Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Friday, 19 September 2014

Hari ke-13

Assalamu'alaikum sayang...
Ada kabar gembira! tapi bukan tentang kulit manggis (kalau kamu ga ngerti, nanti bunda jelasin yaa ) :D
Kabar gembiranya adalaaah... hari ini ayahmu ke Bandung! Yeay!!! Can't wait to see him :) Dan karena itu juga, jadwal mengunjungimu diundur jadi hari senin nanti. Ah senangnya, akhirnya bunda akan tetap melihat kamu bersama ayah. :)

Sayang, yang kuat dan sehat ya disana.. Kalau kamu kuat, insyaallah kita bisa segera menyusul ayah tinggal di Solo. Sebetulnya memang bunda ga sanggup sayang, kalau harus berjauhan dengan ayahmu. Ndak kuaaat.. hehehe. Hmm.. yaa bagaimanapun kondisimu nanti, kami akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Bunda juga selalu berusaha memberikan banyak afirmasi positif untukmu, suapaya kamu tenang, sehat, dan bahagia di dalam sana. Dan salah satu penambah afirmasi positif bagi bunda adalah ayahmu, kekeke bandel ya bunda? Yaaa.. gimana lagi doong bundanya ingin bareng sama ayah teruss..

Kita sama-sama berdoa ya sayang, semoga keputusan Ayah dan Bunda ini yang terbaik untuk semuanya, karena sesungguhnya perjuangan itu pasti akan selalu kita lakukan. Dimanapun kita berada. Bunda siap berjuang bersamamu sayang, bersama ayah. :)

Oke, baik-baik ya disana..
Salam peluk dan cium dari ayah dan bunda

Monday, 15 September 2014

Hari ke-9

Assalamu'alaikum sayang.. Apa kabar hari ini? Bunda penasaran deh sekarang dedek udah sebesar apa yaa.. hehe. Tapi rasa penasaran ini akan terjawab tiga hari lagi, karena nanti bunda akan periksa ke dokter. Tapi mungkin ini kali pertama bunda nengok kamu tanpa ayah. Tak apa ya sayang, nanti fotomu bunda kirim ke ayah ko! :)

Sayang, ini hari ke-9 Ayah pindah ke Solo. Hiks, jadi ingin nangis lagi.. Sepi banget rasanya, pasti kamu juga merasa sepi kan? udah sembilan hari ini ga ada yang cium kamu ya sayang? hehe, Bunda cuman bisa gendong kamu kemana-mana sambil ngelus-elus, tapi ga bisa cium kamu sayang. Gak nyampe, hehe.. Sabar ya, nanti kalau Ayah pulang, pasti ada yang cium kamu lagi. :) 

Hmm.. Bunda curhat sama kamu ga apa ya, Sayang. Kelak ketika kamu lahir ke dunia pun Bunda akan banyak bercerita dan curhat banyak hal padamu. Pasti seru sekali berbagi cerita dan menikmati setiap episode hidup bersamamu sayang.. Aah, can't wait.. :D

Hari-hari tanpa Ayahmu menjadi hari yang berat buat Bunda, Sayang. Saat hari pertama Ayahmu pindah hampir setiap Bunda melewati titik tempat kami biasa bersama, pasti mata Bunda langsung berkaca-kaca bahkan terkadang sampai meneteskan air mata. Setiap malam sampai hari ini, Bunda masih saja mengigau dan memanggil-manggil Ayahmu. Hehe, tampak berlebihan ya Sayang, tapi itu benar terjadi. Ayahmu seorang suami yang luar biasa. Dia selalu bersikap baik dan lembut pada Bunda. Setiap tatapannya, sikapnya, kata-katanya jelas terlihat kasih sayangnya pada Bunda. Insyaallah kelak Ia akan menjadi Ayah yang hebat untukmu, Sayang. Ayahmu orang yang sangat peduli, pada siapapun, terlebih pada orang-orang yang dia sayangi. Ayahmu orang yang sangat sabar dan tenang, Bunda sangat bersyukur karena Allah menjodohkan Bunda dengan Ayahmu. Ketika Bunda sakit, Ayahmu selalu sabar membantu Bunda melakukan banyak hal, menjaga Bunda sampai akhirnya sembuh. Ayahmu betul-betul sosok yang Bunda harapkan menjadi pendamping hidup, bahkan lebih dari yang Bunda harapkan. Itulah mengapa sayang, berat sekali bagi Bunda untuk berpisah jarak dengan Ayahmu. Beraat sekali..

Sayang, Bunda menceritakan ini bukan semata ingin menunjukkan kelemahan Bunda padamu. Tapi Bunda hanya ingin kamu tahu bahwa Kami, orangtuamu, adalah dua insan manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasan kami. Ada saatnya kami rapuh dan inilah ujian terbesar selama tiga bulan pernikahan kami. Ketika kami harus dipisahkan oleh jarak. Dan akhirnya kami memilih untuk kembali bersama. Kami memilih berjuang bersama dalam jarak yang dekat. Kami belum tau perjuangan seperti apa yang akan kami hadapi nanti. Tapi kami berpikir, berjuang bersama, saling menatap setiap hari, lebih kami pilih dibandingkan berjuang sendiri-sendiri di tempat yang berjauhan. Semoga Allah menguatkan kita ya sayang. Menguatkan Ayah, Bunda, dan kamu. Tetap sehat disana ya sayang. Kamu tumbuh bersama tumbuhnya kami di keluarga kecil ini. Bunda yakin kelak kamu akan menjadi anak yang shaleh/shaleha, kuat, dan pantang menyerah. Bunda yakin itu sayang.

Rabbana hablanaminashshalihin..
aamiin..


Thursday, 4 September 2014

Pelajaran Keimanan Kedua

Hari yang panjang, mungkin karena hari ini bedrest di rumah. H-4 mas pindah ke solo. Ah, sebetulnya aku ingin membuat ini biasa saja. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas proyekan ke luar kota. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas bulak-balik ke pondok untuk mengurus proyek atau pengabdian. Nyatanya memang jiwa melankolis ini selalu muncul. Yang paling sering ketika malam datang dan kudapati mas tidur lebih dulu, lalu kupandang wajahnya. Dan begitu saja air mata ini merembes pelan. Kupeluknya, tapi malah merembes lebih banyak jadinya.

3 bulan lebih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru yang masih tinggal bersama orangtua, membuat masa pengenalan dan penyesuaian ini terasa lebih dinamis. Bukan hanya pegenalan dan penyesuaian antara aku dan mas tapi juga sekaligus mas dengan keluargaku serta keluargaku dengan kehadiran mas. Menurutku inilah yang membuat masa pengenalan kami menjadi lebih lengkap. Tidak hanya melihat bagaimana sikapnya padaku, tapi juga bisa melihat bagaimana sikapnya pada keluargaku, bahkan keluarga besar kedua orangtuaku. Dan masyaallah, mas memang sangat santun. Aku banyak belajar darinya.

3 bulan yang menyenangkan. Teramat menyenangkan menurutku. Bahkan jika ada yang bertanya, pernah berantem gak? Aku sampai harus terdiam dulu untuk memikirkannya. Bukan karena tidak pernah ada percekcokan tapi karena tak ada percekcokan yang sampai aku ingat. Itu karena memang semuanya selalu selesai dalam waktu kurang dari sehari dan berakhir dengan keromantisan. Hehe. Aku memang paling tidak bisa berdiam lama padanya. Mas terlalu ngangenin. Rasanya rugi sekali kalau sejam saja berlalu tanpa sikap hangatnya.

3 bulan yang penuh kejutan. Kejutan akan sikap-sikapnya. Kejutan akan kegemaran-kegemarannya. Kejutan akan ilmu-ilmunya. Kejutan akan segala hal tentangnya. Ah, mungkin memang ini yang disebut jatuh cinta. Bukan cintanya membuatku jatuh tersungkur. Tapi cintanya membuatku terjatuh, terkaget-kaget, is it true? Diakan rizki jodoh yang Allah berikan untukku? Dan dengan cintanya, ia menyadarkanku dan mengajakku bangun dan berjalan bersamanya. Ih, ngomong apa aku ini? Haha. Intinya aku jatuh cinta padanya. Itu saja.

Dan bisa kau rasakan. Betapa besar energinya membangunkanku. Memberikan begitu banyak rasa hangat dan nyaman yang belum pernah aku rasakan. Perlindungannya membuatku merasa dimuliakan. Penjagaannya membuatku merasa aman. Perhatiannya membuatku merasa begitu spesial. Sanjungannya membuatku merasa sempurna. Sikapnya dan segalanya membuatku jatuh cinta. Sungguh! Dan makin hari aku kecanduan. Rasa bergantungku semakin tinggi. Perlu kuakui bahwa ini memang kali pertama aku diperlakukan seperti itu. Aku betul-betul jatuh cinta padanya. Bahkan saat aku di kantor, aku sering merindukannya meski pagi hari ia mengantarku dan sorenya ia menjemputku. Siang hari di kantor, sering kali aku merasa kesulitan untuk menunggu sore datang hanya untuk sekedar berkata "Love you, sayang". Ah, mungkin ini berlebihan tapi sungguh, aku telah jatuh cinta padanya. 

Dan perasaan itu kini harus rela terpisah oleh jarak. Di saat perasaan ini bertumbuh semakin besar. Ketika kebutuhan akannya semakin tinggi. Dan ketika emosiku mengalami fluktuasi akibat penyesuaian tubuhku dengan janin dalam rahimku, buah cinta kami. Bukan hal yang mudah bagiku. Ketika baru tiga bulan merasakan indahnya memiliki teman hidup, selalu bersama, setiap malam berbagi kisah, setiap pagi memulai dengan senyum penuh cinta, dan kini harus rela dipisahkan oleh jarak. Bukan hal yang mudah bagiku. Beberapa kali ketakutan itu terbawa hingga mimpi. Hingga aku terbangun tengah malam, lalu menangis dan memeluknya. Percayalah, ini bukan hal yang mudah bagiku. 

Belakangan kami lebih sering membahas ini. Lebih tepatnya mas menguatkanku tentang ini. Aku memang sering menangis jika pembicaraan ini dimulai. Tapi mas selalu menenangkanku. Mas selalu mengingatkanku; tentang cita-cita kami, tentang jalan hidup yang telah kami pilih, tentang perjuangan yang harus kami lalui, tentang kesabaran yang selalu harus kami miliki, tentang nasihat-nasihat ibu, tentang semuanya. Tanpa lelah dan bosan, mas selalu mengingatkanku dengan lembut dan penuh kesabaran. Hingga akhirnya hatiku bertemu dengan sebuah titik bernama keikhlasan.

Ya, insyaallah aku telah ikhlas. Aku sadar betul tentang jalan hidup yang memang tak selalu nyaman sesuai yang kita inginkan. Bukankah sejak dulu aku terbiasa menjalani hidup di luar comfort zone. Bukankah sejak dulupun aku terbiasa bermonolog dengan diri untuk menyelesaikan hidup. Dan hei! Aku punya Allah yang selalu ada bahkan sejak sebelum aku bertemu dengan mas. Mungkin ini lagi-lagi pelajaran aqidah yang Allah ajarkan dalam perjalanan pernikahan kami. Bahwa sebesar apapun rasa cintaku pada mas, cintaku pada-Nya tetap harus melebihi. Bahwa aku dan mas adalah sama-sama manusia yang mungkin ada saatnya pergi, ada saatnya terpisah oleh jarak, ada saatnya tak ada saat dibutuhkan. Tapi Allah akan selalu ada kapanpun, dimanapun kami berada. Dan Ia ingin menyadarkanku, bahwa memang hanya pada-Nya lah kami bergantung dan mengadu. Bukan pada manusia, sekalipun ia adalah suami yang sangat kita cintai. Allah akan selalu ada, membersamai kita, bahkan tanpa kita minta.

----

Mas, mungkin aku akan tetap menangis setiap kali melepas kepergianmu yang sementara dan sebentar ini. Tapi tak perlu risau sayang, aku kuat insyaallah. Seperti yang aku katakan, itu hanya ungkapa jujurku yang tak sanggup aku tutupi dan aku hanya perlu waktu untuk belajar hingga terbiasa. Selamat memulai duluan kehidupan baru kita kelak disana. Insyaallah aku akan menyusul, kan? Siapkan segalanya dengan baik ya sayang. Untuk cita-cita besar kita insyaallah. Fii amanillah. Semoga Allah selalu menjagamu, memberkahi setiap usahamu, menguatkan pundakmu, dan menjadikanmu sebaik-baik imam untukku dan anak-anak kita kelak. aamiin.. Allahumma aamiin..


Thursday, 7 August 2014

Sebesar Biji Apel, katanya

Assalamu'alaikum sayaang :)
Gimana kabarnya hari ini? Kayaknya udah mulai tenang ya? Maaf ya kemarin kayaknya kamu kecapean sayang, setelah kami ajak naik kereta yang guncangannya dahsyat.
Kemarin Bunda sempat mengalami pendarahan ringan ditambah munculnya gumpalan darah. Paniiiik sekali rasanya, sayang. Sore itu kami langsung ke dokter, dan katanya memang mengalami ancaman keguguran. Subhanallah.. cemas bukan main rasanya.. Tapi berita menegangkan itu seketika terganti dengan berita baik lainnya saat di USG.

Ternyata kantong kehamilannya sudah terlihat, sayang. Ayah dan Bunda sudah bisa melihatmu kemarin. Aaaaah.. bahagiaaa sekali rasanya. Kata dokter usiamu sekitar 4-5 minggu. Ayahmu terlihat kaget sekali kemarin! hehe.. Bunda juga kaget sih sebetulnyaa.. hehe Kaget karena kamu sudah selama itu ada di rahim Bunda. hehehe,, Sekarang ukuranmu baru sebesar biji buah apel. Keciiiil sekali yaa.. Maha Besar Allah yang benar-benar menciptakan makhluknya dari permulaan berntuk yang sedemikian kecil. Di minggu ke-5 nanti, kamu sudah punya detak jantung sendiri looh.. Masyaallah walhamdulillah..

Yang juga harus disyukuri adalah Ayahmu, sayang. Dia betul-betul lelaki yang luar biasa. Di masa-masa yang lemah ini, ketika bunda harus lebih banyak di tempat tidur dan tidak boleh banyak bergerak, ayahmu begitu sabar dan setia membantu bunda dalam banyak hal. Mulai dari mengambilkan air minum sampai membantu ke kamar mandi. Pokoknya kamu pasti bahagia punya ayah sepertinya. hehehe

Segala puji hanya bagi Allah atas segala kebesaran dan kesempurnaannya. Selalu menanti masa-masa pertumbuhanmu, sayang. Baik-baik ya disana. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, kesehatan dan keselamatan hingga persalinan nanti. Semoga Allah menjadikanmu anak yang sholeh/sholehah, tabungan terbesar untuk Ayah dan Bunda kelak di akhirat. Aamiin



Monday, 4 August 2014

Keep Strong. My Dear..

Hai sayang, kata dokter lagi lemes ya sampe bunda dikasih istirahat dua minggu...? Hehehe. Ndak apa-apa.. aku memang harus membantumu kuat dan semakin kuat, sayang. Baik-baik ya disana.. Yang kuat oke? Bunda akan istirahat total, demi kamu sayang.. :)

Ga bisa bohong kalau aku sangat mencemaskanmu. Tapi aku yakin, kamu pasti kuat. Terus kuat dan selalu kuat ya Sayang...
Peluk cium dari Bunda :)



Saturday, 2 August 2014

Kehadiranmu

Hai Sayang, akhirnya kamu mulai muncul juga.. hehe
Tau kah, aku sudah sejak lama menantimu. Meski pada yang lain aku bilang, 'santaaaii,, kalau sudah waktunya pasti ia datang', tapi jauh di palung hati ini aku sangat merindukan kehadiranmu..

Sebetulnya aku sudah merasakan kehadiranmu sayang, di akhir pekan ramadhan kemarin. Entah mungkin mudahnya itu intuisi seorang ibu. hehehe.. Bukan sekedar perubahan fisik, tapi batinku yang merasakan kehadiranmu. Dan entah mengapa sejak saat itu aku sangat takut untuk terlalu lelah dan meminum sembarangan obat ketika badanku kurang enak. Dan perjalanan panjang di libur lebaran kemarin akhirnya mendorong kami untuk membuktikannya secara ilmiah. Ah, apa kata-kataku terlalu berat, sayang? Tak apa ya.. aku sedang belajar menulis, jadi kadang kata-kata yang muncul tetiba seperti ini. Tak apa ya.. Aku ingin belajar menulis untuk mengenang banyak hal, termasuk detik-detik kehadiranmu di keluarga kecil ini. :)

Oke, kita kembali lagi ya.. Libur mudik kemarin cukup melelahkan bagiku. Padahal kau tau, sayang? Itu pertama kalinya aku naik kereta kelas eksekutif. hihi. Mestinya perjalanan kemarin menjadi sangat nyaman dibanding biasanya, tapi justru aku sulit sekali untuk tidur. Sampai akhirnya menjelang subuh, baru aku bisa tidur nyenyak. Alhamdulillah. Kami naik kereta lodaya sampai Solo, sayang. Dan dari sana kita lanjut ke ponorogo naik mobil. Perjalanan yang biasanya ditempuh 2 jam, kemarin harus kita lalui selama 4,5 jam. Amazing. Sampai ponorogo, aku kelelahan, perutku mual, kepalaku pusing sekali. Sudah minum obat, sudah beristirahat tetap saja begitu, hingga esok harinya. Sebetulnya aku mulai curiga. Tapi aku takut memastikannya, sayang. Aku takut kecewa jika hasilnya hanya satu garis. Syukurlah, disampingku selalu ada seorang lelaki sabar yang selalu menguatkanku. Akhirnya, malam harinya kami memutuskan untuk test dan lelaki itulah yang membelikan alatnya. Pagi-pagi buta aku terbangun ingin buang air kecil, akhirnya aku membangunkannya untuk menemaniku melakukan test itu. Mentalku tidak cukup kuat, sayang, jika nanti hasilnya satu garis lagi. Maka aku memintanya yang melihat hasilnya terlebih dulu. Ya, lelaki itu memang selalu ada di sampingku, sayang

Kau tahu? malam itu aku tak bisa tidur lagi. Aku khawatir, takut mungkin lebih tepatnya, karena akan melakukan test itu lagi. Berulangkali aku menenangkan dan mengikhlaskan diri. Bahkan beberapa kali berpikir, 'ah mungkin belum juga, tidak apa-apa', batinku. Tapi alam bawah sadarku yang terdalam, aku merasakan kehadiranmu, sayang. Tapi aku takut terlalu yakin, hingga kecewa berlebihan saat kau ternyata belum ada. Aaah, rasanya sungguh dilema sekali. Sampai beberapa kali terbawa mimpi di sela-sela tidur singkatku. hehe

Pagi itu pun aku telah pasrah, tak apa jika belum ada. Saat itu aku hanya ingin meyakinkan, jadi jika aku sakit lagi dan kamu memang belum ada, aku bisa mnum obat lebih leluasa. Itu saja, karena aku sungguh sangat khawatir padamu, sayang.

Detik-detik yang menegangkan itupun tiba. Aku sungguh tak berani berharap apapun, aku serahkan semuanya pada Allah. Dan dengan agak lesu, aku bertanya pada lelaki itu tadi, "gimana , Mas?". Dia hanya memperlihatkan alat itu sambil tersenyum tipis. Dan seketika jantung ini berdebar sangat cepat. Masyaallah, garisnya ada dua, Sayang. Ternyata perasaanku selama ini benar. Kamu sudah disana, sayang...

Alhamdulillah 'ala kulli hal. It's so amazing. Allah telah memberikan amanah baru untukku.
Sayang, yang kuat ya di dalam sana.. Kita baru bisa ke dokter besok. Kamu harus kuat ya, dan aku akan selalu menjagamu. Kini hari-hariku mulai diwarnai dengan mual dan pusing sepanjang hari. Tapi itu semua tetap membahagiakan. Karena mual dan pusing ini menandakan kehadiranmu, maka aku akan tetap bahagia menjalaninya. Kita berjuang sama-sama ya sayang..

Oia, Lelaki yang tadi aku ceritakan tadi adalah yang kelak akan kamu panggil 'Ayah', sayang..
Suatu saat nanti pasti akan aku ceritakan seperti apa dirinya, I promise :)
Oke sayang, baik-baik ya di sana..

Can't wait to feel your growth :D



Monday, 7 July 2014

Empat Puluh Lima

Aah, waktu selalu menipu ya. Kadang kita merasa udah lama, ternyata baru sebentar. Kadang kita merasa baru sebentar, ternyata udah lama. Hehe
Udah 45 hari loh ternyata. hehe
45 hari saya menjadi istri seorang lelaki bernama Akmal Firmana. Hehe 
Kalau kata yang udah nikah sih mungkin bilang, 'yaelaah, baru juga 45 hari doang.. lebay amat" haha
Ya emang baru 45 hari sih, tapi buat saya sungguh rasanya ini nikmat terbesar yang pernah Allah kasih setelah nikmat iman. Lebih indah dari lulus UN, lebih indah daripada masuk ITB, bahkan lebih indah dibandingkan lulus ITB sekalipun. hehe.. Eh, tapi ini seriusan loh! aku ga lebay. 

Maha Besar Allah yang ditangan-Nya segala ketetapan dan takdir hamba-hamba-Nya. Perjuangan untuk menggenapkan setengah dien ini rasanya luar biasa sekali deh. Mungkin memang bayarannya ga sedikit ya untuk menyempurnakan keimanan ini sekaligus juga jadi bekal untuk menjalani keutuhan agama kedepannya. 

Banyak perubahan yang terjadi setelah menikah ini. Banyak juga hal-hal baru yang saya temui. Di awal-awal pernikahan ini kami malah bergantian sakit, hehe. Awalnya suami, lalu kemarin saya yang sakit. Mungkin kecapean sekaligus masa adaptasi. Tapi so far, saya selalu bersyukur atas nikmat ini. Kadang ga percaya kalau saya udah sejauh ini, udah bukan lagi tanggungan Ibu-Bapak. Kadang juga masih amazing bahwa saya ternyata berjodoh dengan seseorang sepertinya, masyaallah, Alhamdulillah 'ala kulii hal..  

Jalan masih panjang. Panjang sekali. Mungkin tidak lagi semudah sebelumnya, tapi aku yakin ini pasti akan lebih indah dan menyenangkan dari sebelumnya. Kini aku bisa menjalankan tugas favoritku, yaitu menjadi orang kedua. Aku bukan tipe pemimpin yang bisa memobilisasi orang-orang. Aku bukan tipe pemimpin yang bisa menjadi acuan banyak orang dan dilihat sebagai seorang pemeran. Tapi aku tau, selama ini aku sering sekali berada di belakang para pemimpin, menjadi orang dibalik layar, mengamati, memberikan masukan, membersamai orang-orang sebagai pengikut tapi dekat dengan sang pemimpin. Ya, aku memang seperti itu, bukan seorang pemeran utama, hanya orang dibalik layar sang pemeran utama. Hahaha, entah kenapa aku begitu percaya diri menyebut diriku seperti itu. Tapi aku memang percaya diri, bahwa selama ini aku memang seringkali nyaman dengan tugasku sebagai orang kedua yang tak dilihat oleh banyak orang. 

Dan kali ini, aku benar-benar sedang dan akan menjadi orang kedua di perahu yang sedang dilayarkan oleh sang pemeran utama, dialah suamiku. Perahu yang baru saja meninggalkan pantai untuk pergi mengarungi lautan samudera kehidupan. Kata orang-orang ini tidak akan mudah. Tak masalah, karena aku yakin, bersamanya perjalanan ini akan indah dan menyenangkan. :)

----

Teruntuk Suamiku,

Mas Sayang, kamu tau betul aku jauh dari sempurna. Tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Kita memang sama-sama jauh dari sempurna, tapi bukankan kita bersatu untuk saling menyempurnakan
Mas Sayang, kini kamu pemerannya, dan aku sangat siap untuk menjadi orang kedua yang selalu membersamaimu. Kita telah tau betul kapal ini akan kita labuhkan ke arah mana, dan yang kita butuhkan adalah terus bergenggaman tangan agar tujuan kita tetap disana.
Mas sayang, aku selalu sulit mendefinisikan seberapa besar rasa sayang ini, jadi mungkin Mas ga akan pernah tau sebesar apa rasa sayang aku. Tapi aku yakin, mas bisa merasakannya
Karena aku pun bisa merasakan perasaan yang ada untukku :)



Sunday, 6 July 2014

Blog ini...

hai blog! umur kamu udah lumayan ya sekarang, sekitar dua tahun setengah. Eh, masih kecil deng, baru dua tahun setengah. Dulu waktu pertama kali bikin blog, tujuan utamanya adalah penyaluran perasaan. Mengingat saya adalah orang yang introvert dan suatu hari menyadari kalau memendam segalanya sendiri aan berdampak gak baik, akhirnya lahirlah blog ini. Jadi ya gitu deh, isi blognya ya kebanyakan curhatan kehidupan pribadi.

Jujur saya suka malu sendiri kalau tetiba ada orang yang baca blog saya, apalagi orang itu saya kenal. *lha terus ngapain bikin blog?! haha.. Malu soalnya isinya abal banget, plus sistematika penulisan yang gak karuan. Malu gitu kalo mampir ke blog orang lain, isinya dahsyat luar biasa gitu lah. haha, minder

Ah, tapi anjing menggonggong kafilah berlalu. Whatever deh, saya mau tetep melanjutkan kealayan saya nulis diary online disini. hehe. Ya.. barangkali ada satu atau dua kata yang bisa jadi enligthment buat orang lain yang ga tau siapa. haha.. atau ya minimalnya bisa saya kenang pas nanti udah semakin tua, atau juga bisa diliatin ke anak-cucu kalau ibu atau neneknya dulu pernah mengalami masa-masa yang sama seperti mereka. hehe

oke, aku akan terus menulis :)


Tuesday, 1 July 2014

Menunggu yang ditunggu

Menikah dan memiliki keturunan mungkin menjadi dua hal yang saling berkatan. Saya rasa hampir semua pasangan yang menikah, ingin melahirkan keturunan. Dan itu juga tentu yang saya inginkan.

Sebulan terakhir menuju pernikahan, saya sering sekali mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan, kesuburan, kesehatan keluarga dan lain-lain. Saya ingin mempersiapkan pengetahuan saya, demi menyambut dan mempersiapkan 'dedek' kami kelak. Meskipun begitu, di awal pernikahan saya dan suami sepakat untuk santai saja menanti ketadangannya. Bukan berarti menunda atau melama-lamakan. Tidak sama sekali, hanya saja menurut artikel-artikel yang kami baca, terlalu terfokus pada keinginan memiliki keturunan, bisa menyebabkan hubungan suami-istri menjadi tidak rileks atau tegang. Maka dari itu kami berusaha menikmati masa-masa pacaran kami dengan tenang dan mengalir saja seperti air.

Waktu bergulir, menuju satu bulan pernikahan, ada hal yang baru saya sadari. Ternyata di luar saya dan suami, ada orang-orang yang juga menantikan kehadiran si dedek. Merekalah kedua orangtua kami, yang merasakan harap bercampur cemas. Berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga besar kami, dan cemas akan kesehatan reproduksi kami. Memang hal tu tidak pernah mereka katakan secara langsung pada kami, tapi perasaan sensitif saya menebaknya. Ya, hanya menebak saja.

Sejak saat itu, empati saya mulai bertambah. Mungkin inilah mengapa menikah bisa menambah kedewasaan, karena akhirnya kita mulai keluar dari zona diri menuju zona-zona lain yang secara sadar mesti kita libatkan. Bukan lagi tentang keinginan diri, tapi juga melihat kebutuhan sekitar. Dan jujur sejak saat itu, saya mulai dihantui oleh kekhawatiran-kekhawatiran dan perasaan-perasaan 'GR' pada kehadiran si dedek. Ah wanita itu memang harus kuat. Tapi bukan sekedar kuat fisik kurasa, melainkan juga kuat untuk bisa mengatur perasaannya. Meskipun saya taidak tahu jelas teorinya dari siapa tentang perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dalam alam pikirnya, tapi sedikit banyak saya merasakan itu. Saya pribadi merasa sering tersiksa oleh pergolakan perasaan yang saya alami, ketika takut bercampur resah, harap berampur gelisah, marah bercampur rindu, dan perasaaan-perasaan dilematia lainnya. Pun saat ini, ketika harus mengatur perasaan khawatir dan ketakutan saya agar bisa tetap rileks dan behusnudzon pada takdir Allah. Ah, rasanya kerja keras sekali untuk bisa memanage ini semua. 

Dan lagi-lagi, sekolah kehidupan ini selalu memberikan pelajaran keimanan yang kian hari kian dalam. Bahwa lagi-lagi kita diuji tentang keikhlasan hati pada setiap usaha yang dilakukan, husnuzon tingkat tinggi pada takdir yang akan Allah tetapkan, dan bertawakal serta bersyukur pada setiap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Allahu'alam bishawab
Hanya ingin menyalurkan kegundahan hati yang sedang menunggu, 
Menunggu bilamana yang ditunggu sebetulnya juga menungguku :)


Thursday, 19 June 2014

Menikah adalah Sekolah Kehidupan

Menikah. Hihihi.. 
Dulu waktu jaman SMA dan kuliah tingkat-tingkat awal, menikah itu masih menjadi sesuatu yang memberikan kesan 'pembebasan' dan romantisme cinta dua insan. Hahaha, geli sendiri kalau inget itu. Ya harap maklum, sebagai remaja biasa yang tumbuh dengan segala kewajaran hasrat remaja seusianya, tapi memegang prinsip untuk gak pacaran, ya menikah itu menjadi sebuah impian yang akan membebaskan segala rasa ingin yang selama ini dikekang. Jamannya suka-sukaan sama laki-laki yang dianggap keren. Jamannya sok-sokan gak suka digombalin padahal kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian lebih perasaan jujurnya adalah seneng bukan main. Jamannya nangis-nangisan kalau ada laki-laki yang suka, karena merasa telah menjadi 'pengganggu' bagi kaum lelaki. Haha.. masa-masa itu. Memang labil sih, tapi itu fitrah naluriah kurasa. Wajar kalau merasa suka sama lawan jenis dan ingin mendapatkan sambutan yang sama dari yang disuka. Yaa, dulu sih sesederhana itu membayangkan tentang pernikahan. Pokoknya seneng dan romantis. Dan jadilah muncul cita-cita ingin menikah di umur 23 tahun. Hahaha

Time goes by, di jaman kuliah pertengahan, saat usia mulai mendekati umur 23, definisi tentang menikah mulai naik level. Haha. Ada sebuah kebutuhan untuk ingin 'dilengkapi'. Kondisi keluarga, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi-kondisi lainnya membuat saya merasa butuh seseorang yang 'menguatkan' dalam banyak kondisi. Dan biasanya sih ini dialami oleh anak-anak tingkat tiga, galau nikah. Padahal kalau dipikir sekarang ya, ngapain ya dulu gitu-gituan. haha. berasa alay banget. Tapi ya jujur, kebutuhan itu memang ada, merasa ingin dilengkapi, merasa ingin ada teman berbagi. Mungkin karena memang dinamika hidupnya mulai 'seru' kali ya. Gak lagi masalah tugas yang belum selesai, uang jajan yang kurang atau nilai IP yang turun, tapi mulai muncul ujian-ujian hidup yang dirasa ada benang merah yang harus diselesaikan diantara ujian-ujian yang ada. Kok jadi berat ya bahasanya? Haha.. mungkin saya aja kali ya yang mikirnya ketuaan, tapi itu seriusan yang saya pikirin di tingkat tiga pas jaman kuliah. Sejak SMP saya membantu orangtua untuk bisa rutin membayar SPP hingga kuliah dengan biaya sendiri mulai dari pendaftaran awal, bayar semesteran, biaya tugas studio tiap semester, hingga wisuda. Jadi ya memang sudah terbiasa merasa dilibatkan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga di rumah. Itulah sebabnya saya merasa butuh dilengkapi, karena memang yang dipikirkan mulai bercabang, bukan lagi tentang urusan diri sendiri.

Tingkat akhir perkuliahan, justru saya lupa cita-cita menikah itu. Karena sibuk mikirin TA. haha. Tapi di saat ga mikirin itulah, tetiba muncul sosok 'aneh' di penghujung usia 22 saya. haha. Dialah yang kemudian mengembalikan kegalauan saya tentang menikah. Hehe. Dan saat inilah kemudian menikah itu tidak lagi hanya memiliki definisi 'pembebasan' dan 'dilengkapi' tapi ada definisi baru yang didapat, ada dua inti pokok yang saya dapat waktu itu, tentang 'penyelamatan' dan 'penyempurnaan keimanan'. Duh berat banget gini bahasanya. Tapi lagi-lagi itu seriusan.

Tentang penyelamatan, mungkin ini ada kaitannya sama definisi pembebesan waktu jaman SMA. Hanya saja yang ini mungkin lebih serius tingkatnya, jadi bahasanya berubah jadi penyelamatan. Tapi sebetulnya kata 'penyelamatan' ini baru bener-bener saya resapi belakangan ini. Laki-laki dan perempuan fitrahnya pasti terikat sama yang namanya kutub ketertarikan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ketertarikan ini berubah kebutuhannya dari sekedar suka dan seneng kalau barengan ke tahap ingin melindungi, ingin bisa bertumbuh bareng, sukses bareng sampai pada keinginan untuk saling 'melengkapi' dan 'memuaskan' satu sama lain. Dua kata terakhir ini memiliki arti yang luas yang kaitannya dengan perasaan atau kebutuhan batin dan kaitannya dengan kebutuhan fisik (skinship). Kebutuhan batin ini mungkin ada hubungannya sama chemistry kali ya. Entah kenapa, ada sebuah sinyal aneh yang terdeteksi kalau sama pasangan kita. Entah itu perasaan bahagia yang ingin dibagi ataupun perasaan gelisah yang butuh solusi. Biasanya ini akan terconnect dan ketika kebutuhan masing-masing bisa dipenuhi, kita akan mendapatkan kebahagiaan batin. Sedangkan tentang kebutuhan fisik, saya baru ngeh belakangan ini. Saya baru sadar ternyata kebutuhan pemenuhan fisik itu akan selalu meningkat levelnya, misalnya awalnya sentuhan, setelah itu  akan muncul keinginan untuk pegangan tangan. Setelah bisa pengangan tangan, akan naik level lagi menjadi ingin merangkul, begitu seterusnya dan akan terus meningkat kebutuhannya. Dan saya baru sadar, ternyata skinship itu memang bisa memberikan kebahagiaan batin tanpa kita harus berkata. Misalnya ketika marah atau sedih, hanya dengan sentuhan dan pelukan, apalagi dari pasangan kita, itu bisa memberikan efek menenangkan yang sangat ampuh, tanpa kata-kata. Dan bayangkan saja jika tidak dibingkai dalam hubungan yang halal dalam penikahan, kebutuhan fisik ini akan menjadi sangat menyiksa. Trust me it works. Kebutuhannya terus meningkat, sedangkan secara norma dan agama, kita belum bisa seperti itu. Ya, kecuali orang-orang yang udah apatis sama aturan-aturan semacam ini. Bahayanya, semakin banyak orang-orang yang apatis sama aturan-aturan tentang lawan jenis ini, akan semakin banyak juga kasus-kasus moral di sekitar kita. Percaya deh. Penyimpangan-penyimpangan seksual yang ada di sekitar kita, bermula dari aturan pergaulan lawan jenis ini. Itulah kenapa saya bilang, menikah itu penyelamatan.

Penyempurna keimanan, ini juga yang bener-bener baru saya sadari waktu menjalani prosesnya. Duh, kalau diceritain panjang banget. Mulai dari kita yang baru kenal 10 hari di Padang, dua bulan kemudian dia dateng melamar, sebelumnya saya terjebak nostalgia sampai lima tahun (haha), dia anak bungsu dan kakak-kakaknya belum nikah, dan banyak lagi lainnya. Kalau bukan karena keimanan, waktu sesedikit itu akan sekuat apa sih mampu meyakinkan dua manusia untuk membangun perahu di pelayaran yang luas dan misterius nanti. Kalau bukan karena iman, kesan 10 hari bisa gitu ngalahin kesan 5 tahun? Kalau bukan karena iman, bisa gitu kakak-kakaknya ikhlas mengijinkan adik kecilnya nikah duluan? Kalau bukan karena iman, tega gitu orangtua membiarkan anak perempuannya didahului sama anak laki-lakinya yang bungsu? Kalau bukan karena iman, bisa gitu dua orang lulusan S1 yang baru lulus hitungan bulan yang lalu bisa membiayai pernikahannya berdua? Dan pertanyaan-pertanyaan 'bisa gitu?' lainnya. Keimananlah yang bisa menguatkan itu semua. Dan perjalanan inilah yang semakin menguatkan keimanan kami. Baru sampai tahap ini aja, baru 26 hari menikah, begitu banyak nilai-nilai keimanan yang bertambah dalam diri kami. Padahal pernikahan kan perjalanan panjang, yang selalu diniatkan tak akan berakhir bahkan sampai dimensi kami berubah ruang. Pasti akan ada banyak pelajaran keimanan lainnya yang akan kami dapat, saat nanti kami punya anak hingga nanti kami harus menikahkan anak kami, sampai tugas kami di dunia berakhir. Ya..disinilah kita gak akan kehabisan materi pembelajaran tentang keimanan.

Siapapun yang akan menikah, baru menikah, telah menikah, yakinilah bahwa menikah adalah sekolah kehidupan yang panjang. Karenanya kita memang dituntut untuk selalu belajar dan memperbaiki pengetahuan kita. Karena jika tidak, mungkin kita akan tinggal kelas atau terpaksa drop out dari sekolah ini. Tinggal kelas tidak lebih baik dari drop out saya rasa. Kita menikah untuk bahagia, ketika kita tinggal kelas, berarti kita mengalami stagnansi dalam pernikahan kita. Tinggal kelas, berarti kita tidak berhasil melewati ujian pernikahan. Bukan berarti pernikahan kita berakhir, karena kita hanya tinggal kelas, bukan drop out. Tapi tidak ada orang yang bahagia saat tinggal kelas. Sedangkan kita menikah untuk bahagia. 

Allahu'alam
yang menulis ini hanya seseorang yang sedang mengumpulkan bahan bakar untuk terus menyalakan api kebahagiaan dalam rumah kecilnya dan ingin berbagi sedikit tentang begitu banyak pelajaran yang ia dapat dalam perjalanan pernikahannya yang baru kemarin sore. hehe




Tuesday, 17 June 2014

25 kita

25 hari usia kita. 
Baru 25 hari atau sudah 25 hari. Apapun itu yang pasti usia kita 25 hari. Bisa saja kita bilang baru 25 hari, tandanya kita merasa semuanya baru sebentar. Atau kita bilang sudah 25 hari, tandanya kita merasa kebersamaan ini sudah cukup bisa dibilang lama. Apapun itu, aku selalu merasa bahwa waktu tak akan pernah cukup untuk bisa membuatku puas akan kebersamaan kita. Karena aku ingin terus dan selalu bersamamu.

Aku tahu, dulu kita memang baru berkenalan 10 hari saja. Aku tahu, dulu saat kamu melamarku, kita baru saling kenal 3 bulan saja. Waktu yang cukup singkat jika dibandingkan dengan begitu banyak makhluk berkromosom xy yang aku temui selama hidupku. 

Kadang aku berpikir dan bertanya, hidup ini lucu ya. Jujur sebelumnya memang pernah ada sosok yang membuatku tertarik, cukup lama. Bahkan sempat aku berpikir 'how if' tentangnya dalam hidupku. Tapi Allah selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga. Tiba-tiba kamu datang dalam 10 hari itu. Dan kamu yang baru ku kenal itu, tiba-tiba sekarang ada di sebelahku jika kubuka mata di setiap pagi. Ah, lucu sekali rasanya. Tidak pernah kuduga sebelumnya bahwa 10 hari itu akan memberikan kesan yang mendalam dan membawa kita pada perjalanan yang tak ingin kita akhiri. 

Masa depan dan takdir memang sebuah kerangka rumit yang telah Allah atur sinergisitasnya. Dan nalar manusia selalu terlalu dangkal untuk meramal itu semua. Ada orang-orang yang berharap dan membayangkan tentang seseorang dari masa lalu yang akan mengisi hari-hari di masa depannya. Alasannya sederhana, karena ia mengenalnya di masa lalu. Atau ada juga orang-orang yang berharap tentang seseorang yang baru untuk mengisi masa depannya, alasannya karena orang-orang yang lalu tak ada yang singgah dengan merenah di hatinya. Padahal Tuhan telah menyiapkan masa depan setiap manusia dengan cara-caraNya yang selalu tidak terduga.

Banyak orang-orang yang jauh berkelana mencari teman hidup dari orang-orang yang baru, tanpa ia sadari jawaban pencariannya justru dari masa lalunya. Ada juga orang-orang yang bersikukuh mengejar masa lalu, sedangkan dihadapannya ada janji masa depan yang ia abaikan. 

Takdir itu memang tidak sesederhana keinginan yang dipikirkan manusia dan bisa jadi ia bahkan lebih rumit dari teori peluang dengan segala probability yang ada. Karena takdir itu hanya ada dalam genggaman Tuhan. Manusia seringkali tanpa sadar memanusiakan Tuhan dengan bertahan terus pada argumen dirinya. Lupa bahwa Tuhan memiliki tanganNya, yang bisa menggerakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak ada menjadi ada. 

Dan kamu, lagi lagi mengajarkanku tentang kuasa-Nya. Tentang kamu yang baru. Tentang perasaanmu. Tentang kita yang begitu cepat. Tentang segala kebetulan ini. Dan tentang perasaanku padamu sekarang. Semuanya membuatku semakin mengimani segala kuasa-Nya.

Hei Kamu, tahukah? Setiap hari perasaanku semakin bertambah padamu.
Setiap kali ku tatap matamu, setiap kali pelukanmu merengkuhku dalam kehangatan dan kenyamanan yang betul-betul baru kurasakan, setiap saat itu juga rasa sayang ini kian bertambah. Tentang kamu yang baru? itu sama sekali tak berarti bagiku, karena ketulusan dan kejujuranmu selalu membuatku jatuh cinta. 

Terima kasih ya, karena kamu telah datang dengan perasaan yang tulus dan jujur. Yang telah menyihirku untuk memulai banyak mimpi bersamamu. Menjalani masa depanku dengan orang yang baru, yang tak pernah kusangka sebelumnya. Terimakasih karena telah datang dengan pelajaran keimanan yang begitu berharga untukku. 

Untukmu yang baru, bolehkan kalau aku meminta untuk teruslah menyayangiku?
Karena aku akan selalu menyayangimu :)


drafbox 14 November 2013

Jatuh cinta itu rasanya aneh. Memang pada akhirnya perasaan itu terlalu sederhana jika harus diungkapkan dengan kata-kata. Atau mungkin tak ada kata yang sanggup mewakili luapan rasa dan emosi saat kita sedang jatuh cinta. It's feel so wonderfull. Setiap apapun yang dilakukan oleh yang kita cintai pada kita, rasanya merupakan sesuatu yang sangat spesial, sangat unordinary. Padahal bisa jadi ada oranglain yang biasa melakukan itu, tapi saat ia yang melakukannya untuk kita, rasanya sangat sangat sangat tidak biasa.

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Setelah sekian lama aku merasakan kecenderungan pada lawan jenis, baru kali ini aku persilahkan hati ini untuk jatuh cinta. Mencintai sosok yang memperlakukanku lebih dibandingkan yang lain, yang dengannya aku sangat sulit untuk menolak atau tak membalas sikapnya. Setiap sikapnya padaku selalu membuatku merasa tersentuh. Setiap tatapannya selalu mengisyaratkan rasa sayangnya padaku. Karena itulah aku izinkan hati ini untuk jatuh cinta kepadanya. Dia yang baru saja ku kenal beberapa bulan ini. 

Rasanya dalam setiap do'a yang pernah kupanjatkan pada Rabbku, inilah do'a terbesar yang sangat berharap terkabul bahkan sangat berharap untuk segera terkabul. Do'a tentang inginku dia menjadi imam hidupku. Inginku dia menjadi ayah dari anak-anakku. Inginku dia menjadi teman hidup dan matiku. Inginku untuk hidup dan tumbuh bersamanya sampai akhir hidupku. Inginku dia menjadi harapan dan masa depanku. Inginku untuk selalu bersamanya meraih cinta Tuhanku. 

Ya Rabb.. kabulkanlah, secepat waktu yang terbaik untuk kami.

------

Ah, ternyata tulisan ini sudah bersabar cukup lama dalam drafbox. Sulit dimengerti ketika rasa itu bisa tumbuh begitu cepat. Cepat sekali. Bersusah payah kusimpan perasaan ini hingga saatnya tiba. Dan kini kesabaran itu telah menemukan momennya. Waktu itu telah tiba untukku bisa menyampaikannya. Perasaan yang telah lama tersimpan.

Dan lagi lagi waktu memberikan jawaban atas pertanyaanku tentang perintah-Nya. Perintah-Nya untuk saling menjaga diri antara manusia berjenis laki-laki dan perempuan. Karena memang keduanya memiliki kutub yang saling menarik satu sama lain. Sebuah ketertarikan yang hanya akan menyiksa bagi keduanya jika tidak dibingkai dalam sebuah ikatan yang halal.

Maka bagi kalian yang sedang bersinggungan dengan kutub yang berbeda, jagalah diri kalian dari ketertarikan yang hanya akan menimbulkan kerusakan. Halalkanlah jika ketertarikan itu mulai menawanmu, atau jauhilah ia, jika siap masih harus menunggu waktu. Percayalah, semuanya akan indah pada waktunya


This is The End of The Begining

Pada akhirnya perjalanan panjang itu sampai juga pada tujuannya, tapi bukan untuk mengakhiri perjalanan, karena justru perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Hanya saja kini aku tidak lagi melaluinya dengan seorang diri. Ada seorang penunjuk arah yang Allah kirimkan untukku. Ia yang kini menggantikan posisi kedua orangtuaku, untukku meminta restu, untukku menuju Rabbku, Dialah Imamku. :)

Seringkali perasaan haru menyergapku jika kukembalikan memori pada masa-masa itu. Saat kami memutuskan untuk membangun niat baik bersama. Saat kami mengutarakan niat baik ini pada keluarga besar kami. Saat segala macam persiapan kami lakukan untuk membangun singgasana ini. Saat kami harus bertahan melawan segala rasa ingin kami. Hingga akhirnya kami sampai pada tujuan awal ini.Ya Rabb.. Rasanya seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku. hehe

Segala puji hanya bagi Allah yang telah mempertemukan kami, menitipkan perasaan ini, dan membuatnya semakin bertambah saat detik terus berganti dengan detik yang baru. Hanya selalu berdoa dan berharap, semoga rasa sayang ini kekal dan bisa membawa kami hingga berada dalam ruang dan dimensi yang berbeda, di surganya kelak.

Karena ini adalah akhir dari sebuah awal yang akan sangat panjang.

Bismillah..
Rabbana hablana min azwazina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil muttaqiina imaama..
Rabbana hablana minash shalihin... 

Monday, 23 December 2013

belum apa-apa

Seringkali aku bertanya, tak bisakah kita berlari lebih lebih cepat ? tak bisakah garis finish itu di buat lebih dekat? tak bisakah rutenya dipersingkat? tak bisakah kita sederhanakan perbekalan? yang penting kita selamat, bukan? tak bisakah ? tak bisakah? tak bisakah?

Ah, astaghfirullah..
Seringkali akhirnya kudapati diriku yang ternyata masih jauh dari sabar
Bersabar dengan segala proses yang mesti dijalani
Bersabar dengan segala perbekalan yang mesti disiapkan
Karena memang  setelah garis finish nanti, semuanya tak akan semudah perlombaan sebelumnya.
Setelah garis finish nanti, itulah medan perjuangan yang sesungguhnya

Yang sekarang belum seberapa,
belum apa-apa

Thursday, 7 November 2013

Kantor Baruu

Well, ini hari pertama di kantor baru setelah terjadi pemindahan dari kantor ujung berung menuju kantor dipatiukur. Suasanan baru, tentu menuntut adaptasi lagi. Orang-orang baru, suasana baru, dan tugas baru tentunya.
Secara itung-itungan logika, sebetulnya kepindahan ini membawa banyak kebaikan. Jarak dari rumah menuju kantor yang setengah perjalanan lebih dekat dibanding ujungberung. Akses yang lebih mudah ke berbagi tempat. Dan salary yang mestinya juga lebih besar. hahaha. well, untuk hal ini, aku harus bersyukur. Alhamdulillah 'ala kulli hal..

Tapi perpisahan selalu menyisakan cerita melankolis. Aku baru saja merasa nyaman dengan lingkungan kerja di ujung berung, baru saja kenal dengan orang-orang di sana. Baru saja merasa dekat dengan teman-teman desainer yang begitu asik. Beberapa minggu ini entah mengapa aku begitu menikmati perjalanan ke kantor yang menghabiskan 4 jam bulak-balik, naik bis umum yang sebelumnya merupakan alat transportasi yang selalu aku hindari. Baru saja aku bisa menikmati perjalanan panjang itu dengan dzikir pagi-petang, tilawah, membaca buku. Itu adalah rutinitas yang sedang aku nikmati selama perjalanan panjang ini. Memberikan kursi pada ibu hamil, atau orangtua yang naik bis, aku sangat menikmati saat-saat itu yang entah mengapa aku merasa itu adalah lahan shadaqah yang hanya ada di bis, tidak di angkutan umum yang lain. Memperhatikan orang-orang di pinggir jalan, di dalam bis. Dan semuanya..

Tapi mungkin Allah ingin aku terus belajar. Kantor di ujung berung sudah menjadi comfortzone dan aku harus keluar dari zona itu untuk mulai lagi belajar banyak hal baru. 

'Big Power for Big Responsibility', itu kata spiderman. Dan itu yang akan aku hadapi sekarang, bertanggungjawab lebih atas semua ini. Belajar lebih cepat dari sebelumnya. 

Keputusan ini memang begitu mendadak dan mengagetkan. Bahkan kesemua dari 5 orang yang dipindah tugaskan kesini, cenderung berat hati menerima keputusan ini. It was so suddenly. Terlebih untuk aku yang baru bekerja 2 bulan. Juga dengan jobdesk yang masih belum jelas dan menimbulkan banyak ketidak-nyamanan. Tapi mengeluh juga tidak akan menjadikan tugas baru ini menjadi lebih ringan, tp justru sebaliknya. Bersyukurlah! Maka bismillah, semoga Allah memudahkan segalanya. Semoga ini memang rencana terbaik yang Allah sediakan. 

Selamat belajar, Has!


Wednesday, 6 November 2013

Adik Ketemu Gede

Hari ini entah kenapa begitu stuck, kerjaan rasanya sulit sekali untuk bertransformasi dari alam pikiran menuju alam digital. Ah baiklah, kita ng-blog dulu sajah #eh

----

Di sela-sela waktu yang ga produktif ini tetiba ingin buka wasap yang sebetulnya paket internetnya udah abis. Jadi sebetulnya yang muncul adalah chat di malam hari yang belum sempat terbuka. Lalu muncullah 57 notifikasi dari grup kelompok mentoring adik-adik yang kemarin sempat kupegang. Sekarang sudah berganti mentor, dan dipegang oleh yang lain.

Percakapannya seperti biasa, tak lepas dari perbincangan seputar jadwal mentoring pekan ini kapan yaa. Mereka bersahutan menyampaikan kegiatan-kegiatannya sepulang sekolah. Hingga ada yang bertanya, 'Kalau aku mentoring, itu berarti aku menolong agama Allah ga?'. Yang lain bersahutan menanggapi dengan pendapatnya masing-masing, sembari melaporkan waktu kosongnya untuk mentoring. Hingga akhirnya yang bertanya tadi memberikan closing statement, 'Kalau gitu ga apa hari Rabu. Insyaallah yang bakal nolong aku Allah, bukan yang lain'. #nyesss..

----

Aaah, tetiba begitu rindu pada adik-adik mentoringku. Sejak angkatan 2010 hingga angakatan 2013 yang kisahnya aku ceritakan di atas. Betapa rindu pada setiap minggu yang aku harus datang lagi ke sekolah. Setiap minggu menanyakan kabar dan kepastian hari mentoring. Setiap minggu menyiapkan materi apa yang akan disampaikan. Setiap minggu mendengarkan celoteh mereka, mulai dari jajan pas istirahat sampai cerita rapat-rapat rutin mereka. Setiap minggu mendengar curhat mereka, mulai dari virus-virus merah jambu ala putih-abu hingga saat mereka mulai dilarang mentoring oleh orangtua karena takut diajari aliran sesat. Haha.. lucu sekali. Mungkin dulu juga aku begitu pada teteh-teteh mentorku. 

Sungguh diantara begitu banyak nikmat keimanan yang Allah berikan adalah nikmat diberikannya adik-adik mentor yang hampir setiap pekan selalu mewarnai kisah mingguanku. Bertemu mereka lagi, mendengar cerita mereka lagi, memberikan 'dongeng' lagi, dan begitu seterusnya. Kejadian yang monoton sebetulnya, tapi selalu saja ada rasa rindu jika satu atau dua minggu saja terlewat, tak ada mentoring. 

Di setiap akhir mentoring, biasanya adik yang bertugas sebagai MC, menutup dengan kata-kata yang nyaris serupa pada setiap kelompok yang berbeda. 
"Alhamdulillah mentoring kali ini telah selesai. Terimakasih kepada Teh Hasri yang sudah memberikan materi dan mendengarkan curhatan kita semua. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Kita tutup dengan bacaan istighfar, hamdalah dan do'a akhir majelis"
Hampir selalu seperti itu. Padahal seusai mentoring dengan mereka, dalam hati aku selalu bersyukur, "Terima kasih Ya Rabb, telah mempercayakan mereka kepadaku. Pada seseorang yang sungguh masih sedikit ilmu, masih sering berbuat dosa, masih sulit untuk mengendalikan hawa nafsu, masih takut berbicara di depan umum, masih sering malas-malasan dalam beribadah. Tapi karena mereka aku mau merubah diriku. Menambah ilmuku setiap pekan sebelum bertemu dengan mereka. Malu jika akan berbuat dosa. Malu jika mengikuti hawa nafsu. Belajar berbicara di depan mereka, meski lidah ini kelu. Dihantui oleh setiap kata-kata yang muncul dari mulutku sendiri. Dan malu jika ibadahku pas-pasan. Terima kasih telah mengirimkan mereka untukku, yang dengannya aku berubah banyak."

Sekarang mereka telah berpencar ke banyak penjuru Indonesia, bahkan beberapa diantaranya ada yang telah berpindah ke negeri seberang. Beberapa diantaranya ada yang masih mentoring, ada juga yang sudah tidak. Kadang dari mereka masih ada yang meminta mentoring lagi saat musim liburan tiba, dan mereka semua berkumpul di Bandung. 

Ah, tetiba teringat betapa begitu banyak hak-hak mereka yang lalai aku tunaikan. Seringkali aku luput menanyakan kabar mereka yang telah berpindah ke lain kota. Seringkali aku lupa untuk sekedar menanyakan kabar. Seringkali aku kelu ketika melihat beberapa diantara mereka yang mulai berubah. Ah pasti itupun karena aku. Aku yang masih banyak sekali kurangnya dan penuh dengan keterbatasan dalam membersamai mereka. Aku yang apa adanya dan sangat minim ilmu.

Rindu itu semakin menjadi-jadi sekarang. Membayangkan hari-hari bersama mereka. Lingkaran-lingkaran itu. Mereka yang putih-abu. Lantai 4 sekolah kami. Foto bersama, makan bersama. Dan yang tak ternilai harganya adalah saat sedikit demi sedikit mereka mulai merasa bangga akan keislamannya, semangat beribadahnya, semua itu begitu menamparku dan membuatku berkaca pada diriku sendiri.

Adik-adikku, dimanapun kalian berada sekarang. Terimakasih telah hadir dalam lembaran hidupku, memberikan perubahan yang sangat berarti bagiku. Maaaf atas begitu banyak hak-hak yang belum sempat tertunaikan. Atas kesepakatan yang tak terjaga. Semoga Allah selalu menjaga kita, menjadikan kita wanita-wanita shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Semoga Allah menjadikan kita guru terbaik yang melahirkan anak-anak peradaban.


Wednesday, 16 October 2013

Just Breathe

Wow! Wow! Wow!

Ini persis mirip dengan saat hari sidang tugas akhir. Seharian ga merasa gugup, kepikiran sih, agak tegang, tapi ga seperti kebanyakan orang. Tapi ketika detik-detik mulai mendekat, barulah tegang. Uugh, perasaan apa ini.. Duh, what should I do..?

Emh, baiklah ini bagian dari episode perjalanan hidup yang harus dihadapi. Stay cool, dude! haha
Bismillah..


Thursday, 10 October 2013

..............


Oh God, I'm Growing Up!!!



...............


Wednesday, 2 October 2013

Kejutan diantara Lapangan Hijau dan Air Hujan

"Pada akhirnya setiap kita, akan memetik hasil atas apa yang telah kita tanam dan kita rawat."

Entah mengapa sejak dulu, aku selalu percaya dan memegang prinsip itu. Sehingga efeknya, dalam setiap kejadian atau takdir apapun yang Allah tetapkan padaku, selalu ada evaluasi atas setiap usaha yang aku lakukan. Ketika takdir baik yang Allah berikan, aku selalu lebih bersyukur karena selalu takdirnya lebih baik atas apa-apa yang aku usahakan. Dan ketika takdir kurang baik yang hadir, aku tak akan terlalu kecewa, karena memang usahaku yang ternyata belum mumpuni.

Bertahun-tahun prinsip ini selalu membantuku dalam berhusnudzon pada setiap iradah-Nya. 

---

Entah ini untuk kesekian kalinya, selalu Allah memberikan lebih atas ikhtiarku. Bulan-bulan setelah kelulusanku, kejutan-kejutan itu malah lebih dinamis lagi. Kadang aku bertanya, "Rabb, pantaskah ini untukku? Rasanya terlalu berlebihan. Tapi terimakasih banyak, aku sangat senang." hehe..

Dan kemarin siang, rasanya begitu banyak kejutan baru yang Allah hadiahkan untukku. Sungguh aku tak menduga akan sejauh ini. Mimpi-mimpi yang awalnya kutulis dengan keraguan, entah mengapa aromanya malah semakin dekat terasa. Tentang yayasan pendidikan, tentang cita-cita sosiopreuneurku dan masih banyak lagi yang lain, rasanya mimpi itu menjadi lebih mungkin untuk kugapai sekarang. Dan sungguh, kemarin siang pun aku bertanya pada-Mu ya Rabb, ditengah derasnya hujan kala itu, aku lagi-lagi bertanya, "Rabb, pantaskah ini untukku? Tidakkah terlalu berlebihan? Tapi terimakasih banyak, aku sungguh sangat bahagia. Terimakasih karena telah menyampaikanku sampai pada kesempatan itu." Ah, sungguh Rabb, aku akan selalu menunggu kejutan-kejutan lain dari-Mu. 

---

Dan lagi-lagi ini tentang menanam dan merawatnya. Menanam segala harapan dan cita-cita kita. Menanam sesuatu yang bahkan logika manusia tak mampu mempercayainya. Merawat mimpi-mimpi tidak mungkin itu, hingga ia tumbuh tinggi dan semakin tinggi. Mungkin untuk jadi tinggi memang tidak mudah, butuh pupuk, disiram setiap hari, dijaga dari hama yang merusak, bahkan ketika musim membuat lingkungan tak bersahabat. Tapi kesabaran untuk merawatnya, itulah yang akan mengantarkan kita pada suatu waktu ketika bunga mulai bermekaran, tumbuh bakal buah, hingga buah tersebut nyata betul bisa kita petik. 

Memang pada akhirnya, bukanlah mewujudkan cita-cita yang mahal harganya. Tapi memiliki cita-cita dan menjaga cita-cita itulah yang mahal, yang tak semua orang miliki, bahkan tak semua orang berani.


Sunday, 29 September 2013

Jawaban itu...

Pagi ini di motor, menuju kantor.
Akhirnya aku bisa mengatakan itu. Di luar dugaan, bapak malah memberi jawaban yang justru menguatkanku. Sungguh, rasanya ingin menangis saat itu juga.

Sesampai di kantor, hanya shalat dhuha yang bisa mengobatinya. Kemudian entah mengapa bacaan tilawahku setelah itu dimulai dari QS. An-Najm : 27 sampai 2 halaman berikutnya. Dan air mata ini tak tertahankan lagi saat membaca arti ayat-ayatnya.

Duhai Allah, berikanlah selalu petunjukMu. Kuatkanlah bashirahku.

http://www.flickr.com/photos/24024596@N02/4663888702/

Followers