Wednesday, 24 September 2014

12 week

Assalamu'alaikum Sayang...
Hari rabu yang cerah, secerah hati Bunda yang telah melihat perkembanganmu kemarin sore. :)

Hari selasa kemarin akhirnya Bunda cek kandungan ke dokter setelah diundur berhari-hari. Entah kenapa cek kemarin rasanya menjadi momen cek kandungan paling membahagiakan sejauh ini. Kamu sudah semakin besar sekarang, sayang. Di minggu ke 12 ini, kepala dan badanmu sudah mulai terbentuk. Panjangmu sekarang 4,8 cm. Kemarin bunda bisa melihat detak jantungmu. Dan yang paling menakjubkan adalah saat diusg, kamu melakukan gerakan! Ah, lucu sekali sayang. Seakan kamu ingin menyapa ayah dan bunda saat itu, "Hai Ayah! Hai Bunda! Aku sehat loooh..". hehe. Saking senengnya, ayahmu sampai bersuara, "Wah, itu dia gerak!". Kamu tau sayang, ayahmu itu kan orangnya tidak terlalu ekspresif, jarang sekali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi kemarin itu, mungkin karena terlalu terkejut dengan tingkahmu, ia sampai kaget dan mengeluarkan suara. hehe

Tetep sehat ya sayang. Dokter bilang kamu sehat dan baik-baik saja. Bunda juga sudah naik berat badannya. Kita terus bekerjasama ya sayang sampai kamu bisa bertemu ayah dan bunda di dunia. Peluk dan cium dari ayah dan bunda :)

----

Adalah sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat seorang manusia tumbuh di dalam tubuhmu. Merasakan perkembangannya, mengikuti setiap perubahannya, dan beradaptasi dengan tubuhmu yang baru saja kedatangan tamu baru di salah satu organnya. Kehadirannya menjadi sebuah tanda kuasa-Nya. Kehadirannya membuatmu selalu ingin menjaga tubuhmu dari berbagai gangguan luar. Kehadirannya yang membuat suamimu menjadi semakin hangat dan cinta. 

Tubuhmu harus banyak beradaptasi atas kehadirannya. Rasa mual, pusing dan lemas sepanjang hari menjadi sebuah rutinitas yang membuatmu harus menyesuaikan diri tapi itu tak pernah sedikitpun membuatmu merasa terbebani. Di awal-awal seperti ini menjadi hal yang tak mudah bagimu, perubahan emosimu, tentang kondisi fisikmu, hingga perubahan-perubahan yang tak bisa kau lihat bahkan tak bisa kau rasakan terjadi dengan dahsyat di dalam tubuhmu. Semuanya beradaptasi, bahkan dia yang baru saja hadir, juga sedang sama-sama beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kau tau? It's so amazing. Sekarang kau bahkan tak pernah benar-benar sendiri dalam hidupmu karena ada seseorang di dalam rahimmu yang selalu ikut kemanapun kamu pergi. Yang merasakan apapun yang sedang kau rasakan. Yang bahagia jika kau bahagia, dan merasa sedih jika kau sedih. Dan untuk itulah kau selalu berusaha melawan segala kelabilan emosimu untuk bisa selalu membahagiakan diri karena kau tahu ada yang sedang memperhatikanmu sekarang.

Hingga pada akhirnya yang kau inginkan hanyalah kesehatan dan keselamatannya hingga saat bertemu denganmu di dunia. 


Friday, 19 September 2014

Hari ke-13

Assalamu'alaikum sayang...
Ada kabar gembira! tapi bukan tentang kulit manggis (kalau kamu ga ngerti, nanti bunda jelasin yaa ) :D
Kabar gembiranya adalaaah... hari ini ayahmu ke Bandung! Yeay!!! Can't wait to see him :) Dan karena itu juga, jadwal mengunjungimu diundur jadi hari senin nanti. Ah senangnya, akhirnya bunda akan tetap melihat kamu bersama ayah. :)

Sayang, yang kuat dan sehat ya disana.. Kalau kamu kuat, insyaallah kita bisa segera menyusul ayah tinggal di Solo. Sebetulnya memang bunda ga sanggup sayang, kalau harus berjauhan dengan ayahmu. Ndak kuaaat.. hehehe. Hmm.. yaa bagaimanapun kondisimu nanti, kami akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Bunda juga selalu berusaha memberikan banyak afirmasi positif untukmu, suapaya kamu tenang, sehat, dan bahagia di dalam sana. Dan salah satu penambah afirmasi positif bagi bunda adalah ayahmu, kekeke bandel ya bunda? Yaaa.. gimana lagi doong bundanya ingin bareng sama ayah teruss..

Kita sama-sama berdoa ya sayang, semoga keputusan Ayah dan Bunda ini yang terbaik untuk semuanya, karena sesungguhnya perjuangan itu pasti akan selalu kita lakukan. Dimanapun kita berada. Bunda siap berjuang bersamamu sayang, bersama ayah. :)

Oke, baik-baik ya disana..
Salam peluk dan cium dari ayah dan bunda

4 Bulan yang Lalu

Salah satu tingkatan ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam islam) adalah ta'awun atau saling menolong. Itulah mengapa saudara atau teman itu teramat penting dalam hidup ini. Teringat dulu ketika menyelesaikan tugas akhir, teman-teman asrama baik itu putra maupun putri, dengan ringan hati membantu saya mulai dari menggunting hingga display karya untuk sidang kelulusan. Sungguh, itu karya gotong royong satu asrama sebetulnya. Maka ketika saya mendapatkan nilai yang memuaskan dari dosen-dosen penguji, sesungguhnya nilai itu adalah untuk banyak orang, untuk satu asrama. Itulah berkah gotong royong. :D

Bala bantuan asrama dan display tugas akhir

Dan satu lagi berkah ukhuwah yang ingin kuceritakan disini, yaitu saat pernikahanku dengan Mas tercinta. :) Berkat mereka, sahabat-sahabat terbaik kami, hari yang sangat spesial bagi kami bisa berjalan dengan baik dan insyaallah berkah. Mereka yang ditengah kesibukan rutinitasnya mau ikut membantu terlaksananya 'acara besar' kami.
----------

Geng El-Hawa yang kece, Fadhila A. Arimurti yang puluhan jamnya dihabiskan untuk membuat video kami, sampai leptopnya pingsan saat rendering video, makasih banyaaaaak dileh, semoga Allah mudahkan studi S2-nya dan dipersingkat masa galaunya, haha. Makasih banyak atas video kece ini akmalhasri. :D dan Mega Aulia Insani yang berhari-hari harus bersahabat dengan jaringan internet demi website invitation kami, Thank's a lot megster, banyak yang suka our story berkat ulasan tangan dinginmu, aseek. Semoga Allah mudahkan peranmu sebagai 'ibu' di rumah dan kelak jadi ibu yang dahsyat ketika waktu yang sebenarnya telah tiba. Makasih megs, ini kece bangets 'our website invitation'.

Teman-teman kriya, El-Hawa itu 2 orang yang tepat di sebelah saya :D

Geng Newga, makasih banyak bisa bantu banyaak sekali dengan seragam ungunya; Ile yang meski lagi sibuk dengan koAs-nya, Ria yang jauh-jauh datang dari jekardah, Risma yang lagi sibuk dengan S2-nya, Murni yang akhirnya menggantikan kembarannya Myrna, Nina dan Ririn yang lagi hamil guede, Rahmi yang hari itu ada ujian dokter, mau bersusah-susah jadi tim konsumsi. Makasih banyakk.. makasih banyakkk.. Semoga kelak kita jadi ibu-ibu kece dan persahabatan ini teruuus langgeng sampai surga nanti. Aamiin

NewGA
Geng 3I, makasih banyak kakak-kakak semua. hehe. Kak Zain yang bersedia jadi korlap padahal istrinya lagi hamil tua. Kak Garin yang jauh-jauh dari luar kota, Kang Kamal plus Kak Amien, yang baik hati mengantar keluarga besar Mas Akmal selama di Bandung. Kak Eric dan Kak Amien (lagi) yang udah jepret-jepret suasana hari H plus bantu-bantu siapin penginapan sebelum hari-H. Kang Budi yang berkali-kali menghubungi ustadz untuk khutbah nikah. Makasiiih banyakk.. Semoga kalian semua semakin sukses dimanapun kalian berada. 
3I edisi lengkap tapi ga fullteam 
Geng Kafilah MTQ ITB, Ikhyari sebagai qori', Muzammil dan Dihya pagar bagus pembawa payung, heheh, Afifah yang semangat abis dan Ulfa yang meski baru dihubungi beberapa hari sebelum hari-H, 2 pagar yang ayu, hehehe.. Makasih banyak telah membantu.. Ah sebenernya bahkan kafilah MTQ ini telah menjadi jalan Allah bertemunya kami berdua. hehehe. Semoga cita-cita mensyiarkan Qur'an di kampus gajah ini semakin dahsyat. Aamiin

Kafilah MTQ ITB 
Geng Asrama; Agis dan Ardian yang bersedia jadi pengaman yang tangguh, Zaky yang direpotkan dengan urusan logistik, punten jek kalau kamu banyak bingung dan Tami yang udah bantu jualan bakso. hehe. Terima kasih banyakk.. semoga yang belum segera menyusul :D dan selamat Jek, karena telah menyusul. :D

Asrama Salman 2012
Ini dia, Geng 'Syafina Wedding' (aamiin), Sapi, Ile, Gilang yang udah merelakan banyak waktunya mulai ngonsep acara dari nol sampai acaranya selesai. Makasih.. makasih banyak.. Semoga cita-cita kita ini selalu Allah tunjukkan jalannya dan bisa disegerakan terwujudnya. Aamiin. Oia, Yasir, om MC, makasih udah cuap-cuap berjam-jam memandu acara kami.. Terima kasih banyak, banyak sekaliiii

All crew
----------

Alhamdulillah hampir 4 bulan berlalu dan sekarang saya sedang mengandung usia sekitar 10 minggu, buah cinta kami. Puji syukur pada-Nya karena niat baik kami akhirnya berlabuh di kapal yang sama. Samudera kehidupan yang luas tentu baru akan kami arungi. Memiliki saudara-saudara terbaik seperti kalian adalah rizki yang selalu kami syukuri. Semoga Allah senantiasa memudahkan rencana-rencana hidup kalian, sebagaimana kalian telah memudahkan urusan kami. Maafkan jika ada banyak yang kurang berkenan dari kami selama berlangsungnya acara. Maafkan juga  karena tak ada yang bisa kami berikan selain ucapan terima kasih. Semoga Allah menggantikan waktu, tenaga dan pikiran yang kalian berikan dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin

Mungkin bisa saja semua ini tak perlu memakai embel-embel ukhuwah islamiyah karena mungkin di luar sana juga banyak pertemanan bermakna tanpa ikatan agama, tapi semoga niatan untuk menjadikan ikatan pertemanan ini sebagai ikatan persaudaraan karena keimanan menjadikan setiap kebaikan yang kita lakukan untuk saudara kita berbuah pahala dari Allah. Aamiin.

Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga karena telah menjadi bagian dari kebahagiaan kami. Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat pada kita semua. Aamiin.


----------

"Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu para Nabi dan bukan pada syuhada'. Para Nabi dan syuhada' merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat. Para sahabat bertanya: 'Siapakah mereka wahai Rasulullah?', Beliau menjawab, ' Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia bersedih', kemudian beliau membaca ayat ini; 'Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
QS. Yunus : 62


Monday, 15 September 2014

Hari ke-9

Assalamu'alaikum sayang.. Apa kabar hari ini? Bunda penasaran deh sekarang dedek udah sebesar apa yaa.. hehe. Tapi rasa penasaran ini akan terjawab tiga hari lagi, karena nanti bunda akan periksa ke dokter. Tapi mungkin ini kali pertama bunda nengok kamu tanpa ayah. Tak apa ya sayang, nanti fotomu bunda kirim ke ayah ko! :)

Sayang, ini hari ke-9 Ayah pindah ke Solo. Hiks, jadi ingin nangis lagi.. Sepi banget rasanya, pasti kamu juga merasa sepi kan? udah sembilan hari ini ga ada yang cium kamu ya sayang? hehe, Bunda cuman bisa gendong kamu kemana-mana sambil ngelus-elus, tapi ga bisa cium kamu sayang. Gak nyampe, hehe.. Sabar ya, nanti kalau Ayah pulang, pasti ada yang cium kamu lagi. :) 

Hmm.. Bunda curhat sama kamu ga apa ya, Sayang. Kelak ketika kamu lahir ke dunia pun Bunda akan banyak bercerita dan curhat banyak hal padamu. Pasti seru sekali berbagi cerita dan menikmati setiap episode hidup bersamamu sayang.. Aah, can't wait.. :D

Hari-hari tanpa Ayahmu menjadi hari yang berat buat Bunda, Sayang. Saat hari pertama Ayahmu pindah hampir setiap Bunda melewati titik tempat kami biasa bersama, pasti mata Bunda langsung berkaca-kaca bahkan terkadang sampai meneteskan air mata. Setiap malam sampai hari ini, Bunda masih saja mengigau dan memanggil-manggil Ayahmu. Hehe, tampak berlebihan ya Sayang, tapi itu benar terjadi. Ayahmu seorang suami yang luar biasa. Dia selalu bersikap baik dan lembut pada Bunda. Setiap tatapannya, sikapnya, kata-katanya jelas terlihat kasih sayangnya pada Bunda. Insyaallah kelak Ia akan menjadi Ayah yang hebat untukmu, Sayang. Ayahmu orang yang sangat peduli, pada siapapun, terlebih pada orang-orang yang dia sayangi. Ayahmu orang yang sangat sabar dan tenang, Bunda sangat bersyukur karena Allah menjodohkan Bunda dengan Ayahmu. Ketika Bunda sakit, Ayahmu selalu sabar membantu Bunda melakukan banyak hal, menjaga Bunda sampai akhirnya sembuh. Ayahmu betul-betul sosok yang Bunda harapkan menjadi pendamping hidup, bahkan lebih dari yang Bunda harapkan. Itulah mengapa sayang, berat sekali bagi Bunda untuk berpisah jarak dengan Ayahmu. Beraat sekali..

Sayang, Bunda menceritakan ini bukan semata ingin menunjukkan kelemahan Bunda padamu. Tapi Bunda hanya ingin kamu tahu bahwa Kami, orangtuamu, adalah dua insan manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasan kami. Ada saatnya kami rapuh dan inilah ujian terbesar selama tiga bulan pernikahan kami. Ketika kami harus dipisahkan oleh jarak. Dan akhirnya kami memilih untuk kembali bersama. Kami memilih berjuang bersama dalam jarak yang dekat. Kami belum tau perjuangan seperti apa yang akan kami hadapi nanti. Tapi kami berpikir, berjuang bersama, saling menatap setiap hari, lebih kami pilih dibandingkan berjuang sendiri-sendiri di tempat yang berjauhan. Semoga Allah menguatkan kita ya sayang. Menguatkan Ayah, Bunda, dan kamu. Tetap sehat disana ya sayang. Kamu tumbuh bersama tumbuhnya kami di keluarga kecil ini. Bunda yakin kelak kamu akan menjadi anak yang shaleh/shaleha, kuat, dan pantang menyerah. Bunda yakin itu sayang.

Rabbana hablanaminashshalihin..
aamiin..


Thursday, 4 September 2014

Pelajaran Keimanan Kedua

Hari yang panjang, mungkin karena hari ini bedrest di rumah. H-4 mas pindah ke solo. Ah, sebetulnya aku ingin membuat ini biasa saja. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas proyekan ke luar kota. Biasa seperti saat-saat sebelumnya mas bulak-balik ke pondok untuk mengurus proyek atau pengabdian. Nyatanya memang jiwa melankolis ini selalu muncul. Yang paling sering ketika malam datang dan kudapati mas tidur lebih dulu, lalu kupandang wajahnya. Dan begitu saja air mata ini merembes pelan. Kupeluknya, tapi malah merembes lebih banyak jadinya.

3 bulan lebih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru yang masih tinggal bersama orangtua, membuat masa pengenalan dan penyesuaian ini terasa lebih dinamis. Bukan hanya pegenalan dan penyesuaian antara aku dan mas tapi juga sekaligus mas dengan keluargaku serta keluargaku dengan kehadiran mas. Menurutku inilah yang membuat masa pengenalan kami menjadi lebih lengkap. Tidak hanya melihat bagaimana sikapnya padaku, tapi juga bisa melihat bagaimana sikapnya pada keluargaku, bahkan keluarga besar kedua orangtuaku. Dan masyaallah, mas memang sangat santun. Aku banyak belajar darinya.

3 bulan yang menyenangkan. Teramat menyenangkan menurutku. Bahkan jika ada yang bertanya, pernah berantem gak? Aku sampai harus terdiam dulu untuk memikirkannya. Bukan karena tidak pernah ada percekcokan tapi karena tak ada percekcokan yang sampai aku ingat. Itu karena memang semuanya selalu selesai dalam waktu kurang dari sehari dan berakhir dengan keromantisan. Hehe. Aku memang paling tidak bisa berdiam lama padanya. Mas terlalu ngangenin. Rasanya rugi sekali kalau sejam saja berlalu tanpa sikap hangatnya.

3 bulan yang penuh kejutan. Kejutan akan sikap-sikapnya. Kejutan akan kegemaran-kegemarannya. Kejutan akan ilmu-ilmunya. Kejutan akan segala hal tentangnya. Ah, mungkin memang ini yang disebut jatuh cinta. Bukan cintanya membuatku jatuh tersungkur. Tapi cintanya membuatku terjatuh, terkaget-kaget, is it true? Diakan rizki jodoh yang Allah berikan untukku? Dan dengan cintanya, ia menyadarkanku dan mengajakku bangun dan berjalan bersamanya. Ih, ngomong apa aku ini? Haha. Intinya aku jatuh cinta padanya. Itu saja.

Dan bisa kau rasakan. Betapa besar energinya membangunkanku. Memberikan begitu banyak rasa hangat dan nyaman yang belum pernah aku rasakan. Perlindungannya membuatku merasa dimuliakan. Penjagaannya membuatku merasa aman. Perhatiannya membuatku merasa begitu spesial. Sanjungannya membuatku merasa sempurna. Sikapnya dan segalanya membuatku jatuh cinta. Sungguh! Dan makin hari aku kecanduan. Rasa bergantungku semakin tinggi. Perlu kuakui bahwa ini memang kali pertama aku diperlakukan seperti itu. Aku betul-betul jatuh cinta padanya. Bahkan saat aku di kantor, aku sering merindukannya meski pagi hari ia mengantarku dan sorenya ia menjemputku. Siang hari di kantor, sering kali aku merasa kesulitan untuk menunggu sore datang hanya untuk sekedar berkata "Love you, sayang". Ah, mungkin ini berlebihan tapi sungguh, aku telah jatuh cinta padanya. 

Dan perasaan itu kini harus rela terpisah oleh jarak. Di saat perasaan ini bertumbuh semakin besar. Ketika kebutuhan akannya semakin tinggi. Dan ketika emosiku mengalami fluktuasi akibat penyesuaian tubuhku dengan janin dalam rahimku, buah cinta kami. Bukan hal yang mudah bagiku. Ketika baru tiga bulan merasakan indahnya memiliki teman hidup, selalu bersama, setiap malam berbagi kisah, setiap pagi memulai dengan senyum penuh cinta, dan kini harus rela dipisahkan oleh jarak. Bukan hal yang mudah bagiku. Beberapa kali ketakutan itu terbawa hingga mimpi. Hingga aku terbangun tengah malam, lalu menangis dan memeluknya. Percayalah, ini bukan hal yang mudah bagiku. 

Belakangan kami lebih sering membahas ini. Lebih tepatnya mas menguatkanku tentang ini. Aku memang sering menangis jika pembicaraan ini dimulai. Tapi mas selalu menenangkanku. Mas selalu mengingatkanku; tentang cita-cita kami, tentang jalan hidup yang telah kami pilih, tentang perjuangan yang harus kami lalui, tentang kesabaran yang selalu harus kami miliki, tentang nasihat-nasihat ibu, tentang semuanya. Tanpa lelah dan bosan, mas selalu mengingatkanku dengan lembut dan penuh kesabaran. Hingga akhirnya hatiku bertemu dengan sebuah titik bernama keikhlasan.

Ya, insyaallah aku telah ikhlas. Aku sadar betul tentang jalan hidup yang memang tak selalu nyaman sesuai yang kita inginkan. Bukankah sejak dulu aku terbiasa menjalani hidup di luar comfort zone. Bukankah sejak dulupun aku terbiasa bermonolog dengan diri untuk menyelesaikan hidup. Dan hei! Aku punya Allah yang selalu ada bahkan sejak sebelum aku bertemu dengan mas. Mungkin ini lagi-lagi pelajaran aqidah yang Allah ajarkan dalam perjalanan pernikahan kami. Bahwa sebesar apapun rasa cintaku pada mas, cintaku pada-Nya tetap harus melebihi. Bahwa aku dan mas adalah sama-sama manusia yang mungkin ada saatnya pergi, ada saatnya terpisah oleh jarak, ada saatnya tak ada saat dibutuhkan. Tapi Allah akan selalu ada kapanpun, dimanapun kami berada. Dan Ia ingin menyadarkanku, bahwa memang hanya pada-Nya lah kami bergantung dan mengadu. Bukan pada manusia, sekalipun ia adalah suami yang sangat kita cintai. Allah akan selalu ada, membersamai kita, bahkan tanpa kita minta.

----

Mas, mungkin aku akan tetap menangis setiap kali melepas kepergianmu yang sementara dan sebentar ini. Tapi tak perlu risau sayang, aku kuat insyaallah. Seperti yang aku katakan, itu hanya ungkapa jujurku yang tak sanggup aku tutupi dan aku hanya perlu waktu untuk belajar hingga terbiasa. Selamat memulai duluan kehidupan baru kita kelak disana. Insyaallah aku akan menyusul, kan? Siapkan segalanya dengan baik ya sayang. Untuk cita-cita besar kita insyaallah. Fii amanillah. Semoga Allah selalu menjagamu, memberkahi setiap usahamu, menguatkan pundakmu, dan menjadikanmu sebaik-baik imam untukku dan anak-anak kita kelak. aamiin.. Allahumma aamiin..


Followers