakutan saya agar bisa tetap rileks dan behusnudzon pada takdir Allah. Ah, rasanya kerja keras sekali untuk bisa memanage ini semua. 

Dan lagi-lagi, sekolah kehidupan ini selalu memberikan pelajaran keimanan yang kian hari kian dalam. Bahwa lagi-lagi kita diuji tentang keikhlasan hati pada setiap usaha yang dilakukan, husnuzon tingkat tinggi pada takdir yang akan Allah tetapkan, dan bertawakal serta bersyukur pada setiap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Allahu'alam bishawab
Hanya ingin menyalurkan kegundahan hati yang sedang menunggu, 
Menunggu bilamana yang ditunggu sebetulnya juga menungguku :)


Thursday, 19 June 2014

Menikah adalah Sekolah Kehidupan

Menikah. Hihihi.. 
Dulu waktu jaman SMA dan kuliah tingkat-tingkat awal, menikah itu masih menjadi sesuatu yang memberikan kesan 'pembebasan' dan romantisme cinta dua insan. Hahaha, geli sendiri kalau inget itu. Ya harap maklum, sebagai remaja biasa yang tumbuh dengan segala kewajaran hasrat remaja seusianya, tapi memegang prinsip untuk gak pacaran, ya menikah itu menjadi sebuah impian yang akan membebaskan segala rasa ingin yang selama ini dikekang. Jamannya suka-sukaan sama laki-laki yang dianggap keren. Jamannya sok-sokan gak suka digombalin padahal kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian lebih perasaan jujurnya adalah seneng bukan main. Jamannya nangis-nangisan kalau ada laki-laki yang suka, karena merasa telah menjadi 'pengganggu' bagi kaum lelaki. Haha.. masa-masa itu. Memang labil sih, tapi itu fitrah naluriah kurasa. Wajar kalau merasa suka sama lawan jenis dan ingin mendapatkan sambutan yang sama dari yang disuka. Yaa, dulu sih sesederhana itu membayangkan tentang pernikahan. Pokoknya seneng dan romantis. Dan jadilah muncul cita-cita ingin menikah di umur 23 tahun. Hahaha

Time goes by, di jaman kuliah pertengahan, saat usia mulai mendekati umur 23, definisi tentang menikah mulai naik level. Haha. Ada sebuah kebutuhan untuk ingin 'dilengkapi'. Kondisi keluarga, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi-kondisi lainnya membuat saya merasa butuh seseorang yang 'menguatkan' dalam banyak kondisi. Dan biasanya sih ini dialami oleh anak-anak tingkat tiga, galau nikah. Padahal kalau dipikir sekarang ya, ngapain ya dulu gitu-gituan. haha. berasa alay banget. Tapi ya jujur, kebutuhan itu memang ada, merasa ingin dilengkapi, merasa ingin ada teman berbagi. Mungkin karena memang dinamika hidupnya mulai 'seru' kali ya. Gak lagi masalah tugas yang belum selesai, uang jajan yang kurang atau nilai IP yang turun, tapi mulai muncul ujian-ujian hidup yang dirasa ada benang merah yang harus diselesaikan diantara ujian-ujian yang ada. Kok jadi berat ya bahasanya? Haha.. mungkin saya aja kali ya yang mikirnya ketuaan, tapi itu seriusan yang saya pikirin di tingkat tiga pas jaman kuliah. Sejak SMP saya membantu orangtua untuk bisa rutin membayar SPP hingga kuliah dengan biaya sendiri mulai dari pendaftaran awal, bayar semesteran, biaya tugas studio tiap semester, hingga wisuda. Jadi ya memang sudah terbiasa merasa dilibatkan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga di rumah. Itulah sebabnya saya merasa butuh dilengkapi, karena memang yang dipikirkan mulai bercabang, bukan lagi tentang urusan diri sendiri.

Tingkat akhir perkuliahan, justru saya lupa cita-cita menikah itu. Karena sibuk mikirin TA. haha. Tapi di saat ga mikirin itulah, tetiba muncul sosok 'aneh' di penghujung usia 22 saya. haha. Dialah yang kemudian mengembalikan kegalauan saya tentang menikah. Hehe. Dan saat inilah kemudian menikah itu tidak lagi hanya memiliki definisi 'pembebasan' dan 'dilengkapi' tapi ada definisi baru yang didapat, ada dua inti pokok yang saya dapat waktu itu, tentang 'penyelamatan' dan 'penyempurnaan keimanan'. Duh berat banget gini bahasanya. Tapi lagi-lagi itu seriusan.

Tentang penyelamatan, mungkin ini ada kaitannya sama definisi pembebesan waktu jaman SMA. Hanya saja yang ini mungkin lebih serius tingkatnya, jadi bahasanya berubah jadi penyelamatan. Tapi sebetulnya kata 'penyelamatan' ini baru bener-bener saya resapi belakangan ini. Laki-laki dan perempuan fitrahnya pasti terikat sama yang namanya kutub ketertarikan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ketertarikan ini berubah kebutuhannya dari sekedar suka dan seneng kalau barengan ke tahap ingin melindungi, ingin bisa bertumbuh bareng, sukses bareng sampai pada keinginan untuk saling 'melengkapi' dan 'memuaskan' satu sama lain. Dua kata terakhir ini memiliki arti yang luas yang kaitannya dengan perasaan atau kebutuhan batin dan kaitannya dengan kebutuhan fisik (skinship). Kebutuhan batin ini mungkin ada hubungannya sama chemistry kali ya. Entah kenapa, ada sebuah sinyal aneh yang terdeteksi kalau sama pasangan kita. Entah itu perasaan bahagia yang ingin dibagi ataupun perasaan gelisah yang butuh solusi. Biasanya ini akan terconnect dan ketika kebutuhan masing-masing bisa dipenuhi, kita akan mendapatkan kebahagiaan batin. Sedangkan tentang kebutuhan fisik, saya baru ngeh belakangan ini. Saya baru sadar ternyata kebutuhan pemenuhan fisik itu akan selalu meningkat levelnya, misalnya awalnya sentuhan, setelah itu  akan muncul keinginan untuk pegangan tangan. Setelah bisa pengangan tangan, akan naik level lagi menjadi ingin merangkul, begitu seterusnya dan akan terus meningkat kebutuhannya. Dan saya baru sadar, ternyata skinship itu memang bisa memberikan kebahagiaan batin tanpa kita harus berkata. Misalnya ketika marah atau sedih, hanya dengan sentuhan dan pelukan, apalagi dari pasangan kita, itu bisa memberikan efek menenangkan yang sangat ampuh, tanpa kata-kata. Dan bayangkan saja jika tidak dibingkai dalam hubungan yang halal dalam penikahan, kebutuhan fisik ini akan menjadi sangat menyiksa. Trust me it works. Kebutuhannya terus meningkat, sedangkan secara norma dan agama, kita belum bisa seperti itu. Ya, kecuali orang-orang yang udah apatis sama aturan-aturan semacam ini. Bahayanya, semakin banyak orang-orang yang apatis sama aturan-aturan tentang lawan jenis ini, akan semakin banyak juga kasus-kasus moral di sekitar kita. Percaya deh. Penyimpangan-penyimpangan seksual yang ada di sekitar kita, bermula dari aturan pergaulan lawan jenis ini. Itulah kenapa saya bilang, menikah itu penyelamatan.

Penyempurna keimanan, ini juga yang bener-bener baru saya sadari waktu menjalani prosesnya. Duh, kalau diceritain panjang banget. Mulai dari kita yang baru kenal 10 hari di Padang, dua bulan kemudian dia dateng melamar, sebelumnya saya terjebak nostalgia sampai lima tahun (haha), dia anak bungsu dan kakak-kakaknya belum nikah, dan banyak lagi lainnya. Kalau bukan karena keimanan, waktu sesedikit itu akan sekuat apa sih mampu meyakinkan dua manusia untuk membangun perahu di pelayaran yang luas dan misterius nanti. Kalau bukan karena iman, kesan 10 hari bisa gitu ngalahin kesan 5 tahun? Kalau bukan karena iman, bisa gitu kakak-kakaknya ikhlas mengijinkan adik kecilnya nikah duluan? Kalau bukan karena iman, tega gitu orangtua membiarkan anak perempuannya didahului sama anak laki-lakinya yang bungsu? Kalau bukan karena iman, bisa gitu dua orang lulusan S1 yang baru lulus hitungan bulan yang lalu bisa membiayai pernikahannya berdua? Dan pertanyaan-pertanyaan 'bisa gitu?' lainnya. Keimananlah yang bisa menguatkan itu semua. Dan perjalanan inilah yang semakin menguatkan keimanan kami. Baru sampai tahap ini aja, baru 26 hari menikah, begitu banyak nilai-nilai keimanan yang bertambah dalam diri kami. Padahal pernikahan kan perjalanan panjang, yang selalu diniatkan tak akan berakhir bahkan sampai dimensi kami berubah ruang. Pasti akan ada banyak pelajaran keimanan lainnya yang akan kami dapat, saat nanti kami punya anak hingga nanti kami harus menikahkan anak kami, sampai tugas kami di dunia berakhir. Ya..disinilah kita gak akan kehabisan materi pembelajaran tentang keimanan.

Siapapun yang akan menikah, baru menikah, telah menikah, yakinilah bahwa menikah adalah sekolah kehidupan yang panjang. Karenanya kita memang dituntut untuk selalu belajar dan memperbaiki pengetahuan kita. Karena jika tidak, mungkin kita akan tinggal kelas atau terpaksa drop out dari sekolah ini. Tinggal kelas tidak lebih baik dari drop out saya rasa. Kita menikah untuk bahagia, ketika kita tinggal kelas, berarti kita mengalami stagnansi dalam pernikahan kita. Tinggal kelas, berarti kita tidak berhasil melewati ujian pernikahan. Bukan berarti pernikahan kita berakhir, karena kita hanya tinggal kelas, bukan drop out. Tapi tidak ada orang yang bahagia saat tinggal kelas. Sedangkan kita menikah untuk bahagia. 

Allahu'alam
yang menulis ini hanya seseorang yang sedang mengumpulkan bahan bakar untuk terus menyalakan api kebahagiaan dalam rumah kecilnya dan ingin berbagi sedikit tentang begitu banyak pelajaran yang ia dapat dalam perjalanan pernikahannya yang baru kemarin sore. hehe




Sunday, 22 December 2013

Pesona Kematangan

Chemistry yang biasanya mempengaruhi hubungan cinta antara laki-laki dan wanita sebenarnya hanya menegaskan satu fakta : ketika cinta yang genuine bertemu dengan motif lain dalam diri manusia, dalam hal ini hasrat atau syahwat biologis, hubungan cinta antara laki-laki dan wanita memasuki wilayah yang sangat rumit dan kompleks. Banyak fakta yang tidak bisa dipahami dalam perspektif norma cinta yang lazim. Lebih banyak lagi kejutan yang lahir di ruang ketidakterdugaan. Namun itu tidak menghalangi kita menemukan fakta yang lebih besar : bahwa dengan memandang itu sebagai pengcualian-pengecualian, seperti dalam kasus Muawiyah bin Abi Sufyan dengan gadis badui yang tidak dapat mencintainya, kekuatan cinta sesungguhnya tetap dan selalu mengejawantah pada kematangan kepribadian kita. Misalnya cinta antara Utsman bin Affan dan istrinya, Naila.

Para pencinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya, atau kekuasaan dan kekayaanya, atau popularitas dan pengaruhnya. Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi. Mereka kuat. Tapi kekuatan mereka menjadi sumber keteduhan jiwa oprang-orang yang dicintainya. Mereka berisi dan sangat independen. Tapi mereka tetap merasa membutuhkan oranglain, dan percaya bahwa hanya melalui mereka ia bisa bertumbuh dan bahwa pada orang-orang itulah pemberian mereka menemukan konteksnya. Kebutuhan mereka kepada oranglain bukan sebentuk ketergantungan. Tapi lahir dari kesadaran mendalam tentang keterbatasan manusia dan keniscayaan interdependensi manusia.

Pesona inilah yang dipancarkan Khadijah pada Muhammad. Maka selisih umur tidak sanggup menghalangi pesona Khadijah menembus jiwa Muhammad. Pesona kematangan itu pula yang membuat beliau enggan menikah lagi bahkan setelah khadijah wafat. "Siapa lagi yang bisa menggantikan Khadijah?" tanya Rasulullah SAW. Tapi bisakah kiita membayangkan pertemuan dua pesona? Pesona kematangan dan pesona kecantikan serta pesona kecerdasan? Pesona itulah yang dimiliki Aisyah : muda, cantik, innocent, cerdas dan matang dini. Dahsyat, pasti! Pesonanya pesona. Disini semua pesona menyatu padu : seperti goresan pelangi di langit kehidupan Sang Nabi. Dua perempuan terhormat dari suku Quraisy itu mengisi kehidupan pribadi Sang Nabi pada dua babak yang berbeda. Khadijah hadir pada periode paling sulit di Mekkah. Aisyah hadir pada periode pertumbuhan yang rumit di Madinah. Khadijah mengawali kehidupan kenabiannya. Tapi di pangkuan Aisyahlah ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyelesaikan misi kenabiannya.

Dalam jiwa Sang Nabi ada dua cinta yang berbeda pada kedua perempuan terhormat itu. Ketika beliau ditanya tentang orang yang paling ia cintai, ia menjawab Aisyah! Tapi ketika beliau ditanya tentang cintanya pada Khadijah, ia menjawab; "cinta itu dikaruniakan Allah padaku". Cintanya pada Aisyah adalah bauran dari pesona kematangan dan kecantikan yang melahirkan syahwat. Maka Ummu Salamah berkata, "Rasulullah SAW tidak bisa 'menahan' diri kalau bertemu Aisyah". Tapi cintanya pada Khadijah adalah jawaban jiwa atas pesona kematangan Khadijah: cinta itu dikirim Allah melalui kematangan Khadijah.

--Anis Matta, Serial Cinta, Pesona Kematangan--


Pesona kematangan, itulah mungkin yang bisa menjawab pertanyaan para penonton tentang mengapa Si Kaya dengan Si Miskin, Si Cantik dengan Si Buruk Rupa, Si Tampan dengan Si Buruk Rupa atau yang Muda dengan yang Tua, atau seaneh apapun peristiwa cinta di muka bumi ini. Pesona kematangan, yang merubah kekaguman menjadi sebuah kata bernama 'cinta'.


Wednesday, 6 November 2013

Adik Ketemu Gede

Hari ini entah kenapa begitu stuck, kerjaan rasanya sulit sekali untuk bertransformasi dari alam pikiran menuju alam digital. Ah baiklah, kita ng-blog dulu sajah #eh

----

Di sela-sela waktu yang ga produktif ini tetiba ingin buka wasap yang sebetulnya paket internetnya udah abis. Jadi sebetulnya yang muncul adalah chat di malam hari yang belum sempat terbuka. Lalu muncullah 57 notifikasi dari grup kelompok mentoring adik-adik yang kemarin sempat kupegang. Sekarang sudah berganti mentor, dan dipegang oleh yang lain.

Percakapannya seperti biasa, tak lepas dari perbincangan seputar jadwal mentoring pekan ini kapan yaa. Mereka bersahutan menyampaikan kegiatan-kegiatannya sepulang sekolah. Hingga ada yang bertanya, 'Kalau aku mentoring, itu berarti aku menolong agama Allah ga?'. Yang lain bersahutan menanggapi dengan pendapatnya masing-masing, sembari melaporkan waktu kosongnya untuk mentoring. Hingga akhirnya yang bertanya tadi memberikan closing statement, 'Kalau gitu ga apa hari Rabu. Insyaallah yang bakal nolong aku Allah, bukan yang lain'. #nyesss..

----

Aaah, tetiba begitu rindu pada adik-adik mentoringku. Sejak angkatan 2010 hingga angakatan 2013 yang kisahnya aku ceritakan di atas. Betapa rindu pada setiap minggu yang aku harus datang lagi ke sekolah. Setiap minggu menanyakan kabar dan kepastian hari mentoring. Setiap minggu menyiapkan materi apa yang akan disampaikan. Setiap minggu mendengarkan celoteh mereka, mulai dari jajan pas istirahat sampai cerita rapat-rapat rutin mereka. Setiap minggu mendengar curhat mereka, mulai dari virus-virus merah jambu ala putih-abu hingga saat mereka mulai dilarang mentoring oleh orangtua karena takut diajari aliran sesat. Haha.. lucu sekali. Mungkin dulu juga aku begitu pada teteh-teteh mentorku. 

Sungguh diantara begitu banyak nikmat keimanan yang Allah berikan adalah nikmat diberikannya adik-adik mentor yang hampir setiap pekan selalu mewarnai kisah mingguanku. Bertemu mereka lagi, mendengar cerita mereka lagi, memberikan 'dongeng' lagi, dan begitu seterusnya. Kejadian yang monoton sebetulnya, tapi selalu saja ada rasa rindu jika satu atau dua minggu saja terlewat, tak ada mentoring. 

Di setiap akhir mentoring, biasanya adik yang bertugas sebagai MC, menutup dengan kata-kata yang nyaris serupa pada setiap kelompok yang berbeda. 
"Alhamdulillah mentoring kali ini telah selesai. Terimakasih kepada Teh Hasri yang sudah memberikan materi dan mendengarkan curhatan kita semua. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Kita tutup dengan bacaan istighfar, hamdalah dan do'a akhir majelis"
Hampir selalu seperti itu. Padahal seusai mentoring dengan mereka, dalam hati aku selalu bersyukur, "Terima kasih Ya Rabb, telah mempercayakan mereka kepadaku. Pada seseorang yang sungguh masih sedikit ilmu, masih sering berbuat dosa, masih sulit untuk mengendalikan hawa nafsu, masih takut berbicara di depan umum, masih sering malas-malasan dalam beribadah. Tapi karena mereka aku mau merubah diriku. Menambah ilmuku setiap pekan sebelum bertemu dengan mereka. Malu jika akan berbuat dosa. Malu jika mengikuti hawa nafsu. Belajar berbicara di depan mereka, meski lidah ini kelu. Dihantui oleh setiap kata-kata yang muncul dari mulutku sendiri. Dan malu jika ibadahku pas-pasan. Terima kasih telah mengirimkan mereka untukku, yang dengannya aku berubah banyak."

Sekarang mereka telah berpencar ke banyak penjuru Indonesia, bahkan beberapa diantaranya ada yang telah berpindah ke negeri seberang. Beberapa diantaranya ada yang masih mentoring, ada juga yang sudah tidak. Kadang dari mereka masih ada yang meminta mentoring lagi saat musim liburan tiba, dan mereka semua berkumpul di Bandung. 

Ah, tetiba teringat betapa begitu banyak hak-hak mereka yang lalai aku tunaikan. Seringkali aku luput menanyakan kabar mereka yang telah berpindah ke lain kota. Seringkali aku lupa untuk sekedar menanyakan kabar. Seringkali aku kelu ketika melihat beberapa diantara mereka yang mulai berubah. Ah pasti itupun karena aku. Aku yang masih banyak sekali kurangnya dan penuh dengan keterbatasan dalam membersamai mereka. Aku yang apa adanya dan sangat minim ilmu.

Rindu itu semakin menjadi-jadi sekarang. Membayangkan hari-hari bersama mereka. Lingkaran-lingkaran itu. Mereka yang putih-abu. Lantai 4 sekolah kami. Foto bersama, makan bersama. Dan yang tak ternilai harganya adalah saat sedikit demi sedikit mereka mulai merasa bangga akan keislamannya, semangat beribadahnya, semua itu begitu menamparku dan membuatku berkaca pada diriku sendiri.

Adik-adikku, dimanapun kalian berada sekarang. Terimakasih telah hadir dalam lembaran hidupku, memberikan perubahan yang sangat berarti bagiku. Maaaf atas begitu banyak hak-hak yang belum sempat tertunaikan. Atas kesepakatan yang tak terjaga. Semoga Allah selalu menjaga kita, menjadikan kita wanita-wanita shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Semoga Allah menjadikan kita guru terbaik yang melahirkan anak-anak peradaban.


Tuesday, 5 November 2013

Pelajaran Cinta

Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai, lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu terbalas. Fakta ini mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

Sebabnya sederhana saja. Cinta itu banyak macamnya. Ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. Cinta ini lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. Misalnya cinta para Nabi kepada umatnya, atau guru kepada muridnya, atau pemimpin kepada rakyatnya, atau ibu kepada anaknya. Jiwamu dan jiwa orang yang kamu cintai tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Bahkan sering berkembang jadi permusuhan. Lihatlah bagaimana Nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu yang ditelantarkan anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya.

Inilah cinta yang paling luhur. Paling suci. Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan salam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya merupakan buah dari cinta yang lain. Ambillah contoh: 1,3 milyar umat islam saat ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah sang Nabi beserta para sahabat-sahabatnya. Itu cinta misi.

Tapi ada jenis cinta yang lain. Cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. Cinta ini lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan di sini.

Ada cinta ketiga. Cinta maslahat. Cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama maka mereka saling mencintai. Misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon atau senyum manis seorang pramugari atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel: semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa (comfortability). Anda adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Anda adalah kepentingannya. Bukan jiwanya.

--- Anis Matta, Serial Cinta, Pelajaran Cinta ---

Cinta memang kata yang sulit didefinisikan atau justru kata yang memiliki banyak definisi. Dari buku Ust. Anis Matta ini ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, tentang cinta.

Bagi siapapun yang sedang mengumpulkan batu bata untuk membangun sebuah rumah tangga, semoga cinta yang mendasari bangunan itu tak hanya sekedar cinta jiwa, cinta yang lahir dari sebuah kesenyawaan jiwa yang saling menggenapkan dan melahirkan sebuah ketenangan semata. Semoga cinta yang mendasari bangunan itu adalah sebuah 'Cinta Misi', cinta yang memiliki sebuah tujuan dan cita-cita agung di akhirnya. Cinta yang tak hanya mengharapkan kegenapan jiwa dan kepuasan biologis semata. Tapi ada sebuah cita-cita besar yang menjadi tujuan bersama dari bangunan tersebut. Cinta yang tak akan hilang meski cinta jiwa mengalami penurunan kualitas, jika suatu saat sebuah bencana menguji kualitas bangunan mereka. Cinta yang bisa menjadikan bangunan mereka adalah sebuah mesin peradaban, yang melahirkan agen-agen kebahagiaan untuk orang-orang disekitarnya.

Semoga memang bangunan itu akan terbentuk dari cinta yang berlandaskan misi yang agung, misi yang jauh kedepan dan dibutuhkan banyak 'bekal' untuk mencapainya. Bukan sekedar cinta jiwa, yang lahir dari persamaan dan kesegenapan. Bukan sekedar cinta jiwa yang lahir dari ketertarikan dan kenyamanan dua insan. Apalagi sekedar cinta maslahat, yang lahir hanya karena sebuah kepentingan semata, yang jika kepentingan itu tercapai maka selesailah sudah cintanya. 

Bagaimana menumbuhkan 'cinta misi' ini? Tentu kita harus  lebih banyak 'belajar' dan 'membaca' lagi..



Sunday, 3 November 2013

Memaafkan Kesalahan Diri #2

"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tak ada seorang manusiapun di dunia ini yang luput dari salah dan dosa. Bahkan Rasulullah saw. yang dima'sum oleh Allahpun pernah melakukan khilaf yang kemudian ditegur langsung oleh Allah dan diabadikan dalam Al-Qur'an surat 'abasa. Begitulah manusia, sejatinya memang masa hidupnya adalah masa pengujian, trial and error. Memang seperti itulah manusia, masa hidupnya adalah masa belajar.

Kesalahan seringkali membuat manusia merasa terpuruk dan hina ketika tersadar bahwa yang telah ia lalui adalah sebuah kenistaan. Ia akan merasa kecil, tak berdaya. Kesalahan-kesalahannya membuatnya seakan menjadi makhluk yang paling hina dan tak pantas untuk diampuni. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah menyadari kesalahannya, merasa bahwa dosanya telah teramat besar dan mustahil Tuhan akan mengampuninya, maka tenggelamlah ia dalam lautan dosa dan tak sanggup naik ke daratan taubat. Di satu sisi, kita bisa melihat kewajaran dari sikap tersebut. Ketika ia mulai menyadari kesalahannya, melihat dampak dari dosa-dosanya, membandingkan dirinya dengan oranglain yang jauh lebih baik, itu memang akan membuatnya merasa semakin tak berdaya hingga sampai pada kondisi fatal, ia menyerah pada dosa dan kesalahannya. "Biarlah, aku sudah terlanjur kotor. Tak ada lagi yang mau menerimaku" 

Tapi itukah yang Allah inginkan dari kita? Maka untuk apa Allah sediakan surga, jika nafsu yang Ia ciptakan untuk kita hanya akan menggiring kita pada neraka-Nya?

Manusia bukanlah malaikat yang memang hidupnya hanya untuk mengabdi pada Allah. Ia tidak Allah sisipkan rasa membangkang dalam dirinya. Tapi manusia juga bukanlah iblis yang memang telah mengikrarkan hidupnya untuk mecari sebanyak-banyaknya kawan di neraka untuknya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah berikan pilihan untuk hidupnya, apakah akan menjadi kawan dari malaikat ataukah menjadi kawan dari iblis. Segala hal yang Allah titipkan pada manusia berupa akal, hawa nafsu, intuisi dan segala fitrah manusia, adalah bekal yang Allah berikan untuk kita bisa memilih jalan hidup tersebut. Akal digunakan untuk berpikir dan berlogika tentang sesuatu yang baik atau buruk, pantas atau tidak. Hawa nafsu Allah titipkan untuk mengolah perasaan kita, kemanakah ia lebih diarahkan, apakah kepada nafsu yang baik ataukah sebaliknya. Intusi adalah kepekaan naluriah yang berhubungan dengan alam bawah sadar, yang sadar ataupun tidak, ini berkaitan erat dengan kedekatan manusia pada Tuhannya.

"Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam: 54)
Itulah jawaban Allah atas hamba-hamba-Nya yang berbuat salah. Allah meminta kita untuk datang kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itulah yang Allah inginkan dari kita. Ia yang menciptakan kita dan tahu betul tabiat kita. Allah tahu betapa kita pasti akan pernah melewati jalan yang salah, maka Allah selalu menyediakan kesempatan bagi kita untuk kembali atau berbalik arah. Allah tahu kita makhluk yang perlu banyak belajar, maka Allah selalu membukakan ampunan-Nya bagi mereka yang mau belajar dari kesalahan-kesalahnnya. 

Maka tak ada lagi alasan untuk terjerembab dalam kubangan dosa. Tak ada lagi alasan untuk tenggelam dalam lautan khilaf. Tak ada kata menyerah pada keadaan. Bangkitlah! Bergeraklah! Temukan jalan kembali kepada-Nya. Sama halnya ketika kita tersesat dalam mencari sebuah alamat, ketika kita menemui jalan buntu, kita harus kembali memutar arah, mencari jalan yang benar, meski dengannya kita akan mengalami kesulitan seperti berjalan dalam labirin, meski dengannya kita mungkin akan merasa malu karena orang-orang yang ada di pinggir jalan menyaksikan bahwa kita tersesat, meski dengannya kita harus menambah bahan bakar kendaraan kita karena ia telah terkuras dalam perjalanan yang menyesatkan tadi. Tapi itu bayaran yang harus kita berikan untuk keluar dari kebuntuan dan mencari alamat yang benar, untuk sampai pada tujuan yang memang kita harapkan. 

Bagi mereka yang baru menyadari bahwa selama hidupnya sering melakukan kesalahan pada orang-orang sekitarnya, sering membuat jengkel teman-teman atau tetangga atau yang selama bertahun-tahun menjadi public enemy. Bangkitlah! Mohon ampun pada Allah, meminta maaf pada manusia, dan mulailah bersikap baik pada sesama. Jangan marah ketika dalam perjalanan meminta maaf akan ada yang tidak memaafkan atau malah balik mencemooh. Itu bukan urusan kita. Allah akan melihat segala usaha kita dan kelak ketika Allah telah meridhoi kita, ia akan menggerakkan hati-hati manusia untuk juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Bukankah Ia yang Maha membolak-balikkan hati manusia?

Anak-anak yang selama ini sering mengecewakan orangtuanya. Tak sekali membuat mereka menangis karena tingkah kita. Melakukan larangan Allah yang bahkan kita tak boleh berkata "ah!" pada mereka. Masih ada waktu untuk memohon ampun pada Allah dan meminta maaf pada kedua orangtua kita. Manfaatkanlah waktu yang tersisa untuk memuliakan mereka. Membalas segala kasih sayang dan kebaikan mereka, meski itu tak akan pernah sebanding sebetulnya. Jika mereka telah tiada, jadilah anak yang shaleh yang do'anya bisa meringankan siksa kuburnya, yang amalanya bisa membawa mereka untuk ke surga. 

Untuk para orangtua yang baru menyadari bahwa selama ini salah mendidik anak-anaknya. Bertahun-tahun melakukan keburukan di depan anak-anak yang kemudian dicontoh oleh mereka. Melalaikan hak-hak anak yang selama ini mereka harapkan. Menyumbang masalah sosial karena telah melahirkan anak yang justru malah meresahkan banyak orang. Tak perlu berputus asa, cukuplah yang dahulu menjadi pelajaran yang berharga. Masih ada waktu untuk memohon ampun pada Allah dan dengan rendah hati meminta maaf pada anak-anak. Masih ada waktu untuk menata kembali kehidupan keluarga yang sempat kacau karena kesalahan di awal. Masih ada waktu untuk mendidik anak-anak shaleh yang kelak akan menjadi amal yang tak terputus ketika nyawa telah berpindah ke alam yang berbeda. 


Bagi dua insan manusia yang saling mencinta namun belum terikat dalam ijab ibadah yang menghalalkannya. Mohon ampunlah pada Allah atas segala khilaf yang terlanjur dilakukan. Atas perhatian-perhatian dan perasaan-perasaan yang terlanjur diumbar pada waktu yang belum saatnya. Atau bahkan jika ada larangan Allah yang justru telah terlanggar. Mohon Ampunlah pada-Nya. Mohonlah cinta-Nya yang lebih utama daripada cinta dari makhluk-Nya. Mohonlah pada-Nya untuk meridhoi cinta kalian dan menyampaikannya menjadi ibadah yang nilainya setengah agama. Putuskanlah hal-hal yang belum hak dan dapat membuat-Nya cemburu pada cinta kalian. Berkomitmenlah untuk saling menjaga perasaan dan menyerahkannya pada Allah. Masih ada waktu untuk menjadikannya proses yang baik untuk niat yang sangat baik. Masih ada waktu untuk memulai sebuah ibadah yang besar dengan awalan yang baik. Masih ada kesempatan untuk membangun peradaban kecil pada rumah tangga kalian kelak, dengan ikhtiar terbaik yang diridhoi-Nya. Karena alangkah lebih baiknya jika sebuah rumah tangga yang berkah diikhtiarkan dan diawali dengan proses yang juga penuh berkah.

Untuk siapapun yang sedang berjuang mendapatkan ridho dan ampunan-Nya, tetaplah berikhtiar untuk itu. Tak peduli seberapa panjang jalan yang harus kalian tempuh. Tak peduli seberapa sakit luka yang harus kalian obati. Tak peduli berapa banyak orang yang akan mentertawai. Yakinlah, cinta Allah yang sedang kalian perjuangkan, yang balasannya bahkan tak ternilai oleh bumi dan seisinya.

Teruslah berjalan menuju ampunan-Nya. Bayangkanlah berapa orang yang akan bahagia melihat perubahan kalian. Berapa pasang mata yang akan menangis haru mendengar permintaan maaf kalian. Dan berapa banyak malaikat yang akan ikut mendoakan dan meng-amin-kan do'a-do'a kalian. 

Semoga kita tergolong hamba-Nya yang selalu belajar atas kesalahan dan kebaikan. Semoga kita tergolong hamba-Nya yang tak pernah berputus asa pada rahmat Allah, Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.


“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”  (QS. Yusuf :87)


Friday, 1 November 2013

Kesenangan ini

Kesenangan dunia mungkin memang Allah sediakan untuk menguji manusia. Sebagiannya disediakan untuk menguji rasa syukur dan sebagian lainnya disediakan untuk menguji ketaatan kepada-Nya. 

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."
(Ali ‘Imran: 14)
Pada hakikatnya kesenangan dunia akan selalu sejalan dengan hawa nafsu manusia; nafsu muthmainnah, nafsu amarah, nafsu lawamah. Banyak hal yang bisa memuaskan manusia untuk 3 nafsu tersebut. Berbuat baik, bersikap ramah, menjalankan segala sesuatu yang sejalan dengan fitrah manusia kita selalu akan memuaskan nafsu muthmainnah kita, karena memang pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa hanif yang Allah titipkan dalam ruhnya. Menyalurkan perasaan kita, marah ketika kita jengkel, geram ketika ketidak-adilan muncul, itu sejalan dengan nafsu amarah kita. Bukan berarti manusia itu makhluk yang pemarah, tapi nafsu ini tentu Allah ciptakan juga untuk membentuk keseimbangan di alam semesta. Kenyamanan terhadap lawan jenis, perasaan tertarik pada kutub yang berbeda, kelengkapan senyawa yang Allah sengaja ciptakan antara kaum adam dan hawa, itu semua Allah ciptakan untuk menjalankan fungsi nafsu lawamah kita. Bukan untuk sesuatu yang berbau tak senonoh, tapi lagi-lagi itu Allah sinergikan dengan alam dengan membuat segala aturan dan kerangka yang menjadikannya halal dan bernilai separuh keyakinan, itulah yang membedakan manusia dengan binatang.

Kesenangan dunia memang Allah ciptakan untuk menguji dari hamba-hambaNya, mana yang paling baik amalnya, siapa yang paling teguh ketaatannya dan siapa yang benar-benar mengabdi kepada Rabb-nya.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, " (QS. Al-Mulk : 2)
Kesenangan hidup memang selalu harus senantiasa kita sikapi dalam perspektif seorang hamba. Hamba Allah, yang menjadikan-Nya Illah, tujuan dari setiap langkahnya. Hamba Allah yang menjadikan-Nya Rabb, Tuhan yang menggenggam hidupnya dan yang paling menyayanginya. Hamba Allah yang menjadikan-Nya Raja, penggenggam segala aturan yang harus dipatuhinya. Perspektif inilah yang kemudian bisa menggerakan seorang hamba, untuk senantiasa mengarahkan hawa nafsunya pada kehendak Tuhannya. Menyeimbangkan antara tiga nafsu tersebut untuk tidak berbenturan satu sama lain. Mengoptimalkan segala yang baik dari tiga nafsu tersebut untuk menjadikannya manusia yang ahsanu amala, manusia dengan sebaik-baik amal.

Kesenangan dunia adalah ujian sekaligus nikmat yang Allah hadiahkan untuk kita agar berpikir dalam serta menghayati setiap jengkal kehidupan yang kita lalui.

Ya Rabbi, jadikanlah kami hamba-Mu yang peka terhadap segala Iradah-Mu, jadikanlah kami hamba-Mu yang bersyukur sekaligus hamba-Mu yang selalu berhati-hati, menelaah dengan dalam apa yang sebenarnya Engkau inginkan atas segala yang Engkau titipkan.
Ya Rabbi berikanlah selalu petunjuk-Mu agar kami selalu berada di dalam jalan-Mu
Ya Rabbi jangan biarkan kami tergelincir pada kesenangan dunia yang sebetulnya adalah ujian dunia.

Ya Rabbi, sampaikanlah kami dengan selamat pada akhir kehidupan dunia ini dan sampaikanlah kami pada kehidupan yang kekal abadi, di Jannah-Mu kelak.


Friday, 18 October 2013

Teruslah Bergerak

Istirahatnya seorang muslim adalah saat ia telah menginjakkan kakinya di surga

Nampaknya kalimat diatas itu benar adanya. Tadi siang saat jam istirahat di kantor, seperti biasa kami para desainer selalu asik ngobrol sambil menyantap makan siang. Obrolan yang selalu seru dan hampir tak berujung, bahkan ketika jam istirahat habispun kami masih sering asik dengan tema obrolan kami.

Siang ini salah seorang teman kantor, Teh Detika yang baru saja melahirkan putra pertamanya, bercerita tentang ceritanya selama proses melahirkan. Selama dua hari ia merasakan mules akan melahirkan sebelum akhirnya si Jalu hadir di alam dunia ini. Rasa sakit yang teramat sangat katanya, jauh lebih sakit dari sakit haid yang biasa kualami saat datang bulan. Detik-detik menjelang melahirkan, semakin banyak rasa yang muncul, mulai dari sering buang air kecil hingga sakit yang teramat sangat, sampai terasa dingin hingga ke tulang, katanya. Kami yang mendengarkan, membayangkannya sampai ngilu-ngilu sendiri. Katanya, rasanya kayak diharkosin, nunggu-nunggu, kapan ya lahirannya...? Duh kebayang ya, sakit haid aja sering ga tahan sampe guling-guling sendiri di kasur, apa  rasanya mules akan melahirkan? ga bisa guling-guling pula..

Dalam hati saya berpikir, setelah melahirkan pasti rasanya sangat lega ya.. dan kesusahan yang dialami selama 9 bulan rasanya akan hilang. Ternyata tidak. Teh Detika melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana proses persalinannya, tentang jahitannya, ah pokoknya ngilu abislah. Tapi beliau bilang, Waktu ngelahirin itu ga terlalu sakit, yang lebih sulit itu justru ketika awal-awal menyusui. Ketika dede bayinya belum bisa spontan minum sendiri, sedang persediaan ASI sudah mulai banyak. Katanya, rasanya itu sakiiiit sekali, seperti abses (pembengkakan) gitu. Sampai akhirnya ASI harus dikeluarkan secara manual, tanpa bantuan si dede dan itu rasanya sakit sekali, katanya.

Sampai disini, kemudian saya ingat sebuah kalimat di awal tulisan ini. Sepertinya memang niscaya bahwa sejatinya kita tidak bisa beristirahat sebelum kaki kita sampai di surga. Selalu ada hal baru yang harus kita lakukan, setelah kita selesai mengerjakan 'hal besar' dalam hidup kita. Teringat ketika dulu lulus dari SD, lanjut SMP. Kemudian lanjut SMA, setelah selesai langsung memikirkan akan kuliah dimana. Setelah masuk PTN yang diinginkan, ternyata itu belum selesai, karena kuliah juga bukan hal yang mudah apalagi di PTN yang diinginkan tadi. Setelah kuliah, kita juga mesti selesai dengan perkuliahan kita, mengejar tugas akhir, sidang akhir, dan kemudian wisuda.

Setelah wisuda, lalu ditanya lagi mau kemana? kapan kerja? Setelah kerja, ditanya lagi, kapan menikah? Setelah menikah, nanti ditanya lagi, kapan punya anak? Setelah punya anak, ditanya lagi kapan mau ngasik adek lagi? daaaan seterusnya...

Dan memang akhirnya akan selalu begitu, sampai akhirnya tidak akan ada lagi pertanyaan akan kemana, hanya setelah kita benar-benar telah menginjakkan kaki kita di Surga-Nya. Ah Rabbi, indah sekali.. 

Maka yang selanjutnya harus kita lakukan dalam hidup ini memang TERUS BERGERAK. Move On. Bergeraklah, karena jika tidak kita akan tertinggal. Bergeraklah karena waktu tak akan pernah menunggu kita. Bergeraklah karena memang hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia, yang ingin dihargai kemanusiaannya sebagai manusia, bukan sebagai binatang atau makhluk-Nya yang lain, yang tidak diberi bekal akal, pikira, dan hawa nafsu.

Maka, teruslah bergerak!


Thursday, 17 October 2013

Tentang Keyakinan

Keyakinan itu datangnya dari mana?
Dari setiap detik yang dilewati dan itu membawa kita pada kebulatan tekad

Yakin kalau keyakinan itu benar?
Allahu 'alam. 
Hanya menyerahkan pada takdir Allah, berikhtiar semaksimal yang bisa dilakukan
lalu menyerahkan hasil akhirnya pada Iradat Allah

Gimana kalau ternyata takdir nanti tidak sesuai dengan keyakinan kita?
Fatawakkal 'alallah
Tawakal yang akan mengobati segalanya, insyaallah

Karena manusia hanya bisa berencana, berusaha dan berdo'a. 
Berencana agar kita sampai pada akhir perjalanan dengan selamat.
Berusaha agar Allah memandang kita layak untuk mendapatkan impian kita.
Berdo'a agar kita sadar betul, bahwa kita memang makhluk kecil yang sangat butuh bimbingan-Nya.

Dan sungguh Allah lebih mengetahui mana yang paling baik untuk kita.


Thursday, 10 October 2013

Bersabarlah..


.......................................................

Bersabarlah.. 
karena langit yang semakin gelap, menandakan bahwa akan semakin dekat dengan pagi.


Bersabarlah.. 

karena gelap ini bisa jadi belum seberapa. Masih ada malam yang akan lebih gelap dan mencekam.


Tidak mudah memang melewati malam, 

tapi yakinlah bahwa Allah pasti akan menghadiahkan pagi dan sinar itu akan muncul kembali.


Bersabarlah.. 

karena kalaupun kita tak sempat mendapati mentari,
 sabar itu sendiri yang akan mengantarkan kita pada balasan langsung dari ilahi Rabbi..


..................................................




Monday, 7 October 2013

Memaafkan Kesalahan Diri

Ada satu hal yang baru saya sadari tentang hidup ini, satu jam yang lalu. Bener-bener di satu jam yang lalu.
Bahwa hidup kita, tidak hanya sekedar pahala dan dosa yang akan kita pertanggung-jawabkan masing-masing, tapi ada orang lain yang bisa saja terinspirasi atas kebaikan yang kita lakukan dan bisa jadi ada orang lain yang kecewa saat kita melakukan sebuah kesalahan.
Memang benar kalau pada akhirnya, kita akan berurusan dengan apa-apa yang telah kita lakukan, baik maupun buruk. Secara naluriah, manusia dibekali oleh sesuatu yang bernama intuisi yang bisa mengendalikan secara alam bawah sadar tentang sesuatu yang baik ataupun buruk dalam pengertian global dan universal. 

Setiap orang sadar bahwa senyum kita akan memberikan kebahagiaan bagi orang yang melihatnya, begitupun sebaliknya, wajah masam bisa memberikan efek tidak baik bagi orang lain yang melihatnya. Setiap orang tau betul, bahwa menghormati yang tua adalah sifat terpuji. Setiap orang sadar betul bahwa perpakaian serba mini bisa memberikan efek buruk bagi stabilitas sosial, apakah itu pada mata lelaki yang akan lincah berkeliaran kesana kemari ataupun pada keselamatan dari si pemakai pakaian minim tersebut.

Itulah bekal yang Tuhan berikan kepada manusia yang tidak Ia berikan pada makhluk-Nya yang lain. Perasaan peka dan sensitif pada sesuatu yang baik secara manusiawi dan yang bertentangan dengan kemanusiawian. Saya yakin setiap manusia memiliki kepekaan itu, hanya saja berbeda pada tingkatan kepekaannya saja, ada yang sangat peka, ada yang sangat kurang peka.

Sayangnya kepekaan manusia ini seringkali ia benturkan dengan egonya, nafsunya dan pemikiran bahwa "ini hidup gue! salah atau bener, akibatnya bakal cuman gue yang nanggung. Jadi lo ga usah ikut campur. Gue udah siap dengan segala konsekuensinya!" atau singkatnya "Hidup-hidup gue, masalah buat lo?!". Seringkali manusia terjebak pada anggapan itu. Padahal sejatinya, hidup kita jarang sekali yang hanya memberikan efek hanya untuk diri kita pribadi saja.

Misalnya begini, ketika kita belajar rajin maka kita akan bisa mengikuti pelajaran di kelas. Ketika kita bisa mengikuti pelajaran di kelas, ketika ujian kita akan memiliki peluang besar untuk mendapat nilai sempurna. Apakah ketika kita mendapat nilai sempurna, maka kebaikan hanya akan ada pada diri kita saja? Tentu tidak, akan ada guru kita yang merasa berhasil karena ada muridnya yang pintar. Ada orangtua kita yang merasa bangga karena anaknya juara kelas. Ada teman-teman kita yang akan dengan senang hati berteman dengan kita, dan mengambil manfaat dari kepintaran kita. Ada orang lain yang mendapatkan efek dari kebaikan yang kita lakukan. Maka kebaikan itu telah berdampak pada orang-orang lain diluar diri kita.

Itu contoh sederhana yang bisa saya gambarkan. Akan ada banyak hal lain yang memberikan efek sustain pada lingkungan sekitar kita. Begitupun ketika kita melakukan kesalahan. Seringkali ada orang-orang yang sangat sulit untuk disadarkan dari sebuah kesalahan yang ia lakukan. Dia sendiri sadar betul atas kesalahannya itu, tapi ia merasa berat untuk meninggalkan kebiasaan tidak baiknya, lantas berdalih bahwa kesalahannya itu ya akan dia tanggung sendiri, jadi oranglain tidak perlu banyak berkomentar, karena ini adalah hidupnya. Biarlah dia sendiri yang bertanggung-jawab pada Tuhannya.

Sayangnya dia tidak menyadari bahwa ada orangtuanya yang selalu terpaut atas dirinya, saat orang lain mengomentarinya. Ada almamaternya yang juga akan terbawa, ada saudara-saudaranya, ada anak-cucunya kelak yang akan lahir bertahun-tahun yang akan datang, ada agamanya, bahkan ada kebaikan-kebaikannya yang bisa jadi hilang dimata banyak orang saat ia terus menerus tenggelam dalam sikap buruknya.

Jadi berhentilah untuk berkata 'ini hidup gue!', karena setiap kita akan memberikan dampak pada lingkungan sosial kita. Mencobalah untuk selalu memberikan dampak positif bagi lingkungan karena pada akhirnya yang akan tertinggal di dunia hanyalah segala sikap kita pada sekitar.

Tak ada seorangpun yang selalu berada dan melakukan kebaikan di sepanjang hidupnya. Selalu ada khilaf, salah dan dosa. Itu wajar karena kita manusia. Tapi kita juga selalu memiliki kesempatan dan jalan untuk kembali jika suatu saat kita melakukan kesalahan. Jangan pernah berputus-asa pada keburukan diri, karena dengannya justru kita akan belajar untuk menjadi manusia langit yang dipuji oleh para malaikat atas kesabaran kita. 

Teruslah menggapai cahaya-Nya, karena cinta-Nya, ampunan-Nya serta pertolongan-Nya hanya akan kita dapatkan dengan utuh jika kita berjalan menuju-Nya.

Belajarlah untuk memaafkan kesalahan diri dan mintalah kepada-Nya untuk disadarkan dan kembali pada jalan cinta-Nya.

Allahu'alam.




Wednesday, 2 October 2013

Kejutan diantara Lapangan Hijau dan Air Hujan

"Pada akhirnya setiap kita, akan memetik hasil atas apa yang telah kita tanam dan kita rawat."

Entah mengapa sejak dulu, aku selalu percaya dan memegang prinsip itu. Sehingga efeknya, dalam setiap kejadian atau takdir apapun yang Allah tetapkan padaku, selalu ada evaluasi atas setiap usaha yang aku lakukan. Ketika takdir baik yang Allah berikan, aku selalu lebih bersyukur karena selalu takdirnya lebih baik atas apa-apa yang aku usahakan. Dan ketika takdir kurang baik yang hadir, aku tak akan terlalu kecewa, karena memang usahaku yang ternyata belum mumpuni.

Bertahun-tahun prinsip ini selalu membantuku dalam berhusnudzon pada setiap iradah-Nya. 

---

Entah ini untuk kesekian kalinya, selalu Allah memberikan lebih atas ikhtiarku. Bulan-bulan setelah kelulusanku, kejutan-kejutan itu malah lebih dinamis lagi. Kadang aku bertanya, "Rabb, pantaskah ini untukku? Rasanya terlalu berlebihan. Tapi terimakasih banyak, aku sangat senang." hehe..

Dan kemarin siang, rasanya begitu banyak kejutan baru yang Allah hadiahkan untukku. Sungguh aku tak menduga akan sejauh ini. Mimpi-mimpi yang awalnya kutulis dengan keraguan, entah mengapa aromanya malah semakin dekat terasa. Tentang yayasan pendidikan, tentang cita-cita sosiopreuneurku dan masih banyak lagi yang lain, rasanya mimpi itu menjadi lebih mungkin untuk kugapai sekarang. Dan sungguh, kemarin siang pun aku bertanya pada-Mu ya Rabb, ditengah derasnya hujan kala itu, aku lagi-lagi bertanya, "Rabb, pantaskah ini untukku? Tidakkah terlalu berlebihan? Tapi terimakasih banyak, aku sungguh sangat bahagia. Terimakasih karena telah menyampaikanku sampai pada kesempatan itu." Ah, sungguh Rabb, aku akan selalu menunggu kejutan-kejutan lain dari-Mu. 

---

Dan lagi-lagi ini tentang menanam dan merawatnya. Menanam segala harapan dan cita-cita kita. Menanam sesuatu yang bahkan logika manusia tak mampu mempercayainya. Merawat mimpi-mimpi tidak mungkin itu, hingga ia tumbuh tinggi dan semakin tinggi. Mungkin untuk jadi tinggi memang tidak mudah, butuh pupuk, disiram setiap hari, dijaga dari hama yang merusak, bahkan ketika musim membuat lingkungan tak bersahabat. Tapi kesabaran untuk merawatnya, itulah yang akan mengantarkan kita pada suatu waktu ketika bunga mulai bermekaran, tumbuh bakal buah, hingga buah tersebut nyata betul bisa kita petik. 

Memang pada akhirnya, bukanlah mewujudkan cita-cita yang mahal harganya. Tapi memiliki cita-cita dan menjaga cita-cita itulah yang mahal, yang tak semua orang miliki, bahkan tak semua orang berani.


Monday, 30 September 2013

Pelayaran ini..

Mungkin memang seperti itulah nantinya, tentang setengah dien ini. Bukan hanya tentang ketertarikan dua orang manusia, bukan hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya sekedar kecocokan sifat antara dua insan. Bukan itu rasanya.

Ini tentang kesamaan visi yang akan menjadi pondasi dari bagunan yang Allah jadikan sebagai separuhnya dari Agama. Ini tentang sebuah perahu yang akan berlabuh dalam luasnya samudra kehidupan. Bukan untuk sehari dua hari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi selalu diniatkan sebagai perjalanan panjang yang hanya umurlah yang akan menghentikannya. Ini tentang ke arah mana perahu itu akan dilayarkan. Ini tentang Sang kapten dan nahkoda, serta awak kapal yang dibawanya di atas samudra itu. Ini tentang lautan yang mana yang akan mereka seberangi. Tentang sejauh mana pelayaran yang mereka rencanakan. Tentang bagaimana mengatur orang-orang yang berada dalam perahu itu untuk bisa saling sepakat atas tujuan pelabuhan mereka, untuk bisa saling menguatkan saat datang ombak besar yang memabukkan, saat badai datang dan meluluh-lantakkan, bahkan disaat terik matahari begitu hangat dan melenakan. Ini tentang bagaimana semua awak perahu tersebut bisa saling menguatkan dan menjaga agar perahu tersebut tidak tenggelam dan karam ditelan badai dan ombak.

Ini tentang misi pelayaran yang mesti dipahami dan disepakati oleh semua awak kapal. Ini tentang pengembaraan menuntaskan separuh keyakinannya. Ini tentang pelayaran yang tak hanya menyelamatkan kehidupan perahunya sendirian, tapi juga bisa saling menguatkan perahu lain yang berlayar menuju pelabuhan yang sama. Ini tentang pengokohan barisan kebenaran, agar kemudian tak banyak perahu yang karam di tengah lautan, akibat para perompak-perompak jalang.

Memang bukan pelayaran yang mudah. Tapi juga bukan keputusan yang tepat ketika kita selalu takut dan tak pernah memutuskan untuk memulai pelayaran, karena kita tak mungkin bisa berlabuh tanpa melakukan pelayaran terlebih dahulu.

Ya, ini tentang pelayaran menuju pelabuhan keridhoan-Nya.
Maka ketika saatnya berlayar telah tiba, Rabb aku mohon, tolonglah aku untuk menemukan nahkoda yang tepat untuk mengarungi samudra yang luas dan penuh ombak. Aku mohon ya Rabb.. 


Followers