Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Friday, 26 December 2014

26 weeks

Assalamu'alaikum sayang..
Tenyata udah lama ya bunda gak nulis jurnal tentangmu disini.. maaf ya.. :)

Sayang, sekarang usiamu 26 minggu loh.. udah besar ya, perut bunda juga sekarang udah keliatan buncit. Udah ada beberapa jaringan kulit baru di perut bunda, hihihi. Sekarang orang-orang udah bisa menerka keberadaanmu di dalam perut bunda. Seneng deh.. Gerakanmu juga semakin lincah, saking lincahnya bunda sampe geli setiap kalau kamu gerak, hehe. Kadang juga posisimu membuat bentuk perut bunda asimetris, melendung, Hoho (nah, itu tadi kamu barusan gerak :)) Saking lincahnya kamu, sekarang ayah gak perlu susah-susah menunggu gerakanmu, apalagi sekarang seakan kamu mengerti, kalau ayah datang pasti gerakanmu lebih hebat. Itu kenapa sayang, seneng yaa?? 

Oia, di minggu ke-16 kemarin sebetulnya dokter sudah memprediksikan jenis kelaminmu sayang, tapi kata orang-orang prediksi itu kadang berubah-ubah, jadi kita tunggu saja ya.. :D

Tetep sehat ya dedek.. terus tumbuh dan kuat. Tumbuh menjadi anak yang shaleh/shalehah, bermanfaat untuk lingkungan dan menjadi bagian dari pada ashabul qur'an. Selalu bekerja sama dengan bunda ya sampai kamu bertemu kami di dunia. Pokoknya kita adalah best partner ever deh! :D 

Oke sayang, Ayah dan Bunda selalu rindu untuk bisa bertemu denganmu
peluk dan cium dari kami :*

USG pekan ke-4 sampai pekan ke-22


Tuesday, 18 November 2014

Kehidupan Baru

Bismillah..

Alhamdulillah dua belas hari sudah saya diboyong sama mas ke solo. Tempat baru, suasana baru, kebiasaan baru, tuntutan baru, dan segala pengalaman baru lainnya yang sulit disebutkan satu per satu. Jujur, 23 tahun saya hidup, ini adalah kali pertama saya jauh (benar-benar jauh) dari orangtua. It's not easy at all. hehe.

Banyak yang ingin diceritakan, banyak kontemplasi yang didapatkan, saking banyaknya sampai bingung mau nulis yang mana dulu dan berujung pada belum ada yang ditulis satupun. haha

Seperti semua kisah pengalaman baru lainnya, akan selalu ada masa adaptasi pada setiap hal baru yang kita jalani. Begitupun dengan kehidupan baru kami dan kehidupan baruku.

Kehidupan baru kami, yang bisa mengawali hari dan menutup hari dengan bisa saling bertatapan satu sama lain. Kehidupan baru kami dengan kehidupan yang benar-benar hanya kami; aku, mas, dan dedek yang mulai sering bergerak-gerak ceria. Kehidupan baru kami yang seperti pengantin baru dalam enam bulan usia pernikahan kami. Begitu bahagia dan manis.

Kehidupan baruku sebagai istri tulen. haha. Ya, pekerjaan utamaku dan satu-satunya saat ini adalah menjadi 'nyonya akmal'. Hehe. Fulltime melayani suami, full service pokoknya. haha. Bangun pagi, shalat berjama'ah, belanja sayuran bersama ibu-ibu lainnya -yang berbahasa jawa, memasak sarapan, bersih-bersih diri, sarapan bersama, melepas suami bekerja, bersih rumah, mengisi me time, masak lagi, menyambut suami datang, makan malam bersama, mijitin mas, tidur. hehe. What a wonderful day?!

Menikmati hari-hari dengan pekerjaan dan rutinitas baru yang menjadi cita-cita terbesarku selama ini, sungguh menyenangkan. Meski terkadang diwarnai kesendirian dan kebosanan, tapi kehadirannya saat pulang beraktifitas, pancaran matanya saat mencicipi masakanku, tatapannya, belaiannya yang bisa kulihat langsung setiap hari menjadi obat segala kesendirian dan kebosanan tadi siang. Begitu manis dan romantis.

Kehidupan baru yang penuh warna. Selalu berdo'a semoga keindahan ini akan abadi dan sekeping surga yang telah Allah titipkan ini, akan bertemu dengan kepingan lainnya di Surga-Nya kelak. aamiin

home sweet home




Thursday, 4 September 2014

Pelajaran Keimanan Kedua

Hari yang panjang, mungkin karena hari ini bedrest di rumah. H-4 mas pindah ke solo. Ah, sebetulnya aku ingin membuat ini biasa saja. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas proyekan ke luar kota. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas bulak-balik ke pondok untuk mengurus proyek atau pengabdian. Nyatanya memang jiwa melankolis ini selalu muncul. Yang paling sering ketika malam datang dan kudapati mas tidur lebih dulu, lalu kupandang wajahnya. Dan begitu saja air mata ini merembes pelan. Kupeluknya, tapi malah merembes lebih banyak jadinya.

3 bulan lebih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru yang masih tinggal bersama orangtua, membuat masa pengenalan dan penyesuaian ini terasa lebih dinamis. Bukan hanya pegenalan dan penyesuaian antara aku dan mas tapi juga sekaligus mas dengan keluargaku serta keluargaku dengan kehadiran mas. Menurutku inilah yang membuat masa pengenalan kami menjadi lebih lengkap. Tidak hanya melihat bagaimana sikapnya padaku, tapi juga bisa melihat bagaimana sikapnya pada keluargaku, bahkan keluarga besar kedua orangtuaku. Dan masyaallah, mas memang sangat santun. Aku banyak belajar darinya.

3 bulan yang menyenangkan. Teramat menyenangkan menurutku. Bahkan jika ada yang bertanya, pernah berantem gak? Aku sampai harus terdiam dulu untuk memikirkannya. Bukan karena tidak pernah ada percekcokan tapi karena tak ada percekcokan yang sampai aku ingat. Itu karena memang semuanya selalu selesai dalam waktu kurang dari sehari dan berakhir dengan keromantisan. Hehe. Aku memang paling tidak bisa berdiam lama padanya. Mas terlalu ngangenin. Rasanya rugi sekali kalau sejam saja berlalu tanpa sikap hangatnya.

3 bulan yang penuh kejutan. Kejutan akan sikap-sikapnya. Kejutan akan kegemaran-kegemarannya. Kejutan akan ilmu-ilmunya. Kejutan akan segala hal tentangnya. Ah, mungkin memang ini yang disebut jatuh cinta. Bukan cintanya membuatku jatuh tersungkur. Tapi cintanya membuatku terjatuh, terkaget-kaget, is it true? Diakan rizki jodoh yang Allah berikan untukku? Dan dengan cintanya, ia menyadarkanku dan mengajakku bangun dan berjalan bersamanya. Ih, ngomong apa aku ini? Haha. Intinya aku jatuh cinta padanya. Itu saja.

Dan bisa kau rasakan. Betapa besar energinya membangunkanku. Memberikan begitu banyak rasa hangat dan nyaman yang belum pernah aku rasakan. Perlindungannya membuatku merasa dimuliakan. Penjagaannya membuatku merasa aman. Perhatiannya membuatku merasa begitu spesial. Sanjungannya membuatku merasa sempurna. Sikapnya dan segalanya membuatku jatuh cinta. Sungguh! Dan makin hari aku kecanduan. Rasa bergantungku semakin tinggi. Perlu kuakui bahwa ini memang kali pertama aku diperlakukan seperti itu. Aku betul-betul jatuh cinta padanya. Bahkan saat aku di kantor, aku sering merindukannya meski pagi hari ia mengantarku dan sorenya ia menjemputku. Siang hari di kantor, sering kali aku merasa kesulitan untuk menunggu sore datang hanya untuk sekedar berkata "Love you, sayang". Ah, mungkin ini berlebihan tapi sungguh, aku telah jatuh cinta padanya. 

Dan perasaan itu kini harus rela terpisah oleh jarak. Di saat perasaan ini bertumbuh semakin besar. Ketika kebutuhan akannya semakin tinggi. Dan ketika emosiku mengalami fluktuasi akibat penyesuaian tubuhku dengan janin dalam rahimku, buah cinta kami. Bukan hal yang mudah bagiku. Ketika baru tiga bulan merasakan indahnya memiliki teman hidup, selalu bersama, setiap malam berbagi kisah, setiap pagi memulai dengan senyum penuh cinta, dan kini harus rela dipisahkan oleh jarak. Bukan hal yang mudah bagiku. Beberapa kali ketakutan itu terbawa hingga mimpi. Hingga aku terbangun tengah malam, lalu menangis dan memeluknya. Percayalah, ini bukan hal yang mudah bagiku. 

Belakangan kami lebih sering membahas ini. Lebih tepatnya mas menguatkanku tentang ini. Aku memang sering menangis jika pembicaraan ini dimulai. Tapi mas selalu menenangkanku. Mas selalu mengingatkanku; tentang cita-cita kami, tentang jalan hidup yang telah kami pilih, tentang perjuangan yang harus kami lalui, tentang kesabaran yang selalu harus kami miliki, tentang nasihat-nasihat ibu, tentang semuanya. Tanpa lelah dan bosan, mas selalu mengingatkanku dengan lembut dan penuh kesabaran. Hingga akhirnya hatiku bertemu dengan sebuah titik bernama keikhlasan.

Ya, insyaallah aku telah ikhlas. Aku sadar betul tentang jalan hidup yang memang tak selalu nyaman sesuai yang kita inginkan. Bukankah sejak dulu aku terbiasa menjalani hidup di luar comfort zone. Bukankah sejak dulupun aku terbiasa bermonolog dengan diri untuk menyelesaikan hidup. Dan hei! Aku punya Allah yang selalu ada bahkan sejak sebelum aku bertemu dengan mas. Mungkin ini lagi-lagi pelajaran aqidah yang Allah ajarkan dalam perjalanan pernikahan kami. Bahwa sebesar apapun rasa cintaku pada mas, cintaku pada-Nya tetap harus melebihi. Bahwa aku dan mas adalah sama-sama manusia yang mungkin ada saatnya pergi, ada saatnya terpisah oleh jarak, ada saatnya tak ada saat dibutuhkan. Tapi Allah akan selalu ada kapanpun, dimanapun kami berada. Dan Ia ingin menyadarkanku, bahwa memang hanya pada-Nya lah kami bergantung dan mengadu. Bukan pada manusia, sekalipun ia adalah suami yang sangat kita cintai. Allah akan selalu ada, membersamai kita, bahkan tanpa kita minta.

----

Mas, mungkin aku akan tetap menangis setiap kali melepas kepergianmu yang sementara dan sebentar ini. Tapi tak perlu risau sayang, aku kuat insyaallah. Seperti yang aku katakan, itu hanya ungkapa jujurku yang tak sanggup aku tutupi dan aku hanya perlu waktu untuk belajar hingga terbiasa. Selamat memulai duluan kehidupan baru kita kelak disana. Insyaallah aku akan menyusul, kan? Siapkan segalanya dengan baik ya sayang. Untuk cita-cita besar kita insyaallah. Fii amanillah. Semoga Allah selalu menjagamu, memberkahi setiap usahamu, menguatkan pundakmu, dan menjadikanmu sebaik-baik imam untukku dan anak-anak kita kelak. aamiin.. Allahumma aamiin..


Monday, 25 August 2014

Tentang Ayah #prolog

Assalamu'alaikum sayang, kamu pasti jauh lebih baik ya sekarang? Kayaknya sih gitu, soalnya dokter udah ngijinin bunda untuk kerja lagi. Good job, my dear! Bunda tau kamu pasti kuat :)

Sayang, bunda lagi ditinggal ayah nih.. huhuhu.. Sepi banget rasanya. Untung sekarang ada kamu sayang, jadi kalau ayahmu pergi, bunda ga sendiri lagi. :D Oia, bunda pernah bilang ya akan cerita tentang ayah sama kamu? Nah, mumpung orangnya ga ada, sekarang aja ya bunda ceritanya. hihi

Sebuah episode kehidupan yang mengejutkan kalau bunda harus puter ke belakang tentang bagaimana pertama kali kami bertemu. Kau tau sayang? 4 tahun bunda kuliah di kampus gajah, baru 2 bulan terakhir sebelum bunda lulus akhirnya bunda mengenal ayahmu. Dan begitupun sebaliknya, 5 tahun ayahmu ada di kampus gajah itu, baru di tahun terakhirnyalah ayah mengenal bunda. Semuanya serba tiba-tiba, kami kenal saat sama-sama menjadi official kafilah MTQ ITB di Padang. Baru benar-benar kenal ketika 10 hari di Padang. Namun ternyata 10 hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang ga pernah kami duga sebelumnya.

10 hari itu memang menyimpan kesan yang baik dan segudang pertanyaan dan rasa penasaran. Dari 10 hari itu kemudian bunda tau sekilas tentang ayahmu, orang yang sederhana, bertanggung-jawab, menghargai wanita, pendengar yang baik dan pas dalam bersikap. Yang terakhir ini cukup unik, menurut bunda, sikapnya itu selalu pas, pas dengan keadaan, pas dengan kebutuhan, pas secara perlakuan. Tidak lebih juga tidak kurang. Mungkin itu yang jarang bunda temui dari laki-laki yang lain. Ada laki-laki yang berlebihan dalam berjarak dengan lawan jenis, hingga kadang menyulitkan saat harus berkordinasi dalam organisasi misalnya. Ada laki-laki yang berlebihan menebar pesona dan perhatian pada sembarang lawan jenis, hingga lahirlah banyak kesalahpahaman akan sikapnya. Dan bagi bunda, sikap ayahmu saat itu pas sebagai partner bekerja. Tidak lebih pun tidak kurang. Mungkin itu yang kemudian membuat bunda merasa nyaman selama bekerjasama dengannya.

10 hari berlalu dan berakhir. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Bunda menjalani rutinitas baru sebagai wanita karir, bekerja di sebuah perusahaan fashion muslim. Dan ia melanjutkan tugas akhirnya yang sempat tertunda. Sesekali kami masih berkomunikasi di tengah kesibukan masing-masing. Hingga 3 bulan kemudian, tepatnya satu hari setelah ia dinyatakan lulus dari kampus gajah, ia datang dan melamar bunda untuk menikah dengannya. Sebuah pernyataan yang mengejutkan tapi sebetulnya sudah bunda tebak sebelumnya. haha. Nanti kalai kamu sudah besar, akan bunda ceritakan apa yang membuat bunda bisa menebak pernyataan ayahmu itu. hehehe

Dan sejak saat itu mulailah masa pengenalan kami, sayang. Banyak hal yang baru bunda tau setelah itu. Tapi sekarang, ternyata jauh lebih banyak hal baru lagi yang bunda tau tentang ayahmu. Tapi bersambung ya sayang, biar ga capek bacanya :D



Thursday, 7 August 2014

Sebesar Biji Apel, katanya

Assalamu'alaikum sayaang :)
Gimana kabarnya hari ini? Kayaknya udah mulai tenang ya? Maaf ya kemarin kayaknya kamu kecapean sayang, setelah kami ajak naik kereta yang guncangannya dahsyat.
Kemarin Bunda sempat mengalami pendarahan ringan ditambah munculnya gumpalan darah. Paniiiik sekali rasanya, sayang. Sore itu kami langsung ke dokter, dan katanya memang mengalami ancaman keguguran. Subhanallah.. cemas bukan main rasanya.. Tapi berita menegangkan itu seketika terganti dengan berita baik lainnya saat di USG.

Ternyata kantong kehamilannya sudah terlihat, sayang. Ayah dan Bunda sudah bisa melihatmu kemarin. Aaaaah.. bahagiaaa sekali rasanya. Kata dokter usiamu sekitar 4-5 minggu. Ayahmu terlihat kaget sekali kemarin! hehe.. Bunda juga kaget sih sebetulnyaa.. hehe Kaget karena kamu sudah selama itu ada di rahim Bunda. hehehe,, Sekarang ukuranmu baru sebesar biji buah apel. Keciiiil sekali yaa.. Maha Besar Allah yang benar-benar menciptakan makhluknya dari permulaan berntuk yang sedemikian kecil. Di minggu ke-5 nanti, kamu sudah punya detak jantung sendiri looh.. Masyaallah walhamdulillah..

Yang juga harus disyukuri adalah Ayahmu, sayang. Dia betul-betul lelaki yang luar biasa. Di masa-masa yang lemah ini, ketika bunda harus lebih banyak di tempat tidur dan tidak boleh banyak bergerak, ayahmu begitu sabar dan setia membantu bunda dalam banyak hal. Mulai dari mengambilkan air minum sampai membantu ke kamar mandi. Pokoknya kamu pasti bahagia punya ayah sepertinya. hehehe

Segala puji hanya bagi Allah atas segala kebesaran dan kesempurnaannya. Selalu menanti masa-masa pertumbuhanmu, sayang. Baik-baik ya disana. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, kesehatan dan keselamatan hingga persalinan nanti. Semoga Allah menjadikanmu anak yang sholeh/sholehah, tabungan terbesar untuk Ayah dan Bunda kelak di akhirat. Aamiin



Monday, 4 August 2014

Keep Strong. My Dear..

Hai sayang, kata dokter lagi lemes ya sampe bunda dikasih istirahat dua minggu...? Hehehe. Ndak apa-apa.. aku memang harus membantumu kuat dan semakin kuat, sayang. Baik-baik ya disana.. Yang kuat oke? Bunda akan istirahat total, demi kamu sayang.. :)

Ga bisa bohong kalau aku sangat mencemaskanmu. Tapi aku yakin, kamu pasti kuat. Terus kuat dan selalu kuat ya Sayang...
Peluk cium dari Bunda :)



Saturday, 2 August 2014

Kehadiranmu

Hai Sayang, akhirnya kamu mulai muncul juga.. hehe
Tau kah, aku sudah sejak lama menantimu. Meski pada yang lain aku bilang, 'santaaaii,, kalau sudah waktunya pasti ia datang', tapi jauh di palung hati ini aku sangat merindukan kehadiranmu..

Sebetulnya aku sudah merasakan kehadiranmu sayang, di akhir pekan ramadhan kemarin. Entah mungkin mudahnya itu intuisi seorang ibu. hehehe.. Bukan sekedar perubahan fisik, tapi batinku yang merasakan kehadiranmu. Dan entah mengapa sejak saat itu aku sangat takut untuk terlalu lelah dan meminum sembarangan obat ketika badanku kurang enak. Dan perjalanan panjang di libur lebaran kemarin akhirnya mendorong kami untuk membuktikannya secara ilmiah. Ah, apa kata-kataku terlalu berat, sayang? Tak apa ya.. aku sedang belajar menulis, jadi kadang kata-kata yang muncul tetiba seperti ini. Tak apa ya.. Aku ingin belajar menulis untuk mengenang banyak hal, termasuk detik-detik kehadiranmu di keluarga kecil ini. :)

Oke, kita kembali lagi ya.. Libur mudik kemarin cukup melelahkan bagiku. Padahal kau tau, sayang? Itu pertama kalinya aku naik kereta kelas eksekutif. hihi. Mestinya perjalanan kemarin menjadi sangat nyaman dibanding biasanya, tapi justru aku sulit sekali untuk tidur. Sampai akhirnya menjelang subuh, baru aku bisa tidur nyenyak. Alhamdulillah. Kami naik kereta lodaya sampai Solo, sayang. Dan dari sana kita lanjut ke ponorogo naik mobil. Perjalanan yang biasanya ditempuh 2 jam, kemarin harus kita lalui selama 4,5 jam. Amazing. Sampai ponorogo, aku kelelahan, perutku mual, kepalaku pusing sekali. Sudah minum obat, sudah beristirahat tetap saja begitu, hingga esok harinya. Sebetulnya aku mulai curiga. Tapi aku takut memastikannya, sayang. Aku takut kecewa jika hasilnya hanya satu garis. Syukurlah, disampingku selalu ada seorang lelaki sabar yang selalu menguatkanku. Akhirnya, malam harinya kami memutuskan untuk test dan lelaki itulah yang membelikan alatnya. Pagi-pagi buta aku terbangun ingin buang air kecil, akhirnya aku membangunkannya untuk menemaniku melakukan test itu. Mentalku tidak cukup kuat, sayang, jika nanti hasilnya satu garis lagi. Maka aku memintanya yang melihat hasilnya terlebih dulu. Ya, lelaki itu memang selalu ada di sampingku, sayang

Kau tahu? malam itu aku tak bisa tidur lagi. Aku khawatir, takut mungkin lebih tepatnya, karena akan melakukan test itu lagi. Berulangkali aku menenangkan dan mengikhlaskan diri. Bahkan beberapa kali berpikir, 'ah mungkin belum juga, tidak apa-apa', batinku. Tapi alam bawah sadarku yang terdalam, aku merasakan kehadiranmu, sayang. Tapi aku takut terlalu yakin, hingga kecewa berlebihan saat kau ternyata belum ada. Aaah, rasanya sungguh dilema sekali. Sampai beberapa kali terbawa mimpi di sela-sela tidur singkatku. hehe

Pagi itu pun aku telah pasrah, tak apa jika belum ada. Saat itu aku hanya ingin meyakinkan, jadi jika aku sakit lagi dan kamu memang belum ada, aku bisa mnum obat lebih leluasa. Itu saja, karena aku sungguh sangat khawatir padamu, sayang.

Detik-detik yang menegangkan itupun tiba. Aku sungguh tak berani berharap apapun, aku serahkan semuanya pada Allah. Dan dengan agak lesu, aku bertanya pada lelaki itu tadi, "gimana , Mas?". Dia hanya memperlihatkan alat itu sambil tersenyum tipis. Dan seketika jantung ini berdebar sangat cepat. Masyaallah, garisnya ada dua, Sayang. Ternyata perasaanku selama ini benar. Kamu sudah disana, sayang...

Alhamdulillah 'ala kulli hal. It's so amazing. Allah telah memberikan amanah baru untukku.
Sayang, yang kuat ya di dalam sana.. Kita baru bisa ke dokter besok. Kamu harus kuat ya, dan aku akan selalu menjagamu. Kini hari-hariku mulai diwarnai dengan mual dan pusing sepanjang hari. Tapi itu semua tetap membahagiakan. Karena mual dan pusing ini menandakan kehadiranmu, maka aku akan tetap bahagia menjalaninya. Kita berjuang sama-sama ya sayang..

Oia, Lelaki yang tadi aku ceritakan tadi adalah yang kelak akan kamu panggil 'Ayah', sayang..
Suatu saat nanti pasti akan aku ceritakan seperti apa dirinya, I promise :)
Oke sayang, baik-baik ya di sana..

Can't wait to feel your growth :D



Thursday, 17 July 2014

Pintu Kebahagiaan


Ah, aku yakin ini tidak mudah baginya. Satu tahun menunggu, untuk kemudian harus tertunda lagi, mungkin memang hal yang tidak mudah. Aku tahu itu.. Dulu aku pun pernah merasakannya, menunggu. Meski akhirnya di tahun ke-2 aku tak perlu lagi menunggu.


Tapi jangan risau sayang..
jalan hidup manusia itu bukan rumus matematika, ketika 1+1 hasilnya mesti 2. Dalam hidup ini ada beberapa variabel lain yang membuatnya tak mesti menjadi 2. Bisa 3, 5, 10 atau bahkan 0. Bukan hal yang terlalu membanggakan ketika hasilnya menjadi 5 atau bahkan 10. Pun bukan hal yang memalukan ketika hasilnya menjadi 0. Karena lagi-lagi ini semua tentang kehedak Tuhan. Dan kau pasti tahu sayang, bahwa dia tidak pernah menghendaki sesuatu yang buruk untukmu. There must be something.

Sayang.. 
Aku dan Kamu pasti memiliki jalan hidup masing-masing. Bisa jadi jalannya mirip dan serupa, tapi juga bisa jadi berbeda. Dan itulah tugas kita untuk peka pada jalan hidup yang telah Dia siapkan untuk kita, khusus untuk kita. Satu hal yang harus kau tau sayang, bahwa aku akan selalu bangga padamu atas jalan kesuksesan manapun yang kau pilih selama itu masih menjadi bagian dari kebaikan. 

Dan tahukah? Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, ada banyak pintu kebahagiaan lain yang Dia bukakan untuk kita. Sayangnya, kita seringkali kurang peka pada pintu yang terbuka karena terlalu lama terpaku pada pintu yang tertutup itu.

Dear my lovely sister Hasni Direja
Pintu kebahagiaan itu telah menunggu untuk segera kau datangi. 
Come on dear.. Tarik napas dan jemputlah ia dengan senyuman. 
Ingat yaa, selalu tersenyum! 


Karena selain Allah, ada aku yang akan selalu mendukungmu sayang..





Thursday, 19 June 2014

Menikah adalah Sekolah Kehidupan

Menikah. Hihihi.. 
Dulu waktu jaman SMA dan kuliah tingkat-tingkat awal, menikah itu masih menjadi sesuatu yang memberikan kesan 'pembebasan' dan romantisme cinta dua insan. Hahaha, geli sendiri kalau inget itu. Ya harap maklum, sebagai remaja biasa yang tumbuh dengan segala kewajaran hasrat remaja seusianya, tapi memegang prinsip untuk gak pacaran, ya menikah itu menjadi sebuah impian yang akan membebaskan segala rasa ingin yang selama ini dikekang. Jamannya suka-sukaan sama laki-laki yang dianggap keren. Jamannya sok-sokan gak suka digombalin padahal kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian lebih perasaan jujurnya adalah seneng bukan main. Jamannya nangis-nangisan kalau ada laki-laki yang suka, karena merasa telah menjadi 'pengganggu' bagi kaum lelaki. Haha.. masa-masa itu. Memang labil sih, tapi itu fitrah naluriah kurasa. Wajar kalau merasa suka sama lawan jenis dan ingin mendapatkan sambutan yang sama dari yang disuka. Yaa, dulu sih sesederhana itu membayangkan tentang pernikahan. Pokoknya seneng dan romantis. Dan jadilah muncul cita-cita ingin menikah di umur 23 tahun. Hahaha

Time goes by, di jaman kuliah pertengahan, saat usia mulai mendekati umur 23, definisi tentang menikah mulai naik level. Haha. Ada sebuah kebutuhan untuk ingin 'dilengkapi'. Kondisi keluarga, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi-kondisi lainnya membuat saya merasa butuh seseorang yang 'menguatkan' dalam banyak kondisi. Dan biasanya sih ini dialami oleh anak-anak tingkat tiga, galau nikah. Padahal kalau dipikir sekarang ya, ngapain ya dulu gitu-gituan. haha. berasa alay banget. Tapi ya jujur, kebutuhan itu memang ada, merasa ingin dilengkapi, merasa ingin ada teman berbagi. Mungkin karena memang dinamika hidupnya mulai 'seru' kali ya. Gak lagi masalah tugas yang belum selesai, uang jajan yang kurang atau nilai IP yang turun, tapi mulai muncul ujian-ujian hidup yang dirasa ada benang merah yang harus diselesaikan diantara ujian-ujian yang ada. Kok jadi berat ya bahasanya? Haha.. mungkin saya aja kali ya yang mikirnya ketuaan, tapi itu seriusan yang saya pikirin di tingkat tiga pas jaman kuliah. Sejak SMP saya membantu orangtua untuk bisa rutin membayar SPP hingga kuliah dengan biaya sendiri mulai dari pendaftaran awal, bayar semesteran, biaya tugas studio tiap semester, hingga wisuda. Jadi ya memang sudah terbiasa merasa dilibatkan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga di rumah. Itulah sebabnya saya merasa butuh dilengkapi, karena memang yang dipikirkan mulai bercabang, bukan lagi tentang urusan diri sendiri.

Tingkat akhir perkuliahan, justru saya lupa cita-cita menikah itu. Karena sibuk mikirin TA. haha. Tapi di saat ga mikirin itulah, tetiba muncul sosok 'aneh' di penghujung usia 22 saya. haha. Dialah yang kemudian mengembalikan kegalauan saya tentang menikah. Hehe. Dan saat inilah kemudian menikah itu tidak lagi hanya memiliki definisi 'pembebasan' dan 'dilengkapi' tapi ada definisi baru yang didapat, ada dua inti pokok yang saya dapat waktu itu, tentang 'penyelamatan' dan 'penyempurnaan keimanan'. Duh berat banget gini bahasanya. Tapi lagi-lagi itu seriusan.

Tentang penyelamatan, mungkin ini ada kaitannya sama definisi pembebesan waktu jaman SMA. Hanya saja yang ini mungkin lebih serius tingkatnya, jadi bahasanya berubah jadi penyelamatan. Tapi sebetulnya kata 'penyelamatan' ini baru bener-bener saya resapi belakangan ini. Laki-laki dan perempuan fitrahnya pasti terikat sama yang namanya kutub ketertarikan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ketertarikan ini berubah kebutuhannya dari sekedar suka dan seneng kalau barengan ke tahap ingin melindungi, ingin bisa bertumbuh bareng, sukses bareng sampai pada keinginan untuk saling 'melengkapi' dan 'memuaskan' satu sama lain. Dua kata terakhir ini memiliki arti yang luas yang kaitannya dengan perasaan atau kebutuhan batin dan kaitannya dengan kebutuhan fisik (skinship). Kebutuhan batin ini mungkin ada hubungannya sama chemistry kali ya. Entah kenapa, ada sebuah sinyal aneh yang terdeteksi kalau sama pasangan kita. Entah itu perasaan bahagia yang ingin dibagi ataupun perasaan gelisah yang butuh solusi. Biasanya ini akan terconnect dan ketika kebutuhan masing-masing bisa dipenuhi, kita akan mendapatkan kebahagiaan batin. Sedangkan tentang kebutuhan fisik, saya baru ngeh belakangan ini. Saya baru sadar ternyata kebutuhan pemenuhan fisik itu akan selalu meningkat levelnya, misalnya awalnya sentuhan, setelah itu  akan muncul keinginan untuk pegangan tangan. Setelah bisa pengangan tangan, akan naik level lagi menjadi ingin merangkul, begitu seterusnya dan akan terus meningkat kebutuhannya. Dan saya baru sadar, ternyata skinship itu memang bisa memberikan kebahagiaan batin tanpa kita harus berkata. Misalnya ketika marah atau sedih, hanya dengan sentuhan dan pelukan, apalagi dari pasangan kita, itu bisa memberikan efek menenangkan yang sangat ampuh, tanpa kata-kata. Dan bayangkan saja jika tidak dibingkai dalam hubungan yang halal dalam penikahan, kebutuhan fisik ini akan menjadi sangat menyiksa. Trust me it works. Kebutuhannya terus meningkat, sedangkan secara norma dan agama, kita belum bisa seperti itu. Ya, kecuali orang-orang yang udah apatis sama aturan-aturan semacam ini. Bahayanya, semakin banyak orang-orang yang apatis sama aturan-aturan tentang lawan jenis ini, akan semakin banyak juga kasus-kasus moral di sekitar kita. Percaya deh. Penyimpangan-penyimpangan seksual yang ada di sekitar kita, bermula dari aturan pergaulan lawan jenis ini. Itulah kenapa saya bilang, menikah itu penyelamatan.

Penyempurna keimanan, ini juga yang bener-bener baru saya sadari waktu menjalani prosesnya. Duh, kalau diceritain panjang banget. Mulai dari kita yang baru kenal 10 hari di Padang, dua bulan kemudian dia dateng melamar, sebelumnya saya terjebak nostalgia sampai lima tahun (haha), dia anak bungsu dan kakak-kakaknya belum nikah, dan banyak lagi lainnya. Kalau bukan karena keimanan, waktu sesedikit itu akan sekuat apa sih mampu meyakinkan dua manusia untuk membangun perahu di pelayaran yang luas dan misterius nanti. Kalau bukan karena iman, kesan 10 hari bisa gitu ngalahin kesan 5 tahun? Kalau bukan karena iman, bisa gitu kakak-kakaknya ikhlas mengijinkan adik kecilnya nikah duluan? Kalau bukan karena iman, tega gitu orangtua membiarkan anak perempuannya didahului sama anak laki-lakinya yang bungsu? Kalau bukan karena iman, bisa gitu dua orang lulusan S1 yang baru lulus hitungan bulan yang lalu bisa membiayai pernikahannya berdua? Dan pertanyaan-pertanyaan 'bisa gitu?' lainnya. Keimananlah yang bisa menguatkan itu semua. Dan perjalanan inilah yang semakin menguatkan keimanan kami. Baru sampai tahap ini aja, baru 26 hari menikah, begitu banyak nilai-nilai keimanan yang bertambah dalam diri kami. Padahal pernikahan kan perjalanan panjang, yang selalu diniatkan tak akan berakhir bahkan sampai dimensi kami berubah ruang. Pasti akan ada banyak pelajaran keimanan lainnya yang akan kami dapat, saat nanti kami punya anak hingga nanti kami harus menikahkan anak kami, sampai tugas kami di dunia berakhir. Ya..disinilah kita gak akan kehabisan materi pembelajaran tentang keimanan.

Siapapun yang akan menikah, baru menikah, telah menikah, yakinilah bahwa menikah adalah sekolah kehidupan yang panjang. Karenanya kita memang dituntut untuk selalu belajar dan memperbaiki pengetahuan kita. Karena jika tidak, mungkin kita akan tinggal kelas atau terpaksa drop out dari sekolah ini. Tinggal kelas tidak lebih baik dari drop out saya rasa. Kita menikah untuk bahagia, ketika kita tinggal kelas, berarti kita mengalami stagnansi dalam pernikahan kita. Tinggal kelas, berarti kita tidak berhasil melewati ujian pernikahan. Bukan berarti pernikahan kita berakhir, karena kita hanya tinggal kelas, bukan drop out. Tapi tidak ada orang yang bahagia saat tinggal kelas. Sedangkan kita menikah untuk bahagia. 

Allahu'alam
yang menulis ini hanya seseorang yang sedang mengumpulkan bahan bakar untuk terus menyalakan api kebahagiaan dalam rumah kecilnya dan ingin berbagi sedikit tentang begitu banyak pelajaran yang ia dapat dalam perjalanan pernikahannya yang baru kemarin sore. hehe




Tuesday, 17 June 2014

25 kita

25 hari usia kita. 
Baru 25 hari atau sudah 25 hari. Apapun itu yang pasti usia kita 25 hari. Bisa saja kita bilang baru 25 hari, tandanya kita merasa semuanya baru sebentar. Atau kita bilang sudah 25 hari, tandanya kita merasa kebersamaan ini sudah cukup bisa dibilang lama. Apapun itu, aku selalu merasa bahwa waktu tak akan pernah cukup untuk bisa membuatku puas akan kebersamaan kita. Karena aku ingin terus dan selalu bersamamu.

Aku tahu, dulu kita memang baru berkenalan 10 hari saja. Aku tahu, dulu saat kamu melamarku, kita baru saling kenal 3 bulan saja. Waktu yang cukup singkat jika dibandingkan dengan begitu banyak makhluk berkromosom xy yang aku temui selama hidupku. 

Kadang aku berpikir dan bertanya, hidup ini lucu ya. Jujur sebelumnya memang pernah ada sosok yang membuatku tertarik, cukup lama. Bahkan sempat aku berpikir 'how if' tentangnya dalam hidupku. Tapi Allah selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga. Tiba-tiba kamu datang dalam 10 hari itu. Dan kamu yang baru ku kenal itu, tiba-tiba sekarang ada di sebelahku jika kubuka mata di setiap pagi. Ah, lucu sekali rasanya. Tidak pernah kuduga sebelumnya bahwa 10 hari itu akan memberikan kesan yang mendalam dan membawa kita pada perjalanan yang tak ingin kita akhiri. 

Masa depan dan takdir memang sebuah kerangka rumit yang telah Allah atur sinergisitasnya. Dan nalar manusia selalu terlalu dangkal untuk meramal itu semua. Ada orang-orang yang berharap dan membayangkan tentang seseorang dari masa lalu yang akan mengisi hari-hari di masa depannya. Alasannya sederhana, karena ia mengenalnya di masa lalu. Atau ada juga orang-orang yang berharap tentang seseorang yang baru untuk mengisi masa depannya, alasannya karena orang-orang yang lalu tak ada yang singgah dengan merenah di hatinya. Padahal Tuhan telah menyiapkan masa depan setiap manusia dengan cara-caraNya yang selalu tidak terduga.

Banyak orang-orang yang jauh berkelana mencari teman hidup dari orang-orang yang baru, tanpa ia sadari jawaban pencariannya justru dari masa lalunya. Ada juga orang-orang yang bersikukuh mengejar masa lalu, sedangkan dihadapannya ada janji masa depan yang ia abaikan. 

Takdir itu memang tidak sesederhana keinginan yang dipikirkan manusia dan bisa jadi ia bahkan lebih rumit dari teori peluang dengan segala probability yang ada. Karena takdir itu hanya ada dalam genggaman Tuhan. Manusia seringkali tanpa sadar memanusiakan Tuhan dengan bertahan terus pada argumen dirinya. Lupa bahwa Tuhan memiliki tanganNya, yang bisa menggerakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak ada menjadi ada. 

Dan kamu, lagi lagi mengajarkanku tentang kuasa-Nya. Tentang kamu yang baru. Tentang perasaanmu. Tentang kita yang begitu cepat. Tentang segala kebetulan ini. Dan tentang perasaanku padamu sekarang. Semuanya membuatku semakin mengimani segala kuasa-Nya.

Hei Kamu, tahukah? Setiap hari perasaanku semakin bertambah padamu.
Setiap kali ku tatap matamu, setiap kali pelukanmu merengkuhku dalam kehangatan dan kenyamanan yang betul-betul baru kurasakan, setiap saat itu juga rasa sayang ini kian bertambah. Tentang kamu yang baru? itu sama sekali tak berarti bagiku, karena ketulusan dan kejujuranmu selalu membuatku jatuh cinta. 

Terima kasih ya, karena kamu telah datang dengan perasaan yang tulus dan jujur. Yang telah menyihirku untuk memulai banyak mimpi bersamamu. Menjalani masa depanku dengan orang yang baru, yang tak pernah kusangka sebelumnya. Terimakasih karena telah datang dengan pelajaran keimanan yang begitu berharga untukku. 

Untukmu yang baru, bolehkan kalau aku meminta untuk teruslah menyayangiku?
Karena aku akan selalu menyayangimu :)


This is The End of The Begining

Pada akhirnya perjalanan panjang itu sampai juga pada tujuannya, tapi bukan untuk mengakhiri perjalanan, karena justru perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Hanya saja kini aku tidak lagi melaluinya dengan seorang diri. Ada seorang penunjuk arah yang Allah kirimkan untukku. Ia yang kini menggantikan posisi kedua orangtuaku, untukku meminta restu, untukku menuju Rabbku, Dialah Imamku. :)

Seringkali perasaan haru menyergapku jika kukembalikan memori pada masa-masa itu. Saat kami memutuskan untuk membangun niat baik bersama. Saat kami mengutarakan niat baik ini pada keluarga besar kami. Saat segala macam persiapan kami lakukan untuk membangun singgasana ini. Saat kami harus bertahan melawan segala rasa ingin kami. Hingga akhirnya kami sampai pada tujuan awal ini.Ya Rabb.. Rasanya seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku. hehe

Segala puji hanya bagi Allah yang telah mempertemukan kami, menitipkan perasaan ini, dan membuatnya semakin bertambah saat detik terus berganti dengan detik yang baru. Hanya selalu berdoa dan berharap, semoga rasa sayang ini kekal dan bisa membawa kami hingga berada dalam ruang dan dimensi yang berbeda, di surganya kelak.

Karena ini adalah akhir dari sebuah awal yang akan sangat panjang.

Bismillah..
Rabbana hablana min azwazina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil muttaqiina imaama..
Rabbana hablana minash shalihin... 

Monday, 30 September 2013

Pelayaran ini..

Mungkin memang seperti itulah nantinya, tentang setengah dien ini. Bukan hanya tentang ketertarikan dua orang manusia, bukan hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya sekedar kecocokan sifat antara dua insan. Bukan itu rasanya.

Ini tentang kesamaan visi yang akan menjadi pondasi dari bagunan yang Allah jadikan sebagai separuhnya dari Agama. Ini tentang sebuah perahu yang akan berlabuh dalam luasnya samudra kehidupan. Bukan untuk sehari dua hari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi selalu diniatkan sebagai perjalanan panjang yang hanya umurlah yang akan menghentikannya. Ini tentang ke arah mana perahu itu akan dilayarkan. Ini tentang Sang kapten dan nahkoda, serta awak kapal yang dibawanya di atas samudra itu. Ini tentang lautan yang mana yang akan mereka seberangi. Tentang sejauh mana pelayaran yang mereka rencanakan. Tentang bagaimana mengatur orang-orang yang berada dalam perahu itu untuk bisa saling sepakat atas tujuan pelabuhan mereka, untuk bisa saling menguatkan saat datang ombak besar yang memabukkan, saat badai datang dan meluluh-lantakkan, bahkan disaat terik matahari begitu hangat dan melenakan. Ini tentang bagaimana semua awak perahu tersebut bisa saling menguatkan dan menjaga agar perahu tersebut tidak tenggelam dan karam ditelan badai dan ombak.

Ini tentang misi pelayaran yang mesti dipahami dan disepakati oleh semua awak kapal. Ini tentang pengembaraan menuntaskan separuh keyakinannya. Ini tentang pelayaran yang tak hanya menyelamatkan kehidupan perahunya sendirian, tapi juga bisa saling menguatkan perahu lain yang berlayar menuju pelabuhan yang sama. Ini tentang pengokohan barisan kebenaran, agar kemudian tak banyak perahu yang karam di tengah lautan, akibat para perompak-perompak jalang.

Memang bukan pelayaran yang mudah. Tapi juga bukan keputusan yang tepat ketika kita selalu takut dan tak pernah memutuskan untuk memulai pelayaran, karena kita tak mungkin bisa berlabuh tanpa melakukan pelayaran terlebih dahulu.

Ya, ini tentang pelayaran menuju pelabuhan keridhoan-Nya.
Maka ketika saatnya berlayar telah tiba, Rabb aku mohon, tolonglah aku untuk menemukan nahkoda yang tepat untuk mengarungi samudra yang luas dan penuh ombak. Aku mohon ya Rabb.. 


Sunday, 29 September 2013

Jawaban itu...

Pagi ini di motor, menuju kantor.
Akhirnya aku bisa mengatakan itu. Di luar dugaan, bapak malah memberi jawaban yang justru menguatkanku. Sungguh, rasanya ingin menangis saat itu juga.

Sesampai di kantor, hanya shalat dhuha yang bisa mengobatinya. Kemudian entah mengapa bacaan tilawahku setelah itu dimulai dari QS. An-Najm : 27 sampai 2 halaman berikutnya. Dan air mata ini tak tertahankan lagi saat membaca arti ayat-ayatnya.

Duhai Allah, berikanlah selalu petunjukMu. Kuatkanlah bashirahku.

http://www.flickr.com/photos/24024596@N02/4663888702/

Sunday, 12 May 2013

It's about My Sister

Ini tentang adikku.. hehe
Hari ini dia ikut learing camp Beasiswa Perintis untuk persiapan SBMPTN bulan depan. Semacam karantina sebulan untuk bimbingan belajar sekaligus membangun mental. Sebulan di karantina, tanpa HP dan lingkungan luar tentunya. Termasuk aku.

Entah mengapa, ada semacam perasaan kehilangan. -Haha, gengsi banget gue ngaku ini.
Dia yang selama ini direcoki dengan segala ceritaku, mulai kabar gembira sampai cerita galau. Dia yang kupaksa untuk membantu pekerjaan TA ku. Dan dia yang rese juga sih dengan kekeras kepalaannya. Sekarang harus diisolasi dan aku tidak bisa merecokinya lagi. Sedih juga ya ternyata.

Tadi sebelum pergi, dia bilang 'makasih ya Teteh!", sambil mencium kedua pipiku. Haha, keliatannya dia girang sekali. Ya, memang dari awal dia memang ingin sekali ikut Learning Camp BP ini. Dan akhirnya, dia bisa ikut, setelah sebelumnya terhambat.

Ah, dia sudah besar sekarang.
Sebentar lagi akan kuliah..
Dia yang dulu sering kusesali, karena wataknya yang keras kepala dan angkuh.
Hingga akhirnya sebagai kakak, aku tak bisa berbuat banyak. Karena dia egois.

Waktu membuat kami tumbuh semakin besar dan belajar lebih dewasa
Ia yang egois dan keras kepala, justru sekarang menjadi pemegang kartu rahasia-rahasiaku
Dan aku yang melankolis dan plegmatis ini, justru menjadi orang yang paling bisa menaklukkannya.

Sayang banget deh sama si egois yang satu ini. Hwehehe..

Ya Rabb, kali ini izinkanlah ia mendapatkan apa yang ia inginkan..
izinkanlah ia untuk tumbuh dan berkembang di tempat dan kampus impiannya.
jadikanlah dengannya ia menjadi lebih bermanfaat untuk orang banyak, terutama kedua orang tua kami

Ya Rabb, izinkanlah kali ini ia sampai pada mimpi-mimpinya..
sebelum kemudian Engkau sampaikan ia pada mimpi-mimpinya yang lain..

Ya Rabb, izinkanlah..



Saturday, 26 November 2011

Aku benci saat-saat seperti ini

lagi, seperti biasa
percekcokan itu mulai meninggi. Entah siapa yang memulainya, tapi yang jelas saat aku baru saja terbangun dari tidur, situasinya sudah mulai memanas.
Dia yang sesaat sebelum ini mengeluhkan kepalanya yang lagi-lagi pusing, tiba-tiba mendapatkan pernyataan yang memojokkannya. Entah mengapa aku enggan menceritakan deskripsi percakapan itu, yang pasti kali ini, seperti sebelumnya, dia dipojokkan oleh pernyataan nya.

aaarhg! sungguh. aku benci saat-saat seperti itu. Benci saat aku tak bisa berbuat apapun meski dalam hati ini demi Allah tak rela harus ada perlakuan seperti itu untuk dia.

Ya Rabb, aku benci tidak menjadi solusi untuk orang-orang terdekatku. Ya Rabb, aku benci jika keadaan itu terus berulang. Ya Rabb, aku ingin kondisi ini  berakhir..

tapi ku sadar ya Rabb, saat ini mungkin aku menjadi salah satu yang diandalkan disana. Dan saat aku tak mampu berbuat apapun, rasanya begitu kerdilnya diri ini..

Ya Rabb, lagi-lagi aku hanya bisa memohon padaMu. berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Berilah hamba kesempatan untuk bisa menyampaikan ttg ini pada nya.

Semoga, ketika ada hal yang aku lakukan dan berbuah pahala, maka izinkanlah ya Rabb, pahala ini mengalir juga untuk dia.. Aku hanya ingin, dia menjadi bidadariku di dunia dan di akhirat.. aamiin

Followers