Showing posts with label for my dear. Show all posts
Showing posts with label for my dear. Show all posts

Friday, 26 December 2014

26 weeks

Assalamu'alaikum sayang..
Tenyata udah lama ya bunda gak nulis jurnal tentangmu disini.. maaf ya.. :)

Sayang, sekarang usiamu 26 minggu loh.. udah besar ya, perut bunda juga sekarang udah keliatan buncit. Udah ada beberapa jaringan kulit baru di perut bunda, hihihi. Sekarang orang-orang udah bisa menerka keberadaanmu di dalam perut bunda. Seneng deh.. Gerakanmu juga semakin lincah, saking lincahnya bunda sampe geli setiap kalau kamu gerak, hehe. Kadang juga posisimu membuat bentuk perut bunda asimetris, melendung, Hoho (nah, itu tadi kamu barusan gerak :)) Saking lincahnya kamu, sekarang ayah gak perlu susah-susah menunggu gerakanmu, apalagi sekarang seakan kamu mengerti, kalau ayah datang pasti gerakanmu lebih hebat. Itu kenapa sayang, seneng yaa?? 

Oia, di minggu ke-16 kemarin sebetulnya dokter sudah memprediksikan jenis kelaminmu sayang, tapi kata orang-orang prediksi itu kadang berubah-ubah, jadi kita tunggu saja ya.. :D

Tetep sehat ya dedek.. terus tumbuh dan kuat. Tumbuh menjadi anak yang shaleh/shalehah, bermanfaat untuk lingkungan dan menjadi bagian dari pada ashabul qur'an. Selalu bekerja sama dengan bunda ya sampai kamu bertemu kami di dunia. Pokoknya kita adalah best partner ever deh! :D 

Oke sayang, Ayah dan Bunda selalu rindu untuk bisa bertemu denganmu
peluk dan cium dari kami :*

USG pekan ke-4 sampai pekan ke-22


Wednesday, 24 September 2014

12 week

Assalamu'alaikum Sayang...
Hari rabu yang cerah, secerah hati Bunda yang telah melihat perkembanganmu kemarin sore. :)

Hari selasa kemarin akhirnya Bunda cek kandungan ke dokter setelah diundur berhari-hari. Entah kenapa cek kemarin rasanya menjadi momen cek kandungan paling membahagiakan sejauh ini. Kamu sudah semakin besar sekarang, sayang. Di minggu ke 12 ini, kepala dan badanmu sudah mulai terbentuk. Panjangmu sekarang 4,8 cm. Kemarin bunda bisa melihat detak jantungmu. Dan yang paling menakjubkan adalah saat diusg, kamu melakukan gerakan! Ah, lucu sekali sayang. Seakan kamu ingin menyapa ayah dan bunda saat itu, "Hai Ayah! Hai Bunda! Aku sehat loooh..". hehe. Saking senengnya, ayahmu sampai bersuara, "Wah, itu dia gerak!". Kamu tau sayang, ayahmu itu kan orangnya tidak terlalu ekspresif, jarang sekali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi kemarin itu, mungkin karena terlalu terkejut dengan tingkahmu, ia sampai kaget dan mengeluarkan suara. hehe

Tetep sehat ya sayang. Dokter bilang kamu sehat dan baik-baik saja. Bunda juga sudah naik berat badannya. Kita terus bekerjasama ya sayang sampai kamu bisa bertemu ayah dan bunda di dunia. Peluk dan cium dari ayah dan bunda :)

----

Adalah sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat seorang manusia tumbuh di dalam tubuhmu. Merasakan perkembangannya, mengikuti setiap perubahannya, dan beradaptasi dengan tubuhmu yang baru saja kedatangan tamu baru di salah satu organnya. Kehadirannya menjadi sebuah tanda kuasa-Nya. Kehadirannya membuatmu selalu ingin menjaga tubuhmu dari berbagai gangguan luar. Kehadirannya yang membuat suamimu menjadi semakin hangat dan cinta. 

Tubuhmu harus banyak beradaptasi atas kehadirannya. Rasa mual, pusing dan lemas sepanjang hari menjadi sebuah rutinitas yang membuatmu harus menyesuaikan diri tapi itu tak pernah sedikitpun membuatmu merasa terbebani. Di awal-awal seperti ini menjadi hal yang tak mudah bagimu, perubahan emosimu, tentang kondisi fisikmu, hingga perubahan-perubahan yang tak bisa kau lihat bahkan tak bisa kau rasakan terjadi dengan dahsyat di dalam tubuhmu. Semuanya beradaptasi, bahkan dia yang baru saja hadir, juga sedang sama-sama beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kau tau? It's so amazing. Sekarang kau bahkan tak pernah benar-benar sendiri dalam hidupmu karena ada seseorang di dalam rahimmu yang selalu ikut kemanapun kamu pergi. Yang merasakan apapun yang sedang kau rasakan. Yang bahagia jika kau bahagia, dan merasa sedih jika kau sedih. Dan untuk itulah kau selalu berusaha melawan segala kelabilan emosimu untuk bisa selalu membahagiakan diri karena kau tahu ada yang sedang memperhatikanmu sekarang.

Hingga pada akhirnya yang kau inginkan hanyalah kesehatan dan keselamatannya hingga saat bertemu denganmu di dunia. 


Friday, 19 September 2014

Hari ke-13

Assalamu'alaikum sayang...
Ada kabar gembira! tapi bukan tentang kulit manggis (kalau kamu ga ngerti, nanti bunda jelasin yaa ) :D
Kabar gembiranya adalaaah... hari ini ayahmu ke Bandung! Yeay!!! Can't wait to see him :) Dan karena itu juga, jadwal mengunjungimu diundur jadi hari senin nanti. Ah senangnya, akhirnya bunda akan tetap melihat kamu bersama ayah. :)

Sayang, yang kuat dan sehat ya disana.. Kalau kamu kuat, insyaallah kita bisa segera menyusul ayah tinggal di Solo. Sebetulnya memang bunda ga sanggup sayang, kalau harus berjauhan dengan ayahmu. Ndak kuaaat.. hehehe. Hmm.. yaa bagaimanapun kondisimu nanti, kami akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Bunda juga selalu berusaha memberikan banyak afirmasi positif untukmu, suapaya kamu tenang, sehat, dan bahagia di dalam sana. Dan salah satu penambah afirmasi positif bagi bunda adalah ayahmu, kekeke bandel ya bunda? Yaaa.. gimana lagi doong bundanya ingin bareng sama ayah teruss..

Kita sama-sama berdoa ya sayang, semoga keputusan Ayah dan Bunda ini yang terbaik untuk semuanya, karena sesungguhnya perjuangan itu pasti akan selalu kita lakukan. Dimanapun kita berada. Bunda siap berjuang bersamamu sayang, bersama ayah. :)

Oke, baik-baik ya disana..
Salam peluk dan cium dari ayah dan bunda

Monday, 15 September 2014

Hari ke-9

Assalamu'alaikum sayang.. Apa kabar hari ini? Bunda penasaran deh sekarang dedek udah sebesar apa yaa.. hehe. Tapi rasa penasaran ini akan terjawab tiga hari lagi, karena nanti bunda akan periksa ke dokter. Tapi mungkin ini kali pertama bunda nengok kamu tanpa ayah. Tak apa ya sayang, nanti fotomu bunda kirim ke ayah ko! :)

Sayang, ini hari ke-9 Ayah pindah ke Solo. Hiks, jadi ingin nangis lagi.. Sepi banget rasanya, pasti kamu juga merasa sepi kan? udah sembilan hari ini ga ada yang cium kamu ya sayang? hehe, Bunda cuman bisa gendong kamu kemana-mana sambil ngelus-elus, tapi ga bisa cium kamu sayang. Gak nyampe, hehe.. Sabar ya, nanti kalau Ayah pulang, pasti ada yang cium kamu lagi. :) 

Hmm.. Bunda curhat sama kamu ga apa ya, Sayang. Kelak ketika kamu lahir ke dunia pun Bunda akan banyak bercerita dan curhat banyak hal padamu. Pasti seru sekali berbagi cerita dan menikmati setiap episode hidup bersamamu sayang.. Aah, can't wait.. :D

Hari-hari tanpa Ayahmu menjadi hari yang berat buat Bunda, Sayang. Saat hari pertama Ayahmu pindah hampir setiap Bunda melewati titik tempat kami biasa bersama, pasti mata Bunda langsung berkaca-kaca bahkan terkadang sampai meneteskan air mata. Setiap malam sampai hari ini, Bunda masih saja mengigau dan memanggil-manggil Ayahmu. Hehe, tampak berlebihan ya Sayang, tapi itu benar terjadi. Ayahmu seorang suami yang luar biasa. Dia selalu bersikap baik dan lembut pada Bunda. Setiap tatapannya, sikapnya, kata-katanya jelas terlihat kasih sayangnya pada Bunda. Insyaallah kelak Ia akan menjadi Ayah yang hebat untukmu, Sayang. Ayahmu orang yang sangat peduli, pada siapapun, terlebih pada orang-orang yang dia sayangi. Ayahmu orang yang sangat sabar dan tenang, Bunda sangat bersyukur karena Allah menjodohkan Bunda dengan Ayahmu. Ketika Bunda sakit, Ayahmu selalu sabar membantu Bunda melakukan banyak hal, menjaga Bunda sampai akhirnya sembuh. Ayahmu betul-betul sosok yang Bunda harapkan menjadi pendamping hidup, bahkan lebih dari yang Bunda harapkan. Itulah mengapa sayang, berat sekali bagi Bunda untuk berpisah jarak dengan Ayahmu. Beraat sekali..

Sayang, Bunda menceritakan ini bukan semata ingin menunjukkan kelemahan Bunda padamu. Tapi Bunda hanya ingin kamu tahu bahwa Kami, orangtuamu, adalah dua insan manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasan kami. Ada saatnya kami rapuh dan inilah ujian terbesar selama tiga bulan pernikahan kami. Ketika kami harus dipisahkan oleh jarak. Dan akhirnya kami memilih untuk kembali bersama. Kami memilih berjuang bersama dalam jarak yang dekat. Kami belum tau perjuangan seperti apa yang akan kami hadapi nanti. Tapi kami berpikir, berjuang bersama, saling menatap setiap hari, lebih kami pilih dibandingkan berjuang sendiri-sendiri di tempat yang berjauhan. Semoga Allah menguatkan kita ya sayang. Menguatkan Ayah, Bunda, dan kamu. Tetap sehat disana ya sayang. Kamu tumbuh bersama tumbuhnya kami di keluarga kecil ini. Bunda yakin kelak kamu akan menjadi anak yang shaleh/shaleha, kuat, dan pantang menyerah. Bunda yakin itu sayang.

Rabbana hablanaminashshalihin..
aamiin..


Monday, 25 August 2014

Tentang Ayah #prolog

Assalamu'alaikum sayang, kamu pasti jauh lebih baik ya sekarang? Kayaknya sih gitu, soalnya dokter udah ngijinin bunda untuk kerja lagi. Good job, my dear! Bunda tau kamu pasti kuat :)

Sayang, bunda lagi ditinggal ayah nih.. huhuhu.. Sepi banget rasanya. Untung sekarang ada kamu sayang, jadi kalau ayahmu pergi, bunda ga sendiri lagi. :D Oia, bunda pernah bilang ya akan cerita tentang ayah sama kamu? Nah, mumpung orangnya ga ada, sekarang aja ya bunda ceritanya. hihi

Sebuah episode kehidupan yang mengejutkan kalau bunda harus puter ke belakang tentang bagaimana pertama kali kami bertemu. Kau tau sayang? 4 tahun bunda kuliah di kampus gajah, baru 2 bulan terakhir sebelum bunda lulus akhirnya bunda mengenal ayahmu. Dan begitupun sebaliknya, 5 tahun ayahmu ada di kampus gajah itu, baru di tahun terakhirnyalah ayah mengenal bunda. Semuanya serba tiba-tiba, kami kenal saat sama-sama menjadi official kafilah MTQ ITB di Padang. Baru benar-benar kenal ketika 10 hari di Padang. Namun ternyata 10 hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang ga pernah kami duga sebelumnya.

10 hari itu memang menyimpan kesan yang baik dan segudang pertanyaan dan rasa penasaran. Dari 10 hari itu kemudian bunda tau sekilas tentang ayahmu, orang yang sederhana, bertanggung-jawab, menghargai wanita, pendengar yang baik dan pas dalam bersikap. Yang terakhir ini cukup unik, menurut bunda, sikapnya itu selalu pas, pas dengan keadaan, pas dengan kebutuhan, pas secara perlakuan. Tidak lebih juga tidak kurang. Mungkin itu yang jarang bunda temui dari laki-laki yang lain. Ada laki-laki yang berlebihan dalam berjarak dengan lawan jenis, hingga kadang menyulitkan saat harus berkordinasi dalam organisasi misalnya. Ada laki-laki yang berlebihan menebar pesona dan perhatian pada sembarang lawan jenis, hingga lahirlah banyak kesalahpahaman akan sikapnya. Dan bagi bunda, sikap ayahmu saat itu pas sebagai partner bekerja. Tidak lebih pun tidak kurang. Mungkin itu yang kemudian membuat bunda merasa nyaman selama bekerjasama dengannya.

10 hari berlalu dan berakhir. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Bunda menjalani rutinitas baru sebagai wanita karir, bekerja di sebuah perusahaan fashion muslim. Dan ia melanjutkan tugas akhirnya yang sempat tertunda. Sesekali kami masih berkomunikasi di tengah kesibukan masing-masing. Hingga 3 bulan kemudian, tepatnya satu hari setelah ia dinyatakan lulus dari kampus gajah, ia datang dan melamar bunda untuk menikah dengannya. Sebuah pernyataan yang mengejutkan tapi sebetulnya sudah bunda tebak sebelumnya. haha. Nanti kalai kamu sudah besar, akan bunda ceritakan apa yang membuat bunda bisa menebak pernyataan ayahmu itu. hehehe

Dan sejak saat itu mulailah masa pengenalan kami, sayang. Banyak hal yang baru bunda tau setelah itu. Tapi sekarang, ternyata jauh lebih banyak hal baru lagi yang bunda tau tentang ayahmu. Tapi bersambung ya sayang, biar ga capek bacanya :D



Thursday, 7 August 2014

Sebesar Biji Apel, katanya

Assalamu'alaikum sayaang :)
Gimana kabarnya hari ini? Kayaknya udah mulai tenang ya? Maaf ya kemarin kayaknya kamu kecapean sayang, setelah kami ajak naik kereta yang guncangannya dahsyat.
Kemarin Bunda sempat mengalami pendarahan ringan ditambah munculnya gumpalan darah. Paniiiik sekali rasanya, sayang. Sore itu kami langsung ke dokter, dan katanya memang mengalami ancaman keguguran. Subhanallah.. cemas bukan main rasanya.. Tapi berita menegangkan itu seketika terganti dengan berita baik lainnya saat di USG.

Ternyata kantong kehamilannya sudah terlihat, sayang. Ayah dan Bunda sudah bisa melihatmu kemarin. Aaaaah.. bahagiaaa sekali rasanya. Kata dokter usiamu sekitar 4-5 minggu. Ayahmu terlihat kaget sekali kemarin! hehe.. Bunda juga kaget sih sebetulnyaa.. hehe Kaget karena kamu sudah selama itu ada di rahim Bunda. hehehe,, Sekarang ukuranmu baru sebesar biji buah apel. Keciiiil sekali yaa.. Maha Besar Allah yang benar-benar menciptakan makhluknya dari permulaan berntuk yang sedemikian kecil. Di minggu ke-5 nanti, kamu sudah punya detak jantung sendiri looh.. Masyaallah walhamdulillah..

Yang juga harus disyukuri adalah Ayahmu, sayang. Dia betul-betul lelaki yang luar biasa. Di masa-masa yang lemah ini, ketika bunda harus lebih banyak di tempat tidur dan tidak boleh banyak bergerak, ayahmu begitu sabar dan setia membantu bunda dalam banyak hal. Mulai dari mengambilkan air minum sampai membantu ke kamar mandi. Pokoknya kamu pasti bahagia punya ayah sepertinya. hehehe

Segala puji hanya bagi Allah atas segala kebesaran dan kesempurnaannya. Selalu menanti masa-masa pertumbuhanmu, sayang. Baik-baik ya disana. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, kesehatan dan keselamatan hingga persalinan nanti. Semoga Allah menjadikanmu anak yang sholeh/sholehah, tabungan terbesar untuk Ayah dan Bunda kelak di akhirat. Aamiin



Monday, 4 August 2014

Keep Strong. My Dear..

Hai sayang, kata dokter lagi lemes ya sampe bunda dikasih istirahat dua minggu...? Hehehe. Ndak apa-apa.. aku memang harus membantumu kuat dan semakin kuat, sayang. Baik-baik ya disana.. Yang kuat oke? Bunda akan istirahat total, demi kamu sayang.. :)

Ga bisa bohong kalau aku sangat mencemaskanmu. Tapi aku yakin, kamu pasti kuat. Terus kuat dan selalu kuat ya Sayang...
Peluk cium dari Bunda :)



Saturday, 2 August 2014

Kehadiranmu

Hai Sayang, akhirnya kamu mulai muncul juga.. hehe
Tau kah, aku sudah sejak lama menantimu. Meski pada yang lain aku bilang, 'santaaaii,, kalau sudah waktunya pasti ia datang', tapi jauh di palung hati ini aku sangat merindukan kehadiranmu..

Sebetulnya aku sudah merasakan kehadiranmu sayang, di akhir pekan ramadhan kemarin. Entah mungkin mudahnya itu intuisi seorang ibu. hehehe.. Bukan sekedar perubahan fisik, tapi batinku yang merasakan kehadiranmu. Dan entah mengapa sejak saat itu aku sangat takut untuk terlalu lelah dan meminum sembarangan obat ketika badanku kurang enak. Dan perjalanan panjang di libur lebaran kemarin akhirnya mendorong kami untuk membuktikannya secara ilmiah. Ah, apa kata-kataku terlalu berat, sayang? Tak apa ya.. aku sedang belajar menulis, jadi kadang kata-kata yang muncul tetiba seperti ini. Tak apa ya.. Aku ingin belajar menulis untuk mengenang banyak hal, termasuk detik-detik kehadiranmu di keluarga kecil ini. :)

Oke, kita kembali lagi ya.. Libur mudik kemarin cukup melelahkan bagiku. Padahal kau tau, sayang? Itu pertama kalinya aku naik kereta kelas eksekutif. hihi. Mestinya perjalanan kemarin menjadi sangat nyaman dibanding biasanya, tapi justru aku sulit sekali untuk tidur. Sampai akhirnya menjelang subuh, baru aku bisa tidur nyenyak. Alhamdulillah. Kami naik kereta lodaya sampai Solo, sayang. Dan dari sana kita lanjut ke ponorogo naik mobil. Perjalanan yang biasanya ditempuh 2 jam, kemarin harus kita lalui selama 4,5 jam. Amazing. Sampai ponorogo, aku kelelahan, perutku mual, kepalaku pusing sekali. Sudah minum obat, sudah beristirahat tetap saja begitu, hingga esok harinya. Sebetulnya aku mulai curiga. Tapi aku takut memastikannya, sayang. Aku takut kecewa jika hasilnya hanya satu garis. Syukurlah, disampingku selalu ada seorang lelaki sabar yang selalu menguatkanku. Akhirnya, malam harinya kami memutuskan untuk test dan lelaki itulah yang membelikan alatnya. Pagi-pagi buta aku terbangun ingin buang air kecil, akhirnya aku membangunkannya untuk menemaniku melakukan test itu. Mentalku tidak cukup kuat, sayang, jika nanti hasilnya satu garis lagi. Maka aku memintanya yang melihat hasilnya terlebih dulu. Ya, lelaki itu memang selalu ada di sampingku, sayang

Kau tahu? malam itu aku tak bisa tidur lagi. Aku khawatir, takut mungkin lebih tepatnya, karena akan melakukan test itu lagi. Berulangkali aku menenangkan dan mengikhlaskan diri. Bahkan beberapa kali berpikir, 'ah mungkin belum juga, tidak apa-apa', batinku. Tapi alam bawah sadarku yang terdalam, aku merasakan kehadiranmu, sayang. Tapi aku takut terlalu yakin, hingga kecewa berlebihan saat kau ternyata belum ada. Aaah, rasanya sungguh dilema sekali. Sampai beberapa kali terbawa mimpi di sela-sela tidur singkatku. hehe

Pagi itu pun aku telah pasrah, tak apa jika belum ada. Saat itu aku hanya ingin meyakinkan, jadi jika aku sakit lagi dan kamu memang belum ada, aku bisa mnum obat lebih leluasa. Itu saja, karena aku sungguh sangat khawatir padamu, sayang.

Detik-detik yang menegangkan itupun tiba. Aku sungguh tak berani berharap apapun, aku serahkan semuanya pada Allah. Dan dengan agak lesu, aku bertanya pada lelaki itu tadi, "gimana , Mas?". Dia hanya memperlihatkan alat itu sambil tersenyum tipis. Dan seketika jantung ini berdebar sangat cepat. Masyaallah, garisnya ada dua, Sayang. Ternyata perasaanku selama ini benar. Kamu sudah disana, sayang...

Alhamdulillah 'ala kulli hal. It's so amazing. Allah telah memberikan amanah baru untukku.
Sayang, yang kuat ya di dalam sana.. Kita baru bisa ke dokter besok. Kamu harus kuat ya, dan aku akan selalu menjagamu. Kini hari-hariku mulai diwarnai dengan mual dan pusing sepanjang hari. Tapi itu semua tetap membahagiakan. Karena mual dan pusing ini menandakan kehadiranmu, maka aku akan tetap bahagia menjalaninya. Kita berjuang sama-sama ya sayang..

Oia, Lelaki yang tadi aku ceritakan tadi adalah yang kelak akan kamu panggil 'Ayah', sayang..
Suatu saat nanti pasti akan aku ceritakan seperti apa dirinya, I promise :)
Oke sayang, baik-baik ya di sana..

Can't wait to feel your growth :D



Monday, 7 July 2014

Empat Puluh Lima

Aah, waktu selalu menipu ya. Kadang kita merasa udah lama, ternyata baru sebentar. Kadang kita merasa baru sebentar, ternyata udah lama. Hehe
Udah 45 hari loh ternyata. hehe
45 hari saya menjadi istri seorang lelaki bernama Akmal Firmana. Hehe 
Kalau kata yang udah nikah sih mungkin bilang, 'yaelaah, baru juga 45 hari doang.. lebay amat" haha
Ya emang baru 45 hari sih, tapi buat saya sungguh rasanya ini nikmat terbesar yang pernah Allah kasih setelah nikmat iman. Lebih indah dari lulus UN, lebih indah daripada masuk ITB, bahkan lebih indah dibandingkan lulus ITB sekalipun. hehe.. Eh, tapi ini seriusan loh! aku ga lebay. 

Maha Besar Allah yang ditangan-Nya segala ketetapan dan takdir hamba-hamba-Nya. Perjuangan untuk menggenapkan setengah dien ini rasanya luar biasa sekali deh. Mungkin memang bayarannya ga sedikit ya untuk menyempurnakan keimanan ini sekaligus juga jadi bekal untuk menjalani keutuhan agama kedepannya. 

Banyak perubahan yang terjadi setelah menikah ini. Banyak juga hal-hal baru yang saya temui. Di awal-awal pernikahan ini kami malah bergantian sakit, hehe. Awalnya suami, lalu kemarin saya yang sakit. Mungkin kecapean sekaligus masa adaptasi. Tapi so far, saya selalu bersyukur atas nikmat ini. Kadang ga percaya kalau saya udah sejauh ini, udah bukan lagi tanggungan Ibu-Bapak. Kadang juga masih amazing bahwa saya ternyata berjodoh dengan seseorang sepertinya, masyaallah, Alhamdulillah 'ala kulii hal..  

Jalan masih panjang. Panjang sekali. Mungkin tidak lagi semudah sebelumnya, tapi aku yakin ini pasti akan lebih indah dan menyenangkan dari sebelumnya. Kini aku bisa menjalankan tugas favoritku, yaitu menjadi orang kedua. Aku bukan tipe pemimpin yang bisa memobilisasi orang-orang. Aku bukan tipe pemimpin yang bisa menjadi acuan banyak orang dan dilihat sebagai seorang pemeran. Tapi aku tau, selama ini aku sering sekali berada di belakang para pemimpin, menjadi orang dibalik layar, mengamati, memberikan masukan, membersamai orang-orang sebagai pengikut tapi dekat dengan sang pemimpin. Ya, aku memang seperti itu, bukan seorang pemeran utama, hanya orang dibalik layar sang pemeran utama. Hahaha, entah kenapa aku begitu percaya diri menyebut diriku seperti itu. Tapi aku memang percaya diri, bahwa selama ini aku memang seringkali nyaman dengan tugasku sebagai orang kedua yang tak dilihat oleh banyak orang. 

Dan kali ini, aku benar-benar sedang dan akan menjadi orang kedua di perahu yang sedang dilayarkan oleh sang pemeran utama, dialah suamiku. Perahu yang baru saja meninggalkan pantai untuk pergi mengarungi lautan samudera kehidupan. Kata orang-orang ini tidak akan mudah. Tak masalah, karena aku yakin, bersamanya perjalanan ini akan indah dan menyenangkan. :)

----

Teruntuk Suamiku,

Mas Sayang, kamu tau betul aku jauh dari sempurna. Tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Kita memang sama-sama jauh dari sempurna, tapi bukankan kita bersatu untuk saling menyempurnakan
Mas Sayang, kini kamu pemerannya, dan aku sangat siap untuk menjadi orang kedua yang selalu membersamaimu. Kita telah tau betul kapal ini akan kita labuhkan ke arah mana, dan yang kita butuhkan adalah terus bergenggaman tangan agar tujuan kita tetap disana.
Mas sayang, aku selalu sulit mendefinisikan seberapa besar rasa sayang ini, jadi mungkin Mas ga akan pernah tau sebesar apa rasa sayang aku. Tapi aku yakin, mas bisa merasakannya
Karena aku pun bisa merasakan perasaan yang ada untukku :)



Tuesday, 1 July 2014

Menunggu yang ditunggu

Menikah dan memiliki keturunan mungkin menjadi dua hal yang saling berkatan. Saya rasa hampir semua pasangan yang menikah, ingin melahirkan keturunan. Dan itu juga tentu yang saya inginkan.

Sebulan terakhir menuju pernikahan, saya sering sekali mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan, kesuburan, kesehatan keluarga dan lain-lain. Saya ingin mempersiapkan pengetahuan saya, demi menyambut dan mempersiapkan 'dedek' kami kelak. Meskipun begitu, di awal pernikahan saya dan suami sepakat untuk santai saja menanti ketadangannya. Bukan berarti menunda atau melama-lamakan. Tidak sama sekali, hanya saja menurut artikel-artikel yang kami baca, terlalu terfokus pada keinginan memiliki keturunan, bisa menyebabkan hubungan suami-istri menjadi tidak rileks atau tegang. Maka dari itu kami berusaha menikmati masa-masa pacaran kami dengan tenang dan mengalir saja seperti air.

Waktu bergulir, menuju satu bulan pernikahan, ada hal yang baru saya sadari. Ternyata di luar saya dan suami, ada orang-orang yang juga menantikan kehadiran si dedek. Merekalah kedua orangtua kami, yang merasakan harap bercampur cemas. Berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga besar kami, dan cemas akan kesehatan reproduksi kami. Memang hal tu tidak pernah mereka katakan secara langsung pada kami, tapi perasaan sensitif saya menebaknya. Ya, hanya menebak saja.

Sejak saat itu, empati saya mulai bertambah. Mungkin inilah mengapa menikah bisa menambah kedewasaan, karena akhirnya kita mulai keluar dari zona diri menuju zona-zona lain yang secara sadar mesti kita libatkan. Bukan lagi tentang keinginan diri, tapi juga melihat kebutuhan sekitar. Dan jujur sejak saat itu, saya mulai dihantui oleh kekhawatiran-kekhawatiran dan perasaan-perasaan 'GR' pada kehadiran si dedek. Ah wanita itu memang harus kuat. Tapi bukan sekedar kuat fisik kurasa, melainkan juga kuat untuk bisa mengatur perasaannya. Meskipun saya taidak tahu jelas teorinya dari siapa tentang perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dalam alam pikirnya, tapi sedikit banyak saya merasakan itu. Saya pribadi merasa sering tersiksa oleh pergolakan perasaan yang saya alami, ketika takut bercampur resah, harap berampur gelisah, marah bercampur rindu, dan perasaaan-perasaan dilematia lainnya. Pun saat ini, ketika harus mengatur perasaan khawatir dan ketakutan saya agar bisa tetap rileks dan behusnudzon pada takdir Allah. Ah, rasanya kerja keras sekali untuk bisa memanage ini semua. 

Dan lagi-lagi, sekolah kehidupan ini selalu memberikan pelajaran keimanan yang kian hari kian dalam. Bahwa lagi-lagi kita diuji tentang keikhlasan hati pada setiap usaha yang dilakukan, husnuzon tingkat tinggi pada takdir yang akan Allah tetapkan, dan bertawakal serta bersyukur pada setiap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Allahu'alam bishawab
Hanya ingin menyalurkan kegundahan hati yang sedang menunggu, 
Menunggu bilamana yang ditunggu sebetulnya juga menungguku :)


Monday, 30 September 2013

Pelayaran ini..

Mungkin memang seperti itulah nantinya, tentang setengah dien ini. Bukan hanya tentang ketertarikan dua orang manusia, bukan hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya sekedar kecocokan sifat antara dua insan. Bukan itu rasanya.

Ini tentang kesamaan visi yang akan menjadi pondasi dari bagunan yang Allah jadikan sebagai separuhnya dari Agama. Ini tentang sebuah perahu yang akan berlabuh dalam luasnya samudra kehidupan. Bukan untuk sehari dua hari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi selalu diniatkan sebagai perjalanan panjang yang hanya umurlah yang akan menghentikannya. Ini tentang ke arah mana perahu itu akan dilayarkan. Ini tentang Sang kapten dan nahkoda, serta awak kapal yang dibawanya di atas samudra itu. Ini tentang lautan yang mana yang akan mereka seberangi. Tentang sejauh mana pelayaran yang mereka rencanakan. Tentang bagaimana mengatur orang-orang yang berada dalam perahu itu untuk bisa saling sepakat atas tujuan pelabuhan mereka, untuk bisa saling menguatkan saat datang ombak besar yang memabukkan, saat badai datang dan meluluh-lantakkan, bahkan disaat terik matahari begitu hangat dan melenakan. Ini tentang bagaimana semua awak perahu tersebut bisa saling menguatkan dan menjaga agar perahu tersebut tidak tenggelam dan karam ditelan badai dan ombak.

Ini tentang misi pelayaran yang mesti dipahami dan disepakati oleh semua awak kapal. Ini tentang pengembaraan menuntaskan separuh keyakinannya. Ini tentang pelayaran yang tak hanya menyelamatkan kehidupan perahunya sendirian, tapi juga bisa saling menguatkan perahu lain yang berlayar menuju pelabuhan yang sama. Ini tentang pengokohan barisan kebenaran, agar kemudian tak banyak perahu yang karam di tengah lautan, akibat para perompak-perompak jalang.

Memang bukan pelayaran yang mudah. Tapi juga bukan keputusan yang tepat ketika kita selalu takut dan tak pernah memutuskan untuk memulai pelayaran, karena kita tak mungkin bisa berlabuh tanpa melakukan pelayaran terlebih dahulu.

Ya, ini tentang pelayaran menuju pelabuhan keridhoan-Nya.
Maka ketika saatnya berlayar telah tiba, Rabb aku mohon, tolonglah aku untuk menemukan nahkoda yang tepat untuk mengarungi samudra yang luas dan penuh ombak. Aku mohon ya Rabb.. 


Followers