Showing posts with label Asrama. Show all posts
Showing posts with label Asrama. Show all posts

Saturday, 27 April 2013

Si Kecil yang Terlupakan

Suatu hari aku pernah berkata pada salah seorang adikku,
"Aku mulai khawatir dengan aktivitasku yang mulai berkurang. Akhir-akhir ini entah mengapa, sempat-sempatnya aku memikirkan diriku sendiri. Memikirkan perasaan ketidaksukaanku pada suatu hal, suatu sikap, atau seorang teman. Ko sempet ya mikirin itu? perasaan dulu ga pernah kepikiran. Kalau ada temen yang nyebelin, yowes. Kl ada situasi menyebalkan, pergi aja, ngapain dipikirin. Aku khawatir, ini imbas dari aktivitasku yang mulai menurun, hingga hal-hal remeh temeh seperti itu masih sempat kupikirkan. Kesibukan itu memang penting, biar kita ga sempet fokus sama hal-hal ecek kaya gitu."

Sampai sebelum menit ini, aku pikir kekhawatiranku ini benar. Hingga beberapa menit yang lalu, sudut pandang yang lain mulai terkuak.

Ada hal-hal yang seringkali kita ignore, saat ritme hidup meninggi. Ada perasaan-perasaan yang diabaikan, saat kita dituntut untuk memikirkan hal lain yang terlihat lebih besar di mata kita. Banyak hal-hal abstrak yang menurut kita ga penting, saat begitu banyak tuntutan konkret yang harus kita layani. Apakah itu salah? jawabannya mesti relatif, tak sepenuhnya salah, tapi juga tak sepenuhnya benar.

Nyatanya, kehidupan di lantai 4 Gedung Sayap Selatan Mesjid Salman ITB ini memberikan pelajaran hidup yang tak terbilang. 

21 jiwa berkumpul disini. Masing-masing memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Disiplin ilmu yang berbeda. Pola pikir yang berbeda. Visi dan Misi hidup yang berbeda. Aktivitas yang berbeda. Pola tidur yang tak sama. Sensitivitas yang beragam. Pengaturan emosi yang bermacam-macam. Dan kesemuanya mesti hidup di bawah atap yang sama, masuk melalui pintu yang sama, memasak di dalam dapur yang sama, kamar mandi yang searea, bahkan tidur bersama 2-4 orang dalam satu kamar. Dan PRnya lagi, katanya tempat mereka ini harus menjadi sebuah rumah, surga, sekolah, kamar, komunitas, dan ruang publik sekaligus. Kondisi ideal yang sangat sulit bisa teralisasi tanpa bantuan dua buah kata, mengerti dan peduli.

Dan aku mulai menyadari, bahwa hal kecil yang kita abaikan bisa jadi merupakan perkara besar untuk orang lain. Dan karenanya kita menjadi makhluk yang dzalim. Pada diri sendiri, terlebih pada orang lain. 

---

Wahai diri, mengertilah bahwa sesungguhnya yang lain akan sulit memahami diri ini kecuali engkau yang memulainya.

Wahai diri, mengertilah bahwa kau hidup bersama yang lain. Maka buatlah mereka nyaman, sebelum kau menuntutnya dari siapapun.

Wahai diri, sadarilah bahwa mungkin kebersihan itu adalah hal sepele diantara segudang aktivitasmu yang maraton dari menit berbilang jam yang kau lalui. Tapi saudaramu memiliki hak untuk berada di lingkungan yang nyaman.
Maka mestinya mencuci piring setelah kau makan, mencuci bekas masak setelah kau pakai, menyelesaikan cucianmu yang kau rendam, mengangkat jemuranmu yang sudah kering, tertib pada setiap piket kebersihan yang kau pegang, bukanlah hal sepele yang lantas kau abaikan, sedang saudaramu merasa risih dan terkorbankan.

Wahai diri, mengertilah bahwa ini adalah rumahmu juga. Maka akan seberapa tak pedulinya kau pada rumah yang semestinya menjadi surga duniamu. Saat ternyata ada dinding yang bocor, ada lantai yang kotor, pintu yang tak dikunci, lampu yang terus menyala dan baju temanmu yang masih diluar sedang hujan deras turun tanpa ampun. Sadarilah, bahwa kepedulianmu akan membahagiakan saudaramu. 

Wahai diri, sadarilah bahwa hidupmu bukan semata-mata pada dirimu saja. Saat kau merasa sibuk, sesungguhnya tak akan jauh berbeda dengan teman sekamarmu. Saat kau merasa letih, mungkin yang lain merasa lebih. Karena kita terpaut dengan dimensi waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari dalam semimggu. Maka sekarang memang saatnya untuk berlelah..
Saat raga terasa terkoyak, turun ke bawah untuk melaksanakan shalat berjamaah, jadikanlah ia bahan bakar untuk mengisi semangat yang baru. Bukan lantas menjadi beban, dan mencari beribu alasan untuk mundur.

Wahai diri, sadarilah ini nikmat Allah yang juga akan dimintai pertanggung jawabannya.
Tidakkah kau malu atas kepercayaan yang Allah beri dengan menempatkanmu di lingkungan rumah-Nya, disaat beribu orang harus melangkah jauh dari tempat tidurnya menuju lantai kayu yang menyejukkan ini? Tidakkah kau malu?

Wahai diri, semoga kau tak termasuk manusia angkuh yang merasa penuh dengan sesuatu yang sebenarnya belum seberapa. Karena sesibuk apapun aktivitas dan mimpimu, tak menjadi alasan untukmu tak peduli pada hal-hal kecil yang ada di sekitarmu.


Wahai diri, tak perlu mengeluh atas episode hidup yang kau jalani sekarang.
Bergeraklah, lakukan apapun yang memang harus kau lakukan.
Bergeraklah, benahi sesuatu yang kau pikir memang perlu dibenahi.
Tak perlu menunggu yang lain, karena sesungguhnya amalmu hanya untukmu. 

Wahai diri, sadarilah bahwa waktumu disini tak seberapa lagi.. 

Teruntuk saudara-saudaraku,
Maafkan atas begitu banyak hak ukhuwah yang masih belum sempat tertunaikan.

Demi masa,
Sungguh, manusia berada dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran
QS. 103: 1-3

Wednesday, 24 April 2013

Aku Pulang...

Detik berbilang menit..
4 tahun berlalu dan kini saat-saat harus mengakhiri semakin mendekat

Ah! Terlalu banyak cerita yang tertulis
juga tangis yang turut menghiasi
tawa, tentu saja menjadi bagian yang jauh lebih mendominasi

Kini aku harus segera mengakhiri
Awalnya kupikir ini akan menyenangkan dan terbebas
Tapi ternyata, berat juga melepasnya..

Ah, bahkan dalam angkutan kota pun aku bisa menangis mengenang ini..

Tahun lalu, akupun berencana pergi, tapi perasaannya tak segalau ini
rasanya mudah saja untuk kemudian angkat kaki

Tapi kini, entah mengapa rasanya sesuatu dalam menghadapi hari-hari akhir..
Ada perasaan resah dan takut akan perpisahan yang teramat sangat
Mungkin kini karena memang aku benar-benar akan segera pergi

Aku sadar betul bahwa aku memiliki hidupku sendiri
Cita-citaku dan keluargaku..
Tapi hidup berbagi bersama 20 jiwa yang lain, ternyata membuatku merasa lebih berarti dan terakselerasi..

Ih, Allah..
Aku takut...



Monday, 18 March 2013

Haruskah Aku Mulai Tak Peduli?

Karena bersamamu aku tak ubahnya seorang bocah ingusan yang hanya bisa merengek dan meminta.
Kau disampingku, adalah bayangan besar -yang aku sendiripun tak mengerti, seringkali menghambat langkahku untuk maju
Aku bersamamu, membuatku yang lambat ini menjadi mati dan semakin tak berarti

Aku tak tahu mengapa. Aku tak tahu bagaimana. Hampir 22 tahun hidupku di dunia, baru kali ini aku merasa begitu bodoh dan tak ada guna.

Mungkin permasalahannya ada pada diri ini..
Sekali lagi Rabbi, sungguh aku tak mengerti.....

Rabb, sungguh aku tak ingin menjadi hambamu yang kufur nikmat
Selalu kusyukuri setiap karunia dan kelebihan yang kau titipkan pada diri ini
Tapi kali ini, entah engapa, aku merasa begitu rendah tak berdaya

Rabbi, sungguh..
Telah kutitipkan hati ini
Telah coba kulapangkan dada ini
Telah coba kusibukkan diri ini

Tapi hati, nampaknya ia tak bisa bersembunyi

Lalu...
Haruskah aku mulai tak peduli?

Akankah Aku Berhenti #2

Hmm..
tentang kejadian itu (lagi)

Setelah kejadian itu, banyak respon yang kemudian muncul
Dari mereka yang mengetahui kejadian itu kebanyakan menyarankanku untuk terbuka saja.
Jika memang ada sesuatu yang harus diungkapkan, maka ceritakan saja. Jiwa kita pada hakikatnya memiliki kapasistas tertentu yang  bisa jadi overload. Saatnya untuk belajar memilah mana yang harus dipikirkan secara mendalam, dan mana yang mesti diabaikan.

Haruskah seperti itu?
Jiwa inilah yang kemudian harus belajar. Belajar banyak dari segala hal.
Belajar untuk berjiwa besar
Belajar untuk berkembang

Ya inilah aku..
Sebetulnya aku tidak begitu introvert..
Banyak hal yang sering kubagi dengan lingkunganku..
Kehidupan organisasiku, akademisku, keluargaku, dompetku, hatiku..
Sering aku berbagi dengan orang-orang disekitarku akan hal itu. Tapi wajarkan jika ada hal-hal yang memang tidak bisa disebarluaskan.

Periode kali ini memang aku menemui banyak hal baru di lingkungan lamaku. Lingkungan yang mestinya sudah kukenal begitu dekat. Ada karakter baru yang kuhadari. Ada aturan-aturan baru yang harus aku patuhi. Ada mereka-mereka yang baru yang saat ini begitu aku sayangi.

Periode yang cukup berat memang, tapi aku yakin ini bekalku untuk kehidupan selanjutnya. Kemarin, di titik nadir itu, sempat aku menuju titik dimana aku menyesali keputusan ini. Jika saja amanah ini tak ku ambil, mungkin ini tak akan terjadi. Mungkin saat-saat seperti ini tak akan ada lagi.

Tapi kemudian paradigma ini coba kuputar 180 derajat.
Jika asaja amanah ini tidak diambil, mungkin aku akan melewatkan amal pembelajaran ini..
Ya, semoga aku termasuk orang-orang yang bersyukur dan mampu mengambil banyak pelajaran..

Ah, rasanya mood untuk melanjutkan tulisan ini menguap.
Lain kali akan kulanjutkan. Insyaallah..


Sunday, 17 March 2013

Akankah Aku Berhenti

Pernahkah merasa diri ini begitu kecil dibandingkan dengan mereka yang menjulang?
Pernahkah merasa kehadiran diri ini tak ubahnya anai semata?
Pernahkah merasa khianat pada kesempatan yang sesungguhnya telah lama tiba?
Pernahkah merasa diri ini hanyalah seonggok daging berjalan yang tak ada guna?

Mungkin inilah yang seringkali menyesakkan dada ini..
berada diantara mereka yang begitu besar pada posisinya masing-masing
ia yang aktivis kampus sejati
ia yang pejuang qur'an
ia yang begitu berperan dalam program pengembangan keagamaan di kampus
ia yang begitu totalitas dengan akademiknya
dan ia yang begitu dominan dengan kaderisasi masjidnya

Lantas aku dimana?
Apa spesialisasiku?
Siapa aku diantara mereka?

Ah, betapa diri ini begitu kecil

---

Astaghfirullah..
Apakah ini termasuk keluhan Ya Rabb?

Nyatanya, manusia memang makhluk yang kecil
makhluk penuh dosa
tak bisa berbuat apa-apa

Nyatanya, memang kita makhluk merugi
Nafsu buruknya saja Allah bekali tiga
Sedang nafsu baiknya hanya satu

Nyatanya manusia memang makhluk yang dzalim
Amanah kekhalifahan, tak membuatnya utuh menjaga bumi
ternyata keluh malaikat itu memang terbukti

Ya Rabbi,
aku sadar, aku memanglah makhuk kecil yang penuh khilaf dan sedikit guna
sering lupa dan dosa

Tapi Ya Rabb, aku pun menyadari bahwa begitu banyak nikmat dan karunia yang Kau beri
Aku ingat betapa Engkau masih mempercayai kami, dengan amanah khalifah yang kau beri

Rabbi, izinkan aku untuk bisa kembali menemukan kepingan diri
yang terserak dan tak bertepi
Rabbi, izinkan aku untuk bisa memberi
atas segala potensi yang Kau beri
atas kesempatan yang Kau amanahi..

Rabbi, di sisa waktu yang entah berapa lama lagi
izinkan aku untuk mampu berlari
melawan segala kenyamanan diri

Rabbi, sungguh aku ingin berarti...



Monday, 11 March 2013

Dan Waktulah yang Mengajarkanku

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya dia muncul kembali. 
Segala yang telah kutahan, akhirnya membuncah juga

Waktu mengajarkanku, bahwa ternyata kesabaranku tak sebesar yang mereka sangka
Waktu mengajarkanku, bahwa aku tak semenerima yang kuduga

Selalu aku merasa, perasaan ini begitu jahat dan nista
Tapi lagi-lagi waktu yang mengajarkanku
Bahwa kita memang tak bisa menyenangkan semua pihak
Semuanya memang tak bisa dipaksakan

Maka, biarkanlah ia berlari kemanapun ia mau
dan saat ia ingin berhenti, apalah daya
segalanya tak bisa dipaksakan

Dan akhirnya memang waktu yang mengajarkanku
tentang sabar
tentang ikhlas
tentang lapang dada
tentang ukhuwah
dan tentang keimanan

Ya Rabbi, 
kuatkanlah aku, saat segalanya terasa berat
lapangkanlah dada ini, saat segalanya terasa menghimpit




Saturday, 15 December 2012

Cinta itu memang butuh perjuangan

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya tentang hidupku 6 bulan ke belakang, ini memang fase yang cukup berat untukku.

6 bulan berselang, rasanya semuanya mulai membaik. Aku mulai bisa menerima diriku apa adanya. Aku mulai menerima partnerku apa adanya. Dan diam-diam aku mulai menyayanginya. Haha, lucu memang.. Dia orang yang begitu berbalikan denganku. Praktis apa yang aku suka, bisa jadi itulah yang ia benci. Begitupun sebaliknya.

Tapi sayang itupun tak cukup. Niat awal untuk mencintanya pun tak cukup. Benar kata Ust.Anis Matta, Bahwa pekerjaan cinta adalah menumbuhkan dan merawatnya. Dongkol itu pasti ada. Jenuh itu sudah barang pasti. Tapi aku akan terus berusaha untuk mencintainya. Meski hingga saat ini kami masih sering bertengkar, beradu argumen. Tapi mungkin itulah medan perjuangan yang Allah sediakan untukku, untuk kami. Semoga perasaan ini bisa terus tumbuh subur, mengalahkan kekesalanku padanya. Hehe

So far, perasaan ini terus meningkat. Semoga terus begitu. :)
Jaga ukhuwah ini ya Rabb.. Aamiin

Tuesday, 4 December 2012

Teruntuk adik-adik asramaku

Aku tahu, sungguh tahu, siapa diri ini
Aku sadar, dan teramat menyadari betapa banyak kekurangan diri ini
Maka aku dengan statusku disini, bukanlah seseorang yang tanpa cacat yang hanya memiliki sisi baiknya saja.

Aku sadar atas kelemahan dan kekuranganku, hingga atasnya aku ber-azzam untuk menjadikan amanah ini sebagai pecut untuk semakin memperbesar langkahku meninggalkan kejahiliahan ini.

Aku berusaha untuk bisa menemani perjalanan kalian, dengan menjadi aku yang apa adanya. Aku memang seperti ini. Aku yang plegmatis. Aku yang melankolis. Aku yang kurang tegas. Aku kurang perhatian. Aku yang masih belum bisa menjadi teladan yang baik untuk kalian. 

Mungkin kalian kecewa mendapatkan seorang pembina dengan kapasitas sepertiku. Terlebih atas kebiasaan buruk harian yang masih sangat sulit aku hilangkan. Tapi percayalah, aku selalu berusaha untuk berubah.

Adik-adikku, sungguh sejak awal aku lebih suka menganggap kalian sebagai sahabatku. Aku lebih suka berbincang dibandingkan dengan memerintah kalian. Aku lebih suka membebaskan kalian bahkan, dibandingkan dengan menyuguhkan segudang peraturan untuk menyamakan langkah kita. Aku sangat suka jika kita berbincang begitu dalam memasuki alam hidup kita masing-masing. Aku sungguh suka mendengar kisah hidup kalian, mendengar mimpi-mimpi kalian dan mendengar cerita betapa rindunya kalian pada kampung halaman.

Sungguh aku belajar banyak disini. Melihat, mendengarkan, dan menyaksikan tingkah kalian, sungguh adalah sebuah warna tersendiri dalam kanvas perjalanan hidupku. Kalian yang dominan koleris, kalian yang penuh argumentatif, kalian yang plegmatis, yang melankolis, kalian yang tanpa kusadari mulai aku cintai.

Maafkan atas begitu banyak contoh tidak baik yang aku lakukan
Maafkan atas begitu banyak kebiasaan buruk yang masih sering aku lakukan
Sungguh, kalianlah yang mengajariku banyak hal

Rabbi, tuntunlah langkah kami hingga jannahMu kelak.. 
aamiin

Monday, 19 November 2012

UGD #3

Disinilah Ya Rabb, akhirnya aku menyadari bahwa waktu telah menggiringku begitu jauh. Jauh meninggalkan masa kecilku, beranjak menuju kedewasaan. Mau tak mau. 

Seringkali aku membohongi usia, dan melupakan angka.
Aku tak mau cepat tua, aku masih mau begini. Aku masih ingin kecil dan diayomi. Aku masih ingin dilihat dan diperhatikan. Aku masih ingin bisa melakukan sesuatu yang memang ingin aku lakukan, saja.

Tapi dunia berkata lain. 
Semuanya menggiringku meninggalkan masa-masa itu dan membuka pintu-pintu baru untukku. Mungkin Allah sedang mempersiapkanku untuk menjadi sesuatu. Apa itu, aku tidak tahu. Tapi aku disentil untuk mengutip perkataan WS. Rendra dalam puisinya, 
"Kenapa kita tidak pernah bertanya, 'Mengapa amanah itu diberikan kepada kita?'"

Itulah mengapa aku yakin, dengan ini semua sesungguhnya Allah sedang mempersiapkanku untuk menjadi sesuatu. 

Bersyukur, di akhir semester kemarin aku memutuskan untuk menyetujui mengambil amanah sebagai pembina asrama. Awalnya aku menolak. Aku tahu siapa diriku. Aku tahu bagaimana aku. Dan aku tahu sebobrok apa diri ini. Tak pantas dan belum siap rasanya, jika aku menjadi pembina asrama. Tapi akhirnya kuputuskan untuk kuambil, dengan niat ingin melanjutkan pembinaan di salman. Agak was-was dan kurang yakin dengan diri sendiri sebetulnya, tapi yasudah, coba kulajani saja dulu.

Bulan-bulan pertama ini cukup menyiksa sebetulnya. Berkolaborasi dengan orang-orang yang dominan koleris dalam satu rumah, yang judulnya aku membina mereka. Kuakui ini adalah masa-masa terberat selama aku menjalani kehidupan asrama sejak tahun pertama di ITB. Tapi kejadian ini cukup membuatku tersadar. Bahwa akan ada banyak yang kudapatkan disini. Softskill yang mungkin tak akan bisa didapat jika aku tidak menjadi pembina asrama. Bayangkan saja, mengelola 19 anak yang padahal aku sendiri masih harus dibenahi. Sering sekali aku merasa bodoh dan tak pantas, saat lagi-lagi aku kesiangan terutama. Ya Rabbi, itu tantangan terberat bagiku.. 

Tapi aku yakin, balasan dari Allah akan selalu sebanding dengan nilai lelah kita.
Saat aku merasa begitu berat, kembali aku meyakini bahwa akan ada banyak yang bisa kudapatkan. Tidak mudah memang, karena itu PR hati juga. 

Tapi sekali lagi, akan aku awali semua ini dengan mencintai mereka terlebih dahulu sebelum aku mengenalnya. Setelah masa-masa UGD ini, aku semakin bersyukur ada di asrama dan aku mulai mencintai dan mengenal mereka satu persatu. 

Ya Rabb, lapangkanlah dada ini untuk bisa menerima segala yang kau berikan dalam hidupku
Ya Rabb, bersihkanlah hati ini dari segala penyakit hati yang bisa membatasi cinta ini pada mereka

Ya Rabb, aku yakin rencanaMu indah, maka sampaikanlah aku dengan selamat menuju ketetapan itu




UGD #2

Selesai menelepon orangtuanya, aku kembali menyelesaikan urusan administrasi. Arista harus dirawat inap, dan harus ada pembayaran uang muka dan pemilihan kelas untuk rawat inap tersebut. Memilih kamar, membayar uang muka, Ya Rabbi ini sungguh untuk pertama kali..

Seluruh ruang inap masih penuh, maka ia masih ditempatkan di UGD untuk menunggu kamar kosong. Aku harus kuliah, maka kami bergiliran menunggunya di UGD. Kami mengatur jadwal anak asrama untuk bergantian berjaga di rumah sakit. Jam 10.30 kuliahku yang pertama selesai. Aku pulang ke asrama, untuk mandi dan bersih-bersih. Sebelumnya aku masih dengan setelan shalat subuh. Ya, aku kuliah dengan setelan itu. Haha. Baju tidur yang dirangkap dengan jaket dan menggunakan kerudung bergo. Satu lagi, aku menggunakan sendal jepit. Haha, untunglah saat pergi mengantarkan ke UGD aku sudah membawa tas kuliahku.

Ba'da dzuhur aku kembali ke rumah sakit untuk bergantian menjaga. Aku merasa aku harus yang paling sering standby disana, agar aku selalu mendapat informasi terbaru. Bekal untuk menjelaskan pada kedua orangtuanya. Sekitar pukul 3 ada kamar kosong, maka Arista bisa dipindah dari UGD kesana. Dan mulailah masa-masa menunggu di rumahsakit. Orangtua arista baru pergi sore dari Kendal dan baru akan sampai besok subuhnya. Maka aku merasa harus standby untuk bisa menyambut keluarganya. Persiapan menginap sudah disiapkan, laptop, jaket dan makanan. Haha. Hanya aku lupa membawa sabun-sabunku.

Semalaman, bergantian dengan Afifah dan Astin. Ditemani beberapa orang dari asrama putera, karena yang bisa masuk ruangan hanya 1 orang maka yang lain menunggu di lobby. Berusaha mengerjakan tugas tapi ternyata konsentrasi susah dikumpulkan. Akhirnya sebagian besar mengobrol dengan Astin, mengobrolkan apapun tentang asrama sampai topik galau. Haha

Aku pikir, kami bisa bergantian tidur. Tapi ternyata tidurpun tetap tak enak rasanya, karena sambil duduk. Pagi menjelang, orangtua Aristapun datang. Mempersilahkan beliau untuk menemuinya, sedikit membuka percakapan dan menawarkan istirahat di Asrama. Tapi aku paham, mana mungkin mereka tega meninggalkan anaknya yang sekitar 5 jam lagi akan menjalani operasi.

Operasi selesai. Arista masih harus dirawat. Kami seasrama masih bergilran datang kesana, meski sudah ada keluarganya. Mengantar ibunya yang harus membersihkan pakaian-pakaian mereka. Menengok lagi ke rumah sakit. Mengantarkan barang-barang yang dibutuhkan disana. Begitu kuranglebih hingga hari ke-5. Arista dirawat 5 hari di Boromeus dan pada hari minggu diperbolehkan pulang dan langsung dibawa ke Semarang oleh orangtuanya. 

Sore hari kami satu asrama salman -Asrama Putera&Puteri datang ke Borromeus, untuk menengok terakhir kali dan mengantarkannya pulang. Tahukah, saat itu lobby Borromeus lantai 1 tiba-tiba dipenuhi oleh anak-anak yang beberapa dari mereka bisa dikenali sebagai Anak Asrama Salman karena jaket yang dipakainya. Mirip seperti demo. Hehe. Konon, kejadian ini sangat membuat haru keduaorangtuanya. Orangtuanya terharu sekali karena banyak sekali yang datang dan betapa teman-teman anaknya begitu baik dan perhatian kepada anaknya.

Rabbi, inilah kali pertamaku dan sungguh aku mendapat banyak pelajaran dan pendewasaan.

UGD #1


7 November 2012, hari yang cukup padat, chaeos, tapi produktif dan penuh pembelajaran.
Ba’da shubuh tadi tiba-tiba Arista, adik asramaku, sakit perut sampe nangis-nangis. Terlihat sekali sakitnya itu begitu menyiksanya. Hebohlah pokonya. Dikompres, dikasih makanan, dikasih obat, tapi nampakya tak membantu. Setelah konsultasi dengan isteri seorang pengurus YPM yang dokter, akhirnya kita memutuskan untuk membawanya ke UGD Boromeus. Tapi ia begitu sulit dilobby. Ditambah lagi tempat tidurnya yang terletak di tingkat 2 membuatnya untuk sekedar diajak turun ke bawahpun sulit. Akhirnya setelah dengan perjuangan yang keras arista berhasil diangkat turun dari tempat tidurnya, dirapihkan pakaiannya dan dibawa ke UGD Boromeus. Aku, bersama 2 adik asrama yang lain mengantar Arista ke UGD dengan ambulance salman yang dikemudikan oleh salah satu adik asrama putera.

Jujur, saat itu aku panik luar biasa. Saat itu, Tami, partner pembina di Asrama sedang ada kuliah di Jakarta. Aku pembina seorang diri, yah sebutlah yang paling dituakan. Semua orang saat itu panik, berusaha saling menawarkan solusi, namun terkadang memperumit situasi. Semuanya panik dan aku merasa yang paling ertanggungjawab saat itu. Jujur aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku telpon Bu Yani. Aku hubungi anak asrama putera. Aku coba membagi tugas anak-anak asrama. Mengangkat Arista, mencarikannya baju, menelpon Bayu untuk standbykan ambulance, dan mengangkat Arista dari lantai 4 Arama Puteri Salman menuju basement salman. Panik, aku tahu ekspresi wajahku tak pernah mampu menutupi isi hati dan pikiranku. Aku tahu, adik-adik asrama melihat aku yang begitu gelagapan. Ah yasudah, yang terpenting Arista dibawa ke rumah sakit.

Masuk UGD, menunggu di UGD, mengurus administrasi, menghubungi banyak orang dan yang paling berat adalah saat harus menghubungi orangtua Arista di Semarang. Oh Rabb, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan orangtuanya mengetahui anaknya masuk UGD di kota nun jauh disana. Awalnya berpikir untuk tidak perlu menghubungi orangtuanya dulu, jika memang ini bisa kita atasi sendiri. Khawatir malah jadi menghebohkan. Tapi ternyata sakitnya serius. Usus buntu dan harus dioperasi sesegera mungkin. 

Berhubungan dengan orangtua orang lain adalah hal yang paling aku takutkan. Aku khawatir dengan sikapku yang mungkin tak sopan, aku khawatir dengan ucapanku yang mungkin tak berkenan, atau apapunlah. Aku selalu khawatir. Dan dalam situasi ini, aku harus mengabarkan pada orangtuanya yang jauh bahwa anaknya yang berada di asrama salman sakit dan harus dioperasi cepat. Aku harus bisa menyampaikan dengan baik dan meyakinkan pada kedua orangtuanya untuk tetap tenang dan mempercayakan semuanya pada kami..
...

Ya Rabb, ini baru bagiku..
Bimbing aku untuk bisa menyelesaikannya..

Wednesday, 26 September 2012

Ya Rabb, sungguh aku ingin mencintainya karena-Mu




Sakit sekali. Entah ini untuk kali keberapa. Mengapa aku selalu tidak nyaman dengan caranya?
Ya Rabb, aku benci menjadi seperti ini. Diam-diam ada rasa dendam yang muncul saat aku merasa dikecewakan, ‘dipaksa’, atau diperintah. Perasaan itu halus sekali, dan tiba-tiba saja dia telah menyebabkan penyakit hati yang parah untuk segumpal darah ini.

Ya Rabb, aku benci jika harus memperlihatkan wajah masamku. Aku benci jika harus melipat wajahku, saat sikapnya begitu menggangguku. Ya Rabb.. aku benci menjadi seperti ini..

Rabbi.. sungguh aku ingin mencintainya.. mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.. mencintainya dan memaafkan segala yang tak berkenan atasnya.. Ya Rabb, berikan aku kelapangan hati 

Ya Rabb..
Aku tahu 3 bulan belakangan ini aku cukup tersiksa oleh sikapnya, tapi akupun sadar pasti diapun sama tersiksanya atas sikap-sikapku terhadapnya. Ya Rabb, aku tahu begitu banyak sifatnya yang berkebalikan denganku yang begitu mengganggu diri ini. Pun aku menyadari bahwa akupun tak jauh berbeda atas segala kekurangan dan kelalaianku.

Rabbi… aku sudah ceritakan segalanya sore tadi. Selepas maghrib hingga isya.. Sudah kuungkapkan, mungkin belum semuanya, tapi itu cukup membantu…
Hati ini belum stabil memang. Bahkan untuk menulispun, sulit rasanya..

Ampuni aku ya Rabb..

Sunday, 9 September 2012

Hari yang indah

Hari yang indah
Abis silaturahim asrama 2011-2012 di tanjung sari, rumah keluarga salah seorang diantara kami.
Pergi menyusul naik motor dengan 4 motor ikhwan lainnya. Ditinggalin di belakang, kelilipan, lewat track luar kota, seru lah.. memorable :) Dua jam loh perjalannya dari kampus, padahal naik motor.

Hari yang indah
Berkumpul lagi bersama 'de geng' di tahun lalu. Ga lengkap memang, tapi sangat berkesan. Makan bareng, sharing yang agak geje sebetulnya, dan agenda terpenting yang selalu bikin kita terlambat menutup acara, FOTO. haha.. Tapi oke sih pemandangannya, sawah. Seru lah..

Hari yang indah
Saat semakin menyadari dan mensyukuri nikmat dan indahnya perpisahan.
Saat raga tak lagi sedekat dulu. Saat sapaan tak lagi sesering dulu.
Entah, hari ini aku semakin menyadari bahwa aku menyayangi mereka. Perasaan ini agak blunder sebetulnya, gak jelas. Tapi saat berkumpul lagi bersama mereka setelah sekian lama tak bertemu, bahagiaaaa sekali rasanya. Ah, kangen!

Perpisahan, seringkali aku menghindarinya, karena aku tak suka.
Tapi kini, aku menyadari bahwa banyak hal yang justru muncul setelah perpisahan.
Maka mulai saat ini, aku akan belajar untuk selalu menyambut perpisahan dengan persiapan akan begitu banyak hikmah dan pelajaran yang Allah berikan.

Bismillah :D





Sunday, 2 September 2012

Bad Mood

Asri g suka diperlakukan seperti itu. Asri ga suka caranya seperti itu.

Mungkin aku yang terlalu banyak ingin dipahami dan dimengerti, dan orang lain berbuat sesuai dengan yang kuharapkan. Satu tahun tinggal dalam sebuah rumah yang sama, ternyata belum cukup bagiku untuk berlapang dada atas sikap temanku. Mungkin hati ini yang terlalu keras.
Entah mengapa, aku selalu terganggu dengan caranya mengingatkanku. Entah mengapa aku selalu terganggu dengan caranya membangunkanku. Entah mengapa aku sering terganggu dengan caranya mengajakku. Mungkin karena aku merasa, bahwa aku selalu dipandang sebelah mata olehnya. Mungkin karena aku merasa, ia melihatku sebagai seorang yang belum benar dan banyak salah. Aku tahu, itu berarti egoku semakin bertambah. 

Tapi aku tak suka jika aku selalu disalahkan. 

Despite all, Aku tahu maksudnya baik. Aku sadar, teramat sadar bahkan, bahwa yang ia inginkan baik bagiku. Aku tahu itu. Hanya saja aku sangat terganggu dengan caranya. Imbasnya adalah ekspresiku berubah menjadi sangat dingin dan raut wajahku akan sangat tak bersahabat. Terlebih padanya. Bahkan untuk menyapa pun malas rasanya. Mending ga usah deh, daripada ntar ribut.  Dan bayangkan saja, jika itu terjadi di setiap pagiku, maka aku akan mengawali hariku dengan mood yang sangat buruk. Dan sore ini itu terjadi. Dan sampai sekarang moodku masih belum membaik. Tugas kuliah pun kusingkirkan sejenak. 


Ya Rabb, aku tahu ini tidak baik. Bantu aku menata hati ini..
Dia saudaraku, saudara terdekat bahkan. Aku sangat tahu maksudnya begitu baik. Ia hanya bermasalah dalam caranya saja. Sungguh aku tak membencinya. Aku hanya tak menyukai caranya. Terlalu mengganggu bagiku. Bantu aku menata hati dan berlapang dada atas sikapnya, Ya Rabb. Aku tidak mau, jika setiap pagi harus memberikan raut wajah yang tak manis untuknya. Aku hanya tidak ingin selalu berekspresi buruk saat ia mengingatkanku. Seperti yang telah kuceritakan, sekarang aku sulit untuk bisa menyembunyikan isi hati dan perasaanku. 

Jaga ukhuwah ini ya Rabb..

Monday, 9 July 2012

Began

Seringkali muncul perasaan takut, khawatir, dan tidak percaya diri saat akan memulai sesuatu yang baru. Apapun itu.

Dan kini, sedikit demi sedikit, perjalanan dimulai. Masih dengan kereta yang sama. Masih dengan gerbong yang sama. Hanya saja orang-orang di dalamnya yang berbeda. Stasiun pemberhentian kami bisa jadi masih sama dengan sebelumnya, hanya saja rute yang akan kami lewati saat ini bisa jadi berbeda. Pemandangan yang kami lihat, bisa jadi berbeda juga dari perjalanan sebelumnya. Warnanya mungkin berbeda. Aromanya mungkin tak lagi sama. Mungkin ada kesan berbeda yang muncul. Mungkin ada banyak luapan emosi baru yang tak terduga.

Kekhawatiran itu muncul dari lingkungan terkecilku dalam kereta ini. Teman sebelahku. Ya, mungkin kami terlalu berkebalikan. Tapi toh selalu ada yang sama pada setiap perbedaan. Dua mata koin yang berbeda pun masih memiliki banyak kesamaan; nominal uang dan materialnya masih sama dalam satu koin. Toh tak akan ada bahagia, jika Dia tak menciptakan derita sebagai pembandingnya. Tentunya selalu ada banyak nilai yang bisa diambil dari banyak situasi berkebalikan. Dan berharap, kebalikan ini akan menciptakan banyak keutuhan. Berharap, perbedaan ini menjadi sekolah penuh pembelajaran. Dan akhirnya, masing-masing menjadi kepingan puzzle yang membentuk sebuah gambar yang utuh.

Memulai. Mungkin banyak hal yang harus dilakukan untuk ia bisa terus berjalan, memutar roda agar mulai ini bisa terus bekerja dan bisa menemukan muara akhirnya. 

Semoga perjalanan ini memberikan banyak pembelajaran bagi orang-orang yang ada di dalamnya. Termasuk aku.

Tuesday, 29 May 2012

dan Hati lah yang menyentuhnya

"I learn a lot of good sides of you, thank you for caring me and for chatting with me, I wish you luck." -wilofy-

Kata-kata itu tertulis dalam sebuah pembatas buku berwarna ungu di bagian bawah. Ada gambar seorang perempuan berjilbab sambil bergaya "peace" disana, yang sepertinya dia mirip sekali dengan gaya ku dalam sebuah foto. Hehe

Pembatas buku itu, ada bersama benda lainnya dalam tas kertas berwarna coklat bertuliskan For: teh Hasri. Sebuah bunga origami berwarna merah yang dilapis dengan plastik yang agak tebal dibanding plastik bunga lainnya. hehe. Ada sebuah buku yang judulnya cukup menyeramkan "Dosa-dosa yang dianggap biasa". Terakhir, sebuah surat yang ditulis dengan tinta perak diatas kertas origami berwarna pink. Tas itu, disimpan di bagian atas lemari bajuku, yang baru ku buka saat maghrib sampai di asrama.

Sejak awal melihat bunga origami itu, aku sudah bisa menebak dari siapa bingkisan itu berasal. Meskipun sedikit unbelievable, benarkah darinya?

Ya itu memang darinya. Seseorang yang cukup fenomenal di asrama kami. Hehe, hiperbolis sih, pake kata fenomenal ini. Dia cuek, datar, dan tanpa basa-basi. In the other side, dia orang yang jujur. Teramat jujur, aku suka sekali sikap jujurnya, meski terkadang memang lebih mengedepankan ego nya. hehe.. lucu ya..

Minggu-minggu pertama di asrama ini, aku cukup kebingungan dengan sikapnya, terkadang sampai pada fase tersiksa. Haha, lebay amat yak. Tapi itu benar terjadi. Aku bingung harus bersikap apa menanggapi sikapnya. Pertanyaan dan sapaanku yang selalu dijawab dengan jawaban yang singkat. Sikap cuek dan datarnya yang membuahkan image jutek, membuatku selalu berpikir, "Aduuuh, asri salah apa ya? jangan-jangan tadi salah ngomong atau salah sikap? Aduuh gimana nih?". Yah, begitulah orang melankolis menanggapi dan memikirkan sesuatu. Terlalu mendalam, berlebihan dan menyiksa diri.

Sejak saat itu, saat aku mulai tersiksa dengan sikapnya. Hehe. Aku bertekad, aku harus dekat dengannya. Tak peduli apapun responnya, toh sejak masuk Seni Rupa di tahun pertama, sikap 'sok asik' ku mulai tumbuh, makin hari makin banyak. hehe. Aku usahakan untuk menyapanya setiap kali aku berpapasan dan sempat menyapanya. Menanyakan kabarnya. Kabar tugasnya. Kapan dia kuliah. Sedikit meledeknya. Menanyakan film apa yang sedang ditontonnya. Hingga menghadirkan wajahnya dalam setiap Do'a Rabithah dalam akhir shalatku. Yang terakhir ini, adalah cara mujarab yang paling aku yakini. Karena doa adalah senjata seorang muslim.

Awalnya cukup menantang. Berkelahi dengan ego ku sendiri, yang ku tahu saat itu sifat kolerisku mulai naik  sebenarnya. Bersabar untuk  terus  bertanya. Bersabar untuk tersenyum, kecuali mungkin saat-saat aku PMS, ah masa itu agak sulit dinegosiasi. haha. Yang pasti dan aku yakini saat itu adalah hati hanya bisa disentuh oleh hati. Dan saat itu aku memutuskan untuk mencintainya. Mencintainya meski aku belum mengenalnya. Mencintainya apapun feedbacknya. Mencintainya atas alasan yang belum kutemukan saat itu selain alasan keimanan. Pernyataanku tadi, adalah pernyataan klise yang dulu sering kupertanyakan. Mana ada alasan kaya gitu? So iye amat. Dan kemudian aku menelan ludahku sendiri

Waktu berjalan. Dan tanpa kusadari, sikapnya sudah mulai berubah sekarang. Tepatnya setelah Asrama camp. Sikapnya mulai 'membaik'. Dan aku ingat waktu itu, dia lebih dulu menyapaku, "Kenapa teh? kusut amat wajahnya". Waaaaa.... dia nyapa duluan. Haha, mungkin dia udah lupa kali ya pernah nanya itu. Tapi jelas aku ingat, kan melankolis, selalu berlebihan. Itu momen penting bagiku. Mungkin dia juga agak kesal dengan ekspesi berlebihan serupa dari teman-teman asrama. Yang selalu heboh saat dia bersikap 'baik dan bersahabat'. Keterlaluan memang. haha.. Dan selanjutnya, hari-hari di asrama terasa lebih melegakan dan menyenangkan, satu tembok sudah berhasil dirobohkan. Oleh siapa? Entahlah.. Yang pasti oleh banyak pihak. Rasa cinta itu, kini telah berbuah banyak, sedikit demi sedikit, tapi pasti. Dan hari-hari berikutnya kami sering bersama di ruangan pojok asrama, itu karena internet dan pekerjaan studio kami yang sama-sama membutuhkan tempat luas. Maka ruangan pojok itu, akhirnya menjadi lapak 'geng' kami -ditambah satu orang teman kamarku. Dan rasanya, aku mulai menyayanginya.

Dua semester di asrama berjalan begitu cepat, cepat sekali. Terlebih saat kenyamanan itu mulai membaik. Dan perpisahan itu nyata di hadapan. Rasanya waktu berputar lebih cepat dari biasanya, dan asrama kami pun tiba-tiba sepi.

Dan tibalah hari ini, saat sebungkus hadiah itu tiba-tiba ada di lemari bajuku. Sungguh, tak pernah ku bayangkan sebelumnnya. Tak pernah kuduga sebelumnya. Melihat isi tas itu. Membaca isi suratnya dan tulisan dalam pembatas buku itu. Rasanya sulit kuungkapkan bahkan dalam sebuah tangisan  sekalipun. Ya Rabb, apakah ini jawaban dari Doa Rabithah itu? Sungguh, aku tak pernah membayangkan apresiasi seperti ini darinya. Bahkan aku tak pernah membayangkan dia akan dengan niat memberikanku hadiah personal seperti ini. Ah, lagi-lagi melankolisku keterlaluan. Mungkin aku terlalu berlebihan menyikapi ini semua. Tapi sungguh, bagiku ini begitu mendalam. Yang dia katakan dalam surat itu telalu membuatku malu, karena rasanya aku belum betul benar melakukan apa yang dia sebutkan dalam suratnya. Entahlah ya Rabb, yang pasti aku begitu tersentuh dengan hadiah ini.

Hati, memang hanya bisa disentuh oleh hati
Dan Rabb, aku bersyukur telah memutuskan untuk mencintai sebelum mengenalnya.
Rabb, izinkanlah ini kekal hingga taman surga-Mu kelak.

Uhibbukifillah ukh..


GIVE and GIVE

Bismillah..

Entah kenapa akhir-akhir ini, setelah kemarin nulis ttg betapa sepi nya tanggal 24 (yang ternyata memang profil fb saya protect, makanya sepi. ahah), beberapa hari setelahnya malah dapet beberapa hal tak terduga. Mungkin terlihat simpel, tapi begitu mendalam bagiku

Setelah ritual perayaan selesai di asrama kami, datanglah sms dari seorang sahabat. "Teh Hasboy, jangan liat kolong kasur, sebelum tidur yah..". He? apa nih? Jadi penasaran, mau liat, ah tapi kan belum mau tidur.. yaudah deh ntar aja. Ga ngerti, kenapa saya nurut sama intruksi dari sms itu, haha. Dan akhirnya saya pun lupa kalo ada 'sesuatu' di kolong kasur itu.

Besoknya, setelah rempong ngambil tugas tapestres yang diframe, asri balik kamar. Ceritanya cape, jongkok lah sayah dan saat melirik ke bawah kasur, OH! ada benda pink! hiii.. apaan tuh.. lucu amat. Ternyata itu kado dari seorang sahabat yang sms tadi malam. Hihi, ada suratnya juga. bla bla bla ...
Huhu.. terharu dikasih hadiah personal gini.. Sebetulnya, ada perasaan ga enak. Aduh, waktu dia milad, asri ga ngasih apa-apa. Selalu berpikir itu entah mengapa. Aduh, ga enak ih, meni ngerepotin segala..

Esok lusanya, tanggal 27. Ada sms juga dari seorang adik kelas. "Tan, lagi di asrama ga? Mau nitip sesuatu nih.". Aduh, asri lagi di rumah, akhirnya bersepakat untuk nitip di hari senin pas asri ke Salman lagi. Seninnya, "Udah", oh, titipannya udah disimpen di 'lift' barang. Saya ambil. Isinya Kerudung Rabbani sama buku. Eh, terus ini dititip buat siapa? "Bingkisan tadi tolong kasiin ke yang namanya Hasri H Direja ya! Bilangin maaf telat 4 hari". Oalaaaaahh, ni bocah. Napa ngasih bgeinian segala??? Repot-repot amat. Aduh, kan waktu dia milad juga asr ga ngasih apa-apa.. Lagi, pernyataan ini yang muncul. Hmm, tapi, terimakasih banyak yaaaa.. hoho

Dan hari ini.
Pulang liqo dari rumah temen di cimahi, sampe asrama maghrib. Begitu sampe, ceritanya mau langsung bersih-bersih. Pas buka lemari, EH! di bagian atas ada tas kecil berisi sesuatu dan nongol bungan merah origami dari dalemnya. WAW! lucu, kayanya tau nih siapa yang lagi seneng origami akhir-akhir ini.. Pas diambil dan dibuka, ada bunga kertas, buku, kartu ucapan dan surat. Ternyata benar, dia lah pengirimnya. Ya Rabb, bahkan dia sempet-sempetnya ngasih asri kado personal. Aduuh, asri kan ga ngasih apa-apa juga pas dia milad kemarin. Lagi, penyataan itu yang muncul.

Seringkali, kita berpikir untuk memberi setelah kita menerima.
Seringkali, saat kita menerima, kita berpikir, apa yang telah saya beri?
Seringkali saat kita memberi, ada sedikit pertanyaan malu-malu yang begitu halus, nanti kita dapet apa ya?

Mungkin itu kesalahan besar yang masih ada dalam paradigma kebanyakan orang, termasuk saya. TAKE and GIVE. Seringkali ada tuntutan atas sebuah pemberian yang diberikan atau ada perasaan harus memberi saat kita menerima.

Padahal, islam dan ukhuwah mengajarkan kita untuk GIVE and GIVE dalam setiap muamalah kita sesama manusia. Bahkan, Rasul dulu mencontohkan yang luar biasa. Saat penduduk thaif melempari beliau dengan bat, dan malaikan penjaga gunung disana menawarkan turunnya azab untk mereka, Rasul kita memilih untuk memaafkan dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Yang kemudian Allah jawab beberapa tahun kemudia, saat penduduk kota Thaif akhirnya menjadi orang-orang terdepan dalam membela islam.

Dan inilah yang dilakukan oleh ketiga sahabatku..
Memberi tanpa ada alasan telah menerima. Memberi, dan sudah. Memang hanya ingin memberi. Ah, aku harus belajar banyak dari mereka.

Kata ustadz Anis Matta, itulah pekerjaan cinta. Memberi. 
Memberi dan tanpa berharap menerima. Karena balsan itu adalah bonus otomatis yang Allah berikan saat kita ikhlas untuk mulai memberi.
Masyaallah, asri jadi malu..

Ya Rabb, berikanlah balasan yang berjuta kali lipat untuk sahabat-sahabatku yang telah memberikan banyak hal pada sahabatnya yang entah pernah memberikan apa pada mereka.
Hanya Engkau sebaik-baik pemberi balasan..

Thursday, 24 May 2012

Keterlambatan

Asrama Puteri Salman di bulan mei

Haha, entah kenapa asrama begitu hangat dan melankolis di bulan ini. Mungkin karena masa-masa penghabisan. penghujung waktu.

Asrama ini entah kenapa jadi lebih nyaman, para penghuninya jadi lebih hangat dan menyenangkan. Sampai masa-masa menyebalkan di setiap akhir semester, bisa dilalui dengan lebih membahagiakan dari biasanya.
Sejak diminta buat ngisi lembar evaluasi sekitar satu bulan yang lalu, asri baru sadar ternyata banyak hal yang udah dilewati ya di asrama ini? Haha, terlalu cepat waktu berjalan, sampe ga kerasa.

Dulu, waktu minggu-minggu pertama di asrama, itu cukup menegangkan karena keliatannya Asrma yang sekarang lebih dinamis dari asrama sebelumnya. orang-orangnya lebih heterogen dan 'tidak aman'. haha.. time goes by.. dan sekarang udah sebulan terakhir waktu untuk ada di asrama. Dan ketakutan-ketakutan itu kini berubah menjadi kegelisahan. Kegelisahan akan perpisahan.

Tanggal 17 Mei kemarin, kita perpisahan asrama, bareng sama Astra juga. Yah, melow-melow-an lah pokonya. Makan bareng, tker kado, ngasih testimoni. naik kereta melakukan perjalanan bareng. Ah, asik lah pokonya.

Kenapa cinta seringkali muncul di ujung? Kenapa sayang seringkali dirasakan saat yang disayang itu nyaris pergi atau bahkan telah jauh pergi? Kenapa harus gitu? Atau pemikiran asri yang salah?
Atau mungkin Allah atur skenarionya kaya gitu, biar cinta dan sayang itu terasa lebih dramatis?
Atau ini hanya masalah keterlambatan?
Terlambat untuk mencintai
Terlambat untuk menyayangi
Tapi keterlambatan itu terlalu menyakitkan. Rasanya Allah ga setega itu, bikin semua orang yang merasakan cinta dan sayang berbarengan dengan rasa menyesal karena keterlambatan.

ataukah kita yang salah? salah menempatkan cinta dalam urutan aktivitas kita?
katanya, Cinta adalah ruh dari setiap aktivitas. Maka dengan cinta apapun yang kita lakukan akan lebih berenergi, berkekuatan tinggi, dan meledakkan segala potensi.

Mungkin itu yang Allah mau,
menempatkan cinta pada awal dari segala aktivitas kita
maka, saat tiba waktunya untuk pergi, penyesalan tak ada lagi karena cintalah yang mengiringi perjalannya hingga mengantarkan akhirnya pada peningkatan rasa cinta.

Ngomong apa ya saya tadi? Haha
Ya intinya, itulah persaudaraan dalam islam. Mengawali nya dengan cinta, membingkainya dengan penuh kasih sayang, hingga tiba saatnya untuk pergi dan perpisahan itu nyata adanya, Cinta tetap mengiringinya. Mengiringi perpisahannya, hingga kembali mempertemukan cintanya dalam surga-Nya kelak.
Uhibbukifillah...


Followers