Showing posts with label pelajaran cinta. Show all posts
Showing posts with label pelajaran cinta. Show all posts

Tuesday, 18 November 2014

Kehidupan Baru

Bismillah..

Alhamdulillah dua belas hari sudah saya diboyong sama mas ke solo. Tempat baru, suasana baru, kebiasaan baru, tuntutan baru, dan segala pengalaman baru lainnya yang sulit disebutkan satu per satu. Jujur, 23 tahun saya hidup, ini adalah kali pertama saya jauh (benar-benar jauh) dari orangtua. It's not easy at all. hehe.

Banyak yang ingin diceritakan, banyak kontemplasi yang didapatkan, saking banyaknya sampai bingung mau nulis yang mana dulu dan berujung pada belum ada yang ditulis satupun. haha

Seperti semua kisah pengalaman baru lainnya, akan selalu ada masa adaptasi pada setiap hal baru yang kita jalani. Begitupun dengan kehidupan baru kami dan kehidupan baruku.

Kehidupan baru kami, yang bisa mengawali hari dan menutup hari dengan bisa saling bertatapan satu sama lain. Kehidupan baru kami dengan kehidupan yang benar-benar hanya kami; aku, mas, dan dedek yang mulai sering bergerak-gerak ceria. Kehidupan baru kami yang seperti pengantin baru dalam enam bulan usia pernikahan kami. Begitu bahagia dan manis.

Kehidupan baruku sebagai istri tulen. haha. Ya, pekerjaan utamaku dan satu-satunya saat ini adalah menjadi 'nyonya akmal'. Hehe. Fulltime melayani suami, full service pokoknya. haha. Bangun pagi, shalat berjama'ah, belanja sayuran bersama ibu-ibu lainnya -yang berbahasa jawa, memasak sarapan, bersih-bersih diri, sarapan bersama, melepas suami bekerja, bersih rumah, mengisi me time, masak lagi, menyambut suami datang, makan malam bersama, mijitin mas, tidur. hehe. What a wonderful day?!

Menikmati hari-hari dengan pekerjaan dan rutinitas baru yang menjadi cita-cita terbesarku selama ini, sungguh menyenangkan. Meski terkadang diwarnai kesendirian dan kebosanan, tapi kehadirannya saat pulang beraktifitas, pancaran matanya saat mencicipi masakanku, tatapannya, belaiannya yang bisa kulihat langsung setiap hari menjadi obat segala kesendirian dan kebosanan tadi siang. Begitu manis dan romantis.

Kehidupan baru yang penuh warna. Selalu berdo'a semoga keindahan ini akan abadi dan sekeping surga yang telah Allah titipkan ini, akan bertemu dengan kepingan lainnya di Surga-Nya kelak. aamiin

home sweet home




Thursday, 23 October 2014

Wonderful Family #prolog

Bismillah
Ingin berbagi sedikit dari sebuah buku hadiah pernikahan kami, "Wonderful Family" yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan. Banyak ilmu dan manfaat yang kami dapat, sehingga kami ingin berbagi kebermanfataan ini untuk yang lain. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sebuah keluarga yang bahagia dan mampu menyejukkan hati kita, karena kita menikah untuk bahagia. :)

-------------------------------------------

.: Catatan Pendahuluan :.

Memasuki Wonderful Family

Anda pernah berkendaraan menempuh jarak yang jauh? Apa saja pengalaman yang anda dapatkan sepanjang jalan?

Saya bersama istri dan anak-anak pernah menghadiri undangan Seminar Keluarga Bahagia di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, dengan menggunakan mobil milik teman. Saya menyetir mobil, berangkat dari rumah kami di Bantul, Yogyakarta pukul 12.30 WIB. Dari Yogyakarta kami melewati Magelang,kemudia sampai Secang ambil jursan Temanggng, Parakan, lalu melalui jalan pintas ke Sukorejo, tembus di Weleri dan melalui jalu Pantura hinga tiba di Pekalogan. Sekitar pukul 20.00 kami tiba di Pekalongan.

Saat pulang kami menempuh jalan ang berbeda, lewat jalur selatan. Dari Kajen, menuju purbalingga, Klampok, Kebumen, Purworejo dan sampailah kembali ke Jogja. Perjalanan yang melelahkan, namun mengasyikkan.

Dari rangkaian perjalanan panjang tersebut, di beberapa titik tertentu terjadi kemacetan lalu lintas. Kami harus berjalan sangat pelan, atau bahkan berhenti untuk waktu yang cukup lama karena egah ada kemacetan. Kami menemukan pula suasana 'kemelut' di beberapa titik perjalanan. Antrian mobil, bus, ruk dan motor yang sangat panjang, rupanya di ujung depan ada truk gandeng penuh muatan yang berjalan sangat lamban. Jalan cukup sempit, hanya cukup untuk mobil di jalur kiri dan kanan yang berpapasan arah. Karena sulit mendahului truk gandeng itu, terbentuklah antrian panjang yang berjalan sangat lambat.

Pada titik kemelut perjalanan seperti itukami merasa ingin segera melalui. Denga berbagai cara, akhirnya kami berhasil melalui ruk gandeng tersebut dengan aman.Harus sangat berhati-hati dan penuh perhitungan untuk melewati truk gandeng tersebut. Selain jalan yang sempit, lalu lintas dari dua arah juga cukup padat. Ditambah lagi dengan jalan yang penuh belokan, berliku-liku. 

Lega sekali rasanya berhasil keluar dari kemelut perjalanan. Yang semula berjalan sangat pelan dan lambat, sekarang bisa menginjak gas dengan penuh kecepatan. Rasanya kamimemimpin perjalanan, serasa jalan milik kami sendiri.Namun itu tidak berlangsung lama. Di titik tertentu kami menjumpai kemelut lagi. Tampak di depan kami rangkaian panjang mobil, bus dan truk yang berjalan sangat pelan. Di ujung paling depan ada truk kontainer yang berjalan sangat pelan. 

Kembali kami melewati kemelut perjalanan. Harusmelambatkan perjalanan sesuai kondisi lalu lintas yang padat merayap. Cukup lama berada di belakang antrian panjang kendaraan tersebut, namun alhamdulillah akhirnya bisa juga kami melampaui hambatan. Lega sekali kami berhasil melewati truk kontainer yang menyebabkan terhambatnya perjalanan. Kami berada di depan dan memimpin perjalanan. Tidak ada ganggunan berarti di depan kami. 

Begitulah kami menikmati perjalanan panjang, sesekali waktu bertemu kemacetan, sesekali waktu bertemu kemelut, sesekali waktu  bertemu ruang yang melegakan. Usai melewati sebuah kemacetan, hati terasa senang. Namun tidak begitu lama kami menemukan kemelut. Berhasil melampaui kemelut hati terasa senang, namun ternyata di depan berjumpa kembali dengan kemelut yang lain. Begitu seterusnya sepanjang perjalanan. Banyak kejadian yang terekam dan menghiasi catatan indahnya perjalanan.


Nikmati saja kemelut perjalanannya
Demikianpula hidup berumah tangga. Pada awalnya lancar saja. Namun di tengah perjalanan kehidupan keluarga, sesekali waktu bertemu kemelut, bahkan kemacetan. Lega sekali jika kita mampu menghadapi sebuah kemelut, dan berharap tidak akan menemuinya lagi. Namun perjalanan belum selesai. Di depan bisa dijumpai kemacetan, di hadapan bisa dijumpai kemelut lagi. Bahkan bisa jadi ada jalan yang ditutup dan harus dialihkan ke jalan alteratif.

Menghadapi kehidupan keluarga harus bersiap diri dengan kemelut yang berulang, bersiap dengan kemacetanyang terjadi beberapa kali. Jangan dikira keluar dari kemelut itu artinya sudah tidak ada kemelut lagi berikutnya. Jalan masih panjang, berbagai peristiwa kehidupan masih akan sangat mungkin dijumpai. Peristiwa dalam kehidupan keluarga seringkali merupakan pengulangan-pengulangan kejadian dalam bentuk yang agak sedikit berbeda. Kadang kita merasa sebuah permasalahansudah diselesaikan, ternyata pada lain kesempatan masih muncul dalam pola yang hampir sama atau sedikit saja bedanya.

Dalam kisah perjalanan tersebut, saya sebagai sopir dan isti sebagai pendamping sopir, harus saling berkordinasi dengan baik. Jika pendamping terlalu cerewet dan emosional, justru akan berdampak negatif terhadap sopir. Ia bisa kehilangan konsentrasi karena terbawa emosi, sehingga membawa mobil ke arah yang salah.Jika sopir tidak berhati-hati, akan bisa menyebabkan bahaya bagi semua penumpang yang ada di dalam mobil. Sopir harus menjaga, merawat, dan mengemudi dengan penuh perhatian dan kelembutan, agar semua penumpang bisa merasa nyaman. Jika berhenti mendadak, semua penumpang akan kaget dan bahkan bisa terpental. JIka melaju terlalu kencang, penumpang bisa ketakutan dan muntah-muntah.

Untuk penumpang yang mudah mabuk, sebaiknya minumobat anti mabuk sebelum berangkat. Artinya, semua persiapan harus dilakukan dengan cermat agar perjalanan bisa lancar tanpa gangguan. Surat Izin Mengemudi (SIM) harus dimiliki oleh sopir untuk menjadi jaminan bahwa ia memang layak dan pantas mengemudi mobil. Kendati tidak ada Surat Izin Menikah (SIM) dari KUA, namun hakikat perlunya ilmu pengetahuan untuk mengarungi kehidupan rumah tangga jelas diperlukan oleh suami maupun istri.

Jika persiapan telah dirancang dengan matang, perjalanan akan lebih lancar dilakukan. Rute yang pasti telah dimiliki, kemampuan sopir tidak diragukan lagi, pendamping melaksanakan peran dengan hati-hati, penumpang yang mudah diajak kompromi, dan kondisi mobil yang prima akan menjadi jaminan perjalanan yang menyenangkan. Apapun kondisi jalan, tidak akanmengkhawatirkan. Perjalanan akan terasa menyenangkan walau bertemu banyak kemelut dan kemacetan.

Demikianlah yang saya maksudkan dengan Wonderful Family.

-----------------------------------------------

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram (sakinah) kepadanya dan dijadika-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah).Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "
(QS. Ar-Rum:21)


Thursday, 4 September 2014

Pelajaran Keimanan Kedua

Hari yang panjang, mungkin karena hari ini bedrest di rumah. H-4 mas pindah ke solo. Ah, sebetulnya aku ingin membuat ini biasa saja. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas proyekan ke luar kota. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas bulak-balik ke pondok untuk mengurus proyek atau pengabdian. Nyatanya memang jiwa melankolis ini selalu muncul. Yang paling sering ketika malam datang dan kudapati mas tidur lebih dulu, lalu kupandang wajahnya. Dan begitu saja air mata ini merembes pelan. Kupeluknya, tapi malah merembes lebih banyak jadinya.

3 bulan lebih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru yang masih tinggal bersama orangtua, membuat masa pengenalan dan penyesuaian ini terasa lebih dinamis. Bukan hanya pegenalan dan penyesuaian antara aku dan mas tapi juga sekaligus mas dengan keluargaku serta keluargaku dengan kehadiran mas. Menurutku inilah yang membuat masa pengenalan kami menjadi lebih lengkap. Tidak hanya melihat bagaimana sikapnya padaku, tapi juga bisa melihat bagaimana sikapnya pada keluargaku, bahkan keluarga besar kedua orangtuaku. Dan masyaallah, mas memang sangat santun. Aku banyak belajar darinya.

3 bulan yang menyenangkan. Teramat menyenangkan menurutku. Bahkan jika ada yang bertanya, pernah berantem gak? Aku sampai harus terdiam dulu untuk memikirkannya. Bukan karena tidak pernah ada percekcokan tapi karena tak ada percekcokan yang sampai aku ingat. Itu karena memang semuanya selalu selesai dalam waktu kurang dari sehari dan berakhir dengan keromantisan. Hehe. Aku memang paling tidak bisa berdiam lama padanya. Mas terlalu ngangenin. Rasanya rugi sekali kalau sejam saja berlalu tanpa sikap hangatnya.

3 bulan yang penuh kejutan. Kejutan akan sikap-sikapnya. Kejutan akan kegemaran-kegemarannya. Kejutan akan ilmu-ilmunya. Kejutan akan segala hal tentangnya. Ah, mungkin memang ini yang disebut jatuh cinta. Bukan cintanya membuatku jatuh tersungkur. Tapi cintanya membuatku terjatuh, terkaget-kaget, is it true? Diakan rizki jodoh yang Allah berikan untukku? Dan dengan cintanya, ia menyadarkanku dan mengajakku bangun dan berjalan bersamanya. Ih, ngomong apa aku ini? Haha. Intinya aku jatuh cinta padanya. Itu saja.

Dan bisa kau rasakan. Betapa besar energinya membangunkanku. Memberikan begitu banyak rasa hangat dan nyaman yang belum pernah aku rasakan. Perlindungannya membuatku merasa dimuliakan. Penjagaannya membuatku merasa aman. Perhatiannya membuatku merasa begitu spesial. Sanjungannya membuatku merasa sempurna. Sikapnya dan segalanya membuatku jatuh cinta. Sungguh! Dan makin hari aku kecanduan. Rasa bergantungku semakin tinggi. Perlu kuakui bahwa ini memang kali pertama aku diperlakukan seperti itu. Aku betul-betul jatuh cinta padanya. Bahkan saat aku di kantor, aku sering merindukannya meski pagi hari ia mengantarku dan sorenya ia menjemputku. Siang hari di kantor, sering kali aku merasa kesulitan untuk menunggu sore datang hanya untuk sekedar berkata "Love you, sayang". Ah, mungkin ini berlebihan tapi sungguh, aku telah jatuh cinta padanya. 

Dan perasaan itu kini harus rela terpisah oleh jarak. Di saat perasaan ini bertumbuh semakin besar. Ketika kebutuhan akannya semakin tinggi. Dan ketika emosiku mengalami fluktuasi akibat penyesuaian tubuhku dengan janin dalam rahimku, buah cinta kami. Bukan hal yang mudah bagiku. Ketika baru tiga bulan merasakan indahnya memiliki teman hidup, selalu bersama, setiap malam berbagi kisah, setiap pagi memulai dengan senyum penuh cinta, dan kini harus rela dipisahkan oleh jarak. Bukan hal yang mudah bagiku. Beberapa kali ketakutan itu terbawa hingga mimpi. Hingga aku terbangun tengah malam, lalu menangis dan memeluknya. Percayalah, ini bukan hal yang mudah bagiku. 

Belakangan kami lebih sering membahas ini. Lebih tepatnya mas menguatkanku tentang ini. Aku memang sering menangis jika pembicaraan ini dimulai. Tapi mas selalu menenangkanku. Mas selalu mengingatkanku; tentang cita-cita kami, tentang jalan hidup yang telah kami pilih, tentang perjuangan yang harus kami lalui, tentang kesabaran yang selalu harus kami miliki, tentang nasihat-nasihat ibu, tentang semuanya. Tanpa lelah dan bosan, mas selalu mengingatkanku dengan lembut dan penuh kesabaran. Hingga akhirnya hatiku bertemu dengan sebuah titik bernama keikhlasan.

Ya, insyaallah aku telah ikhlas. Aku sadar betul tentang jalan hidup yang memang tak selalu nyaman sesuai yang kita inginkan. Bukankah sejak dulu aku terbiasa menjalani hidup di luar comfort zone. Bukankah sejak dulupun aku terbiasa bermonolog dengan diri untuk menyelesaikan hidup. Dan hei! Aku punya Allah yang selalu ada bahkan sejak sebelum aku bertemu dengan mas. Mungkin ini lagi-lagi pelajaran aqidah yang Allah ajarkan dalam perjalanan pernikahan kami. Bahwa sebesar apapun rasa cintaku pada mas, cintaku pada-Nya tetap harus melebihi. Bahwa aku dan mas adalah sama-sama manusia yang mungkin ada saatnya pergi, ada saatnya terpisah oleh jarak, ada saatnya tak ada saat dibutuhkan. Tapi Allah akan selalu ada kapanpun, dimanapun kami berada. Dan Ia ingin menyadarkanku, bahwa memang hanya pada-Nya lah kami bergantung dan mengadu. Bukan pada manusia, sekalipun ia adalah suami yang sangat kita cintai. Allah akan selalu ada, membersamai kita, bahkan tanpa kita minta.

----

Mas, mungkin aku akan tetap menangis setiap kali melepas kepergianmu yang sementara dan sebentar ini. Tapi tak perlu risau sayang, aku kuat insyaallah. Seperti yang aku katakan, itu hanya ungkapa jujurku yang tak sanggup aku tutupi dan aku hanya perlu waktu untuk belajar hingga terbiasa. Selamat memulai duluan kehidupan baru kita kelak disana. Insyaallah aku akan menyusul, kan? Siapkan segalanya dengan baik ya sayang. Untuk cita-cita besar kita insyaallah. Fii amanillah. Semoga Allah selalu menjagamu, memberkahi setiap usahamu, menguatkan pundakmu, dan menjadikanmu sebaik-baik imam untukku dan anak-anak kita kelak. aamiin.. Allahumma aamiin..


Thursday, 7 August 2014

Sebesar Biji Apel, katanya

Assalamu'alaikum sayaang :)
Gimana kabarnya hari ini? Kayaknya udah mulai tenang ya? Maaf ya kemarin kayaknya kamu kecapean sayang, setelah kami ajak naik kereta yang guncangannya dahsyat.
Kemarin Bunda sempat mengalami pendarahan ringan ditambah munculnya gumpalan darah. Paniiiik sekali rasanya, sayang. Sore itu kami langsung ke dokter, dan katanya memang mengalami ancaman keguguran. Subhanallah.. cemas bukan main rasanya.. Tapi berita menegangkan itu seketika terganti dengan berita baik lainnya saat di USG.

Ternyata kantong kehamilannya sudah terlihat, sayang. Ayah dan Bunda sudah bisa melihatmu kemarin. Aaaaah.. bahagiaaa sekali rasanya. Kata dokter usiamu sekitar 4-5 minggu. Ayahmu terlihat kaget sekali kemarin! hehe.. Bunda juga kaget sih sebetulnyaa.. hehe Kaget karena kamu sudah selama itu ada di rahim Bunda. hehehe,, Sekarang ukuranmu baru sebesar biji buah apel. Keciiiil sekali yaa.. Maha Besar Allah yang benar-benar menciptakan makhluknya dari permulaan berntuk yang sedemikian kecil. Di minggu ke-5 nanti, kamu sudah punya detak jantung sendiri looh.. Masyaallah walhamdulillah..

Yang juga harus disyukuri adalah Ayahmu, sayang. Dia betul-betul lelaki yang luar biasa. Di masa-masa yang lemah ini, ketika bunda harus lebih banyak di tempat tidur dan tidak boleh banyak bergerak, ayahmu begitu sabar dan setia membantu bunda dalam banyak hal. Mulai dari mengambilkan air minum sampai membantu ke kamar mandi. Pokoknya kamu pasti bahagia punya ayah sepertinya. hehehe

Segala puji hanya bagi Allah atas segala kebesaran dan kesempurnaannya. Selalu menanti masa-masa pertumbuhanmu, sayang. Baik-baik ya disana. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, kesehatan dan keselamatan hingga persalinan nanti. Semoga Allah menjadikanmu anak yang sholeh/sholehah, tabungan terbesar untuk Ayah dan Bunda kelak di akhirat. Aamiin



Tuesday, 1 July 2014

Menunggu yang ditunggu

Menikah dan memiliki keturunan mungkin menjadi dua hal yang saling berkatan. Saya rasa hampir semua pasangan yang menikah, ingin melahirkan keturunan. Dan itu juga tentu yang saya inginkan.

Sebulan terakhir menuju pernikahan, saya sering sekali mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan, kesuburan, kesehatan keluarga dan lain-lain. Saya ingin mempersiapkan pengetahuan saya, demi menyambut dan mempersiapkan 'dedek' kami kelak. Meskipun begitu, di awal pernikahan saya dan suami sepakat untuk santai saja menanti ketadangannya. Bukan berarti menunda atau melama-lamakan. Tidak sama sekali, hanya saja menurut artikel-artikel yang kami baca, terlalu terfokus pada keinginan memiliki keturunan, bisa menyebabkan hubungan suami-istri menjadi tidak rileks atau tegang. Maka dari itu kami berusaha menikmati masa-masa pacaran kami dengan tenang dan mengalir saja seperti air.

Waktu bergulir, menuju satu bulan pernikahan, ada hal yang baru saya sadari. Ternyata di luar saya dan suami, ada orang-orang yang juga menantikan kehadiran si dedek. Merekalah kedua orangtua kami, yang merasakan harap bercampur cemas. Berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga besar kami, dan cemas akan kesehatan reproduksi kami. Memang hal tu tidak pernah mereka katakan secara langsung pada kami, tapi perasaan sensitif saya menebaknya. Ya, hanya menebak saja.

Sejak saat itu, empati saya mulai bertambah. Mungkin inilah mengapa menikah bisa menambah kedewasaan, karena akhirnya kita mulai keluar dari zona diri menuju zona-zona lain yang secara sadar mesti kita libatkan. Bukan lagi tentang keinginan diri, tapi juga melihat kebutuhan sekitar. Dan jujur sejak saat itu, saya mulai dihantui oleh kekhawatiran-kekhawatiran dan perasaan-perasaan 'GR' pada kehadiran si dedek. Ah wanita itu memang harus kuat. Tapi bukan sekedar kuat fisik kurasa, melainkan juga kuat untuk bisa mengatur perasaannya. Meskipun saya taidak tahu jelas teorinya dari siapa tentang perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dalam alam pikirnya, tapi sedikit banyak saya merasakan itu. Saya pribadi merasa sering tersiksa oleh pergolakan perasaan yang saya alami, ketika takut bercampur resah, harap berampur gelisah, marah bercampur rindu, dan perasaaan-perasaan dilematia lainnya. Pun saat ini, ketika harus mengatur perasaan khawatir dan ketakutan saya agar bisa tetap rileks dan behusnudzon pada takdir Allah. Ah, rasanya kerja keras sekali untuk bisa memanage ini semua. 

Dan lagi-lagi, sekolah kehidupan ini selalu memberikan pelajaran keimanan yang kian hari kian dalam. Bahwa lagi-lagi kita diuji tentang keikhlasan hati pada setiap usaha yang dilakukan, husnuzon tingkat tinggi pada takdir yang akan Allah tetapkan, dan bertawakal serta bersyukur pada setiap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Allahu'alam bishawab
Hanya ingin menyalurkan kegundahan hati yang sedang menunggu, 
Menunggu bilamana yang ditunggu sebetulnya juga menungguku :)


Thursday, 19 June 2014

Menikah adalah Sekolah Kehidupan

Menikah. Hihihi.. 
Dulu waktu jaman SMA dan kuliah tingkat-tingkat awal, menikah itu masih menjadi sesuatu yang memberikan kesan 'pembebasan' dan romantisme cinta dua insan. Hahaha, geli sendiri kalau inget itu. Ya harap maklum, sebagai remaja biasa yang tumbuh dengan segala kewajaran hasrat remaja seusianya, tapi memegang prinsip untuk gak pacaran, ya menikah itu menjadi sebuah impian yang akan membebaskan segala rasa ingin yang selama ini dikekang. Jamannya suka-sukaan sama laki-laki yang dianggap keren. Jamannya sok-sokan gak suka digombalin padahal kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian lebih perasaan jujurnya adalah seneng bukan main. Jamannya nangis-nangisan kalau ada laki-laki yang suka, karena merasa telah menjadi 'pengganggu' bagi kaum lelaki. Haha.. masa-masa itu. Memang labil sih, tapi itu fitrah naluriah kurasa. Wajar kalau merasa suka sama lawan jenis dan ingin mendapatkan sambutan yang sama dari yang disuka. Yaa, dulu sih sesederhana itu membayangkan tentang pernikahan. Pokoknya seneng dan romantis. Dan jadilah muncul cita-cita ingin menikah di umur 23 tahun. Hahaha

Time goes by, di jaman kuliah pertengahan, saat usia mulai mendekati umur 23, definisi tentang menikah mulai naik level. Haha. Ada sebuah kebutuhan untuk ingin 'dilengkapi'. Kondisi keluarga, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi-kondisi lainnya membuat saya merasa butuh seseorang yang 'menguatkan' dalam banyak kondisi. Dan biasanya sih ini dialami oleh anak-anak tingkat tiga, galau nikah. Padahal kalau dipikir sekarang ya, ngapain ya dulu gitu-gituan. haha. berasa alay banget. Tapi ya jujur, kebutuhan itu memang ada, merasa ingin dilengkapi, merasa ingin ada teman berbagi. Mungkin karena memang dinamika hidupnya mulai 'seru' kali ya. Gak lagi masalah tugas yang belum selesai, uang jajan yang kurang atau nilai IP yang turun, tapi mulai muncul ujian-ujian hidup yang dirasa ada benang merah yang harus diselesaikan diantara ujian-ujian yang ada. Kok jadi berat ya bahasanya? Haha.. mungkin saya aja kali ya yang mikirnya ketuaan, tapi itu seriusan yang saya pikirin di tingkat tiga pas jaman kuliah. Sejak SMP saya membantu orangtua untuk bisa rutin membayar SPP hingga kuliah dengan biaya sendiri mulai dari pendaftaran awal, bayar semesteran, biaya tugas studio tiap semester, hingga wisuda. Jadi ya memang sudah terbiasa merasa dilibatkan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga di rumah. Itulah sebabnya saya merasa butuh dilengkapi, karena memang yang dipikirkan mulai bercabang, bukan lagi tentang urusan diri sendiri.

Tingkat akhir perkuliahan, justru saya lupa cita-cita menikah itu. Karena sibuk mikirin TA. haha. Tapi di saat ga mikirin itulah, tetiba muncul sosok 'aneh' di penghujung usia 22 saya. haha. Dialah yang kemudian mengembalikan kegalauan saya tentang menikah. Hehe. Dan saat inilah kemudian menikah itu tidak lagi hanya memiliki definisi 'pembebasan' dan 'dilengkapi' tapi ada definisi baru yang didapat, ada dua inti pokok yang saya dapat waktu itu, tentang 'penyelamatan' dan 'penyempurnaan keimanan'. Duh berat banget gini bahasanya. Tapi lagi-lagi itu seriusan.

Tentang penyelamatan, mungkin ini ada kaitannya sama definisi pembebesan waktu jaman SMA. Hanya saja yang ini mungkin lebih serius tingkatnya, jadi bahasanya berubah jadi penyelamatan. Tapi sebetulnya kata 'penyelamatan' ini baru bener-bener saya resapi belakangan ini. Laki-laki dan perempuan fitrahnya pasti terikat sama yang namanya kutub ketertarikan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ketertarikan ini berubah kebutuhannya dari sekedar suka dan seneng kalau barengan ke tahap ingin melindungi, ingin bisa bertumbuh bareng, sukses bareng sampai pada keinginan untuk saling 'melengkapi' dan 'memuaskan' satu sama lain. Dua kata terakhir ini memiliki arti yang luas yang kaitannya dengan perasaan atau kebutuhan batin dan kaitannya dengan kebutuhan fisik (skinship). Kebutuhan batin ini mungkin ada hubungannya sama chemistry kali ya. Entah kenapa, ada sebuah sinyal aneh yang terdeteksi kalau sama pasangan kita. Entah itu perasaan bahagia yang ingin dibagi ataupun perasaan gelisah yang butuh solusi. Biasanya ini akan terconnect dan ketika kebutuhan masing-masing bisa dipenuhi, kita akan mendapatkan kebahagiaan batin. Sedangkan tentang kebutuhan fisik, saya baru ngeh belakangan ini. Saya baru sadar ternyata kebutuhan pemenuhan fisik itu akan selalu meningkat levelnya, misalnya awalnya sentuhan, setelah itu  akan muncul keinginan untuk pegangan tangan. Setelah bisa pengangan tangan, akan naik level lagi menjadi ingin merangkul, begitu seterusnya dan akan terus meningkat kebutuhannya. Dan saya baru sadar, ternyata skinship itu memang bisa memberikan kebahagiaan batin tanpa kita harus berkata. Misalnya ketika marah atau sedih, hanya dengan sentuhan dan pelukan, apalagi dari pasangan kita, itu bisa memberikan efek menenangkan yang sangat ampuh, tanpa kata-kata. Dan bayangkan saja jika tidak dibingkai dalam hubungan yang halal dalam penikahan, kebutuhan fisik ini akan menjadi sangat menyiksa. Trust me it works. Kebutuhannya terus meningkat, sedangkan secara norma dan agama, kita belum bisa seperti itu. Ya, kecuali orang-orang yang udah apatis sama aturan-aturan semacam ini. Bahayanya, semakin banyak orang-orang yang apatis sama aturan-aturan tentang lawan jenis ini, akan semakin banyak juga kasus-kasus moral di sekitar kita. Percaya deh. Penyimpangan-penyimpangan seksual yang ada di sekitar kita, bermula dari aturan pergaulan lawan jenis ini. Itulah kenapa saya bilang, menikah itu penyelamatan.

Penyempurna keimanan, ini juga yang bener-bener baru saya sadari waktu menjalani prosesnya. Duh, kalau diceritain panjang banget. Mulai dari kita yang baru kenal 10 hari di Padang, dua bulan kemudian dia dateng melamar, sebelumnya saya terjebak nostalgia sampai lima tahun (haha), dia anak bungsu dan kakak-kakaknya belum nikah, dan banyak lagi lainnya. Kalau bukan karena keimanan, waktu sesedikit itu akan sekuat apa sih mampu meyakinkan dua manusia untuk membangun perahu di pelayaran yang luas dan misterius nanti. Kalau bukan karena iman, kesan 10 hari bisa gitu ngalahin kesan 5 tahun? Kalau bukan karena iman, bisa gitu kakak-kakaknya ikhlas mengijinkan adik kecilnya nikah duluan? Kalau bukan karena iman, tega gitu orangtua membiarkan anak perempuannya didahului sama anak laki-lakinya yang bungsu? Kalau bukan karena iman, bisa gitu dua orang lulusan S1 yang baru lulus hitungan bulan yang lalu bisa membiayai pernikahannya berdua? Dan pertanyaan-pertanyaan 'bisa gitu?' lainnya. Keimananlah yang bisa menguatkan itu semua. Dan perjalanan inilah yang semakin menguatkan keimanan kami. Baru sampai tahap ini aja, baru 26 hari menikah, begitu banyak nilai-nilai keimanan yang bertambah dalam diri kami. Padahal pernikahan kan perjalanan panjang, yang selalu diniatkan tak akan berakhir bahkan sampai dimensi kami berubah ruang. Pasti akan ada banyak pelajaran keimanan lainnya yang akan kami dapat, saat nanti kami punya anak hingga nanti kami harus menikahkan anak kami, sampai tugas kami di dunia berakhir. Ya..disinilah kita gak akan kehabisan materi pembelajaran tentang keimanan.

Siapapun yang akan menikah, baru menikah, telah menikah, yakinilah bahwa menikah adalah sekolah kehidupan yang panjang. Karenanya kita memang dituntut untuk selalu belajar dan memperbaiki pengetahuan kita. Karena jika tidak, mungkin kita akan tinggal kelas atau terpaksa drop out dari sekolah ini. Tinggal kelas tidak lebih baik dari drop out saya rasa. Kita menikah untuk bahagia, ketika kita tinggal kelas, berarti kita mengalami stagnansi dalam pernikahan kita. Tinggal kelas, berarti kita tidak berhasil melewati ujian pernikahan. Bukan berarti pernikahan kita berakhir, karena kita hanya tinggal kelas, bukan drop out. Tapi tidak ada orang yang bahagia saat tinggal kelas. Sedangkan kita menikah untuk bahagia. 

Allahu'alam
yang menulis ini hanya seseorang yang sedang mengumpulkan bahan bakar untuk terus menyalakan api kebahagiaan dalam rumah kecilnya dan ingin berbagi sedikit tentang begitu banyak pelajaran yang ia dapat dalam perjalanan pernikahannya yang baru kemarin sore. hehe




Tuesday, 17 June 2014

drafbox 14 November 2013

Jatuh cinta itu rasanya aneh. Memang pada akhirnya perasaan itu terlalu sederhana jika harus diungkapkan dengan kata-kata. Atau mungkin tak ada kata yang sanggup mewakili luapan rasa dan emosi saat kita sedang jatuh cinta. It's feel so wonderfull. Setiap apapun yang dilakukan oleh yang kita cintai pada kita, rasanya merupakan sesuatu yang sangat spesial, sangat unordinary. Padahal bisa jadi ada oranglain yang biasa melakukan itu, tapi saat ia yang melakukannya untuk kita, rasanya sangat sangat sangat tidak biasa.

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Setelah sekian lama aku merasakan kecenderungan pada lawan jenis, baru kali ini aku persilahkan hati ini untuk jatuh cinta. Mencintai sosok yang memperlakukanku lebih dibandingkan yang lain, yang dengannya aku sangat sulit untuk menolak atau tak membalas sikapnya. Setiap sikapnya padaku selalu membuatku merasa tersentuh. Setiap tatapannya selalu mengisyaratkan rasa sayangnya padaku. Karena itulah aku izinkan hati ini untuk jatuh cinta kepadanya. Dia yang baru saja ku kenal beberapa bulan ini. 

Rasanya dalam setiap do'a yang pernah kupanjatkan pada Rabbku, inilah do'a terbesar yang sangat berharap terkabul bahkan sangat berharap untuk segera terkabul. Do'a tentang inginku dia menjadi imam hidupku. Inginku dia menjadi ayah dari anak-anakku. Inginku dia menjadi teman hidup dan matiku. Inginku untuk hidup dan tumbuh bersamanya sampai akhir hidupku. Inginku dia menjadi harapan dan masa depanku. Inginku untuk selalu bersamanya meraih cinta Tuhanku. 

Ya Rabb.. kabulkanlah, secepat waktu yang terbaik untuk kami.

------

Ah, ternyata tulisan ini sudah bersabar cukup lama dalam drafbox. Sulit dimengerti ketika rasa itu bisa tumbuh begitu cepat. Cepat sekali. Bersusah payah kusimpan perasaan ini hingga saatnya tiba. Dan kini kesabaran itu telah menemukan momennya. Waktu itu telah tiba untukku bisa menyampaikannya. Perasaan yang telah lama tersimpan.

Dan lagi lagi waktu memberikan jawaban atas pertanyaanku tentang perintah-Nya. Perintah-Nya untuk saling menjaga diri antara manusia berjenis laki-laki dan perempuan. Karena memang keduanya memiliki kutub yang saling menarik satu sama lain. Sebuah ketertarikan yang hanya akan menyiksa bagi keduanya jika tidak dibingkai dalam sebuah ikatan yang halal.

Maka bagi kalian yang sedang bersinggungan dengan kutub yang berbeda, jagalah diri kalian dari ketertarikan yang hanya akan menimbulkan kerusakan. Halalkanlah jika ketertarikan itu mulai menawanmu, atau jauhilah ia, jika siap masih harus menunggu waktu. Percayalah, semuanya akan indah pada waktunya


This is The End of The Begining

Pada akhirnya perjalanan panjang itu sampai juga pada tujuannya, tapi bukan untuk mengakhiri perjalanan, karena justru perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Hanya saja kini aku tidak lagi melaluinya dengan seorang diri. Ada seorang penunjuk arah yang Allah kirimkan untukku. Ia yang kini menggantikan posisi kedua orangtuaku, untukku meminta restu, untukku menuju Rabbku, Dialah Imamku. :)

Seringkali perasaan haru menyergapku jika kukembalikan memori pada masa-masa itu. Saat kami memutuskan untuk membangun niat baik bersama. Saat kami mengutarakan niat baik ini pada keluarga besar kami. Saat segala macam persiapan kami lakukan untuk membangun singgasana ini. Saat kami harus bertahan melawan segala rasa ingin kami. Hingga akhirnya kami sampai pada tujuan awal ini.Ya Rabb.. Rasanya seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku. hehe

Segala puji hanya bagi Allah yang telah mempertemukan kami, menitipkan perasaan ini, dan membuatnya semakin bertambah saat detik terus berganti dengan detik yang baru. Hanya selalu berdoa dan berharap, semoga rasa sayang ini kekal dan bisa membawa kami hingga berada dalam ruang dan dimensi yang berbeda, di surganya kelak.

Karena ini adalah akhir dari sebuah awal yang akan sangat panjang.

Bismillah..
Rabbana hablana min azwazina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil muttaqiina imaama..
Rabbana hablana minash shalihin... 

Monday, 23 December 2013

belum apa-apa

Seringkali aku bertanya, tak bisakah kita berlari lebih lebih cepat ? tak bisakah garis finish itu di buat lebih dekat? tak bisakah rutenya dipersingkat? tak bisakah kita sederhanakan perbekalan? yang penting kita selamat, bukan? tak bisakah ? tak bisakah? tak bisakah?

Ah, astaghfirullah..
Seringkali akhirnya kudapati diriku yang ternyata masih jauh dari sabar
Bersabar dengan segala proses yang mesti dijalani
Bersabar dengan segala perbekalan yang mesti disiapkan
Karena memang  setelah garis finish nanti, semuanya tak akan semudah perlombaan sebelumnya.
Setelah garis finish nanti, itulah medan perjuangan yang sesungguhnya

Yang sekarang belum seberapa,
belum apa-apa

Sunday, 22 December 2013

Pesona Kematangan

Chemistry yang biasanya mempengaruhi hubungan cinta antara laki-laki dan wanita sebenarnya hanya menegaskan satu fakta : ketika cinta yang genuine bertemu dengan motif lain dalam diri manusia, dalam hal ini hasrat atau syahwat biologis, hubungan cinta antara laki-laki dan wanita memasuki wilayah yang sangat rumit dan kompleks. Banyak fakta yang tidak bisa dipahami dalam perspektif norma cinta yang lazim. Lebih banyak lagi kejutan yang lahir di ruang ketidakterdugaan. Namun itu tidak menghalangi kita menemukan fakta yang lebih besar : bahwa dengan memandang itu sebagai pengcualian-pengecualian, seperti dalam kasus Muawiyah bin Abi Sufyan dengan gadis badui yang tidak dapat mencintainya, kekuatan cinta sesungguhnya tetap dan selalu mengejawantah pada kematangan kepribadian kita. Misalnya cinta antara Utsman bin Affan dan istrinya, Naila.

Para pencinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya, atau kekuasaan dan kekayaanya, atau popularitas dan pengaruhnya. Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi. Mereka kuat. Tapi kekuatan mereka menjadi sumber keteduhan jiwa oprang-orang yang dicintainya. Mereka berisi dan sangat independen. Tapi mereka tetap merasa membutuhkan oranglain, dan percaya bahwa hanya melalui mereka ia bisa bertumbuh dan bahwa pada orang-orang itulah pemberian mereka menemukan konteksnya. Kebutuhan mereka kepada oranglain bukan sebentuk ketergantungan. Tapi lahir dari kesadaran mendalam tentang keterbatasan manusia dan keniscayaan interdependensi manusia.

Pesona inilah yang dipancarkan Khadijah pada Muhammad. Maka selisih umur tidak sanggup menghalangi pesona Khadijah menembus jiwa Muhammad. Pesona kematangan itu pula yang membuat beliau enggan menikah lagi bahkan setelah khadijah wafat. "Siapa lagi yang bisa menggantikan Khadijah?" tanya Rasulullah SAW. Tapi bisakah kiita membayangkan pertemuan dua pesona? Pesona kematangan dan pesona kecantikan serta pesona kecerdasan? Pesona itulah yang dimiliki Aisyah : muda, cantik, innocent, cerdas dan matang dini. Dahsyat, pasti! Pesonanya pesona. Disini semua pesona menyatu padu : seperti goresan pelangi di langit kehidupan Sang Nabi. Dua perempuan terhormat dari suku Quraisy itu mengisi kehidupan pribadi Sang Nabi pada dua babak yang berbeda. Khadijah hadir pada periode paling sulit di Mekkah. Aisyah hadir pada periode pertumbuhan yang rumit di Madinah. Khadijah mengawali kehidupan kenabiannya. Tapi di pangkuan Aisyahlah ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyelesaikan misi kenabiannya.

Dalam jiwa Sang Nabi ada dua cinta yang berbeda pada kedua perempuan terhormat itu. Ketika beliau ditanya tentang orang yang paling ia cintai, ia menjawab Aisyah! Tapi ketika beliau ditanya tentang cintanya pada Khadijah, ia menjawab; "cinta itu dikaruniakan Allah padaku". Cintanya pada Aisyah adalah bauran dari pesona kematangan dan kecantikan yang melahirkan syahwat. Maka Ummu Salamah berkata, "Rasulullah SAW tidak bisa 'menahan' diri kalau bertemu Aisyah". Tapi cintanya pada Khadijah adalah jawaban jiwa atas pesona kematangan Khadijah: cinta itu dikirim Allah melalui kematangan Khadijah.

--Anis Matta, Serial Cinta, Pesona Kematangan--


Pesona kematangan, itulah mungkin yang bisa menjawab pertanyaan para penonton tentang mengapa Si Kaya dengan Si Miskin, Si Cantik dengan Si Buruk Rupa, Si Tampan dengan Si Buruk Rupa atau yang Muda dengan yang Tua, atau seaneh apapun peristiwa cinta di muka bumi ini. Pesona kematangan, yang merubah kekaguman menjadi sebuah kata bernama 'cinta'.


Thursday, 28 November 2013

Aura Kehidupan

Jika cinta menyerupai air pada beberapa tabiat dasarnya, maka sifat utama air yang melekat padanya adalah fakta bahwa air adalah sumber kehidupan. Jika cinta adalah gagasan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan tindakan utamanya adalah memberi untuk menumbuhkan, maka kekuatan pesona utama seorang pencinta adalah aura kehidupan yang memancar dari dalam dirinya.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Ia membuat orang-orang di sekelilingnya merasakan denyut nadi kehidupan, merasakan hamparan keindahan hidup, merasakan alasan tentang mengapa mereka hidup dan harus melanjutkan hidup, merasakan alasan untuk bertumbuh demi merakit pemaknaan tiada henti terhadap kehidupan. Ia, intinya, membuat orang-orang di sekeliling merasa hidup. Sebab ia menebar benih kehidupan di ladang hati mereka. 

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia hidup. Dan hidup itu nyata pada setiap jengkal tubuhnya, pada setiap detak jantungnya, pada setiap hembusan nafasnya, pada setiap langkah kakinya, pada setiap uluran tangannya, pada setiap kedipan matanya, pada setiap kata dan suaranya. Gagasannya seluruhnya adalah tentang kehidupan yang lebih baik. Niat seluruhnya adalah penumbuhan yang membuat hidup lebih baik.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia memiliki dan menggabung tiga pesona utama para pencinta; pesona raga, pesona jiwa, dan pesona ruh. Ketiga pesona itu terbingkai rapih pada sebuah "akar besar" yang menerangi kehidupannya dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. 

Maka mendekat-dekatlah padanya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan serasa mengalir pada setiap sudut jiwa dan ragamu. Maka tataplah matanya, niscaya engkau akan merasakan gairah kehidupan yang memberimu semangat baru untuk terus hidup, terus melanjutkan hidup. Maka dengarkanlah kata-katanya, maka engkau kan merasakan betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang lebih baik. Dan jika Tuhan mengijinkan engkau merasakan sentuhannya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan mendidih dalam tubuhnya. Dan jika Tuhan memperkenananmu hidup berlama-lama dengannya, niscaya engkau kan merasakan betapa perlindungan dan penumbuhannnya membuatmu terengkuh dalam rasa aman dan nyaman.

Engkau bahkan tidak pernah begitu yakin tentang pesona apa yang pertama kali menawanmu. Apakah kulit hitam yang tak dapat menyembunyikan cahaya matanya? Atau ketegasan sikap yang tidak dapat merahasiakan kebajikan hatinya? Atau kelembutan bawaan yang yang tidak sanggup menutup-nutupi keberaniannya? Atau diam panjang yang tidak mampu menghalangi ilmu dan wawasannya? Atau badan kurus yang dijelaskan oleh puasa dan pengendalian dirinya? Atau? Tidak! Semua tampak menyatu dalam dirinya: ruhnya yang halus, jiwanya yang lembut, terbungkus dalam raganya yang kokoh, terangkai dalam perilaku yang terbimbing akal besarnya. Tapi itu semua ada dalam dirinya. Dan ketika ia keluar, ia hanya memancarkan satu hal : aura kehidupan. Dan itulah yang engkau rasakan dan yang mungkin sekali engkau ketahui asal muasal dan akarnya dalam dirinya. Dia bukan sebuah profil sempurna. Dia hanya sebuah kehendak yang lebih nyata. Dia bukan Nabi yang tak mungkin salah. Dia hanya sebuah tekad perbaikan berkesinambungan yang tak henti-henti. Dan itulah aura kehidupan: gairah yang tak pernah selesai. 

-Anis Matta, Serial Cinta, Aura Kehidupan-



--------------------


Wednesday, 6 November 2013

Cinta dan Produktivitas

Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. Selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang hanya berkembang di batas gagasan dan kemauan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tak berbuah.

Bagian cinta yang pertama dan kedua, gagasan dan kemauan baik, biasanya terbentuk dari serangkaian penghayatan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keagamaan tentang kehidupan dan hubungan antar manusia di dalamnya, hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan alam. Sedalam apa penghayatan itu dalam diri seorang pencinta, sedalam itu pula sumber energi cinta yang ada dalam dirinya.

Tapi bagian ketiga dari cinta, kemampuan, memerlukan latihan dan proses pembelajaran. Kalau kita mau memberi, kita harus belajar berlatih bagaimana memiliki. Kalau kita mau memperhatikan orang yang kita cintai, kita harus belajar dan berlatih untuk tidak membutuhkan perhatian orang lain. Kalau kita mau menumbuhkan sang kekasih, kita haru sbelajar dan berlatih bagaimana bertumbuh sendiri terlebih dahulu. Begitu seterusnya : memberi, memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi mengharuskan kita memiliki kemampuan pribadi untuk melakukan tindakan-tindakan produktif.

Membangun kemampuan mencintai berarti membangun kemampuan produktif dalam diri kita. Menjadi seorang pencinta sejati berarti menjadi seorang produktif yang selalu berorientasi bukan hanya pada proses, tapi juga terutama hasil akhir. Produktivitas adalah indikator kematangan seorang pencinta. Seorang pencinta yang tidak produktif adalah pohon rindang yang tidak berbuah.

--- Anis Matta, Serial Cinta, Membangun Kemampuan Mencintai---


Buku ini benar-benar membuka mata dan paradigma saya tentang sebuah kata bernama cinta. Ust. Anis Matta rasanya betul-betul bisa menyelami makna cinta ini dengan begitu dalam. Ini kali ke-dua saya membaca buku ini, tapi baru kali ini saya bisa memahami kata-kata beliau yang cukup tinggi.

Cinta dan produktivitas mungkin yang ingin Allah sampaikan pada kita. Tentang cinta seorang Rasul pada umatnya, cinta orangtua pada anaknya, cinta seorang suami pada istrinya, cinta seorang anak pada orangtuanya. Memang betul, ketika kita mencintai seseorang atau sekelompok orang, biasanya kita memiliki keinginan untuk selalu memberi pada yang kita cintai. Sesederhana memberi salam, menanyakan kabar, memberikan semangat, sesederhana itu.

Namun ketika cinta kita bertumbuh semakin besar, maka keinginan untuk memberi itu juga akan bertambah besar. Dari sanalah kemudian kita mengupayakan diri kita untuk bisa memberi banyak hal esar pada orang yang kita cintai. Energi itulah yang kemudian tumbuh menjadi semangat perubahan dalam diri kita, karena tak mungkin kita memberi tanpa kita belajar untuk memiliki.

Cinta memang bisa mentransformasikan manusia menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu juga yang Allah maksud dengan 'Lelaki baik untuk perempuan baik'. Seseorang yang mencintai seorang atau sekelompok orang yang baik, tentu ia akan berusaha untuk menjadi lebih baik, agar bisa memiliki standar baik yang minimal sama dengan orang atau sekelompok orang yang dicintainya.

Maka ketika kita memutuskan untuk mencintai, bersiaplah untuk bertransformasi menjadi manusia dengan produktifitas tinggi.


Tuesday, 5 November 2013

Pelajaran Cinta

Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai, lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu terbalas. Fakta ini mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

Sebabnya sederhana saja. Cinta itu banyak macamnya. Ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. Cinta ini lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. Misalnya cinta para Nabi kepada umatnya, atau guru kepada muridnya, atau pemimpin kepada rakyatnya, atau ibu kepada anaknya. Jiwamu dan jiwa orang yang kamu cintai tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Bahkan sering berkembang jadi permusuhan. Lihatlah bagaimana Nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu yang ditelantarkan anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya.

Inilah cinta yang paling luhur. Paling suci. Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan salam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya merupakan buah dari cinta yang lain. Ambillah contoh: 1,3 milyar umat islam saat ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah sang Nabi beserta para sahabat-sahabatnya. Itu cinta misi.

Tapi ada jenis cinta yang lain. Cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. Cinta ini lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan di sini.

Ada cinta ketiga. Cinta maslahat. Cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama maka mereka saling mencintai. Misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon atau senyum manis seorang pramugari atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel: semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa (comfortability). Anda adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Anda adalah kepentingannya. Bukan jiwanya.

--- Anis Matta, Serial Cinta, Pelajaran Cinta ---

Cinta memang kata yang sulit didefinisikan atau justru kata yang memiliki banyak definisi. Dari buku Ust. Anis Matta ini ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, tentang cinta.

Bagi siapapun yang sedang mengumpulkan batu bata untuk membangun sebuah rumah tangga, semoga cinta yang mendasari bangunan itu tak hanya sekedar cinta jiwa, cinta yang lahir dari sebuah kesenyawaan jiwa yang saling menggenapkan dan melahirkan sebuah ketenangan semata. Semoga cinta yang mendasari bangunan itu adalah sebuah 'Cinta Misi', cinta yang memiliki sebuah tujuan dan cita-cita agung di akhirnya. Cinta yang tak hanya mengharapkan kegenapan jiwa dan kepuasan biologis semata. Tapi ada sebuah cita-cita besar yang menjadi tujuan bersama dari bangunan tersebut. Cinta yang tak akan hilang meski cinta jiwa mengalami penurunan kualitas, jika suatu saat sebuah bencana menguji kualitas bangunan mereka. Cinta yang bisa menjadikan bangunan mereka adalah sebuah mesin peradaban, yang melahirkan agen-agen kebahagiaan untuk orang-orang disekitarnya.

Semoga memang bangunan itu akan terbentuk dari cinta yang berlandaskan misi yang agung, misi yang jauh kedepan dan dibutuhkan banyak 'bekal' untuk mencapainya. Bukan sekedar cinta jiwa, yang lahir dari persamaan dan kesegenapan. Bukan sekedar cinta jiwa yang lahir dari ketertarikan dan kenyamanan dua insan. Apalagi sekedar cinta maslahat, yang lahir hanya karena sebuah kepentingan semata, yang jika kepentingan itu tercapai maka selesailah sudah cintanya. 

Bagaimana menumbuhkan 'cinta misi' ini? Tentu kita harus  lebih banyak 'belajar' dan 'membaca' lagi..



Thursday, 17 October 2013

Tentang Keyakinan

Keyakinan itu datangnya dari mana?
Dari setiap detik yang dilewati dan itu membawa kita pada kebulatan tekad

Yakin kalau keyakinan itu benar?
Allahu 'alam. 
Hanya menyerahkan pada takdir Allah, berikhtiar semaksimal yang bisa dilakukan
lalu menyerahkan hasil akhirnya pada Iradat Allah

Gimana kalau ternyata takdir nanti tidak sesuai dengan keyakinan kita?
Fatawakkal 'alallah
Tawakal yang akan mengobati segalanya, insyaallah

Karena manusia hanya bisa berencana, berusaha dan berdo'a. 
Berencana agar kita sampai pada akhir perjalanan dengan selamat.
Berusaha agar Allah memandang kita layak untuk mendapatkan impian kita.
Berdo'a agar kita sadar betul, bahwa kita memang makhluk kecil yang sangat butuh bimbingan-Nya.

Dan sungguh Allah lebih mengetahui mana yang paling baik untuk kita.


Thursday, 10 October 2013

Bersabarlah..


.......................................................

Bersabarlah.. 
karena langit yang semakin gelap, menandakan bahwa akan semakin dekat dengan pagi.


Bersabarlah.. 

karena gelap ini bisa jadi belum seberapa. Masih ada malam yang akan lebih gelap dan mencekam.


Tidak mudah memang melewati malam, 

tapi yakinlah bahwa Allah pasti akan menghadiahkan pagi dan sinar itu akan muncul kembali.


Bersabarlah.. 

karena kalaupun kita tak sempat mendapati mentari,
 sabar itu sendiri yang akan mengantarkan kita pada balasan langsung dari ilahi Rabbi..


..................................................




Monday, 30 September 2013

Pelayaran ini..

Mungkin memang seperti itulah nantinya, tentang setengah dien ini. Bukan hanya tentang ketertarikan dua orang manusia, bukan hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya sekedar kecocokan sifat antara dua insan. Bukan itu rasanya.

Ini tentang kesamaan visi yang akan menjadi pondasi dari bagunan yang Allah jadikan sebagai separuhnya dari Agama. Ini tentang sebuah perahu yang akan berlabuh dalam luasnya samudra kehidupan. Bukan untuk sehari dua hari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi selalu diniatkan sebagai perjalanan panjang yang hanya umurlah yang akan menghentikannya. Ini tentang ke arah mana perahu itu akan dilayarkan. Ini tentang Sang kapten dan nahkoda, serta awak kapal yang dibawanya di atas samudra itu. Ini tentang lautan yang mana yang akan mereka seberangi. Tentang sejauh mana pelayaran yang mereka rencanakan. Tentang bagaimana mengatur orang-orang yang berada dalam perahu itu untuk bisa saling sepakat atas tujuan pelabuhan mereka, untuk bisa saling menguatkan saat datang ombak besar yang memabukkan, saat badai datang dan meluluh-lantakkan, bahkan disaat terik matahari begitu hangat dan melenakan. Ini tentang bagaimana semua awak perahu tersebut bisa saling menguatkan dan menjaga agar perahu tersebut tidak tenggelam dan karam ditelan badai dan ombak.

Ini tentang misi pelayaran yang mesti dipahami dan disepakati oleh semua awak kapal. Ini tentang pengembaraan menuntaskan separuh keyakinannya. Ini tentang pelayaran yang tak hanya menyelamatkan kehidupan perahunya sendirian, tapi juga bisa saling menguatkan perahu lain yang berlayar menuju pelabuhan yang sama. Ini tentang pengokohan barisan kebenaran, agar kemudian tak banyak perahu yang karam di tengah lautan, akibat para perompak-perompak jalang.

Memang bukan pelayaran yang mudah. Tapi juga bukan keputusan yang tepat ketika kita selalu takut dan tak pernah memutuskan untuk memulai pelayaran, karena kita tak mungkin bisa berlabuh tanpa melakukan pelayaran terlebih dahulu.

Ya, ini tentang pelayaran menuju pelabuhan keridhoan-Nya.
Maka ketika saatnya berlayar telah tiba, Rabb aku mohon, tolonglah aku untuk menemukan nahkoda yang tepat untuk mengarungi samudra yang luas dan penuh ombak. Aku mohon ya Rabb.. 


Followers