Showing posts with label Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Tulisan. Show all posts

Thursday, 23 October 2014

Wonderful Family #prolog

Bismillah
Ingin berbagi sedikit dari sebuah buku hadiah pernikahan kami, "Wonderful Family" yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan. Banyak ilmu dan manfaat yang kami dapat, sehingga kami ingin berbagi kebermanfataan ini untuk yang lain. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sebuah keluarga yang bahagia dan mampu menyejukkan hati kita, karena kita menikah untuk bahagia. :)

-------------------------------------------

.: Catatan Pendahuluan :.

Memasuki Wonderful Family

Anda pernah berkendaraan menempuh jarak yang jauh? Apa saja pengalaman yang anda dapatkan sepanjang jalan?

Saya bersama istri dan anak-anak pernah menghadiri undangan Seminar Keluarga Bahagia di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, dengan menggunakan mobil milik teman. Saya menyetir mobil, berangkat dari rumah kami di Bantul, Yogyakarta pukul 12.30 WIB. Dari Yogyakarta kami melewati Magelang,kemudia sampai Secang ambil jursan Temanggng, Parakan, lalu melalui jalan pintas ke Sukorejo, tembus di Weleri dan melalui jalu Pantura hinga tiba di Pekalogan. Sekitar pukul 20.00 kami tiba di Pekalongan.

Saat pulang kami menempuh jalan ang berbeda, lewat jalur selatan. Dari Kajen, menuju purbalingga, Klampok, Kebumen, Purworejo dan sampailah kembali ke Jogja. Perjalanan yang melelahkan, namun mengasyikkan.

Dari rangkaian perjalanan panjang tersebut, di beberapa titik tertentu terjadi kemacetan lalu lintas. Kami harus berjalan sangat pelan, atau bahkan berhenti untuk waktu yang cukup lama karena egah ada kemacetan. Kami menemukan pula suasana 'kemelut' di beberapa titik perjalanan. Antrian mobil, bus, ruk dan motor yang sangat panjang, rupanya di ujung depan ada truk gandeng penuh muatan yang berjalan sangat lamban. Jalan cukup sempit, hanya cukup untuk mobil di jalur kiri dan kanan yang berpapasan arah. Karena sulit mendahului truk gandeng itu, terbentuklah antrian panjang yang berjalan sangat lambat.

Pada titik kemelut perjalanan seperti itukami merasa ingin segera melalui. Denga berbagai cara, akhirnya kami berhasil melalui ruk gandeng tersebut dengan aman.Harus sangat berhati-hati dan penuh perhitungan untuk melewati truk gandeng tersebut. Selain jalan yang sempit, lalu lintas dari dua arah juga cukup padat. Ditambah lagi dengan jalan yang penuh belokan, berliku-liku. 

Lega sekali rasanya berhasil keluar dari kemelut perjalanan. Yang semula berjalan sangat pelan dan lambat, sekarang bisa menginjak gas dengan penuh kecepatan. Rasanya kamimemimpin perjalanan, serasa jalan milik kami sendiri.Namun itu tidak berlangsung lama. Di titik tertentu kami menjumpai kemelut lagi. Tampak di depan kami rangkaian panjang mobil, bus dan truk yang berjalan sangat pelan. Di ujung paling depan ada truk kontainer yang berjalan sangat pelan. 

Kembali kami melewati kemelut perjalanan. Harusmelambatkan perjalanan sesuai kondisi lalu lintas yang padat merayap. Cukup lama berada di belakang antrian panjang kendaraan tersebut, namun alhamdulillah akhirnya bisa juga kami melampaui hambatan. Lega sekali kami berhasil melewati truk kontainer yang menyebabkan terhambatnya perjalanan. Kami berada di depan dan memimpin perjalanan. Tidak ada ganggunan berarti di depan kami. 

Begitulah kami menikmati perjalanan panjang, sesekali waktu bertemu kemacetan, sesekali waktu bertemu kemelut, sesekali waktu  bertemu ruang yang melegakan. Usai melewati sebuah kemacetan, hati terasa senang. Namun tidak begitu lama kami menemukan kemelut. Berhasil melampaui kemelut hati terasa senang, namun ternyata di depan berjumpa kembali dengan kemelut yang lain. Begitu seterusnya sepanjang perjalanan. Banyak kejadian yang terekam dan menghiasi catatan indahnya perjalanan.


Nikmati saja kemelut perjalanannya
Demikianpula hidup berumah tangga. Pada awalnya lancar saja. Namun di tengah perjalanan kehidupan keluarga, sesekali waktu bertemu kemelut, bahkan kemacetan. Lega sekali jika kita mampu menghadapi sebuah kemelut, dan berharap tidak akan menemuinya lagi. Namun perjalanan belum selesai. Di depan bisa dijumpai kemacetan, di hadapan bisa dijumpai kemelut lagi. Bahkan bisa jadi ada jalan yang ditutup dan harus dialihkan ke jalan alteratif.

Menghadapi kehidupan keluarga harus bersiap diri dengan kemelut yang berulang, bersiap dengan kemacetanyang terjadi beberapa kali. Jangan dikira keluar dari kemelut itu artinya sudah tidak ada kemelut lagi berikutnya. Jalan masih panjang, berbagai peristiwa kehidupan masih akan sangat mungkin dijumpai. Peristiwa dalam kehidupan keluarga seringkali merupakan pengulangan-pengulangan kejadian dalam bentuk yang agak sedikit berbeda. Kadang kita merasa sebuah permasalahansudah diselesaikan, ternyata pada lain kesempatan masih muncul dalam pola yang hampir sama atau sedikit saja bedanya.

Dalam kisah perjalanan tersebut, saya sebagai sopir dan isti sebagai pendamping sopir, harus saling berkordinasi dengan baik. Jika pendamping terlalu cerewet dan emosional, justru akan berdampak negatif terhadap sopir. Ia bisa kehilangan konsentrasi karena terbawa emosi, sehingga membawa mobil ke arah yang salah.Jika sopir tidak berhati-hati, akan bisa menyebabkan bahaya bagi semua penumpang yang ada di dalam mobil. Sopir harus menjaga, merawat, dan mengemudi dengan penuh perhatian dan kelembutan, agar semua penumpang bisa merasa nyaman. Jika berhenti mendadak, semua penumpang akan kaget dan bahkan bisa terpental. JIka melaju terlalu kencang, penumpang bisa ketakutan dan muntah-muntah.

Untuk penumpang yang mudah mabuk, sebaiknya minumobat anti mabuk sebelum berangkat. Artinya, semua persiapan harus dilakukan dengan cermat agar perjalanan bisa lancar tanpa gangguan. Surat Izin Mengemudi (SIM) harus dimiliki oleh sopir untuk menjadi jaminan bahwa ia memang layak dan pantas mengemudi mobil. Kendati tidak ada Surat Izin Menikah (SIM) dari KUA, namun hakikat perlunya ilmu pengetahuan untuk mengarungi kehidupan rumah tangga jelas diperlukan oleh suami maupun istri.

Jika persiapan telah dirancang dengan matang, perjalanan akan lebih lancar dilakukan. Rute yang pasti telah dimiliki, kemampuan sopir tidak diragukan lagi, pendamping melaksanakan peran dengan hati-hati, penumpang yang mudah diajak kompromi, dan kondisi mobil yang prima akan menjadi jaminan perjalanan yang menyenangkan. Apapun kondisi jalan, tidak akanmengkhawatirkan. Perjalanan akan terasa menyenangkan walau bertemu banyak kemelut dan kemacetan.

Demikianlah yang saya maksudkan dengan Wonderful Family.

-----------------------------------------------

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram (sakinah) kepadanya dan dijadika-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah).Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "
(QS. Ar-Rum:21)


Tuesday, 30 September 2014

Bukan Arena Balap

Masyaallah.. What a wonderfull day!!! 
Dalam satu hari ada begitu banyak kabar bahagia, dua diantaranya adalah undangan pernikahan adik kelas dan berita kehamilan sahabat partner. Ah, masyaallah.. rasanya ingin mengulang-ulang bait cinta "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. 55:55). Dan ketika membuka newsfeed facebook, begitu banyak kabar bahagia lainnya mulai dari kelulusan, beasiswa studi, pekerjaan baru dan kabar-kabar bahagia lainnya.

Namanya hidup ya, selalu tak terduga. Allah seneng banget ngasih kejutan-kejutan sama hambanya.
Ada yang udah lamaaa pacaran, bertahun-tahun tapi belum juga nikah; ada yang ga pernah kedengeran deket sama lawan jenis, eh tetiba sebar undangan pernikahan. Ada yang udah lulus kuliah dari jaman kapan, belum nikah-nikah; eh ini yang baru mau lulus tiba-tiba udah nikah aja. Ada yang nikah udah bertahun-tahun, belum juga dikasih keturunan; eh, yang lain ada yang baru nikah sebulan udah dikasih keturunan. Ada yang kerja bertahun-tahun, nabung buat beli mobil belum kesampean juga; eh yang lain baru kerja sebulan udah bisa beli mobil sama nyicil rumah. Ada seorang kakek sudah sepuh sampai berumur seratus sekian, tapi masih diberi umur, tapi ada juga anak mungil nan lucu yang baru belajar berjalan harus diambil oleh sang Maha Kuasa mendahului orangtuanya. Entah sampai kapan pembandingan-pembandingan itu kita lakukan dalam hidup ini, mungkin sampai saat waktu kita habis di dunia.

Hidup ini memang bukanlah arena balap yang setiap manusia memiliki garis start dan garis finish yang sama dengan arena balap yang sama pula. Tidak seperti itu. Setiap manusia memiliki track-nya masing-masing. Rizkinya, jodohnya, amal unggulannya, jalan hidupnya, semuanya Allah atur berbeda dari satu manusia dengan yang lainnya. Masing-masing telah Allah desain secara khusus untuk manusia tertentu. Sangat spesial. Saya menyebutnya 'momen kehidupan'. 

Setiap manusia memiliki momen kehidupan yang spesifik Allah atur hanya untuk dirinya. Mulai sejak kapan sel sperma ayahnya bertemu secara rumit dan kompleks dengan sel telur ibunya hingga kapan ia dikembalikan pada sang Pemilik semesta. Berbagai fase kehidupan dilaluinya, mulai dari balita, kecil, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Beberapa diantaranya hanya merasakan hingga pada fase remaja atau dewasa saja atau bahkan hanya sampai pada fase balita. Berbagai perasaan mulai dirasakannya, mulai dari bahagia, senang, kecewa, sedih, marah, gembira. Beberapa mampu melewati setiap perguliran rasa tadi; bersyukur kala bagia dan gembira, bersabar ketika sedih dan kecewa. Beberapa terperangkap dalam permainan rasa; tak mampu mawas diri ketika bahagia, tak kuasa bangkit ketika kesedihan menerpa. Berbagai cita-cita dan impian dalam hidup muncul seiring dengan bertambahnya usia, tentang rencana studi, tentang pekerjaan, tentang jodoh, tentang kebutuhan akan tempat tinggal, tentang jabatan, dan capaian-capaian lainnya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya dengan baik dan Allah mengizinkannya mencapai impiannya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya, namun Allah menunjukkan beberapa jalan baru yang mesti dilaluinya. Beberapa hanya bisa menetapkan target, tapi lupa pada tahapan-tahapan yang mesti ditekuni, lalu ketika target itu meleset ia terpuruk dan tak mampu bangkit kembali, terlebih ia selalu membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian yang telah oranglain dapatkan.

Tak semua orangtua diberikan anak yang penurut; yang jalan hidupnya sesuai dengan keinginan kedua orangtuanya. Pun tak semua anak dianugerahi orangtua yang pengertian dan mampu memberikan sebaik-baik bekal pada anaknya. Tak semua anak bisa sekolah di sekolah unggulan, pun tak semua anak lulusan sekolah unggulan memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan anak lainnya. Tak semua orang bisa berkuliah terlebih di universitas-universitas unggulan baik negeri maupun swasta, pun tak semua orang-orang sukses di dunia ini lahir dari almamater-almamater unggulan. Yang bekerja di perusahaan asing dengan gaji puluhan juta perbulan, tak menjamin lebih bahagia daripada seseorang yang bekerja lepas menjadi buruh harian. Yang memiliki jaminan hari tua tak menjamin hidupnya lebih bahagia dibandingkan yang terus mencari nafkah hingga akhir hayat.

See? Betapa hidup ini akan terasa begitu sempit ketika kita selalu membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang oranglain peroleh. Betapa hidup tak akan pernah selesai ketika kita selalu melirik kanan-kiri dan tak pernah bersyukur atas apa yang telah diraih. Percayalah, momen kehidupan setiap manusia itu sungguh telah dirancang begitu spesifik, spesial pada setiap individunya. Maka nikmatilah hidupmu. Tugas kita adalah berusaha semaksimal yang bisa kita lakukan, kemudian ketika takdir Allah telah datang, tugas kita selanjutnya adalah bertawakal. Ketika kita telah berusaha, maka tak perlu risau dengan hasilnya. Yang perlu kita risaukan adalah ketika kita tak mau berusaha untuk menjemput takdir Allah.

Ada tiga hal yang selalu dipesankan suami kepada saya; Ikhlas, Syukur, dan Sabar. Ikhlas atas segala apapun yang terjadi dalam hidup kita, maka langkah kita akan terasa ringan, menjalani hidup dengan bahagia tanpa beban dan tertekan, karena kita ikhlas menjalani hidup ini. Syukur atas segala apapun takdir yang Allah gariskan untuk kita. Tak ada sesuatupun yang Allah tetapkan pada hamba-Nya melainkan Ia ingin kita belajar dan bertafakur atas setiap ketetapannya. Maka Bersyukurlah atasnya. Sabar menjalani setiap fase kehidupan yang kata banyak orang seperti roda yang terus berputar. Ketika kita merasa hidup ini begitu berat untuk dijalani, sesak untuk dilalui, bersabarlah. Karena malam yang semakin gelap menandakan fajar yang sebentar lagi akan tiba.

" Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanm-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(QS. Al-Hadid : 20)



Monday, 29 September 2014

Imbas Sosial Media

Tiba-tiba saya teringat sebuah kontemplasi pada masa awal-awal pernikahan. Sejak menikah, saya menemukan teman diskusi baru yang sangat seru sehingga begitu banyak yang sering kami diskusikan, bahkan dalam perjalanan di motor sekalipun.

Suatu hari dalam sebuah perbincangan, kami membahas tentang seorang kenalanku yang begitu sensitif jika dalam sebuah forum dibahas tentang pernikahan, kapan menikah dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada. Lalu perbincangan melebar pada newsfeed facebook yang diwarnai oleh beberapa postingan pernikahan dan para pengantin baru, yang juga diwarnai oleh komentar-komentar candaan kecemburuan mereka yang masih single. Beberapa ada yang agak frontal membahas dalam sebuah note facebook isinya kurang lebih menganjurkan pada para pengantin baru untuk tidak berlebihan dalam mem-posting status-status mereka. Hmm.. segitunya banget ya.. Tapi jujur, saya sendiri yang waktu itu belum menikah lebih santai sih menanggapinya, bahkan jika itu teman dekat, malah jadi ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka, meski kadang ada perasaan mupeng juga. Haha. Saya hanya berpikir itu ungkapan bahagia seseorang atas fase hidup yang baru saja dilewatinya, sama seperti orang yang baru wisuda, baru dapat beasiswa ke luar negeri, atau baru selesai ujian semester. Meski memang akan menjadi kurang nyaman, ketika seseorang melakukannya secara berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu selalu tidak baik bukan?

Hanya saja era sosial media seperti sekarang ini memungkinkan setiap orang bisa dengan leluasa membagikan setiap perasaannya dan tanpa diminta kita bisa mengetahui kabar seorang teman yang nun jauh disana dari setiap postingan atau status-statusnya. Tak ada yang bisa membatasi masing-masing kecuali kebijaksanaan si pengguna media sosial tersebut, kecuali di-block atau unfriend. haha

Jika dihubungkan dengan cerita sebelumnya, sebetulnya sosial media menguji sikap dan kedewasaan kita. Pertama, tentang bagaimana bisa sebijak mungkin memposting sesuatu sesuai porsinya, jangan sampai berlebihan. Misalnya di masa pilpres kemarin, betapa muaknya kita karena begitu banyak orang yang memposting tentang calon A atau calon B beberapa kali dalam sehari. Kita memang mesti lebih bijak membagi hal yang menurut kita menarik, secara proporsional saja.
Kedua, tentang bagaimana kita bisa tenggang rasa atas perasaan yang dirasakan teman kita. Bukankah itu sebuah konsekuensi logis dari sebuah pertemanan? Tentang kabahagiaan mereka, tentang kesedihan mereka, tentang kebingungan mereka. Have fun aja. Ikut bahagia atas kebahagiaan oranglain kan sebuah kebaikan juga.

Ya namanya juga hidup bermasyarakat. Perlu tenggang rasa yang tinggi. :D


Friday, 19 September 2014

4 Bulan yang Lalu

Salah satu tingkatan ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam islam) adalah ta'awun atau saling menolong. Itulah mengapa saudara atau teman itu teramat penting dalam hidup ini. Teringat dulu ketika menyelesaikan tugas akhir, teman-teman asrama baik itu putra maupun putri, dengan ringan hati membantu saya mulai dari menggunting hingga display karya untuk sidang kelulusan. Sungguh, itu karya gotong royong satu asrama sebetulnya. Maka ketika saya mendapatkan nilai yang memuaskan dari dosen-dosen penguji, sesungguhnya nilai itu adalah untuk banyak orang, untuk satu asrama. Itulah berkah gotong royong. :D

Bala bantuan asrama dan display tugas akhir

Dan satu lagi berkah ukhuwah yang ingin kuceritakan disini, yaitu saat pernikahanku dengan Mas tercinta. :) Berkat mereka, sahabat-sahabat terbaik kami, hari yang sangat spesial bagi kami bisa berjalan dengan baik dan insyaallah berkah. Mereka yang ditengah kesibukan rutinitasnya mau ikut membantu terlaksananya 'acara besar' kami.
----------

Geng El-Hawa yang kece, Fadhila A. Arimurti yang puluhan jamnya dihabiskan untuk membuat video kami, sampai leptopnya pingsan saat rendering video, makasih banyaaaaak dileh, semoga Allah mudahkan studi S2-nya dan dipersingkat masa galaunya, haha. Makasih banyak atas video kece ini akmalhasri. :D dan Mega Aulia Insani yang berhari-hari harus bersahabat dengan jaringan internet demi website invitation kami, Thank's a lot megster, banyak yang suka our story berkat ulasan tangan dinginmu, aseek. Semoga Allah mudahkan peranmu sebagai 'ibu' di rumah dan kelak jadi ibu yang dahsyat ketika waktu yang sebenarnya telah tiba. Makasih megs, ini kece bangets 'our website invitation'.

Teman-teman kriya, El-Hawa itu 2 orang yang tepat di sebelah saya :D

Geng Newga, makasih banyak bisa bantu banyaak sekali dengan seragam ungunya; Ile yang meski lagi sibuk dengan koAs-nya, Ria yang jauh-jauh datang dari jekardah, Risma yang lagi sibuk dengan S2-nya, Murni yang akhirnya menggantikan kembarannya Myrna, Nina dan Ririn yang lagi hamil guede, Rahmi yang hari itu ada ujian dokter, mau bersusah-susah jadi tim konsumsi. Makasih banyakk.. makasih banyakkk.. Semoga kelak kita jadi ibu-ibu kece dan persahabatan ini teruuus langgeng sampai surga nanti. Aamiin

NewGA
Geng 3I, makasih banyak kakak-kakak semua. hehe. Kak Zain yang bersedia jadi korlap padahal istrinya lagi hamil tua. Kak Garin yang jauh-jauh dari luar kota, Kang Kamal plus Kak Amien, yang baik hati mengantar keluarga besar Mas Akmal selama di Bandung. Kak Eric dan Kak Amien (lagi) yang udah jepret-jepret suasana hari H plus bantu-bantu siapin penginapan sebelum hari-H. Kang Budi yang berkali-kali menghubungi ustadz untuk khutbah nikah. Makasiiih banyakk.. Semoga kalian semua semakin sukses dimanapun kalian berada. 
3I edisi lengkap tapi ga fullteam 
Geng Kafilah MTQ ITB, Ikhyari sebagai qori', Muzammil dan Dihya pagar bagus pembawa payung, heheh, Afifah yang semangat abis dan Ulfa yang meski baru dihubungi beberapa hari sebelum hari-H, 2 pagar yang ayu, hehehe.. Makasih banyak telah membantu.. Ah sebenernya bahkan kafilah MTQ ini telah menjadi jalan Allah bertemunya kami berdua. hehehe. Semoga cita-cita mensyiarkan Qur'an di kampus gajah ini semakin dahsyat. Aamiin

Kafilah MTQ ITB 
Geng Asrama; Agis dan Ardian yang bersedia jadi pengaman yang tangguh, Zaky yang direpotkan dengan urusan logistik, punten jek kalau kamu banyak bingung dan Tami yang udah bantu jualan bakso. hehe. Terima kasih banyakk.. semoga yang belum segera menyusul :D dan selamat Jek, karena telah menyusul. :D

Asrama Salman 2012
Ini dia, Geng 'Syafina Wedding' (aamiin), Sapi, Ile, Gilang yang udah merelakan banyak waktunya mulai ngonsep acara dari nol sampai acaranya selesai. Makasih.. makasih banyak.. Semoga cita-cita kita ini selalu Allah tunjukkan jalannya dan bisa disegerakan terwujudnya. Aamiin. Oia, Yasir, om MC, makasih udah cuap-cuap berjam-jam memandu acara kami.. Terima kasih banyak, banyak sekaliiii

All crew
----------

Alhamdulillah hampir 4 bulan berlalu dan sekarang saya sedang mengandung usia sekitar 10 minggu, buah cinta kami. Puji syukur pada-Nya karena niat baik kami akhirnya berlabuh di kapal yang sama. Samudera kehidupan yang luas tentu baru akan kami arungi. Memiliki saudara-saudara terbaik seperti kalian adalah rizki yang selalu kami syukuri. Semoga Allah senantiasa memudahkan rencana-rencana hidup kalian, sebagaimana kalian telah memudahkan urusan kami. Maafkan jika ada banyak yang kurang berkenan dari kami selama berlangsungnya acara. Maafkan juga  karena tak ada yang bisa kami berikan selain ucapan terima kasih. Semoga Allah menggantikan waktu, tenaga dan pikiran yang kalian berikan dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin

Mungkin bisa saja semua ini tak perlu memakai embel-embel ukhuwah islamiyah karena mungkin di luar sana juga banyak pertemanan bermakna tanpa ikatan agama, tapi semoga niatan untuk menjadikan ikatan pertemanan ini sebagai ikatan persaudaraan karena keimanan menjadikan setiap kebaikan yang kita lakukan untuk saudara kita berbuah pahala dari Allah. Aamiin.

Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga karena telah menjadi bagian dari kebahagiaan kami. Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat pada kita semua. Aamiin.


----------

"Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu para Nabi dan bukan pada syuhada'. Para Nabi dan syuhada' merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat. Para sahabat bertanya: 'Siapakah mereka wahai Rasulullah?', Beliau menjawab, ' Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia bersedih', kemudian beliau membaca ayat ini; 'Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
QS. Yunus : 62


Friday, 18 July 2014

Ayo Bicara!


Belakangan saya baru sadar, bahwa seks bebas di kalangan remaja, terutama di kota-kota besar adalah sebuah kenyataan yang tak bisa kita tepis. Miris memang, tapi apa daya, ini adalah sebuah realita.


Banyak orang menyalahkan anak-anak yang terjerumus pada kenakalan remaja yang sampai pada tahap ini. Tapi mereka lupa bertanya pada diri sendiri, kemanakah mereka selama ini hingga hal sebesar itu bisa terjadi.


Saatnya kita tak merasa aman dengan kondisi ini. 
Merasa aman dengan menyekolahkan anak di sekolah berbasis keagamaan, merasa aman dengan memperingkatkan anak atau adik kita tentang pergaulan buruk dengan cara yang tidak kita tau efektif atau tidak atau merasa aman dengan menjadikan baik diri sendiri . 

Nampaknya kita harus segera bangun dan bicara.
Ya, bicara.

Untuk para orang tua, bicaralah pada putra-putri anda dari hati ke hati. Tentang hari-hari mereka. Tentang teman-teman mereka. Tentang cita-cita mereka. Tentang apapun yang mereka rasakan. Mulailah untuk bicara tidak hanya saat menegur saja, karena mereka sungguh butuh kasih sayang verbal dari orangtuanya. Mereka butuh pengakuan kebanggaan dari orangtuanya. Bukan hanya omelan berlebihan saat mereka berbuat salah. Mari bicara..

Untuk para kakak, bicaralah pada adik-adik kalian. Tugas mendidik dan menjaga tidak hanya dibebankan pada orangtua kita saja bukan? Tak perlu menunggu sampai sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Mendekatlah pada mereka. Sentuh kehidupan mereka, karena masa-masa itu belum lama kita lalui kan? Maka sungguh tak ada ruginya untuk kita berbagi. 

Ah, tapi ini bukan perkara status orangtua atau kakak. Kita semua memiliki andil untuk menyapa semua remaja yang ada di sekitar kita, tetangga, adik kelas atau bahkan kenalan-kenalan dunia maya kita. Dan ini bukan perkara laki-laki atau perempuan. Semua orang tentu bisa menyentuh hati orang lain untuk bicara. 

Untuk kalian yang terlanjur mencicipinya. Bangun yuk 
Ada saatnya ko kalian akan merasakannya di waktu yang tepat. Percaya deh, itu lebih menyenangkan!  Orangtua kalian pasti akan sangat bahagia ketika kalian bisa melewati masa remaja kalian dengan selamat. Mau kan kalau di masa depan nanti, kalian punya anak yang lucu, baik dan membanggakan kalian sbg orangtua. Tak perlu ragu untuk bangkit, akan ada banyak tangan yang akan membantu kalian, ada banyak telinga yang akan mendengarkan keluhan kalian dan tentunya ada banyak hati yang akan merangkul kalian. Masa depan kalian masing sangat luas terbentang. Yakinlah bahwa ketika kita baik, sesungguhnya kebaikan itu hanya untuk diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain 



Yuk Bangun! Yuk Bicara! 
Bumi ini mungkin akan tersenyum ketika penduduknya bisa kembali menyelaraskan pribadinya. Saatnya rumah-rumah kita diramaikan dengan celotehan kisah penghuninya. Biarlah gadget-gadget kita istirahat sejenak dengan di-charge energi listrik, sedangkan jiwa-jiwa kita disuplai dengan energi kehangatan keluarga di rumah kita sendiri dengan bicara dari hati ke hati. 

Ya, dari hati ke hati.
Karena hati hanya akan bisa disentuh oleh hati 


Thursday, 17 July 2014

Pintu Kebahagiaan


Ah, aku yakin ini tidak mudah baginya. Satu tahun menunggu, untuk kemudian harus tertunda lagi, mungkin memang hal yang tidak mudah. Aku tahu itu.. Dulu aku pun pernah merasakannya, menunggu. Meski akhirnya di tahun ke-2 aku tak perlu lagi menunggu.


Tapi jangan risau sayang..
jalan hidup manusia itu bukan rumus matematika, ketika 1+1 hasilnya mesti 2. Dalam hidup ini ada beberapa variabel lain yang membuatnya tak mesti menjadi 2. Bisa 3, 5, 10 atau bahkan 0. Bukan hal yang terlalu membanggakan ketika hasilnya menjadi 5 atau bahkan 10. Pun bukan hal yang memalukan ketika hasilnya menjadi 0. Karena lagi-lagi ini semua tentang kehedak Tuhan. Dan kau pasti tahu sayang, bahwa dia tidak pernah menghendaki sesuatu yang buruk untukmu. There must be something.

Sayang.. 
Aku dan Kamu pasti memiliki jalan hidup masing-masing. Bisa jadi jalannya mirip dan serupa, tapi juga bisa jadi berbeda. Dan itulah tugas kita untuk peka pada jalan hidup yang telah Dia siapkan untuk kita, khusus untuk kita. Satu hal yang harus kau tau sayang, bahwa aku akan selalu bangga padamu atas jalan kesuksesan manapun yang kau pilih selama itu masih menjadi bagian dari kebaikan. 

Dan tahukah? Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, ada banyak pintu kebahagiaan lain yang Dia bukakan untuk kita. Sayangnya, kita seringkali kurang peka pada pintu yang terbuka karena terlalu lama terpaku pada pintu yang tertutup itu.

Dear my lovely sister Hasni Direja
Pintu kebahagiaan itu telah menunggu untuk segera kau datangi. 
Come on dear.. Tarik napas dan jemputlah ia dengan senyuman. 
Ingat yaa, selalu tersenyum! 


Karena selain Allah, ada aku yang akan selalu mendukungmu sayang..





Thursday, 19 June 2014

Menikah adalah Sekolah Kehidupan

Menikah. Hihihi.. 
Dulu waktu jaman SMA dan kuliah tingkat-tingkat awal, menikah itu masih menjadi sesuatu yang memberikan kesan 'pembebasan' dan romantisme cinta dua insan. Hahaha, geli sendiri kalau inget itu. Ya harap maklum, sebagai remaja biasa yang tumbuh dengan segala kewajaran hasrat remaja seusianya, tapi memegang prinsip untuk gak pacaran, ya menikah itu menjadi sebuah impian yang akan membebaskan segala rasa ingin yang selama ini dikekang. Jamannya suka-sukaan sama laki-laki yang dianggap keren. Jamannya sok-sokan gak suka digombalin padahal kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian lebih perasaan jujurnya adalah seneng bukan main. Jamannya nangis-nangisan kalau ada laki-laki yang suka, karena merasa telah menjadi 'pengganggu' bagi kaum lelaki. Haha.. masa-masa itu. Memang labil sih, tapi itu fitrah naluriah kurasa. Wajar kalau merasa suka sama lawan jenis dan ingin mendapatkan sambutan yang sama dari yang disuka. Yaa, dulu sih sesederhana itu membayangkan tentang pernikahan. Pokoknya seneng dan romantis. Dan jadilah muncul cita-cita ingin menikah di umur 23 tahun. Hahaha

Time goes by, di jaman kuliah pertengahan, saat usia mulai mendekati umur 23, definisi tentang menikah mulai naik level. Haha. Ada sebuah kebutuhan untuk ingin 'dilengkapi'. Kondisi keluarga, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi-kondisi lainnya membuat saya merasa butuh seseorang yang 'menguatkan' dalam banyak kondisi. Dan biasanya sih ini dialami oleh anak-anak tingkat tiga, galau nikah. Padahal kalau dipikir sekarang ya, ngapain ya dulu gitu-gituan. haha. berasa alay banget. Tapi ya jujur, kebutuhan itu memang ada, merasa ingin dilengkapi, merasa ingin ada teman berbagi. Mungkin karena memang dinamika hidupnya mulai 'seru' kali ya. Gak lagi masalah tugas yang belum selesai, uang jajan yang kurang atau nilai IP yang turun, tapi mulai muncul ujian-ujian hidup yang dirasa ada benang merah yang harus diselesaikan diantara ujian-ujian yang ada. Kok jadi berat ya bahasanya? Haha.. mungkin saya aja kali ya yang mikirnya ketuaan, tapi itu seriusan yang saya pikirin di tingkat tiga pas jaman kuliah. Sejak SMP saya membantu orangtua untuk bisa rutin membayar SPP hingga kuliah dengan biaya sendiri mulai dari pendaftaran awal, bayar semesteran, biaya tugas studio tiap semester, hingga wisuda. Jadi ya memang sudah terbiasa merasa dilibatkan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga di rumah. Itulah sebabnya saya merasa butuh dilengkapi, karena memang yang dipikirkan mulai bercabang, bukan lagi tentang urusan diri sendiri.

Tingkat akhir perkuliahan, justru saya lupa cita-cita menikah itu. Karena sibuk mikirin TA. haha. Tapi di saat ga mikirin itulah, tetiba muncul sosok 'aneh' di penghujung usia 22 saya. haha. Dialah yang kemudian mengembalikan kegalauan saya tentang menikah. Hehe. Dan saat inilah kemudian menikah itu tidak lagi hanya memiliki definisi 'pembebasan' dan 'dilengkapi' tapi ada definisi baru yang didapat, ada dua inti pokok yang saya dapat waktu itu, tentang 'penyelamatan' dan 'penyempurnaan keimanan'. Duh berat banget gini bahasanya. Tapi lagi-lagi itu seriusan.

Tentang penyelamatan, mungkin ini ada kaitannya sama definisi pembebesan waktu jaman SMA. Hanya saja yang ini mungkin lebih serius tingkatnya, jadi bahasanya berubah jadi penyelamatan. Tapi sebetulnya kata 'penyelamatan' ini baru bener-bener saya resapi belakangan ini. Laki-laki dan perempuan fitrahnya pasti terikat sama yang namanya kutub ketertarikan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ketertarikan ini berubah kebutuhannya dari sekedar suka dan seneng kalau barengan ke tahap ingin melindungi, ingin bisa bertumbuh bareng, sukses bareng sampai pada keinginan untuk saling 'melengkapi' dan 'memuaskan' satu sama lain. Dua kata terakhir ini memiliki arti yang luas yang kaitannya dengan perasaan atau kebutuhan batin dan kaitannya dengan kebutuhan fisik (skinship). Kebutuhan batin ini mungkin ada hubungannya sama chemistry kali ya. Entah kenapa, ada sebuah sinyal aneh yang terdeteksi kalau sama pasangan kita. Entah itu perasaan bahagia yang ingin dibagi ataupun perasaan gelisah yang butuh solusi. Biasanya ini akan terconnect dan ketika kebutuhan masing-masing bisa dipenuhi, kita akan mendapatkan kebahagiaan batin. Sedangkan tentang kebutuhan fisik, saya baru ngeh belakangan ini. Saya baru sadar ternyata kebutuhan pemenuhan fisik itu akan selalu meningkat levelnya, misalnya awalnya sentuhan, setelah itu  akan muncul keinginan untuk pegangan tangan. Setelah bisa pengangan tangan, akan naik level lagi menjadi ingin merangkul, begitu seterusnya dan akan terus meningkat kebutuhannya. Dan saya baru sadar, ternyata skinship itu memang bisa memberikan kebahagiaan batin tanpa kita harus berkata. Misalnya ketika marah atau sedih, hanya dengan sentuhan dan pelukan, apalagi dari pasangan kita, itu bisa memberikan efek menenangkan yang sangat ampuh, tanpa kata-kata. Dan bayangkan saja jika tidak dibingkai dalam hubungan yang halal dalam penikahan, kebutuhan fisik ini akan menjadi sangat menyiksa. Trust me it works. Kebutuhannya terus meningkat, sedangkan secara norma dan agama, kita belum bisa seperti itu. Ya, kecuali orang-orang yang udah apatis sama aturan-aturan semacam ini. Bahayanya, semakin banyak orang-orang yang apatis sama aturan-aturan tentang lawan jenis ini, akan semakin banyak juga kasus-kasus moral di sekitar kita. Percaya deh. Penyimpangan-penyimpangan seksual yang ada di sekitar kita, bermula dari aturan pergaulan lawan jenis ini. Itulah kenapa saya bilang, menikah itu penyelamatan.

Penyempurna keimanan, ini juga yang bener-bener baru saya sadari waktu menjalani prosesnya. Duh, kalau diceritain panjang banget. Mulai dari kita yang baru kenal 10 hari di Padang, dua bulan kemudian dia dateng melamar, sebelumnya saya terjebak nostalgia sampai lima tahun (haha), dia anak bungsu dan kakak-kakaknya belum nikah, dan banyak lagi lainnya. Kalau bukan karena keimanan, waktu sesedikit itu akan sekuat apa sih mampu meyakinkan dua manusia untuk membangun perahu di pelayaran yang luas dan misterius nanti. Kalau bukan karena iman, kesan 10 hari bisa gitu ngalahin kesan 5 tahun? Kalau bukan karena iman, bisa gitu kakak-kakaknya ikhlas mengijinkan adik kecilnya nikah duluan? Kalau bukan karena iman, tega gitu orangtua membiarkan anak perempuannya didahului sama anak laki-lakinya yang bungsu? Kalau bukan karena iman, bisa gitu dua orang lulusan S1 yang baru lulus hitungan bulan yang lalu bisa membiayai pernikahannya berdua? Dan pertanyaan-pertanyaan 'bisa gitu?' lainnya. Keimananlah yang bisa menguatkan itu semua. Dan perjalanan inilah yang semakin menguatkan keimanan kami. Baru sampai tahap ini aja, baru 26 hari menikah, begitu banyak nilai-nilai keimanan yang bertambah dalam diri kami. Padahal pernikahan kan perjalanan panjang, yang selalu diniatkan tak akan berakhir bahkan sampai dimensi kami berubah ruang. Pasti akan ada banyak pelajaran keimanan lainnya yang akan kami dapat, saat nanti kami punya anak hingga nanti kami harus menikahkan anak kami, sampai tugas kami di dunia berakhir. Ya..disinilah kita gak akan kehabisan materi pembelajaran tentang keimanan.

Siapapun yang akan menikah, baru menikah, telah menikah, yakinilah bahwa menikah adalah sekolah kehidupan yang panjang. Karenanya kita memang dituntut untuk selalu belajar dan memperbaiki pengetahuan kita. Karena jika tidak, mungkin kita akan tinggal kelas atau terpaksa drop out dari sekolah ini. Tinggal kelas tidak lebih baik dari drop out saya rasa. Kita menikah untuk bahagia, ketika kita tinggal kelas, berarti kita mengalami stagnansi dalam pernikahan kita. Tinggal kelas, berarti kita tidak berhasil melewati ujian pernikahan. Bukan berarti pernikahan kita berakhir, karena kita hanya tinggal kelas, bukan drop out. Tapi tidak ada orang yang bahagia saat tinggal kelas. Sedangkan kita menikah untuk bahagia. 

Allahu'alam
yang menulis ini hanya seseorang yang sedang mengumpulkan bahan bakar untuk terus menyalakan api kebahagiaan dalam rumah kecilnya dan ingin berbagi sedikit tentang begitu banyak pelajaran yang ia dapat dalam perjalanan pernikahannya yang baru kemarin sore. hehe




Tuesday, 17 June 2014

drafbox 14 November 2013

Jatuh cinta itu rasanya aneh. Memang pada akhirnya perasaan itu terlalu sederhana jika harus diungkapkan dengan kata-kata. Atau mungkin tak ada kata yang sanggup mewakili luapan rasa dan emosi saat kita sedang jatuh cinta. It's feel so wonderfull. Setiap apapun yang dilakukan oleh yang kita cintai pada kita, rasanya merupakan sesuatu yang sangat spesial, sangat unordinary. Padahal bisa jadi ada oranglain yang biasa melakukan itu, tapi saat ia yang melakukannya untuk kita, rasanya sangat sangat sangat tidak biasa.

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Setelah sekian lama aku merasakan kecenderungan pada lawan jenis, baru kali ini aku persilahkan hati ini untuk jatuh cinta. Mencintai sosok yang memperlakukanku lebih dibandingkan yang lain, yang dengannya aku sangat sulit untuk menolak atau tak membalas sikapnya. Setiap sikapnya padaku selalu membuatku merasa tersentuh. Setiap tatapannya selalu mengisyaratkan rasa sayangnya padaku. Karena itulah aku izinkan hati ini untuk jatuh cinta kepadanya. Dia yang baru saja ku kenal beberapa bulan ini. 

Rasanya dalam setiap do'a yang pernah kupanjatkan pada Rabbku, inilah do'a terbesar yang sangat berharap terkabul bahkan sangat berharap untuk segera terkabul. Do'a tentang inginku dia menjadi imam hidupku. Inginku dia menjadi ayah dari anak-anakku. Inginku dia menjadi teman hidup dan matiku. Inginku untuk hidup dan tumbuh bersamanya sampai akhir hidupku. Inginku dia menjadi harapan dan masa depanku. Inginku untuk selalu bersamanya meraih cinta Tuhanku. 

Ya Rabb.. kabulkanlah, secepat waktu yang terbaik untuk kami.

------

Ah, ternyata tulisan ini sudah bersabar cukup lama dalam drafbox. Sulit dimengerti ketika rasa itu bisa tumbuh begitu cepat. Cepat sekali. Bersusah payah kusimpan perasaan ini hingga saatnya tiba. Dan kini kesabaran itu telah menemukan momennya. Waktu itu telah tiba untukku bisa menyampaikannya. Perasaan yang telah lama tersimpan.

Dan lagi lagi waktu memberikan jawaban atas pertanyaanku tentang perintah-Nya. Perintah-Nya untuk saling menjaga diri antara manusia berjenis laki-laki dan perempuan. Karena memang keduanya memiliki kutub yang saling menarik satu sama lain. Sebuah ketertarikan yang hanya akan menyiksa bagi keduanya jika tidak dibingkai dalam sebuah ikatan yang halal.

Maka bagi kalian yang sedang bersinggungan dengan kutub yang berbeda, jagalah diri kalian dari ketertarikan yang hanya akan menimbulkan kerusakan. Halalkanlah jika ketertarikan itu mulai menawanmu, atau jauhilah ia, jika siap masih harus menunggu waktu. Percayalah, semuanya akan indah pada waktunya


Sunday, 22 December 2013

Pesona Kematangan

Chemistry yang biasanya mempengaruhi hubungan cinta antara laki-laki dan wanita sebenarnya hanya menegaskan satu fakta : ketika cinta yang genuine bertemu dengan motif lain dalam diri manusia, dalam hal ini hasrat atau syahwat biologis, hubungan cinta antara laki-laki dan wanita memasuki wilayah yang sangat rumit dan kompleks. Banyak fakta yang tidak bisa dipahami dalam perspektif norma cinta yang lazim. Lebih banyak lagi kejutan yang lahir di ruang ketidakterdugaan. Namun itu tidak menghalangi kita menemukan fakta yang lebih besar : bahwa dengan memandang itu sebagai pengcualian-pengecualian, seperti dalam kasus Muawiyah bin Abi Sufyan dengan gadis badui yang tidak dapat mencintainya, kekuatan cinta sesungguhnya tetap dan selalu mengejawantah pada kematangan kepribadian kita. Misalnya cinta antara Utsman bin Affan dan istrinya, Naila.

Para pencinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya, atau kekuasaan dan kekayaanya, atau popularitas dan pengaruhnya. Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi. Mereka kuat. Tapi kekuatan mereka menjadi sumber keteduhan jiwa oprang-orang yang dicintainya. Mereka berisi dan sangat independen. Tapi mereka tetap merasa membutuhkan oranglain, dan percaya bahwa hanya melalui mereka ia bisa bertumbuh dan bahwa pada orang-orang itulah pemberian mereka menemukan konteksnya. Kebutuhan mereka kepada oranglain bukan sebentuk ketergantungan. Tapi lahir dari kesadaran mendalam tentang keterbatasan manusia dan keniscayaan interdependensi manusia.

Pesona inilah yang dipancarkan Khadijah pada Muhammad. Maka selisih umur tidak sanggup menghalangi pesona Khadijah menembus jiwa Muhammad. Pesona kematangan itu pula yang membuat beliau enggan menikah lagi bahkan setelah khadijah wafat. "Siapa lagi yang bisa menggantikan Khadijah?" tanya Rasulullah SAW. Tapi bisakah kiita membayangkan pertemuan dua pesona? Pesona kematangan dan pesona kecantikan serta pesona kecerdasan? Pesona itulah yang dimiliki Aisyah : muda, cantik, innocent, cerdas dan matang dini. Dahsyat, pasti! Pesonanya pesona. Disini semua pesona menyatu padu : seperti goresan pelangi di langit kehidupan Sang Nabi. Dua perempuan terhormat dari suku Quraisy itu mengisi kehidupan pribadi Sang Nabi pada dua babak yang berbeda. Khadijah hadir pada periode paling sulit di Mekkah. Aisyah hadir pada periode pertumbuhan yang rumit di Madinah. Khadijah mengawali kehidupan kenabiannya. Tapi di pangkuan Aisyahlah ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyelesaikan misi kenabiannya.

Dalam jiwa Sang Nabi ada dua cinta yang berbeda pada kedua perempuan terhormat itu. Ketika beliau ditanya tentang orang yang paling ia cintai, ia menjawab Aisyah! Tapi ketika beliau ditanya tentang cintanya pada Khadijah, ia menjawab; "cinta itu dikaruniakan Allah padaku". Cintanya pada Aisyah adalah bauran dari pesona kematangan dan kecantikan yang melahirkan syahwat. Maka Ummu Salamah berkata, "Rasulullah SAW tidak bisa 'menahan' diri kalau bertemu Aisyah". Tapi cintanya pada Khadijah adalah jawaban jiwa atas pesona kematangan Khadijah: cinta itu dikirim Allah melalui kematangan Khadijah.

--Anis Matta, Serial Cinta, Pesona Kematangan--


Pesona kematangan, itulah mungkin yang bisa menjawab pertanyaan para penonton tentang mengapa Si Kaya dengan Si Miskin, Si Cantik dengan Si Buruk Rupa, Si Tampan dengan Si Buruk Rupa atau yang Muda dengan yang Tua, atau seaneh apapun peristiwa cinta di muka bumi ini. Pesona kematangan, yang merubah kekaguman menjadi sebuah kata bernama 'cinta'.


Thursday, 28 November 2013

Aura Kehidupan

Jika cinta menyerupai air pada beberapa tabiat dasarnya, maka sifat utama air yang melekat padanya adalah fakta bahwa air adalah sumber kehidupan. Jika cinta adalah gagasan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan tindakan utamanya adalah memberi untuk menumbuhkan, maka kekuatan pesona utama seorang pencinta adalah aura kehidupan yang memancar dari dalam dirinya.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Ia membuat orang-orang di sekelilingnya merasakan denyut nadi kehidupan, merasakan hamparan keindahan hidup, merasakan alasan tentang mengapa mereka hidup dan harus melanjutkan hidup, merasakan alasan untuk bertumbuh demi merakit pemaknaan tiada henti terhadap kehidupan. Ia, intinya, membuat orang-orang di sekeliling merasa hidup. Sebab ia menebar benih kehidupan di ladang hati mereka. 

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia hidup. Dan hidup itu nyata pada setiap jengkal tubuhnya, pada setiap detak jantungnya, pada setiap hembusan nafasnya, pada setiap langkah kakinya, pada setiap uluran tangannya, pada setiap kedipan matanya, pada setiap kata dan suaranya. Gagasannya seluruhnya adalah tentang kehidupan yang lebih baik. Niat seluruhnya adalah penumbuhan yang membuat hidup lebih baik.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia memiliki dan menggabung tiga pesona utama para pencinta; pesona raga, pesona jiwa, dan pesona ruh. Ketiga pesona itu terbingkai rapih pada sebuah "akar besar" yang menerangi kehidupannya dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. 

Maka mendekat-dekatlah padanya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan serasa mengalir pada setiap sudut jiwa dan ragamu. Maka tataplah matanya, niscaya engkau akan merasakan gairah kehidupan yang memberimu semangat baru untuk terus hidup, terus melanjutkan hidup. Maka dengarkanlah kata-katanya, maka engkau kan merasakan betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang lebih baik. Dan jika Tuhan mengijinkan engkau merasakan sentuhannya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan mendidih dalam tubuhnya. Dan jika Tuhan memperkenananmu hidup berlama-lama dengannya, niscaya engkau kan merasakan betapa perlindungan dan penumbuhannnya membuatmu terengkuh dalam rasa aman dan nyaman.

Engkau bahkan tidak pernah begitu yakin tentang pesona apa yang pertama kali menawanmu. Apakah kulit hitam yang tak dapat menyembunyikan cahaya matanya? Atau ketegasan sikap yang tidak dapat merahasiakan kebajikan hatinya? Atau kelembutan bawaan yang yang tidak sanggup menutup-nutupi keberaniannya? Atau diam panjang yang tidak mampu menghalangi ilmu dan wawasannya? Atau badan kurus yang dijelaskan oleh puasa dan pengendalian dirinya? Atau? Tidak! Semua tampak menyatu dalam dirinya: ruhnya yang halus, jiwanya yang lembut, terbungkus dalam raganya yang kokoh, terangkai dalam perilaku yang terbimbing akal besarnya. Tapi itu semua ada dalam dirinya. Dan ketika ia keluar, ia hanya memancarkan satu hal : aura kehidupan. Dan itulah yang engkau rasakan dan yang mungkin sekali engkau ketahui asal muasal dan akarnya dalam dirinya. Dia bukan sebuah profil sempurna. Dia hanya sebuah kehendak yang lebih nyata. Dia bukan Nabi yang tak mungkin salah. Dia hanya sebuah tekad perbaikan berkesinambungan yang tak henti-henti. Dan itulah aura kehidupan: gairah yang tak pernah selesai. 

-Anis Matta, Serial Cinta, Aura Kehidupan-



--------------------


Wednesday, 6 November 2013

Cinta dan Produktivitas

Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. Selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang hanya berkembang di batas gagasan dan kemauan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tak berbuah.

Bagian cinta yang pertama dan kedua, gagasan dan kemauan baik, biasanya terbentuk dari serangkaian penghayatan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keagamaan tentang kehidupan dan hubungan antar manusia di dalamnya, hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan alam. Sedalam apa penghayatan itu dalam diri seorang pencinta, sedalam itu pula sumber energi cinta yang ada dalam dirinya.

Tapi bagian ketiga dari cinta, kemampuan, memerlukan latihan dan proses pembelajaran. Kalau kita mau memberi, kita harus belajar berlatih bagaimana memiliki. Kalau kita mau memperhatikan orang yang kita cintai, kita harus belajar dan berlatih untuk tidak membutuhkan perhatian orang lain. Kalau kita mau menumbuhkan sang kekasih, kita haru sbelajar dan berlatih bagaimana bertumbuh sendiri terlebih dahulu. Begitu seterusnya : memberi, memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi mengharuskan kita memiliki kemampuan pribadi untuk melakukan tindakan-tindakan produktif.

Membangun kemampuan mencintai berarti membangun kemampuan produktif dalam diri kita. Menjadi seorang pencinta sejati berarti menjadi seorang produktif yang selalu berorientasi bukan hanya pada proses, tapi juga terutama hasil akhir. Produktivitas adalah indikator kematangan seorang pencinta. Seorang pencinta yang tidak produktif adalah pohon rindang yang tidak berbuah.

--- Anis Matta, Serial Cinta, Membangun Kemampuan Mencintai---


Buku ini benar-benar membuka mata dan paradigma saya tentang sebuah kata bernama cinta. Ust. Anis Matta rasanya betul-betul bisa menyelami makna cinta ini dengan begitu dalam. Ini kali ke-dua saya membaca buku ini, tapi baru kali ini saya bisa memahami kata-kata beliau yang cukup tinggi.

Cinta dan produktivitas mungkin yang ingin Allah sampaikan pada kita. Tentang cinta seorang Rasul pada umatnya, cinta orangtua pada anaknya, cinta seorang suami pada istrinya, cinta seorang anak pada orangtuanya. Memang betul, ketika kita mencintai seseorang atau sekelompok orang, biasanya kita memiliki keinginan untuk selalu memberi pada yang kita cintai. Sesederhana memberi salam, menanyakan kabar, memberikan semangat, sesederhana itu.

Namun ketika cinta kita bertumbuh semakin besar, maka keinginan untuk memberi itu juga akan bertambah besar. Dari sanalah kemudian kita mengupayakan diri kita untuk bisa memberi banyak hal esar pada orang yang kita cintai. Energi itulah yang kemudian tumbuh menjadi semangat perubahan dalam diri kita, karena tak mungkin kita memberi tanpa kita belajar untuk memiliki.

Cinta memang bisa mentransformasikan manusia menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu juga yang Allah maksud dengan 'Lelaki baik untuk perempuan baik'. Seseorang yang mencintai seorang atau sekelompok orang yang baik, tentu ia akan berusaha untuk menjadi lebih baik, agar bisa memiliki standar baik yang minimal sama dengan orang atau sekelompok orang yang dicintainya.

Maka ketika kita memutuskan untuk mencintai, bersiaplah untuk bertransformasi menjadi manusia dengan produktifitas tinggi.


Adik Ketemu Gede

Hari ini entah kenapa begitu stuck, kerjaan rasanya sulit sekali untuk bertransformasi dari alam pikiran menuju alam digital. Ah baiklah, kita ng-blog dulu sajah #eh

----

Di sela-sela waktu yang ga produktif ini tetiba ingin buka wasap yang sebetulnya paket internetnya udah abis. Jadi sebetulnya yang muncul adalah chat di malam hari yang belum sempat terbuka. Lalu muncullah 57 notifikasi dari grup kelompok mentoring adik-adik yang kemarin sempat kupegang. Sekarang sudah berganti mentor, dan dipegang oleh yang lain.

Percakapannya seperti biasa, tak lepas dari perbincangan seputar jadwal mentoring pekan ini kapan yaa. Mereka bersahutan menyampaikan kegiatan-kegiatannya sepulang sekolah. Hingga ada yang bertanya, 'Kalau aku mentoring, itu berarti aku menolong agama Allah ga?'. Yang lain bersahutan menanggapi dengan pendapatnya masing-masing, sembari melaporkan waktu kosongnya untuk mentoring. Hingga akhirnya yang bertanya tadi memberikan closing statement, 'Kalau gitu ga apa hari Rabu. Insyaallah yang bakal nolong aku Allah, bukan yang lain'. #nyesss..

----

Aaah, tetiba begitu rindu pada adik-adik mentoringku. Sejak angkatan 2010 hingga angakatan 2013 yang kisahnya aku ceritakan di atas. Betapa rindu pada setiap minggu yang aku harus datang lagi ke sekolah. Setiap minggu menanyakan kabar dan kepastian hari mentoring. Setiap minggu menyiapkan materi apa yang akan disampaikan. Setiap minggu mendengarkan celoteh mereka, mulai dari jajan pas istirahat sampai cerita rapat-rapat rutin mereka. Setiap minggu mendengar curhat mereka, mulai dari virus-virus merah jambu ala putih-abu hingga saat mereka mulai dilarang mentoring oleh orangtua karena takut diajari aliran sesat. Haha.. lucu sekali. Mungkin dulu juga aku begitu pada teteh-teteh mentorku. 

Sungguh diantara begitu banyak nikmat keimanan yang Allah berikan adalah nikmat diberikannya adik-adik mentor yang hampir setiap pekan selalu mewarnai kisah mingguanku. Bertemu mereka lagi, mendengar cerita mereka lagi, memberikan 'dongeng' lagi, dan begitu seterusnya. Kejadian yang monoton sebetulnya, tapi selalu saja ada rasa rindu jika satu atau dua minggu saja terlewat, tak ada mentoring. 

Di setiap akhir mentoring, biasanya adik yang bertugas sebagai MC, menutup dengan kata-kata yang nyaris serupa pada setiap kelompok yang berbeda. 
"Alhamdulillah mentoring kali ini telah selesai. Terimakasih kepada Teh Hasri yang sudah memberikan materi dan mendengarkan curhatan kita semua. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Kita tutup dengan bacaan istighfar, hamdalah dan do'a akhir majelis"
Hampir selalu seperti itu. Padahal seusai mentoring dengan mereka, dalam hati aku selalu bersyukur, "Terima kasih Ya Rabb, telah mempercayakan mereka kepadaku. Pada seseorang yang sungguh masih sedikit ilmu, masih sering berbuat dosa, masih sulit untuk mengendalikan hawa nafsu, masih takut berbicara di depan umum, masih sering malas-malasan dalam beribadah. Tapi karena mereka aku mau merubah diriku. Menambah ilmuku setiap pekan sebelum bertemu dengan mereka. Malu jika akan berbuat dosa. Malu jika mengikuti hawa nafsu. Belajar berbicara di depan mereka, meski lidah ini kelu. Dihantui oleh setiap kata-kata yang muncul dari mulutku sendiri. Dan malu jika ibadahku pas-pasan. Terima kasih telah mengirimkan mereka untukku, yang dengannya aku berubah banyak."

Sekarang mereka telah berpencar ke banyak penjuru Indonesia, bahkan beberapa diantaranya ada yang telah berpindah ke negeri seberang. Beberapa diantaranya ada yang masih mentoring, ada juga yang sudah tidak. Kadang dari mereka masih ada yang meminta mentoring lagi saat musim liburan tiba, dan mereka semua berkumpul di Bandung. 

Ah, tetiba teringat betapa begitu banyak hak-hak mereka yang lalai aku tunaikan. Seringkali aku luput menanyakan kabar mereka yang telah berpindah ke lain kota. Seringkali aku lupa untuk sekedar menanyakan kabar. Seringkali aku kelu ketika melihat beberapa diantara mereka yang mulai berubah. Ah pasti itupun karena aku. Aku yang masih banyak sekali kurangnya dan penuh dengan keterbatasan dalam membersamai mereka. Aku yang apa adanya dan sangat minim ilmu.

Rindu itu semakin menjadi-jadi sekarang. Membayangkan hari-hari bersama mereka. Lingkaran-lingkaran itu. Mereka yang putih-abu. Lantai 4 sekolah kami. Foto bersama, makan bersama. Dan yang tak ternilai harganya adalah saat sedikit demi sedikit mereka mulai merasa bangga akan keislamannya, semangat beribadahnya, semua itu begitu menamparku dan membuatku berkaca pada diriku sendiri.

Adik-adikku, dimanapun kalian berada sekarang. Terimakasih telah hadir dalam lembaran hidupku, memberikan perubahan yang sangat berarti bagiku. Maaaf atas begitu banyak hak-hak yang belum sempat tertunaikan. Atas kesepakatan yang tak terjaga. Semoga Allah selalu menjaga kita, menjadikan kita wanita-wanita shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Semoga Allah menjadikan kita guru terbaik yang melahirkan anak-anak peradaban.


Tuesday, 5 November 2013

Pelajaran Cinta

Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai, lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu terbalas. Fakta ini mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

Sebabnya sederhana saja. Cinta itu banyak macamnya. Ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. Cinta ini lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. Misalnya cinta para Nabi kepada umatnya, atau guru kepada muridnya, atau pemimpin kepada rakyatnya, atau ibu kepada anaknya. Jiwamu dan jiwa orang yang kamu cintai tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Bahkan sering berkembang jadi permusuhan. Lihatlah bagaimana Nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu yang ditelantarkan anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya.

Inilah cinta yang paling luhur. Paling suci. Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan salam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya merupakan buah dari cinta yang lain. Ambillah contoh: 1,3 milyar umat islam saat ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah sang Nabi beserta para sahabat-sahabatnya. Itu cinta misi.

Tapi ada jenis cinta yang lain. Cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. Cinta ini lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan di sini.

Ada cinta ketiga. Cinta maslahat. Cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama maka mereka saling mencintai. Misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon atau senyum manis seorang pramugari atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel: semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa (comfortability). Anda adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Anda adalah kepentingannya. Bukan jiwanya.

--- Anis Matta, Serial Cinta, Pelajaran Cinta ---

Cinta memang kata yang sulit didefinisikan atau justru kata yang memiliki banyak definisi. Dari buku Ust. Anis Matta ini ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, tentang cinta.

Bagi siapapun yang sedang mengumpulkan batu bata untuk membangun sebuah rumah tangga, semoga cinta yang mendasari bangunan itu tak hanya sekedar cinta jiwa, cinta yang lahir dari sebuah kesenyawaan jiwa yang saling menggenapkan dan melahirkan sebuah ketenangan semata. Semoga cinta yang mendasari bangunan itu adalah sebuah 'Cinta Misi', cinta yang memiliki sebuah tujuan dan cita-cita agung di akhirnya. Cinta yang tak hanya mengharapkan kegenapan jiwa dan kepuasan biologis semata. Tapi ada sebuah cita-cita besar yang menjadi tujuan bersama dari bangunan tersebut. Cinta yang tak akan hilang meski cinta jiwa mengalami penurunan kualitas, jika suatu saat sebuah bencana menguji kualitas bangunan mereka. Cinta yang bisa menjadikan bangunan mereka adalah sebuah mesin peradaban, yang melahirkan agen-agen kebahagiaan untuk orang-orang disekitarnya.

Semoga memang bangunan itu akan terbentuk dari cinta yang berlandaskan misi yang agung, misi yang jauh kedepan dan dibutuhkan banyak 'bekal' untuk mencapainya. Bukan sekedar cinta jiwa, yang lahir dari persamaan dan kesegenapan. Bukan sekedar cinta jiwa yang lahir dari ketertarikan dan kenyamanan dua insan. Apalagi sekedar cinta maslahat, yang lahir hanya karena sebuah kepentingan semata, yang jika kepentingan itu tercapai maka selesailah sudah cintanya. 

Bagaimana menumbuhkan 'cinta misi' ini? Tentu kita harus  lebih banyak 'belajar' dan 'membaca' lagi..



Sunday, 3 November 2013

Memaafkan Kesalahan Diri #2

"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tak ada seorang manusiapun di dunia ini yang luput dari salah dan dosa. Bahkan Rasulullah saw. yang dima'sum oleh Allahpun pernah melakukan khilaf yang kemudian ditegur langsung oleh Allah dan diabadikan dalam Al-Qur'an surat 'abasa. Begitulah manusia, sejatinya memang masa hidupnya adalah masa pengujian, trial and error. Memang seperti itulah manusia, masa hidupnya adalah masa belajar.

Kesalahan seringkali membuat manusia merasa terpuruk dan hina ketika tersadar bahwa yang telah ia lalui adalah sebuah kenistaan. Ia akan merasa kecil, tak berdaya. Kesalahan-kesalahannya membuatnya seakan menjadi makhluk yang paling hina dan tak pantas untuk diampuni. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah menyadari kesalahannya, merasa bahwa dosanya telah teramat besar dan mustahil Tuhan akan mengampuninya, maka tenggelamlah ia dalam lautan dosa dan tak sanggup naik ke daratan taubat. Di satu sisi, kita bisa melihat kewajaran dari sikap tersebut. Ketika ia mulai menyadari kesalahannya, melihat dampak dari dosa-dosanya, membandingkan dirinya dengan oranglain yang jauh lebih baik, itu memang akan membuatnya merasa semakin tak berdaya hingga sampai pada kondisi fatal, ia menyerah pada dosa dan kesalahannya. "Biarlah, aku sudah terlanjur kotor. Tak ada lagi yang mau menerimaku" 

Tapi itukah yang Allah inginkan dari kita? Maka untuk apa Allah sediakan surga, jika nafsu yang Ia ciptakan untuk kita hanya akan menggiring kita pada neraka-Nya?

Manusia bukanlah malaikat yang memang hidupnya hanya untuk mengabdi pada Allah. Ia tidak Allah sisipkan rasa membangkang dalam dirinya. Tapi manusia juga bukanlah iblis yang memang telah mengikrarkan hidupnya untuk mecari sebanyak-banyaknya kawan di neraka untuknya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah berikan pilihan untuk hidupnya, apakah akan menjadi kawan dari malaikat ataukah menjadi kawan dari iblis. Segala hal yang Allah titipkan pada manusia berupa akal, hawa nafsu, intuisi dan segala fitrah manusia, adalah bekal yang Allah berikan untuk kita bisa memilih jalan hidup tersebut. Akal digunakan untuk berpikir dan berlogika tentang sesuatu yang baik atau buruk, pantas atau tidak. Hawa nafsu Allah titipkan untuk mengolah perasaan kita, kemanakah ia lebih diarahkan, apakah kepada nafsu yang baik ataukah sebaliknya. Intusi adalah kepekaan naluriah yang berhubungan dengan alam bawah sadar, yang sadar ataupun tidak, ini berkaitan erat dengan kedekatan manusia pada Tuhannya.

"Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam: 54)
Itulah jawaban Allah atas hamba-hamba-Nya yang berbuat salah. Allah meminta kita untuk datang kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itulah yang Allah inginkan dari kita. Ia yang menciptakan kita dan tahu betul tabiat kita. Allah tahu betapa kita pasti akan pernah melewati jalan yang salah, maka Allah selalu menyediakan kesempatan bagi kita untuk kembali atau berbalik arah. Allah tahu kita makhluk yang perlu banyak belajar, maka Allah selalu membukakan ampunan-Nya bagi mereka yang mau belajar dari kesalahan-kesalahnnya. 

Maka tak ada lagi alasan untuk terjerembab dalam kubangan dosa. Tak ada lagi alasan untuk tenggelam dalam lautan khilaf. Tak ada kata menyerah pada keadaan. Bangkitlah! Bergeraklah! Temukan jalan kembali kepada-Nya. Sama halnya ketika kita tersesat dalam mencari sebuah alamat, ketika kita menemui jalan buntu, kita harus kembali memutar arah, mencari jalan yang benar, meski dengannya kita akan mengalami kesulitan seperti berjalan dalam labirin, meski dengannya kita mungkin akan merasa malu karena orang-orang yang ada di pinggir jalan menyaksikan bahwa kita tersesat, meski dengannya kita harus menambah bahan bakar kendaraan kita karena ia telah terkuras dalam perjalanan yang menyesatkan tadi. Tapi itu bayaran yang harus kita berikan untuk keluar dari kebuntuan dan mencari alamat yang benar, untuk sampai pada tujuan yang memang kita harapkan. 

Bagi mereka yang baru menyadari bahwa selama hidupnya sering melakukan kesalahan pada orang-orang sekitarnya, sering membuat jengkel teman-teman atau tetangga atau yang selama bertahun-tahun menjadi public enemy. Bangkitlah! Mohon ampun pada Allah, meminta maaf pada manusia, dan mulailah bersikap baik pada sesama. Jangan marah ketika dalam perjalanan meminta maaf akan ada yang tidak memaafkan atau malah balik mencemooh. Itu bukan urusan kita. Allah akan melihat segala usaha kita dan kelak ketika Allah telah meridhoi kita, ia akan menggerakkan hati-hati manusia untuk juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Bukankah Ia yang Maha membolak-balikkan hati manusia?

Anak-anak yang selama ini sering mengecewakan orangtuanya. Tak sekali membuat mereka menangis karena tingkah kita. Melakukan larangan Allah yang bahkan kita tak boleh berkata "ah!" pada mereka. Masih ada waktu untuk memohon ampun pada Allah dan meminta maaf pada kedua orangtua kita. Manfaatkanlah waktu yang tersisa untuk memuliakan mereka. Membalas segala kasih sayang dan kebaikan mereka, meski itu tak akan pernah sebanding sebetulnya. Jika mereka telah tiada, jadilah anak yang shaleh yang do'anya bisa meringankan siksa kuburnya, yang amalanya bisa membawa mereka untuk ke surga. 

Untuk para orangtua yang baru menyadari bahwa selama ini salah mendidik anak-anaknya. Bertahun-tahun melakukan keburukan di depan anak-anak yang kemudian dicontoh oleh mereka. Melalaikan hak-hak anak yang selama ini mereka harapkan. Menyumbang masalah sosial karena telah melahirkan anak yang justru malah meresahkan banyak orang. Tak perlu berputus asa, cukuplah yang dahulu menjadi pelajaran yang berharga. Masih ada waktu untuk memohon ampun pada Allah dan dengan rendah hati meminta maaf pada anak-anak. Masih ada waktu untuk menata kembali kehidupan keluarga yang sempat kacau karena kesalahan di awal. Masih ada waktu untuk mendidik anak-anak shaleh yang kelak akan menjadi amal yang tak terputus ketika nyawa telah berpindah ke alam yang berbeda. 


Bagi dua insan manusia yang saling mencinta namun belum terikat dalam ijab ibadah yang menghalalkannya. Mohon ampunlah pada Allah atas segala khilaf yang terlanjur dilakukan. Atas perhatian-perhatian dan perasaan-perasaan yang terlanjur diumbar pada waktu yang belum saatnya. Atau bahkan jika ada larangan Allah yang justru telah terlanggar. Mohon Ampunlah pada-Nya. Mohonlah cinta-Nya yang lebih utama daripada cinta dari makhluk-Nya. Mohonlah pada-Nya untuk meridhoi cinta kalian dan menyampaikannya menjadi ibadah yang nilainya setengah agama. Putuskanlah hal-hal yang belum hak dan dapat membuat-Nya cemburu pada cinta kalian. Berkomitmenlah untuk saling menjaga perasaan dan menyerahkannya pada Allah. Masih ada waktu untuk menjadikannya proses yang baik untuk niat yang sangat baik. Masih ada waktu untuk memulai sebuah ibadah yang besar dengan awalan yang baik. Masih ada kesempatan untuk membangun peradaban kecil pada rumah tangga kalian kelak, dengan ikhtiar terbaik yang diridhoi-Nya. Karena alangkah lebih baiknya jika sebuah rumah tangga yang berkah diikhtiarkan dan diawali dengan proses yang juga penuh berkah.

Untuk siapapun yang sedang berjuang mendapatkan ridho dan ampunan-Nya, tetaplah berikhtiar untuk itu. Tak peduli seberapa panjang jalan yang harus kalian tempuh. Tak peduli seberapa sakit luka yang harus kalian obati. Tak peduli berapa banyak orang yang akan mentertawai. Yakinlah, cinta Allah yang sedang kalian perjuangkan, yang balasannya bahkan tak ternilai oleh bumi dan seisinya.

Teruslah berjalan menuju ampunan-Nya. Bayangkanlah berapa orang yang akan bahagia melihat perubahan kalian. Berapa pasang mata yang akan menangis haru mendengar permintaan maaf kalian. Dan berapa banyak malaikat yang akan ikut mendoakan dan meng-amin-kan do'a-do'a kalian. 

Semoga kita tergolong hamba-Nya yang selalu belajar atas kesalahan dan kebaikan. Semoga kita tergolong hamba-Nya yang tak pernah berputus asa pada rahmat Allah, Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.


“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”  (QS. Yusuf :87)


Followers