Sunday, 6 March 2022

Memaafkan

 Siang tadi aku marah besar kepada si bujang. Sudah sejak pagi kutahan untuk tetap menjaga ketenangan. Padahal dia baru saja sampai setelah bermalam di rumah Uti tiga hari dua malam, tapi baru saja bertemu tingkahnya sudah banyak macamnya. Sebentar merengek, sebentar berteriak, sebentar memaksa, sebentar menangis, dan lainnya. 

Awalnya aku masih bisa menarik nafas agar lebih tenang dalam menyikapinya. Tapi akhirnya di siang hari pertahanan itu runtuh, saat semuanya menuntut perhatian. Dia yang merengek ingin ikut ayahnya, adiknya yang pup, pesan watsap yang menumpuk, persiapan-persiapan untuk tamu yang sebentar lagi tiba, dan yaa mungkin badan yang lelah.

Aku marah, nada suaraku meninggi, tanganku bergetar, mataku melotot. Bersyukur sekali tangan ini tidak sampai menyentuh tubuh mungil itu dan mulut ini tak sampai mengeluarkan kata-kata yang buruk baginya. Tapi dia menangis sejadi-jadinya melihat perubahan sikapku yang drastis itu. Matanya ketakutan. Tapi raganya terus mendekatiku, memohon-mohon katanya, aku sudah baik. Sayangnya diri ini terlanjur tidak stabil. Dan nafasku mulai berat, sesak, kepalaku terasa panas dan pening, jantungku berdegup kencang, dan tubuhku melemas. Mungkin ini yang dinamakan naik darah.

Akhirnya setelah membersihkan adiknya, aku pergi ke kamar belakang untuk mengASIhi si bungsu. Pintu kamar kukunci. Awalnya aku masih mendengar tangisan itu dan beberapa kali ada yang mengetuk pintu. Tapi lama kelamaan tak ada suara yang terdengar. Baguslah pikirku. Aku sedang butuh waktu.

Sambil mengASIhi aku berusaha melepaskan tubuhku, berusaha relaks, memejamkan mata tapi tak bisa tidur hanya membuat kepala semakin pening. Akhirnya kupalingkan wajahku ke arah jendela. Terlihat hijau pohon-pohon dan suara air sungai di sebelah rumah. Tak terasa badanku menjadi lebih ringan. Nafasku mulai teratur, mataku sudah mulai perih. Akhirnya aku tertidur. 

Entah seberapa lama. Tapi aku sempat terbangun, dan memutuskan untuk melanjutkan tidur lagi. Di bangun yang entah keberapa kalinya, akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar. Melihat situasi di luar yang senyap tak ada suara tangisan dan yang lainnya. Kucari mereka berdua yang ternyata sudah tertidur pulas di kamar depan. Kuputuskan kembali ke kamar belakang, untuk tidur lagi. Tapi pintu tak dikunci.

Sore harinya, semua membaik saat tamu-tamu sudah datang. Seakan tidak terjadi drama apapun sebelumnya. Dan saat menjelang maghrib, aku memandikan mereka. Saat tiba giliran si bujang, sambil menyabuninya aku mencoba membuka obrolan,

Aku : Mas, maaf ya tadi siang Bunda marah-marah. 

Dia mendengarkanku, melihat mataku, dan sedetik kemudian dia jawab.

Bujang : Iya.. Aku juga minta maaf ya, Bunda.. Tadi aku ngulang-ngulang minta ikut ke Ayah. 

Aku menatapnya dengan menahan air mata yang ingin keluar.

Dia masih akan berusia 4 tahun bulan ini, tapi dia bisa mengerti alasan Bundanya marah besar dan dengan begitu lapang dada meminta maaf balik atas perbuatannya yang membuat Bundanya marah. 

Aku bertanya, apakah ini sikap yang biasa saja untuk anak seusia balita?? 

Aku rasa tidak?!

Anak ini ajaib! Bagaimana mungkin seorang anak kecil meminta maaf atas tingkah kekanak-kanakannya?! 

Ah, entahlah!

Saat ini isi kepalaku terlaku penuh untuk menelaahnya.

Tapi yang pasti, aku sedang diajari banyak hal oleh anak balitaku tentang meminta maaf dan memaafkan.

Memaafkan itu ringan sajaa. Maafkan saja. Karena mungkin di saat yang bersamaan, kita juga melakukan kesalahan. Jika ia, jangan sungkan untuk meminta maaf juga. 

Monday, 31 January 2022

Surat Untuk Ibuk

 ​Bismillah..

Assalamu’alaikum, Ibuk.. semoga selalu Allah berikan kesehatan dan keberkahan pada setiap detik waktu yang dilalui. Mungkin Ibuk gak akan menemukan surat ini, meskipun begitu semoga dengan ditulisnya surat ini akan membuat hati ini menjadi lebih ringan.


Mungkin malam-malam di dua minggu terakhir ini menjadi malam yang penuh khayalan untukmu. Khayalan akan kesendirian, akan hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, atau mungkin khayalan tentang ‘andaikan saja’ yang banyak jumlahnya. Tapi mungkin juga tidak begitu, dengan karaktermu yang kuat, kokoh dan tak ambil pusing, bisa jadi juga malam-malam ini berjalan seperti biasanya saja. 


Ibuk, dua hari lagi kami akan pindah rumah. Meninggalkanmu disini sendirian, meski setiap minggu mas masih akan pulang selama tiga hari, dan di sekeliling rumah juga ada rumah Ibumu dan saudara-saudara yang juga banyak jumlahnya. Tapi mungkin dan pasti semuanya akan berbeda. Tidak ada suara berisik dari tiga cucu-cucumu yang masih kanak-kanak ini. Tidak ada rumah berantakan dengan mainan yang memenuhi seluruh lantai mulai dari ruang tamu hingga dapur. Tak ada lagi baju-baju yang dibiarkan saja dilantai setelah dicopot oleh anak-anak karena kegerahan. Dan tidak ada lagi tangisan perselisihan, rebutan mainan, atau kecelakaan ringan di dalam rumah. 


Ibuk, maafkan kami (aku) yang pada akhirnya memilih keputusan ini. Sungguh tak pernah ada keinginan sedikitpun untuk meninggalkanmu sendirian, terlebih setelah Bapak meninggal. Berat kami membayangkan Ibuk harus menjalani hari-hari yang sepi di rumah yang seluas itu. Karena itulah, dulu, kami tidak banyak berpikir untuk langsung pulang, meninggalkan yang telah kami rencanakan, untuk menemanimu di rumah. Tapi kini nyatanya kami malah memutuskan untuk kembali pergi, bahkan di saat Mbak baru setengah tahun meninggalkan kita, menyusul Bapak. 


Ibuk, sejujurnya aku merasa gagal atas keputusan ini. Aku yang sejak sebelum menikah berprinsip untuk tidak ingin membuat pilihan untuk suami, antara aku atau ibunya. Aku yang selama ini berusaha untuk tak banyak tanya, tak banyak kompromi, tak akan menolak, sesuatu yang akan mas lakukan untuk orangtuanya. Aku yang tak ingin banyak berpikir tentang diriku sendiri, tentang kenyamananku, tentang keinginanku, jika telah bertemu dengan keinginan dan kenyamananmu. Tapi nyatanya saat ini aku menodai segala prinsip yang kubangun sendiri. Aku lemah tak berdaya, tak berkutik, melihat diriku yang patah. Aku menyerah untuk terus melangkah, saat kusadari ternyata kaki ini bahkan tak mampu untuk bergerak. Aku pasrah, pada apa-apa yang selama ini kurasa telah kuperjuangkan. Aku telah gagal, buk.. 


Awalnya aku tak ingin mengakui kelemahan ini. Rasanya ingin kututupi segala ketidakberdayaan ini. Aku ingin tetap disini, karena kutahu dirimulah satu2nya pintu surga yang masih Allah hadirkan untuk mas di dunia ini. Dan aku yakin tak akan pernah ada yang sia-sia dari setiap detik waktu yang kami lewati untuk menemanimu..


Tapi buk, aku patah lebih parah, saat kusadari bahwa ketidakberdayaan ini berdampak pada anak-anak kecil yang tak berdosa. Patahku membuat mereka kehilangan aku. Patahku membuat mereka juga tidak bisa berdiri karena tak ada yang menopang. Patahku membuat mereka menjadi layu, karena mereka juga terluka atas apa yang telah kulakukan.


 Di titik ini aku tersadar bahwa aku tidak boleh membiarkan anak-anak ini menjadi tidak tumbuh paripurna, hanya karena aku sebagai penopangnya menyerah dengan membiarkan diri ini tetap patah. Di titik ini aku terbangun, bahwa aku punya kendali untuk menyembuhkan patah ini. Aku harus sembuh, aku harus bangkit lagi, agar mereka mendapatkan hak untuk ditumbuhkan juga. Tapi aku butuh waktu.. Aku butuh belajar lebih.. karena aku telah terlanjur patah..


Ibuk, maafkan kami (aku) yang telah memilih keputusan ini. Dan dengan lebih kurang ajarnya lagi, aku berharap semoga Ibuk ridho atas ini. Atau setidaknya semoga Ibuk tetap ridho kepada mas. 


Ibuk, maafkan kondisiku saat ini. Mohon doakan semoga ini semua menjadi pembelajaran yang berharga, untuk kita semua. Semoga kami tetap bisa berbakti penuh kepadamu meski kini kita tak seatap lagi. Semoga Ibuk ridho kepada kami.. 


Salam sayang dari yang sangat sulit terungkapkan. Dari anakmu yang baru bertemu 7 tahun. 

Monday, 24 January 2022

Hello, me!

Bismillah..
Masyaallah tahun 2022. Tulisan pertama di tahun ini saya dedikasikan untuk aktifasi keanggotaan di komunitas Mamah Gajah Ngeblog (MGN) tantangan Januari. Sebelumnya saya kenalin dulu nih, MGN itu adalah subgrup dari komunitas ITB Motherhood khusus blogging. MGN berisi ibu-ibu alumni ITB yang memiliki kegemaran menulis di blog. Sebetulnya sih saya ngisi formulir keanggotaannya sudah sejak syawal tahun lalu, tapi baru kali ini bisa ikutan tantangannya. Semoga dengan submit tantangan Bulan Januari menjadi nyawa baru untuk hidupnya kembali blog ini setelah lama mati suri.

Tema tantangan bulan ini adalah tentang dirimu, mamah gajah. Tema yang bikin saya agak baper berkaca-kaca karena jujur aja, ini pas banget dengan momen ingin "memanggil" kembali si Aku sebagai bagian dari awal proses healing. Semoga juga bisa menjadi semangat baru untuk mengawali tahun 2022 dan tambahan kekuatan untuk proses hijrah yang sebentar lagi akan saya tapaki. Bismillah..

...
Gadis kecil itu bernama Hasri, ia si anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibunya. Bisa ditebak seperti apa euphoria anggota keluarga saat ia terlahir ke dunia. Bapak, Ibu, Emak, Mbah, Mang, Bibi, semuanya seakan gak pake mikir kalau mau ngasih apapun sama anak ini. Meski lahir dari keluarga yang sangat sederhana tapi masa kecilnya dipenuhi ungkapan sayang dari banyak orang. Mungkin itu juga yang membuatnya menjadi anak yang nice. Anak baik-baik, gak neko-neko, penurut dan gampang terenyuh. Menangis saat melihat pengemis atau melihat musibah atau bahkan saat menonton sinetron adalah hal mudah baginya. Yaaa, sebetulnya lebih sering dibilang cengeng sih.. iya, itu saya, cengeng banget sih memang.. 

Sikap alamiah saya yang cenderung diam, pasif dan gak banyak berontak membuat saya dinilai sebagai anak yang baik, pemalu, penurut sekaligus penakut. Saya lebih suka berperan sebagai follower dan di belakang layar. Saya anti tampil, terlalu mengerikan rasanya. Sampai pernah saat kelas tiga SD saya dipanggil ke depan oleh guru wali kelas karena mendapatkan peringkat tiga. Bukannya girang dan langsung maju, saya malah keringat dingin dan pandangan langsung buram karena berkaca-kaca ingin menangis. Bukan, bukan karena terharu tapi karena takut harus maju ke depan kelas dan menyaksikan puluhan pasang mata memandang ke arah saya. Sungguh mengerikan. Saya juga cenderung anak yang rendah diri. Saya meyakini kalau saya ini anak yang biasa-biasa aja. Gak cantik, gak kaya, gak pinter, gak punya bakat apapun, orangtua saya juga bukan siapa-siapa. Dan itu semua juga bukan sebuah masalah untuk saya, gak apa-apa memang aku orang biasa aja. 

Tapi ternyata ada banyak perubahan seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup yang saya rasakan, terutama sejak masuk ke SMP 2 Bandung, SMA 5 Bandung dan kemudian lanjut ke ITB. Dan di masa-masa itu semua saya rasakan seperti bekal dan pembelajaran berharga untuk saya menjalani kehidupan sekarang sampai di awal usia kepala tiga. 

Diizinkan oleh Allah untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah favorite di kota Bandung ini adalah hal yang sangat saya syukuri. Bertemu dengan banyak sekali teman-teman yang pintar bahkan jenius, berteman dengan orang-orang yang secara status ekonomi jauuh sekali diatas keluarga kami, bertemu dengan para guru dan pengajar terbaik yang tentu memiliki kualitas yang tidak biasa, betul-betul membuka pandangan dan pola pikir saya tentang diri sendiri dan juga dalam memaknai hidup ini. 

Di setiap jenjang pendidikan formal tadi, saya seperti sedang menapaki diri saya satu per satu.
Di SMP 2 Bandung, saya dipertemukan dengan kakak mentor dan teman-teman ekskul rohis di KRM Miftahul Huda. Disini saya menemukan diri saya, menemukan cita-cita yang ingin saya gapai, bahkan "menemukan" Tuhan yang selama ini saya sembah. Melalui mentoring pekanan, kajian-kajian dengan rohis dari sekolah lain, kegiatan pecinta alam, semua itu mengantarkan saya bertemu dengan diri saya yang lain. Saya mulai berani berbicara di depan umum, berani berkontribusi dalam kepanitiaan, bahkan  sampai akhirnya saya bisa menjadi seorang kakak mentor yang memegang beberapa kelompok mentoring. Disana saya menemukan ternyata diri yang pemalu ini bisa menjadi begitu bersemangat dalam berbagi cerita dan bicara banyak hal di circle yang kecil, dalam obrolan yang dekat dan hangat, berbagi cerita dan saling menyemangati dalam hal yang baik. Disini saya seperti baru memasuki gerbang ke dalam diri saya sendiri.

SMA 5 Bandung, sudah bukan rahasia lagi kalau sekolah ini tempatnya anak-anak borjuis. Jalan Bali yang ada di depan gerbang sekolah kami sudah seperti showroom mobil, katanya, saking banyaknya siswa yang membawa mobil ke sekolah. Saya ingat sekali dulu ada teman seangkatan saya yang membawa mobil BMW 2 pintu ke sekolah dengan plat nomor namanya sendiri. Beuh, canggih banget dulu itu rasanya buat saya yang ke sekolah diantar sepeda motor cina punya bapak. Tapi justru disinilah saya belajar banyak tentang pergaulan yang sangat baru bagi saya. Saya si rendah diri ini, mulai diperlihatkan oleh Allah sisi lain kehidupan yang jauh dari keluarga saya. Punya teman anak pejabat kota, pejabat BUMN, pengusaha tajir melintir, dan lain-lain. Dan satu hal yang saya syukuri dan saya apresiasi kepada diri sendiri adalah si rendah hati ini tidak pernah iri pada milik orang lain. Melihat teman-teman yang begitu royal tidak membuat saya berkeinginan untuk mengikuti dengan cara yang tidak baik, seperti memaksa minta macam-macam ke orangtua atau naudzubillah sampai mencuri demi ingin punya uang lebih dan mengimbangi teman yang lain. Saya tetap santai saja dengan jajan seadanya, baju seragam putih yang hanya 2 pasang untuk bergantian dipakai, sepatu yang sudah bocor bagian tumitnya, bahkan saya pernah berjualan nasi kuning dan nasi uduk dagangan ibu saya di rumah untuk teman-teman di kelas. Untuk hal ini, rasanya saya ingiiiin sekali memeluk erat diri saya atas segala kebersahajaan dan keberterimaan atas kondisi diri. Ya Rabb, terima kasih telah memberikan hati yang lembut tapi sekaligus kuat. 

ITB, kampus gajah impian yang tak terbayangkan. Pengalaman di ITB adalah antara pengalaman hitam dan putih. Ada banyak kakak rohis yang khawatir saat mendengar kabar saya masuk ITB Fakultas Seni Rupa dan Desain. Hahaha. Konon kabarnya fakultas seni rupa terkenal dengan lingkungannya yang "hitam", mulai dari mahasiswanya sampai gedungnya yang menyeramkan. Hihiihi. Apalahi duluuu katanya ospeknya itu ada yang disuruh minum darah. Hahaha tapi tentang ini saya belum pernah mengecek kebenarannya. Intinya dulu saya langsung dipesani; "Hati-hati ya, Has", gitu katanya. Tapi yang pasti anak SR sih udah terkenal yang paling nyentrik. Dan bener aja, baru aja mau ospek kampus, udah disuruh berulah aja tu kita. Jadi dulu, pas sebelum OSKM ITB dimulai, kita maba FSRD ni dsuruh kumpul sama senior. Katanya disuruh nentuin atribut khusus yang dipakai sama maba anak SR pas OSKM nanti, dan waktu itu angkatan kami pakai tali pocong doooong. Jadi setelan kami anak SR pas OSKM itu pakai baju SMA plus Jamal plus ngiketin tali putih di lingkaran wajah kami. Malu-maluin banget gak siiii.. Tapi tahu gak sih perasaan saya waktu itu??? Saya malah ngerasa bangga dan asyik aja gitu dengan segala ke-nyentrikan kami. Hahaha, geli juga kalau diinget-inget lagi sekarang. Tapi disinilah saya menemukan diri saya yang lain. Ternyata Hasri si pemalu ini punya keberanian juga ya untuk malu-maluin. Haha  Maksudnya disini saya seperti diajarkan untuk it’s oke to be different. Gak masalah ko kalau kita beda, selama nilai yang kita pegang kita yakini baik dan gak mengganggu orang lain. Terlebih memang karena di SR juga orang-orang lebih bebas dan nunjukin gitu ya, mulai dari style fashion sampai keyakinan, hehehe.. jadinya justru bikin saya belajar juga bagaimana supaya kita tu go ahead aja sama diri kita dan bertanggung jawab dengan pilihan itu. Aseekk..

Di kampus anak SR, balik kuliah jadi marbot masjid. Hehehe. Iya bener. Selama di ITB sejak TPB sampai wisuda saya tinggal di Asrama Salman yang mana dia asramanya ada di kompleks Masjid Salman ITB. Tinggal di masjid, setiap pekan dapet giliran takmir masjid jadi penjaga tempat mukena, rapihin shaf shalat jamaah putri, sampai bersihin selasar ijo waktu itu. Inilah kenapa tadi di awal saya bilang antara hitam dan putih. Hahaha. Tapi justru di titik inilah Allah perluas pandangan saya, bahwa tidak selamanya yang dipandang “hitam” akan penuh dengan keburukan dan tidak selamanya yang dipandang “putih” akan bersih dari kesalahan. Selama kita masih di dunia, peluang benar dan salah itu akan selalu ada dimanapun oleh siapapun manusianya. Dengan melihat dan menjalani dua sisi ini, justru malah memperkaya wawasan, cara pandang, pergaulan, pola pikir, dan pengalaman saya. Dan membuat saja jadi gak mudak melabeli sesuatu hanya karena tampilan luarnya saja. Banyak sekali pemikiran teman-teman di seni rupa yang melengkapi frame berpikir saya yang selama ini lebih banyak bergaul di rohis. Saya juga belajar untuk bisa lebih luwes dalam bergaul dan menyampaikan ide serta menerima ide orang lain. Dan lingkungan masjid jadi membuat saya memiliki "rem" tersendiri saat ada keinginan untuk melenceng-melenceng. hehehe

Masyaallah pokoknya, rasanya setiap step tadi adalah tangga saya untuk mengenal diri saya lebih dalam lagi. Dan saat titel mamah gajah ini hadir di kehidupan saya yang memilih sebagai Ibu Rumah Tangga, sering banget dikatain, "Sayang banget ih, lulusan ITB tapi di rumah doang" gitu.. Awal-awal sempet gerah juga sih ya dikatain gitu. Tapi lama-lama biasa aja. Biarin mereka yang ngatain, karena saya sendiri yang ngerasain betapa gak pernah menyesalnya saya pernah menjadi bagian dari kampus gajah, apapun peran yang sedang saya jalani saat ini. Karena memang pengalaman menempuh pendidikan di ITB itu gak cuman sekedar ilmu SKSnya aja tapi lebih mahal dari itu. Pernah sekolah di ITB membuat saya punya mata dan jendela yang semaaakin luas lagi. Ilmu keprofesian tentunya, pertemanan, persahabatan, lingkungan yang menumbuhkan dari banyak aspek, terlebih koneksi kealumnian yang bahkan sampai ke bidang-bidang diluar jurusan dan fakutas yang ada di ITB sekalipun, seperti MGN ini. #hug. 

Bersyukur sekali sudah menjadi bagian dari ITB, bersyukur sekali pernah merasakan berjuang disana dan bersyukur sekali karenanya saya memiliki circle menumbuhkan yang gak ada habisnya. 






Thursday, 20 May 2021

Akhirnya corona sampai di beranda rumah kami

4 Desember 2020. 

Hari Jum'at pagi, aku bangun dengan badan yang terasa berat. Tadi malam tidurku tidak terlalu nyenyak. Ku dengar, kamar mandi di sebelah kamarku pun bulak balik dibuka. Rupanya mbak semalaman tidak bisa tidur dan bulak balik ke kamar mandi. Mekanisme tubuh memang selalu sejalan beriringan dengan perasaan kita. Meski ia seringkali dikambing-hitamkan, nyatanya memang perasaan hati adalah pengontrol paling penting keseimbangan fisik kita.

Aku pergi ke dapur, mencoba berpikir harus menyiapkan apa untuk pagi ini. Kubuka kulkas, ternyata tidak ada bahan makanan disana. Aku ingat masih ada lauk yang dibekukan di freezer. Ada nasi sisa tadi malam. Aku keluarkan lauk dari freezer. Kuambil dandang untuk memanaskan nasi. Tak lama, mbak datang ke dapur dengan wajah yang kusut. Sempat ada perbincangan singkat antara aku dengan mbak, tentang langkah kita selanjutnya akan seperti apa. Tapi pembicaraan masih menggantung. Ya, kami semua masih blank. Dan saat itu aku hanya berhasil memanaskan nasi sisa tadi malam. 

Subuh yang terasa panjang. Ada perasaan yang penuh di dalam dada. Ada pikiran yang jauh pergi kesana kemari. Ada fisik yang yang  terasa gontai.

Sekitar pukul tujuh, mbak meminta kami  bersiap-siap untuk melakukan swab. Pukul 08.30 kami sekeluarga harus sudah berada di rumah sakit. 

Pukul delapan kami selesaikan sarapan dan sekitar 08.20 kami menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan yang singkat itu kami tidak mengobrol. Hanya di tengah perjalanan mas memecah kesunyian dengan mengajak putri pertama kami untuk mengaji surat alam nasyrah. Kami ulangi berkali kali sampai di belokan terakhir menuju rumah sakit, mas menjelaskan kepada anak-anak bahwa sekarang kita semua akan ke rumah sakit untuk diperiksa, karena uti sakit. 

Mereka anak-anak kecil tentu tidak paham. Mengapa uti yang sakit tapi mereka yang diperiksa. 

Sampai di rumah sakit, badanku terasa semakin gemetar. Tapi aku pura-pura. Di dalam pikiranku, tak kuasa membayangkan anak-anak ini harus menjalani tes swab yang katanya rasanya tidak nyaman itu. Mereka masih berusia lima setengah tahun, dua setengah tahun, bahkan putri kecilku baru saja genap berusia empat bulan. 

Nama kami dipanggil, kami masuk berlima. Yang pertama mas, supaya selanjutnya ia bisa menemani anak-anak kami. Diluar dugaan. Dipangkuan ayahnya, mereka sama sekali tidak menangis saat dimasukan alat tes itu ke hidungnya. Hanya meringis sebentar, lalu selesai. Bayi kami pun sama, ia yang asalnya tidur, hanya terbangun. Dan tidak menangis sedikitpun. Anak-anak hebat. Padahal aku saja sampai mengeluarkan air mata saat swab di hidung. 

Hari itu kami masih menghabiskan waktu bersama, di ruang tv dan kamar. Anak-anak bermain bersama ayahnya. Malam hari kusempatkan memijit mas, setelah sekian lama rutinitas itu berkurang seiring bertambahnya jumlah anak kami. hehe. Hari itu masih seperti hari-hari biasanya. 

Malam semakin larut, tapi kabar tentang hasil swab belum datang juga. Katanya hari itu banyak sekali yang melakukan tes swab sehingga pihak rumah sakit cukup kewalahan. Akhirnya malam berlalu saat aku tertidur setelah menidurkan bayi kami. 

Kisah Ibu

3 Desember 2020.

Hari kamis pagi, ibu melakukan tes swab. Seperti biasa ibu terlihat biasa saja. Sebelum dzuhur ibu sudah pulang, katanya sambil menunggu hasil swab, ia diminta untuk isolasi mandiri. Katanya hasilnya keluar sekitar sore atau malam. Akhirnya sejak saat itu ibu menghabiskan waktu di kamarnya saja. Tidak bermain ataupun bercengkrama dengan anak cucunya.

Anak-anak sesekali masih mencari uti-nya. Tapi dengan sedikit penjelasan mereka bisa dipahamkan kalau sementara tidak boleh dekat-dekat uti dulu.

Malam beranjak, kami sempat pergi keluar untuk belanja bulanan. Ibu tinggal di rumah sendirian, sambil menunggu hasil swab keluar. 

Malam itu seperti biasa, anak-anak masih bangun hingga pukul 22.00 tapi tidak lama mereka sudah kelelahan dan tidur. Saat itu tiba-tiba mbak menghampiri kami yang berada di ruang tv. Menyerahkan hpnya pada mas. Ternyata ada kabar dari rumah sakit bahwa ibu terkonfirmasi positif covid. 

emh, saat itu aku berusaha tenang. Tidak mengeluarkan satu kata pun. Mbak tidak bisa menahan air matanya, dan kembali ke kamar. 

Aku dan mas masih sama-sama diam. Berusaha mencerna apa yang baru saja kami baca. Kami tak banyak ngobrol apalagi diskusi. Hanya melanjutkan apa yang sedang kami lakukan sebelum mbak datang tadi, melihat ponsel masing-masing. 

Dalam diamku, gerakan jempolku pada ponsel, ada hati yang tak tenang disusul getaran ringan disekujur tubuhku. Tapi aku tak menunjukannya. Sementara dia yang ada di sebelahku, mungkin hatinya lebih tak karuan lagi. Mungkin hatinya hancur, menghadapi kenyataan bahwa ibunya terpapar virus itu. Mungkin saat itu juga ia ingin menangis seperti mbak, tapi raganya kuat menutupi itu semua.

Malam itu, akhirnya corona sampai di beranda rumah kami. 

Berawal dari sini..

2 Desember 2020

Rabu malam kali itu menjadi malam yang sedikit tak biasa. Sesaat sebelum kami keluar rumah untuk mencari camilan malam, ibuk bercerita bahwa teman satu organisasinya dinyatakan positif covid-19. Dan darisana ibuk tertracing untuk dilakukan swab. 

Ada rasa khawatir yang muncul. Tapi aku berusaha untuk terus positif thinking. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja.. 

Thursday, 16 April 2015

Refleksi di Akhir Kehamilan

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman ; 14)

Maha suci Allah yang telah mengizinkan saya merasakan kebesaran-Nya melalui kehamilan. Merasakan sebuah proses penciptaan makhluk baru yang terjadi di dalam tubuhmu sendiri. Merasakan betapa seorang wanita Allah didik langsung lewat proses ini untuk kemudian menjadi seorang ibu, madrasah pertama bagi putra-putrinya. 

Begitu banyak hal yang saya rasakan sejak awal kehamilan hingga mendekati persalinan ini. Dan saya merasakan betul betapa Allah mendidik saya banyak hal dengan karunia ini. Beberapa minggu sebelum akhirnya saya mengetahui positif hamil, entah bagaimana caranya saya mulai merasakan ada perbedaan di dalam tubuh ini. Setelah browsing di internet, keyakinan saya pun bertambah, namun tidak berani mengatakannya pada siapapun termasuk suami, karena belum bisa dibuktikan dengan apapun. Hingga akhirnya tanggal 2 Agustus 2014, hasil testpack  menyatakan saya positif hamil. Dari sana kemudian saya mulai merasa bahwa memang ada ikatan yang entah seperti apa antara seorang ibu dengan anaknya. Sebut saja itu sebuah intusi seorang ibu, yang kemudian itu menjadi modal awal baginya untuk selalu ingin menjaga dan melindungi peri kecilnya.

Hanya berjarak 2 hari setelah mengetahui kehamilan ini, saya mengalami pendarahan, keluar flek, Kemungkinan besar terjadi karena guncangan di dalam kereta saat perjalanan pulang dari Ponorogo. Segera setelah sampai di Bandung kami periksakan ke klinik bersalin dan saya diminta bedrest selama dua minggu. Cukup kaget karena ternyata seserius ini jika keluar flek di awal kehamilan. 2 hari kemudian, flek tidak kunjung hilang malah bertambah dengan keluarnya gumpalan darah.  Segera saya dan suami pergi ke klinik bersalin, dan ternyata saya mengalami acaman keguguran. Rasa cemas dan panik yang luar biasa dicampur perasaan bersalah terus membayangi disamping rasa sakit karena nyerinya pendaharahan tadi. Sejak saat itu saya ikuti anjuran dokter untuk istirahat full dan sangat membatasi bergerak hingga menghabiskan banyak waktu hanya di tempat tidur saja. Alhamdulillah suami sangat ringan membantu mulai menyiapkan makanan sampai mengantar ke kamar mandi. Bukan hal yang mudah ternyata untuk bisa menikmati hari hanya diatas tempat tidur, tapi demi keselamatan janin, anjuran dokter pasti saya lakukan. Syukur Alhamdulillah dedek janin selamat dan terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Dari sana saya mulai merasakan betapa tidak ingin rasanya terjadi hal yang buruk pada calon buah hati kami, sekecil apapun itu. Sejak saat itu rasanya apapun saya lakukan asalkan dedek janin sehat dan selamat. Rasanya bahkan saya tidak pernah menjaga diri dan kesehatan saya sebaik saat saya hamil. Saya jadi teringat pada ibu, betapa sering ia mendahulukan kepentingan anak-anak dan suaminya dibandingkan dengan dirinya dan kesehatannya sendiri. Mungkin memang seperti itulah seorang ibu.

Trimester pertama kehamilan cukup berat bagi saya. Selain karena mengalami pendaharan, morning sick  yang saya alami juga cukup mengganggu sehingga seringkali dalam seminggu saya hanya masuk kantor dua atau tiga hari saja. Ditambah jarak rumah dengan kantor yang cimahi-ujung berung, membuat fisik saya menjadi mudah lelah. Ditambah lagi bulan ke-2 kehamilan saya dan suami harus menjalani LDR karena suami harus ke karanganyar untuk memulai pengabdian di pondoknya ketika MA. Maka sejak saat itu saya mesti naik bis untuk perjalanan ke kantor. Mulai dilema karena performa kerja yang menurun, akhirnya di akhir bulan ke-2 kehamilan saya memutuskan untuk resign. Bukan keputusan yang mudah sebetulnya mengingat banyak hal termasuk kondisi finansial keluarga, tapi setelah beristikhoroh, akhirnya keputusan resign itu diambil juga. Kami yakin insyaallah pintu rezeki Allah Maha Luas dan pasti ada hikmah yang besar dibalik ini semua. Saat itu yang lebih saya utamakan adalah kesehatan dan keselamatan dedek janin. Apa memang seperti itu ya seorang ibu pada anaknya?

Masuk trimester kedua, segala keluhan mulai berkurang. Ternyata benar kata orang-orang bahwa trimester kedua adalah saat-saat paling nyaman dalam kehamilan. Kondisi fisik nyaris tak ada masalah sedikitpun, tapi di masa inilah pertama kalinya saya jauh dari orangtua. Di bulan ke-5 kehamilan saya boyongaan ke Karanganyar untuk ikut bersama suami. Ibu, Bapak, dan Adik-adik ikut mengantar saya. Dan momen saat mengantar keluarga bandung pulang ke stasiun adalah hal yang cukup berat. Di pintu stasiun Ibu 'menitipkan' saya pada mas sambil menangis. Terlihat sekali kecemasannya pada anak sulungnya yang sering sakit-sakitan ini. Ibu tahu persis fisik saya yang ringkih karena selama ini beliaulah yang selalu sabar merawat saya. Terlebih anak sulungnya ini sedang hamil, rasa cemasnya pasti bertambah. Ah, sungguh perpisahan ini juga mengajarkan banyak hal, terutama tentang kasih sayang Ibu dan Bapak yang selama ini tak pernah terungkapkan dengan kata. Tapi jarak yang selalu melahirkan rindu, membuat kata yang tak terungkap itu menjadi jelas terbaca.

Surat Luqman yang menjadi pembuka dari tulisan ini, rasanya cukup menjadi gambaran tentang bagaimana rasanya kehamilan di trimester ketiga. Keadaan yang lemah dan bertambah-tambah. Ya kurang lebih memang seperti itu. Di awal trimester ketiga hal itu masih belum terasa, tapi mulai bulan ke-8 segalanya berubah. Mulai dari sulitnya tidur malam karena suhu tubuh yang meningkat. Setiap malam pasti terbangun dalam kondisi badan berkeringat. Ketika shalat, saat akan berdiri dari sujud rasanya beraat sekali. Ditambah lagi di akhir trimester ketiga ini lagi-lagi saya harus LDR dengan mas karena sebuah urusan. Saya tinggal di ponorogo bersama ibu-bapak mertua, dan mas di Karanganyar bulak-balik Jogja. Saya akui, memang bukan hal yang mudah harus melewati malam-malam yang panjang sendirian. Waktu berlalu dan kehamilan sayapun menginjak minggu ke-32. Pinggang dan perut bagian bawah mulai terasa sakit dan pegal, seperti orang yang habis jalan jongkok. Bedanya rasa sakit dan pegalnya tak kunjung hilang sampai sekarang. Kaki dan tangan yang selalu terasa ngilu setiap kali bangun tidur, rasanya beraaat sekali untuk bisa menompang badan untuk berjalan. Malam-malam yang tetap panjang karena sulit tidur. Gerakan dedek janin yang makin terasa ngilu karena badannya yang semakin besar sedangkan perut saya yang sedemikian adanya. Kurang lebih begitulah kondisi fisik di akhir kehamilan. Namun yang unik, dengan kondisi ini justru ibu hamil di trimester terakhir justru harus lebih banyak bergerak jika ingin persalinannya nanti lancar, begitu anjuran semua orang. Jalan-jalan pagi, mengepel lantai, yah, apapunlah yang penting banyak gerak. Di awal LDR ini, berpisah jarak dengan mas cukup membuat saya memiliki keterbatasan energi untuk bisa semangat bergerak (malas.red). Ditambah lagi ponorogo merupakan tempat baru yangn cukup asing, membuat saya cukup berat jika harus berjalan-jalan seorang diri. Beraaat sekali rasanya. Seringkali logika dan perasaan saya berseteru. Saya tahu saya harus bergerak, tapi hati saya berat sekali karena ingin ada mas yang menemani. Seringkali saya menyalahkan diri sendiri dengan kondisi ini. Sesekali saya masih jalan pagi, kadang ditemani ibu mertua, kadang ditemani adik sepupu, kadang sendiri. Tapi kadang saya malah tidur lagi dan tidak jalan pagi, pembelaannya karena malam susah tidur dan pagi-pagi badan menjadi sakit semua. Hampir sebulan saya 'bertengkar' dengan diri sendiri atas kondisi itu. Tapi di minggu ke-36 kehamilan, alhamdulillah saya mulai stabil. Saya mulai bisa menerima segala kondisi saya saat itu dan terutama yang membuat saya bangkit adalah karena keinginan yang begitu kuat untuk bisa melahirkan normal. Akhirnya saya mulai rutin jalan kaki, ditambah senam-senam yang dianjurkan bidan yang bisa melancarkan persalinan. Jika tidak memungkinkan jalan keluar, saya jalan di pekarangan depan rumah yang cukup luas (menurut saya) sampai 30 kali bulak-balik. Begitulah kurang lebih, dalam keadaan fisik yang menurun, justru memang harus dipaksakan bergerak. Jika saya ingat-ingat, selama saya sakit (yang bilangannya terhitung sering) baru saat hamil ini saya bisa melupakan rasa sakit hingga nyaris tak terasa lagi karena terbiasa dengan rasa sakitnya. Padahal nyeri di pinggang dan perut bawah itu nyaris tidak pernah hilang sejak pertengahan bulan ke-8 sampai sekarang. Disini saya merasa sedang didik oleh Allah untuk menjadi perempuan yang lebih kuat, tidak mudah menyerah pada rasa sakit, tidak mudah menyalahkan situasi, dan belajar untuk bisa mengatur tubuh saya (pikiran dan hati) untuk bisa melakukan apa yang memang seharusnya saya lakukan. Karena mungkin nanti ketika saya telah menjadi seorang ibu, banyak hal yang harus saya lakukan dan perjuangkan meski itu semua berarti mengorbankan kenyamanan diri saya sendiri. Ah, mungkin memang seperti itulah seharusnya seorang ibu kelak.

Kini usia kehamilan saya menginjak 41 minggu, telah melawati hari perkiraan lahir (HPL) yang diprediksikan. Mulai banyak yang menanyakan; kapan saya lahiran, apakah sudah kontraksi, sudah ada tanda-tandanya belum, sampai somehow  pertanyaan 'Udah kontraksi belum?' terdengar seperti dulu ketika belum menikah, 'Udah ada calon belum?'. Hahaha.. Yaa.. saya rasa ini bagian dari bab ujian kesabaran bagi saya. Insyaallah dedek janin akan lahir di waktu dan saat yang tepat.

Setiap ibu pasti memiliki jalan cintanya masing-masing dalam perjuangan bertemu dengan buah hatinya. Dan dari sana, sejak awal kehamilan ini saya selalu merefleksikan setiap perasaan cinta dan kasih sayang saya pada janin ini dengan perasaan ibu saya ketika dulu mengandung saya. Saya bisa merasakan perjuangan dan kecintaan Ibu. Ia pasti telah mengorbankan banyak hal. Ia telah berhasil menjaga saya sejak dalam kandungan sampai sekarang saya mengandung dan akan melahirkan seorang anak. Ibu telah sekian lama berjuang dan mengutamakan anak-anaknya daripada dirinya sendiri. Ibu -yang terkadang masih muncul perasaan kesal kepadanya, adalah sosok yang paling sempurna mengejawantahkan cintannya pada anak-anaknya. Ibu, yang meski sering bermasalah dengan cara berkomunikasinya, adalah orang yang hanya ingin menyampaikan segala kecintaan dan kasih sayang pada anak-anaknya. Ibu, yang masih sering dikecewakan  oleh anak-anaknya, adalah sosok yang tak pernah putus menginginkan dan mendoakan segala kebaikan untuk anak-anaknya. Mungkin itulah mengapa, doa ibu menjadi salah satu yang tak tertolak untuk dikabulkan-Nya. 

41 minggu ini menjadi refleksi atas apa yang mungkin telah ibu saya lalui saat mengandung saya dulu. Dan ini baru kisah tentang mengandung, belum melahirkan, menyusui dan membesarkan anak-anaknya hingga besar. Seperti itulah cinta Ibu. Hanya saja kami, anak-anaknya, yang sering luput untuk bisa merasakan betapa besar cinta dan kasih sayang tulusnya. Maafkan Bu.. Semoga surga menjadi termpat terbaik sebagai hadiah atas segala pengorbanan dan ketulusanmu... aamiin...

" Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandungnya hingga menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, " Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim." (QS. Al- Ahqaf ; 15)


Friday, 26 December 2014

26 weeks

Assalamu'alaikum sayang..
Tenyata udah lama ya bunda gak nulis jurnal tentangmu disini.. maaf ya.. :)

Sayang, sekarang usiamu 26 minggu loh.. udah besar ya, perut bunda juga sekarang udah keliatan buncit. Udah ada beberapa jaringan kulit baru di perut bunda, hihihi. Sekarang orang-orang udah bisa menerka keberadaanmu di dalam perut bunda. Seneng deh.. Gerakanmu juga semakin lincah, saking lincahnya bunda sampe geli setiap kalau kamu gerak, hehe. Kadang juga posisimu membuat bentuk perut bunda asimetris, melendung, Hoho (nah, itu tadi kamu barusan gerak :)) Saking lincahnya kamu, sekarang ayah gak perlu susah-susah menunggu gerakanmu, apalagi sekarang seakan kamu mengerti, kalau ayah datang pasti gerakanmu lebih hebat. Itu kenapa sayang, seneng yaa?? 

Oia, di minggu ke-16 kemarin sebetulnya dokter sudah memprediksikan jenis kelaminmu sayang, tapi kata orang-orang prediksi itu kadang berubah-ubah, jadi kita tunggu saja ya.. :D

Tetep sehat ya dedek.. terus tumbuh dan kuat. Tumbuh menjadi anak yang shaleh/shalehah, bermanfaat untuk lingkungan dan menjadi bagian dari pada ashabul qur'an. Selalu bekerja sama dengan bunda ya sampai kamu bertemu kami di dunia. Pokoknya kita adalah best partner ever deh! :D 

Oke sayang, Ayah dan Bunda selalu rindu untuk bisa bertemu denganmu
peluk dan cium dari kami :*

USG pekan ke-4 sampai pekan ke-22


Tuesday, 18 November 2014

Kehidupan Baru

Bismillah..

Alhamdulillah dua belas hari sudah saya diboyong sama mas ke solo. Tempat baru, suasana baru, kebiasaan baru, tuntutan baru, dan segala pengalaman baru lainnya yang sulit disebutkan satu per satu. Jujur, 23 tahun saya hidup, ini adalah kali pertama saya jauh (benar-benar jauh) dari orangtua. It's not easy at all. hehe.

Banyak yang ingin diceritakan, banyak kontemplasi yang didapatkan, saking banyaknya sampai bingung mau nulis yang mana dulu dan berujung pada belum ada yang ditulis satupun. haha

Seperti semua kisah pengalaman baru lainnya, akan selalu ada masa adaptasi pada setiap hal baru yang kita jalani. Begitupun dengan kehidupan baru kami dan kehidupan baruku.

Kehidupan baru kami, yang bisa mengawali hari dan menutup hari dengan bisa saling bertatapan satu sama lain. Kehidupan baru kami dengan kehidupan yang benar-benar hanya kami; aku, mas, dan dedek yang mulai sering bergerak-gerak ceria. Kehidupan baru kami yang seperti pengantin baru dalam enam bulan usia pernikahan kami. Begitu bahagia dan manis.

Kehidupan baruku sebagai istri tulen. haha. Ya, pekerjaan utamaku dan satu-satunya saat ini adalah menjadi 'nyonya akmal'. Hehe. Fulltime melayani suami, full service pokoknya. haha. Bangun pagi, shalat berjama'ah, belanja sayuran bersama ibu-ibu lainnya -yang berbahasa jawa, memasak sarapan, bersih-bersih diri, sarapan bersama, melepas suami bekerja, bersih rumah, mengisi me time, masak lagi, menyambut suami datang, makan malam bersama, mijitin mas, tidur. hehe. What a wonderful day?!

Menikmati hari-hari dengan pekerjaan dan rutinitas baru yang menjadi cita-cita terbesarku selama ini, sungguh menyenangkan. Meski terkadang diwarnai kesendirian dan kebosanan, tapi kehadirannya saat pulang beraktifitas, pancaran matanya saat mencicipi masakanku, tatapannya, belaiannya yang bisa kulihat langsung setiap hari menjadi obat segala kesendirian dan kebosanan tadi siang. Begitu manis dan romantis.

Kehidupan baru yang penuh warna. Selalu berdo'a semoga keindahan ini akan abadi dan sekeping surga yang telah Allah titipkan ini, akan bertemu dengan kepingan lainnya di Surga-Nya kelak. aamiin

home sweet home




Thursday, 23 October 2014

Wonderful Family #prolog

Bismillah
Ingin berbagi sedikit dari sebuah buku hadiah pernikahan kami, "Wonderful Family" yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan. Banyak ilmu dan manfaat yang kami dapat, sehingga kami ingin berbagi kebermanfataan ini untuk yang lain. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sebuah keluarga yang bahagia dan mampu menyejukkan hati kita, karena kita menikah untuk bahagia. :)

-------------------------------------------

.: Catatan Pendahuluan :.

Memasuki Wonderful Family

Anda pernah berkendaraan menempuh jarak yang jauh? Apa saja pengalaman yang anda dapatkan sepanjang jalan?

Saya bersama istri dan anak-anak pernah menghadiri undangan Seminar Keluarga Bahagia di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, dengan menggunakan mobil milik teman. Saya menyetir mobil, berangkat dari rumah kami di Bantul, Yogyakarta pukul 12.30 WIB. Dari Yogyakarta kami melewati Magelang,kemudia sampai Secang ambil jursan Temanggng, Parakan, lalu melalui jalan pintas ke Sukorejo, tembus di Weleri dan melalui jalu Pantura hinga tiba di Pekalogan. Sekitar pukul 20.00 kami tiba di Pekalongan.

Saat pulang kami menempuh jalan ang berbeda, lewat jalur selatan. Dari Kajen, menuju purbalingga, Klampok, Kebumen, Purworejo dan sampailah kembali ke Jogja. Perjalanan yang melelahkan, namun mengasyikkan.

Dari rangkaian perjalanan panjang tersebut, di beberapa titik tertentu terjadi kemacetan lalu lintas. Kami harus berjalan sangat pelan, atau bahkan berhenti untuk waktu yang cukup lama karena egah ada kemacetan. Kami menemukan pula suasana 'kemelut' di beberapa titik perjalanan. Antrian mobil, bus, ruk dan motor yang sangat panjang, rupanya di ujung depan ada truk gandeng penuh muatan yang berjalan sangat lamban. Jalan cukup sempit, hanya cukup untuk mobil di jalur kiri dan kanan yang berpapasan arah. Karena sulit mendahului truk gandeng itu, terbentuklah antrian panjang yang berjalan sangat lambat.

Pada titik kemelut perjalanan seperti itukami merasa ingin segera melalui. Denga berbagai cara, akhirnya kami berhasil melalui ruk gandeng tersebut dengan aman.Harus sangat berhati-hati dan penuh perhitungan untuk melewati truk gandeng tersebut. Selain jalan yang sempit, lalu lintas dari dua arah juga cukup padat. Ditambah lagi dengan jalan yang penuh belokan, berliku-liku. 

Lega sekali rasanya berhasil keluar dari kemelut perjalanan. Yang semula berjalan sangat pelan dan lambat, sekarang bisa menginjak gas dengan penuh kecepatan. Rasanya kamimemimpin perjalanan, serasa jalan milik kami sendiri.Namun itu tidak berlangsung lama. Di titik tertentu kami menjumpai kemelut lagi. Tampak di depan kami rangkaian panjang mobil, bus dan truk yang berjalan sangat pelan. Di ujung paling depan ada truk kontainer yang berjalan sangat pelan. 

Kembali kami melewati kemelut perjalanan. Harusmelambatkan perjalanan sesuai kondisi lalu lintas yang padat merayap. Cukup lama berada di belakang antrian panjang kendaraan tersebut, namun alhamdulillah akhirnya bisa juga kami melampaui hambatan. Lega sekali kami berhasil melewati truk kontainer yang menyebabkan terhambatnya perjalanan. Kami berada di depan dan memimpin perjalanan. Tidak ada ganggunan berarti di depan kami. 

Begitulah kami menikmati perjalanan panjang, sesekali waktu bertemu kemacetan, sesekali waktu bertemu kemelut, sesekali waktu  bertemu ruang yang melegakan. Usai melewati sebuah kemacetan, hati terasa senang. Namun tidak begitu lama kami menemukan kemelut. Berhasil melampaui kemelut hati terasa senang, namun ternyata di depan berjumpa kembali dengan kemelut yang lain. Begitu seterusnya sepanjang perjalanan. Banyak kejadian yang terekam dan menghiasi catatan indahnya perjalanan.


Nikmati saja kemelut perjalanannya
Demikianpula hidup berumah tangga. Pada awalnya lancar saja. Namun di tengah perjalanan kehidupan keluarga, sesekali waktu bertemu kemelut, bahkan kemacetan. Lega sekali jika kita mampu menghadapi sebuah kemelut, dan berharap tidak akan menemuinya lagi. Namun perjalanan belum selesai. Di depan bisa dijumpai kemacetan, di hadapan bisa dijumpai kemelut lagi. Bahkan bisa jadi ada jalan yang ditutup dan harus dialihkan ke jalan alteratif.

Menghadapi kehidupan keluarga harus bersiap diri dengan kemelut yang berulang, bersiap dengan kemacetanyang terjadi beberapa kali. Jangan dikira keluar dari kemelut itu artinya sudah tidak ada kemelut lagi berikutnya. Jalan masih panjang, berbagai peristiwa kehidupan masih akan sangat mungkin dijumpai. Peristiwa dalam kehidupan keluarga seringkali merupakan pengulangan-pengulangan kejadian dalam bentuk yang agak sedikit berbeda. Kadang kita merasa sebuah permasalahansudah diselesaikan, ternyata pada lain kesempatan masih muncul dalam pola yang hampir sama atau sedikit saja bedanya.

Dalam kisah perjalanan tersebut, saya sebagai sopir dan isti sebagai pendamping sopir, harus saling berkordinasi dengan baik. Jika pendamping terlalu cerewet dan emosional, justru akan berdampak negatif terhadap sopir. Ia bisa kehilangan konsentrasi karena terbawa emosi, sehingga membawa mobil ke arah yang salah.Jika sopir tidak berhati-hati, akan bisa menyebabkan bahaya bagi semua penumpang yang ada di dalam mobil. Sopir harus menjaga, merawat, dan mengemudi dengan penuh perhatian dan kelembutan, agar semua penumpang bisa merasa nyaman. Jika berhenti mendadak, semua penumpang akan kaget dan bahkan bisa terpental. JIka melaju terlalu kencang, penumpang bisa ketakutan dan muntah-muntah.

Untuk penumpang yang mudah mabuk, sebaiknya minumobat anti mabuk sebelum berangkat. Artinya, semua persiapan harus dilakukan dengan cermat agar perjalanan bisa lancar tanpa gangguan. Surat Izin Mengemudi (SIM) harus dimiliki oleh sopir untuk menjadi jaminan bahwa ia memang layak dan pantas mengemudi mobil. Kendati tidak ada Surat Izin Menikah (SIM) dari KUA, namun hakikat perlunya ilmu pengetahuan untuk mengarungi kehidupan rumah tangga jelas diperlukan oleh suami maupun istri.

Jika persiapan telah dirancang dengan matang, perjalanan akan lebih lancar dilakukan. Rute yang pasti telah dimiliki, kemampuan sopir tidak diragukan lagi, pendamping melaksanakan peran dengan hati-hati, penumpang yang mudah diajak kompromi, dan kondisi mobil yang prima akan menjadi jaminan perjalanan yang menyenangkan. Apapun kondisi jalan, tidak akanmengkhawatirkan. Perjalanan akan terasa menyenangkan walau bertemu banyak kemelut dan kemacetan.

Demikianlah yang saya maksudkan dengan Wonderful Family.

-----------------------------------------------

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram (sakinah) kepadanya dan dijadika-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah).Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "
(QS. Ar-Rum:21)


Tuesday, 30 September 2014

Lipatan Waktu

Einstein pernah bermimpi tentang sebuah waktu,
di saat dia tengah dalam pergulatan yang merampokkan teori relativitas.

Suatu ketika ia pernah menemukan bahwa sang waktu adalah seekor burung pipit
yang dapat ditangkap dan dikurung dalam sebuah guci.
Waktu juga bisa menjadi sesuatu yang dapat terhenti begitu saja,
ketika ia menemukan sepasang kekasih tengah menghabiskan waktunya bersama.

Itu mungkin hanya sebuah mimpi.
Tapi bagaimana jika untuk sebuah mimpi sekalipun Einstein benar?
Bahwa waktu adalah sebuah relativitas,
bahwa waktu sesekali tengah melakukan sebuah kecurangan
bergerak cepat atau melambat,
berbelok atau lurus,
tanpa pernah kita ketahui setelahnya terjadi pada waktu-waktu kita.

Lalu siapa yang akan mengira ini?

Bahwa berkali-kali dunia sempat terhenti untuk pertemuan-pertemuan kita
bahwa mungkin ratusan musim, ribuan kali rotasi,atau bahkan jutaan kali revolusi
telah melampaui kita dalam setiap perbincangan kita,
setiap kesenangan kita,
dan setiap kepedihan kita.

Bahwa triliyunan butir hujan kemudian telah saling berebut 
untuk turun lebih cepat atas langkah kita 
yang telah tiba pada puncak-puncak sejarah kita.

Bahwa di dalamnya puluhan bintang telah berpindah ratusan tahun cahaya
Ketika tangan-tangan kita mulai saling merangkul dalam jeda untuk setiap kalimat.

Kami bersamamu kawan sekalipun langit yang menentang kita.
Dan itu semua menjadi sebuah penggalan berjuta cerita hidup kita.

Setiap detiknya yang telah bermakna ratusan tahun.
Setiap langkahnya yang telah bermakna puluhan tahun cahaya
Ia akan tinggal dan sesekali dibagikan
terus menemani kita dan terkadang menggoda kita mesra.

Hingga kemudian nama-nama kita mulai diperdengarkan oleh sang pemilih waktu.
Ia yang meminta kembali sisa waktu kita.  

Dan belakangan aku baru mengerti tentang hari ini
bahwa seperti pada panas yang telah memaknai dingin
gelap yang memaknai terang
keburukan yang telah memaknai kebaikan
serta permusuhan yang telah memaknai pertemanan.

Sebuah perpisahan akan memaknai sebuah pertemuan.

Waktu-waktu kita
Sebuah semesta yang pernah berakhir 
kembali untuk kita.

by: Irvan Aulia
Lipatan Waktu


NOL SEMBILAN

Apa yang membuat seseorang menjadi sangat berarti. Patut disanjung dan layak untuk dikenang.
Apakah ia harus selalu berupa lembaran teks proklamasi yang dibacakan di sebuah jalan pegangsaan,
Ataukah juga ia harus berupa pekikan revolusi,
temuan-temuan ideologis,
atau juga harus berupa proyektil yang menghantam tempurung kita,
saat kita tengah mengepalkan tangan dalam sebuah long march menuju senayan.

Karena di tempat ini,
ketika aku menyadari bahwa setiap makna akan selalu lahir bersama apapun yang ada.
Sebuah pengertian lain tentangnya tiba di hadapanku.
Bahwa barangkali pada masing-masing tempatnya, setiap manusia selalu layak untuk dikenang,
selalu patut untuk disanjung.
Bahwa setiap manusia telah menjadi berarti dari setiap pertama kali mereka terlahir.

Dan pengertian-pengertian itu menjadi sesuatu yang selalu aku temui disini.
Di segala hal yang pernah kita lewati bersama.
Di setiap satuan penggalan waktu kita.

Tanah-tanah itu,
sebuah tempat saat kita pernah berjalan mendekat
membangun sebuah cerita dan mulai meneriakkan kalimat-kalimat menggetarkan itu.

Kita adalah Nol dan Sembilan.
Tempat dimana angka terendah dan angka tertinggi bisa duduk bersama,
membentuk sebuah deretan
tempat segala kemungkinan nilai dapat muncul di dalamnya.

Kita bukan anak-anak penerus tahta,
tempat segala keagungan ditentukan oleh garis keturunan.
Kita adalah kelahiran yang ganjil,
tempat hirarki yang telah mendefinisi ulang kebenaran,
dan jauh lebih penting dari segala perbedaan yang selalu kita terima bersama. 

Kita bukanlah para pemenang,
yang memilih tidur karena merasa segalanya sudah berakhir.
Kita adalah pejuang,
ketika pertarungan selalu menjadi satu-satunya alasan manusia untuk bertahan hidup.

Kita tidak akan pernah menjadi mereka.
Kita bukan mereka.
Kita adalah Nol dan Sembilan.

-----

Terima kasih dua ribu sembilan.
Hari ini saya masih dua ribu sembilan,
besok saya menjadi manusia biasa lagi.

-----

Hari ini di pintu yang sama saat kita memulai segalanya.
Masing-masing kita kembali melewatinya,
kembali berjabat tangan seperti waktu itu.
Tapi bukan untuk memulai keberartian kita.

Kita berpamitan.
Bahwa di titik ini setiap dari kita memang seharusnya telah berlari menjadi arti yang lain
Melesat menuju semesta,
ke sudut-sudut langit yang mungkin tak akan lagi sama.

Terima kasih atas waktu-waktu itu,
cerita-cerita itu, 
dan segala maaf itu.

Senang bisa mengenal kalian semua

-----

by: Irvan Aulia




Bukan Arena Balap

Masyaallah.. What a wonderfull day!!! 
Dalam satu hari ada begitu banyak kabar bahagia, dua diantaranya adalah undangan pernikahan adik kelas dan berita kehamilan sahabat partner. Ah, masyaallah.. rasanya ingin mengulang-ulang bait cinta "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. 55:55). Dan ketika membuka newsfeed facebook, begitu banyak kabar bahagia lainnya mulai dari kelulusan, beasiswa studi, pekerjaan baru dan kabar-kabar bahagia lainnya.

Namanya hidup ya, selalu tak terduga. Allah seneng banget ngasih kejutan-kejutan sama hambanya.
Ada yang udah lamaaa pacaran, bertahun-tahun tapi belum juga nikah; ada yang ga pernah kedengeran deket sama lawan jenis, eh tetiba sebar undangan pernikahan. Ada yang udah lulus kuliah dari jaman kapan, belum nikah-nikah; eh ini yang baru mau lulus tiba-tiba udah nikah aja. Ada yang nikah udah bertahun-tahun, belum juga dikasih keturunan; eh, yang lain ada yang baru nikah sebulan udah dikasih keturunan. Ada yang kerja bertahun-tahun, nabung buat beli mobil belum kesampean juga; eh yang lain baru kerja sebulan udah bisa beli mobil sama nyicil rumah. Ada seorang kakek sudah sepuh sampai berumur seratus sekian, tapi masih diberi umur, tapi ada juga anak mungil nan lucu yang baru belajar berjalan harus diambil oleh sang Maha Kuasa mendahului orangtuanya. Entah sampai kapan pembandingan-pembandingan itu kita lakukan dalam hidup ini, mungkin sampai saat waktu kita habis di dunia.

Hidup ini memang bukanlah arena balap yang setiap manusia memiliki garis start dan garis finish yang sama dengan arena balap yang sama pula. Tidak seperti itu. Setiap manusia memiliki track-nya masing-masing. Rizkinya, jodohnya, amal unggulannya, jalan hidupnya, semuanya Allah atur berbeda dari satu manusia dengan yang lainnya. Masing-masing telah Allah desain secara khusus untuk manusia tertentu. Sangat spesial. Saya menyebutnya 'momen kehidupan'. 

Setiap manusia memiliki momen kehidupan yang spesifik Allah atur hanya untuk dirinya. Mulai sejak kapan sel sperma ayahnya bertemu secara rumit dan kompleks dengan sel telur ibunya hingga kapan ia dikembalikan pada sang Pemilik semesta. Berbagai fase kehidupan dilaluinya, mulai dari balita, kecil, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Beberapa diantaranya hanya merasakan hingga pada fase remaja atau dewasa saja atau bahkan hanya sampai pada fase balita. Berbagai perasaan mulai dirasakannya, mulai dari bahagia, senang, kecewa, sedih, marah, gembira. Beberapa mampu melewati setiap perguliran rasa tadi; bersyukur kala bagia dan gembira, bersabar ketika sedih dan kecewa. Beberapa terperangkap dalam permainan rasa; tak mampu mawas diri ketika bahagia, tak kuasa bangkit ketika kesedihan menerpa. Berbagai cita-cita dan impian dalam hidup muncul seiring dengan bertambahnya usia, tentang rencana studi, tentang pekerjaan, tentang jodoh, tentang kebutuhan akan tempat tinggal, tentang jabatan, dan capaian-capaian lainnya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya dengan baik dan Allah mengizinkannya mencapai impiannya. Beberapa mampu menetapkan target beserta tahapan-tahapannya, namun Allah menunjukkan beberapa jalan baru yang mesti dilaluinya. Beberapa hanya bisa menetapkan target, tapi lupa pada tahapan-tahapan yang mesti ditekuni, lalu ketika target itu meleset ia terpuruk dan tak mampu bangkit kembali, terlebih ia selalu membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian yang telah oranglain dapatkan.

Tak semua orangtua diberikan anak yang penurut; yang jalan hidupnya sesuai dengan keinginan kedua orangtuanya. Pun tak semua anak dianugerahi orangtua yang pengertian dan mampu memberikan sebaik-baik bekal pada anaknya. Tak semua anak bisa sekolah di sekolah unggulan, pun tak semua anak lulusan sekolah unggulan memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan anak lainnya. Tak semua orang bisa berkuliah terlebih di universitas-universitas unggulan baik negeri maupun swasta, pun tak semua orang-orang sukses di dunia ini lahir dari almamater-almamater unggulan. Yang bekerja di perusahaan asing dengan gaji puluhan juta perbulan, tak menjamin lebih bahagia daripada seseorang yang bekerja lepas menjadi buruh harian. Yang memiliki jaminan hari tua tak menjamin hidupnya lebih bahagia dibandingkan yang terus mencari nafkah hingga akhir hayat.

See? Betapa hidup ini akan terasa begitu sempit ketika kita selalu membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang oranglain peroleh. Betapa hidup tak akan pernah selesai ketika kita selalu melirik kanan-kiri dan tak pernah bersyukur atas apa yang telah diraih. Percayalah, momen kehidupan setiap manusia itu sungguh telah dirancang begitu spesifik, spesial pada setiap individunya. Maka nikmatilah hidupmu. Tugas kita adalah berusaha semaksimal yang bisa kita lakukan, kemudian ketika takdir Allah telah datang, tugas kita selanjutnya adalah bertawakal. Ketika kita telah berusaha, maka tak perlu risau dengan hasilnya. Yang perlu kita risaukan adalah ketika kita tak mau berusaha untuk menjemput takdir Allah.

Ada tiga hal yang selalu dipesankan suami kepada saya; Ikhlas, Syukur, dan Sabar. Ikhlas atas segala apapun yang terjadi dalam hidup kita, maka langkah kita akan terasa ringan, menjalani hidup dengan bahagia tanpa beban dan tertekan, karena kita ikhlas menjalani hidup ini. Syukur atas segala apapun takdir yang Allah gariskan untuk kita. Tak ada sesuatupun yang Allah tetapkan pada hamba-Nya melainkan Ia ingin kita belajar dan bertafakur atas setiap ketetapannya. Maka Bersyukurlah atasnya. Sabar menjalani setiap fase kehidupan yang kata banyak orang seperti roda yang terus berputar. Ketika kita merasa hidup ini begitu berat untuk dijalani, sesak untuk dilalui, bersabarlah. Karena malam yang semakin gelap menandakan fajar yang sebentar lagi akan tiba.

" Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanm-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(QS. Al-Hadid : 20)



Monday, 29 September 2014

Imbas Sosial Media

Tiba-tiba saya teringat sebuah kontemplasi pada masa awal-awal pernikahan. Sejak menikah, saya menemukan teman diskusi baru yang sangat seru sehingga begitu banyak yang sering kami diskusikan, bahkan dalam perjalanan di motor sekalipun.

Suatu hari dalam sebuah perbincangan, kami membahas tentang seorang kenalanku yang begitu sensitif jika dalam sebuah forum dibahas tentang pernikahan, kapan menikah dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada. Lalu perbincangan melebar pada newsfeed facebook yang diwarnai oleh beberapa postingan pernikahan dan para pengantin baru, yang juga diwarnai oleh komentar-komentar candaan kecemburuan mereka yang masih single. Beberapa ada yang agak frontal membahas dalam sebuah note facebook isinya kurang lebih menganjurkan pada para pengantin baru untuk tidak berlebihan dalam mem-posting status-status mereka. Hmm.. segitunya banget ya.. Tapi jujur, saya sendiri yang waktu itu belum menikah lebih santai sih menanggapinya, bahkan jika itu teman dekat, malah jadi ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka, meski kadang ada perasaan mupeng juga. Haha. Saya hanya berpikir itu ungkapan bahagia seseorang atas fase hidup yang baru saja dilewatinya, sama seperti orang yang baru wisuda, baru dapat beasiswa ke luar negeri, atau baru selesai ujian semester. Meski memang akan menjadi kurang nyaman, ketika seseorang melakukannya secara berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu selalu tidak baik bukan?

Hanya saja era sosial media seperti sekarang ini memungkinkan setiap orang bisa dengan leluasa membagikan setiap perasaannya dan tanpa diminta kita bisa mengetahui kabar seorang teman yang nun jauh disana dari setiap postingan atau status-statusnya. Tak ada yang bisa membatasi masing-masing kecuali kebijaksanaan si pengguna media sosial tersebut, kecuali di-block atau unfriend. haha

Jika dihubungkan dengan cerita sebelumnya, sebetulnya sosial media menguji sikap dan kedewasaan kita. Pertama, tentang bagaimana bisa sebijak mungkin memposting sesuatu sesuai porsinya, jangan sampai berlebihan. Misalnya di masa pilpres kemarin, betapa muaknya kita karena begitu banyak orang yang memposting tentang calon A atau calon B beberapa kali dalam sehari. Kita memang mesti lebih bijak membagi hal yang menurut kita menarik, secara proporsional saja.
Kedua, tentang bagaimana kita bisa tenggang rasa atas perasaan yang dirasakan teman kita. Bukankah itu sebuah konsekuensi logis dari sebuah pertemanan? Tentang kabahagiaan mereka, tentang kesedihan mereka, tentang kebingungan mereka. Have fun aja. Ikut bahagia atas kebahagiaan oranglain kan sebuah kebaikan juga.

Ya namanya juga hidup bermasyarakat. Perlu tenggang rasa yang tinggi. :D


Wednesday, 24 September 2014

12 week

Assalamu'alaikum Sayang...
Hari rabu yang cerah, secerah hati Bunda yang telah melihat perkembanganmu kemarin sore. :)

Hari selasa kemarin akhirnya Bunda cek kandungan ke dokter setelah diundur berhari-hari. Entah kenapa cek kemarin rasanya menjadi momen cek kandungan paling membahagiakan sejauh ini. Kamu sudah semakin besar sekarang, sayang. Di minggu ke 12 ini, kepala dan badanmu sudah mulai terbentuk. Panjangmu sekarang 4,8 cm. Kemarin bunda bisa melihat detak jantungmu. Dan yang paling menakjubkan adalah saat diusg, kamu melakukan gerakan! Ah, lucu sekali sayang. Seakan kamu ingin menyapa ayah dan bunda saat itu, "Hai Ayah! Hai Bunda! Aku sehat loooh..". hehe. Saking senengnya, ayahmu sampai bersuara, "Wah, itu dia gerak!". Kamu tau sayang, ayahmu itu kan orangnya tidak terlalu ekspresif, jarang sekali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi kemarin itu, mungkin karena terlalu terkejut dengan tingkahmu, ia sampai kaget dan mengeluarkan suara. hehe

Tetep sehat ya sayang. Dokter bilang kamu sehat dan baik-baik saja. Bunda juga sudah naik berat badannya. Kita terus bekerjasama ya sayang sampai kamu bisa bertemu ayah dan bunda di dunia. Peluk dan cium dari ayah dan bunda :)

----

Adalah sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat seorang manusia tumbuh di dalam tubuhmu. Merasakan perkembangannya, mengikuti setiap perubahannya, dan beradaptasi dengan tubuhmu yang baru saja kedatangan tamu baru di salah satu organnya. Kehadirannya menjadi sebuah tanda kuasa-Nya. Kehadirannya membuatmu selalu ingin menjaga tubuhmu dari berbagai gangguan luar. Kehadirannya yang membuat suamimu menjadi semakin hangat dan cinta. 

Tubuhmu harus banyak beradaptasi atas kehadirannya. Rasa mual, pusing dan lemas sepanjang hari menjadi sebuah rutinitas yang membuatmu harus menyesuaikan diri tapi itu tak pernah sedikitpun membuatmu merasa terbebani. Di awal-awal seperti ini menjadi hal yang tak mudah bagimu, perubahan emosimu, tentang kondisi fisikmu, hingga perubahan-perubahan yang tak bisa kau lihat bahkan tak bisa kau rasakan terjadi dengan dahsyat di dalam tubuhmu. Semuanya beradaptasi, bahkan dia yang baru saja hadir, juga sedang sama-sama beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kau tau? It's so amazing. Sekarang kau bahkan tak pernah benar-benar sendiri dalam hidupmu karena ada seseorang di dalam rahimmu yang selalu ikut kemanapun kamu pergi. Yang merasakan apapun yang sedang kau rasakan. Yang bahagia jika kau bahagia, dan merasa sedih jika kau sedih. Dan untuk itulah kau selalu berusaha melawan segala kelabilan emosimu untuk bisa selalu membahagiakan diri karena kau tahu ada yang sedang memperhatikanmu sekarang.

Hingga pada akhirnya yang kau inginkan hanyalah kesehatan dan keselamatannya hingga saat bertemu denganmu di dunia. 


Friday, 19 September 2014

Hari ke-13

Assalamu'alaikum sayang...
Ada kabar gembira! tapi bukan tentang kulit manggis (kalau kamu ga ngerti, nanti bunda jelasin yaa ) :D
Kabar gembiranya adalaaah... hari ini ayahmu ke Bandung! Yeay!!! Can't wait to see him :) Dan karena itu juga, jadwal mengunjungimu diundur jadi hari senin nanti. Ah senangnya, akhirnya bunda akan tetap melihat kamu bersama ayah. :)

Sayang, yang kuat dan sehat ya disana.. Kalau kamu kuat, insyaallah kita bisa segera menyusul ayah tinggal di Solo. Sebetulnya memang bunda ga sanggup sayang, kalau harus berjauhan dengan ayahmu. Ndak kuaaat.. hehehe. Hmm.. yaa bagaimanapun kondisimu nanti, kami akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Bunda juga selalu berusaha memberikan banyak afirmasi positif untukmu, suapaya kamu tenang, sehat, dan bahagia di dalam sana. Dan salah satu penambah afirmasi positif bagi bunda adalah ayahmu, kekeke bandel ya bunda? Yaaa.. gimana lagi doong bundanya ingin bareng sama ayah teruss..

Kita sama-sama berdoa ya sayang, semoga keputusan Ayah dan Bunda ini yang terbaik untuk semuanya, karena sesungguhnya perjuangan itu pasti akan selalu kita lakukan. Dimanapun kita berada. Bunda siap berjuang bersamamu sayang, bersama ayah. :)

Oke, baik-baik ya disana..
Salam peluk dan cium dari ayah dan bunda

4 Bulan yang Lalu

Salah satu tingkatan ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam islam) adalah ta'awun atau saling menolong. Itulah mengapa saudara atau teman itu teramat penting dalam hidup ini. Teringat dulu ketika menyelesaikan tugas akhir, teman-teman asrama baik itu putra maupun putri, dengan ringan hati membantu saya mulai dari menggunting hingga display karya untuk sidang kelulusan. Sungguh, itu karya gotong royong satu asrama sebetulnya. Maka ketika saya mendapatkan nilai yang memuaskan dari dosen-dosen penguji, sesungguhnya nilai itu adalah untuk banyak orang, untuk satu asrama. Itulah berkah gotong royong. :D

Bala bantuan asrama dan display tugas akhir

Dan satu lagi berkah ukhuwah yang ingin kuceritakan disini, yaitu saat pernikahanku dengan Mas tercinta. :) Berkat mereka, sahabat-sahabat terbaik kami, hari yang sangat spesial bagi kami bisa berjalan dengan baik dan insyaallah berkah. Mereka yang ditengah kesibukan rutinitasnya mau ikut membantu terlaksananya 'acara besar' kami.
----------

Geng El-Hawa yang kece, Fadhila A. Arimurti yang puluhan jamnya dihabiskan untuk membuat video kami, sampai leptopnya pingsan saat rendering video, makasih banyaaaaak dileh, semoga Allah mudahkan studi S2-nya dan dipersingkat masa galaunya, haha. Makasih banyak atas video kece ini akmalhasri. :D dan Mega Aulia Insani yang berhari-hari harus bersahabat dengan jaringan internet demi website invitation kami, Thank's a lot megster, banyak yang suka our story berkat ulasan tangan dinginmu, aseek. Semoga Allah mudahkan peranmu sebagai 'ibu' di rumah dan kelak jadi ibu yang dahsyat ketika waktu yang sebenarnya telah tiba. Makasih megs, ini kece bangets 'our website invitation'.

Teman-teman kriya, El-Hawa itu 2 orang yang tepat di sebelah saya :D

Geng Newga, makasih banyak bisa bantu banyaak sekali dengan seragam ungunya; Ile yang meski lagi sibuk dengan koAs-nya, Ria yang jauh-jauh datang dari jekardah, Risma yang lagi sibuk dengan S2-nya, Murni yang akhirnya menggantikan kembarannya Myrna, Nina dan Ririn yang lagi hamil guede, Rahmi yang hari itu ada ujian dokter, mau bersusah-susah jadi tim konsumsi. Makasih banyakk.. makasih banyakkk.. Semoga kelak kita jadi ibu-ibu kece dan persahabatan ini teruuus langgeng sampai surga nanti. Aamiin

NewGA
Geng 3I, makasih banyak kakak-kakak semua. hehe. Kak Zain yang bersedia jadi korlap padahal istrinya lagi hamil tua. Kak Garin yang jauh-jauh dari luar kota, Kang Kamal plus Kak Amien, yang baik hati mengantar keluarga besar Mas Akmal selama di Bandung. Kak Eric dan Kak Amien (lagi) yang udah jepret-jepret suasana hari H plus bantu-bantu siapin penginapan sebelum hari-H. Kang Budi yang berkali-kali menghubungi ustadz untuk khutbah nikah. Makasiiih banyakk.. Semoga kalian semua semakin sukses dimanapun kalian berada. 
3I edisi lengkap tapi ga fullteam 
Geng Kafilah MTQ ITB, Ikhyari sebagai qori', Muzammil dan Dihya pagar bagus pembawa payung, heheh, Afifah yang semangat abis dan Ulfa yang meski baru dihubungi beberapa hari sebelum hari-H, 2 pagar yang ayu, hehehe.. Makasih banyak telah membantu.. Ah sebenernya bahkan kafilah MTQ ini telah menjadi jalan Allah bertemunya kami berdua. hehehe. Semoga cita-cita mensyiarkan Qur'an di kampus gajah ini semakin dahsyat. Aamiin

Kafilah MTQ ITB 
Geng Asrama; Agis dan Ardian yang bersedia jadi pengaman yang tangguh, Zaky yang direpotkan dengan urusan logistik, punten jek kalau kamu banyak bingung dan Tami yang udah bantu jualan bakso. hehe. Terima kasih banyakk.. semoga yang belum segera menyusul :D dan selamat Jek, karena telah menyusul. :D

Asrama Salman 2012
Ini dia, Geng 'Syafina Wedding' (aamiin), Sapi, Ile, Gilang yang udah merelakan banyak waktunya mulai ngonsep acara dari nol sampai acaranya selesai. Makasih.. makasih banyak.. Semoga cita-cita kita ini selalu Allah tunjukkan jalannya dan bisa disegerakan terwujudnya. Aamiin. Oia, Yasir, om MC, makasih udah cuap-cuap berjam-jam memandu acara kami.. Terima kasih banyak, banyak sekaliiii

All crew
----------

Alhamdulillah hampir 4 bulan berlalu dan sekarang saya sedang mengandung usia sekitar 10 minggu, buah cinta kami. Puji syukur pada-Nya karena niat baik kami akhirnya berlabuh di kapal yang sama. Samudera kehidupan yang luas tentu baru akan kami arungi. Memiliki saudara-saudara terbaik seperti kalian adalah rizki yang selalu kami syukuri. Semoga Allah senantiasa memudahkan rencana-rencana hidup kalian, sebagaimana kalian telah memudahkan urusan kami. Maafkan jika ada banyak yang kurang berkenan dari kami selama berlangsungnya acara. Maafkan juga  karena tak ada yang bisa kami berikan selain ucapan terima kasih. Semoga Allah menggantikan waktu, tenaga dan pikiran yang kalian berikan dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin

Mungkin bisa saja semua ini tak perlu memakai embel-embel ukhuwah islamiyah karena mungkin di luar sana juga banyak pertemanan bermakna tanpa ikatan agama, tapi semoga niatan untuk menjadikan ikatan pertemanan ini sebagai ikatan persaudaraan karena keimanan menjadikan setiap kebaikan yang kita lakukan untuk saudara kita berbuah pahala dari Allah. Aamiin.

Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga karena telah menjadi bagian dari kebahagiaan kami. Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat pada kita semua. Aamiin.


----------

"Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu para Nabi dan bukan pada syuhada'. Para Nabi dan syuhada' merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat. Para sahabat bertanya: 'Siapakah mereka wahai Rasulullah?', Beliau menjawab, ' Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia bersedih', kemudian beliau membaca ayat ini; 'Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
QS. Yunus : 62


Followers